Selasa kemarin, tanggal 12 Maret, saya dan teman kampus ke Gedung Pasca Sarjana Universitas Halu Oleo. Itu adalah kegiatan pameran fotografi...

Ke Pameran Daya Hidup Orang Laut Ke Pameran Daya Hidup Orang Laut

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Selasa kemarin, tanggal 12 Maret, saya dan teman kampus ke Gedung Pasca Sarjana Universitas Halu Oleo. Itu adalah kegiatan pameran fotografi "Daya Hidup Orang Laut" karya Rustam Awat. Berisi tentang kehidupan masyarkat suku Bajo dan hubungan eratnya dengan laut.

Rustam Awat
Hari itu, kami dapat ijin untuk tidak masuk kuliah agar bisa mengikuti pameran. Sejujurnya, ini adalah pengalaman pertama saya ke pameran, seingat saya. Setidaknya untuk pameran fotografi. Maka dari itu, saya bingung ketika dosen saya meminta untuk menulis review tentang pameran itu. Masa iya, saya mengatakan,"Gambarnya bagus, karena backgroundnya blur dan objeknya fokus."

Pameran seperti ini biasanya hanya saya temui di film atau sinetron. Terakhir, seingat saya, ada di film Velvet Buzzaw. Meskipun difilm itu bukan pameran foto, tapi lukisan.

Saya datang pagi dipukul 8. Teman-teman saya kemudian datang. Kami menunggu dibawa karena posisinya, digedung tempat acara dilantai atas dan ramai. Kami sempat naik hanya untuk absen, kemudian turun lagi karena benar-benar tidak kondusif. Namun, pada akhirnya kami naik lagi. Itu setelah acara pembukaan sudah selesai. Orang-orang sibuk foto dan melihat foto. Ada banyak foto. Totalnya jika tak salah ingat ada 21 foto. Pendapatku tentang pameran itu tentu saja keren.



Dari beberapa foto yang saya lihat, ada beberapa yang saya ingat karena memang berkesan untuk menempel dikepala saya. Foto seorang perempuan, sudah berumur, mungkin lebih tepatnya disebut nenek menatap dari jendela sambil tersenyum. Lalu ada foto sekumpulan bapak-bapak berkumpul dan merokok. Ada satu foto yang menggambarkan saya sewaktu kecil, mungkin juga kalian. Itu adalah foto anak-anak Bajo yang bermain dilaut pada saat senja. Meski tidak sampai bermain dilaut, dulu sewaktu kecil, sore saya dihabiskan untuk bermain sepak bola dengan kawan.

Setelah foto-foto, kami menepi ke pojokan untuk istirahat sejenak karena pengap dan terlalu ramai. Saat teman laki-laki sudah terkumpul, hampir semua, kami foto bareng. Ada Arjun, Iyar, Aping, Saya, Ridwan, dan Danil. Namun saat itu, Adi dan Fandi tidak ikut  karena alasan tidak percaya diri.


Selanjutnya kami turun, karena lapar dan lain-lain. Disana kami tidak melihat ada tanda-tanda akan dibagikan komsumsi. Jadi, kami sepakat untuk ke rental PS dan mencari makan. Arjun dan Marwan memilih untuk lanjut tidur di pos depan jalan.

Hari kedua dengan tempat yang sama. Agendanya adalah talkshow. Saya sudah agak lupa membahas tentang apa. Seingat saya membahas masalah fotografi dan sebagainya. Itu disampaikan oleh Rustam Awat dan Rahmat Ladae. Hari itu juga tidak kondusif, jadi kami masuk saat beberapa turun karena harus masuk mata kuliah.

Talkshow kedua berlangsung setelah jam 12 dimana kami diijikan untuk salat dan lain-lain. Kami kembali sebelum jam 1. Seharusnya kami ada mata kuliah saat itu, tapi sama dosen diijinkan lagi. Saya senang, karena dua hari ini hanya berada di Pasca Sarjana. Soalnya dekat dari rumah.



Tema untuk talkshow berikut cukup beragam karena memang digabung dengan tema sebelumnya yang belum kelas. Salah satunya tentang Semiotika Fotografi yang dibawakan oleh dosen saya, Ibu Nurlailatul Qadriani dan ditemani beberapa orang lainnya. Adi sudah pulang dan hanya menyisakan saya, Iyar, Arjun, dan Ridwan. Untuk ruangannya juga sudah kondusif karena dipindahkan ke aula. Kursinya banyak dan dilengkapi pendingin ruangan.  Saya dan Iyar pulang lebih awal ketika sesi tanya jawab berlangsung. Itu karena saya dan Iyar ngantuk. Tugas menyimak kami percayakan untuk teman-teman yang masih disana. Kami punya tugas personal dengan bantal kami.

Aslinya saya merhatiin
Hari terakhir, diadakan di aula. Tapi, hari itu, yang datang cukup banyak dari hari-hari kemarin. Saya datang dan ketemu Fandy dan Adi sebelum masuk. Kemudian duduk di sisi kanan belakang. Kemudian datang Iyar. Kemudian datang Aping. Kemudian datang Danil, keting kami. Kemudian datang teman-teman yang lain.

Materi yang dibawakan lebih variatif dari kemarin. Ada beberapa pembicara. Yang bisa saya ingat dan sebutkan adalah Irianto Ibrahim, Peter Van Huelen, Arief Relano Oba dan penerjemah untuk Peter.


Kemudian materi dibawakan oleh masing-masing sebelum sesi tanya jawab. Yang paling membekas dikepala saya adalah bagaimana Peter membandingkan budaya Eropa (dalam hal ini Belanda) dan Indonesia. Ia mengatakan bahwa disana, anak-anak tidak sebebas disini yang bermain di dekat laut saat senja. Disana, aturan untuk mengambil gambar sangat ketat dalam artian kita harus mendapat persetujuan dari orang yang masuk kedalam frame gambar. Itu membuat saya, dan juga pemateri lokal berpikir untungnya tinggal di Indonesia.

Jika disuruh untuk mereview pameran ini, jujur saya bingung harus menulis apa. Untuk itu, tugas merevew dari dosen saya tulis dengan maksud menunjukkan impresi saya. Untung, dengan bantuan tugas itu, saya dipaksa untuk mencari beberapa data untuk memudahkan saya menulis cerita ini di blog. Ada kalanya, saya sudah agak malas untuk menuliskan cerita seperti ini jika sudah lama berlarut-larut.

Malam Sabtu kemarin, itu ditanggal 2 Maret, saya dan Riki ke Kebi (Singkatan dari Kendari Beach). Disana sudah dibikin tempat nongkrong yang...

Malam Minggu Mabok Duren Malam Minggu Mabok Duren

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Malam Sabtu kemarin, itu ditanggal 2 Maret, saya dan Riki ke Kebi (Singkatan dari Kendari Beach). Disana sudah dibikin tempat nongkrong yang asik. Kami kesana karena sudah ada Ari dan Ali. Rencananya, kami cuma mau nongkrong. Hampir setengah jam kami disana. Kemudian Dandi datang. Sebelumnya Dandi dari rumah sakit, katanya cuma mau ketemuan sama temannya.

Kami bingung setelahnya mau ngapain, jadi kami nelpon Kak Rijal. Rencananya mau makan disalah satu warung makan favorit kami. Favorit kami yang mana? Yang bisa buat kami bikin datang dua kali lah. Tapi malam itu sebenar-benarnya kami mau ke warung makan didepan SD. Lokasinya di depan SD tidak jauh dari Lippo Plaza.

Pas Kak Rijal datang, kami tidak jadi makan. Katanya, Kak Rijal sudah makan dari rumah. Dari situ, Kak Rijal ada ide mau neraktir kita makan duren. Entah dalam perayaan apa. Mungkin cuman mau neraktir aja. Soalnya, seingat saya ulang tahunnya sudah lewat. Itu waktu kami ditraktir makan juga.

Dari situ, kami jalan nyari penjual duren. Kami nemu beberapa, tapi ngga ada yang murah. Didekat warung makan Kalasan, itulah kami disana, duduk menunggu duren yang dibuka oleh penjualnya. Kami dapat tiga ikat duren kecil. Isinya sembilan buah dengan harga 100 ribu. Kami makan bersama. Enak, karena gratis.


Sebelum durennya benar-benar habis, kami foto dulu. Karena duduk diujung, kami nyuruh Ali untuk ngetes foto. Kemudian, untuk mengabadikan kami sekaligus, kami ragu untuk minta tolong dengan penjualnya. Jadi, kami gunakan teknologi yang sudah ciptakan: kamera depan.


Kami duduk sejenak sebelum meninggal tempat makan kami. Kami belok masuk kedaerah lorong warung ayam kalasan. Kemudian ada ide untuk beli gorengan dan ceker Bude. Ketagihan saat kami beli pas pulang nonton bareng film Dilan 1991. Tapi sayangnya, Bude belum atau mungkin tidak buka. Kami terus bergerak, tapi bukan pulang. Yaitu berburu gorengan di Kota Lama. Malam itu sudah sepi karena sudah hampir larut. Hanya beberapa orang yang masih berkeliaran dengan kendaraannya.

Kami pulang, duduk diteras rumah Riki dengan gorengan. Kebetulan yang saat itu Dandi pulang lebih awal saat kami nyari gorengan. Kami sudah cukup kenyang makan duren. Sebelum itu juga, saya lupa kalo sebelum makan duren kami sempat makan siomay. Tapi kami masih cukup kuat untuk menghabiskan gorengan. Sudah cukup dingin, tapi lomboknya yang enak, dan kami makannya bareng, itu jadi energi untuk kami terus ngunyah.

Setelah itu, Kak Rijal pamit pulang. Perjalananya cukup jauh, jadi pulangnya tidak bisa lebih lama. Kami juga pulang, di rumah masing-masing, itu disebelah rumah Riki. Dan malam itu, saya lanjut main PUBG. Adit sudah tidur untuk saya ajak main bareng. Jadi saat main dengan squad random. Malam itu, saya cukup mabok duren untuk bisa chicken dinner.

Ini sudah tidak berhubung dengan makan duren, tapi hari kamis saat hari raya nyepi, kami ngantar Kak Rijal ke bandara. Kak Rijal mau ke Makassar. Ada acara. Kami ngantarnya bareng. Dandi tidak ikut karena harus ngerjain tugas. Lagi-lagi kami ngga bisa foto bareng karena ragu mau minta ke siapa. Jadinya ganti-gantian.

Ini yang Ali foto:

Ini yang saya foto:

Ini yang Ari foto:

Ini yang Riki foto:

Tahun 2015, tepatnya akhir SMP, saya membeli buku Dilan. Itu karena salah satu cuitan teman blog saya di Twitter. Kemudian, yang terjadi ada...

Fenomena Dilan Berlanjut Fenomena Dilan Berlanjut

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Tahun 2015, tepatnya akhir SMP, saya membeli buku Dilan. Itu karena salah satu cuitan teman blog saya di Twitter. Kemudian, yang terjadi adalah saya suka dengan novel itu. Salah satu alasan untuk saya menabung uang jajan buat beli bukunya yang kedua, Dilan 1991.

Tahun 2019, setelah sukses dengan film pertamanya, film Dilan 1990, Iqbaal dann Vanesha kembali menggunjang perasaan seluruh masyarakat Indonesia di Bumi. Dengan beragam karakter baru dan konflik yang lebih banyak. Sebelum membaca lebih lanjut, alanglah baiknya sudah menonton atau lebih baik lagi jika membaca bukunya. Karena saya akan menjabarkan spoiler untuk mendukung argumen saya.

Baca juga: Fenomena Dilan.


Argumen? Mungkin iya, karena saya tidak ingin mennyebut ini sebagai sebuah ulasan. Dengan menyebut ini ulasan, secara tidak langsung saya menyebut diri saya kritikus. Saya lebih senang menjadi penikmat, yang tugasnya hanya nonton, menikmati, dan memberi respon dari sudut pandang personal. Lebih dari itu urusan orang lain yang lebih ahli dibidang itu.

Film Dilan 1991 bercerita tentang masa Dilan dan Milea berpacaran, kemudian terjadi konflik layaknya orang pacaran. Yang satu protektif, yang satu egois. Saya hanya bisa mendapatkan kata itu. Selanjutnya, hubungan mereka tidak berlanjut karena putus. Itu akibat sifat Milea yang protektif ke Dilan karena masih ikut-ikutan geng motor.

Poster film Dilan 1991

Disana, Dilan juga mendapat banyak tekanan. Seperti dipecat dari sekolah, ditahan oleh polisi karena terlibat aksi balas dendam kepada kakak Anhar, kemudian membalas dendam kematian Akew yang membuatnya diusir dari rumah. Ohiya, mungkin banyak yang ngeh kalau beberapa karakter menghilang atau porsinya lebih sedikit. Seingat saya, dibuku memang begitu. Pada cerita ini, kita lebih difokuskan pada hubungan Dilan dan Milea yang lebih dalam dan personal.

Beberapa dari kita mungkin menyangka akan ada aksi baku pukul atau penyerangan, memang seharusnya. Tapi, itu akan lebih dieksplor pada sudut pandang Dilan di film Milea. Dan, beberapa hal yang masih disembunyikan untuk yang bukan pembaca buku bahwa hubungan Dilan dan Milea sudah benar-benar berakhir. Film Dilan 1991 memberi after scene credit yang memberi harapan bahwa mereka akan bersama. Jika berpikir begitu, simpan saja harapanmu, Esmerelda.

Saya ingin mengatakan bahwa di film Dilan 1990 saya sangat senang dengan adaptasi visualisasinya. Bagaimana dengan film Dilan 1991? Saya juga senang. Tapi, sebagai pembaca buku, saya lebih senang dengan cerita kompleks pada bukunya. Bagaimana kita diantarkan untuk mencapai sebuah konklusi yang secara tidak langsung membuat air mata kita jatuh secara tidak sadar. Apakah filmnya tidak sesedih itu? Bagaimana yah, mungkin karena saya nonton bertujuh dan datang dengan hati yang ingin riang meski paham konsekuensi endingnya. Film Dilan 1991 berhasil membuat orang-orang disekitar saya sedih, namun gagal untuk membuat orang seperti saya ketika membaca buku merasa bersalah hingga beberapa hari kedepannya. Kemudian saya punya pemikiran bahwa mungkin saya sudah punya antisipasi itu dan sudah merasa kebal. Mungkin.

Beberapa adegan yang saya tunggu malah tidak se-memorable ingatan saya pas membaca buku. Misalnya, saat penerimaan rapor, Ibu Anhar dan Bunda bertemu. Saya berharap itu akan sekeren dimana Dilan melakukan Hari Pembalasan. Bunda yang tegas melindungi calon mertuanya. Oh, berbicara tentang Hari Pembalasan. Itu jadi potongan cerita favorit saya, mau buku ataupun film. Meskipun, banyak yang akan lebih memilih saat Dilan datang saat Yugo dan Tante Anis meminta maaf.

Sesudah putus, Dilan dan Milea menjalani hari masing-masing. Adegan nyesek dibuku adalah saat Dilan memilih menjauh dari Milea dengan mengatakan sudah punya pacar baru. Saya masih ingat, pada halaman-halaman terakhir buku Dilan 1991, saya tidak tenang untuk menghabiskan, menunggu ada satu keajaiban agar Dilan dan Milea bisa bersama. Namun, seperti para penonton yang belum membaca bukunya, kami adalah orang-orang pengharap.

Selesai membahas cerita, saya ingin membahas karakternya. Di film Dilan 1991, akting Iqbaal lebih bagus dari yang pertama, begitu juga dengan Vanesha. Sungguh pacar yang benar-benar profesional. Dari beberapa ulasan yang saya baca, banyak yang mengatakan ada sisi awkward diawal film. Spekulasi mengarah pada hubungan pribadi masing-masing. Sebagai orang yang senang dengan spekulasi dan teori, saya tidak akan membahas itu disini. Saya masih menikmati akting mereka seperti di film Dilan 1991. Karakter Dilan lebih banyak dieksplor. Lebih manusiawi lah kata Iqbaal.

Beberapa karakter baru muncul seperti Yugo diperankan oleh Jerome Kurnia, Letnan Ical a.k.a Ayah Dilan diperankan oleh Bucek, dan Mas Herdi diperankan oleh Andovi Da Lopez. Dalam bayangan saya, Mas Herdi akan lebih cocok diperankan olah Deva Mahendra. Tapi sekali lagi, itu bukan urusan saya, itu urusan casting director filmnya. Saya hanya bisa kecewa dan merasa senang. Terutama melihat gagahnya Om Bucek memerankan ayah Dilan. Karakter pendukung lain, seperti Pak Dedi, Tante Anis, dan Bang Fariz cukup menambah kesegaran filmnya.

Salah satu dialog yang saya harapkan masuk ternyata tidak. Itu saat Dilan membacakan puisi Pak Dedi. Diakhir dialog pada buku, Milea ketawa sebelum Dilan merespon,"Tidak ada puisi yang buruk.". Bagi saya, itu cukup quotable dan memorable dikepala saya. Dan hanya beberapa detik saja jika ingin diselipkan.

Jika bisa jujur, saya sangat berharap, after scene credit film Dilan 1991 itu adalah perkenalan karakter Ancika. Meski memang, di buku Milea-pun, karakter itu baru diperkenalkan. Mungkin ayah Pidi Baiq, menunggu untuk bukunya terbit lebih dulu sebelum membuatkan film khusus Ancika. FYI, buku Dilan yang Bersamaku sedang ditulis Pidi Baiq. Bercerita tentang Ancika, pacar Dilan setelah Milea.

Maaf untuk yang membaca banyak celotehan spoiler dari saya. Saya sebenarnnya tidak ingin membuat kepuasan menonton kalian berkurang. Saya sudah memberi peringatan diatas. Jangan bandel. Saya menulis ini untuk apresiasi saya untuk Ayah Pidi Baiq, seluruh yang terlibat pembuatan film, dan kepada jumlah penonton film Dilan 1991 dihari pertama yang menembus angka 800 ribu penonton. Saya percaya, mereka telah banyak mengerahkan ketulusan dalam membuat film ini agar menjadi baik. Argumen saya hanya sebuah reaksi setelah menonton. Jangan terpengaruh karena tidak saya maksudkan begitu. Mengingat ini adaptasi ke film, saya juga masih memaklumi tidak semua yang saya ingin bisa diselipkan. Apalagi durasinya dibatasi.

Terima kasih oleh Dilan dan Milea membuat hari-hari saya indah, hari-hari saya menyedihkan, saat membaca bukunya di malam sepulang sekolah dulu. Saya juga bukan orang yang sempurna untuk menilai hasil adaptasi buku ke film, jadi maaf bila ada kesalahan kata yang pernah dan sudah saya lakukan. Meminjam kata Pidi Baiq,"Semoga kita lebih bijaksana untuk tidak menghakimi masa lalu terhadap keadaan di masa kini."

Menutup postingan ini, saya akan memberi satu foto di balik layar film Dilan 1991. Sempat tersebar di internet, namun buru-buru dihapus karena tidak masuk di filmnya.

Belakangan ini, memang jarang publish postingan karena satu hal: laptop saya rusak. Rusak dalam artian beberapa tuts keyboardnya mulai tidak...

Melewati Masa Kritis Melewati Masa Kritis

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Belakangan ini, memang jarang publish postingan karena satu hal: laptop saya rusak. Rusak dalam artian beberapa tuts keyboardnya mulai tidak berfungsi dengan normal, casingnya patah, dan usb portnya tidak terbaca. Masalah keyboard sudah mulai muncul dari awal 2018. Itu dimana saya membeli keyboard cadangan. Tapi kali ini, bisa dikatakan kerusakannya sudah stadium akhir. Port usb untuk nyolok keyboard juga rusak, apalagi keyboard yang mulai tambah sulit untuk dipencet.

Jadilah, saya memilih jalan paling cepat dan murah. Tanggal 7, berarti malam Jum'at waktu itu, saya pergi ke tempat service komputer. Saya harap dengan instal ulang, port usb saya bisa kembali normal. Karena beberapa kasus, seperti kipas laptop masih berfungsi jika dicolok ke port usb. Jadi, mungkin masalahnya hanya sepele.

Saya masuk, sama seoranng Mba-Mba disuruh tunggu. Lalu datang beberapa orang, yang saya duga tukang servicenya. Dia nanya,"Mau apa?"

"Instal ulang," saya menyerahkan laptop lengkap dengan charge-nya.

Sedang dicek. Aslinya laptop saya yang diujung.

Beberapa menit saat mencoba mengutak-atik, dia berkata,"Nda bisa instal ini. USB-nya tidak terbaca."

Dia mematikan laptop, dan menyerahkan kembali.

Beberapa minggu saya memutar otak. Laptop ini, memang sudah lumayan tua. Saya butuh mengganti dengan yang baru. Tapi saya butuh waktu, dan laptop ini setidaknya bisa membantu saya untuk beberapa waktu sampai saya bisa membeli laptop baru. Saya juga tidak begitu ingin melepasnya, mengingat banyak sekali memori dalam laptop ini. Awal berdirinya blog ini, sampai sekarang dimulai dari laptop ini. Jadi, ada sentimental tersendiri.

Ada beberapa minggu saya tidak mengisi postingan di blog ini, hingga pada postingan Dua Kabar Buruk, coba saya tuliska sepadat mungkin untuk menyampaikan beberapa hal terkait masalah laptop ini. Dengan susah payah, saya mengetik pada tuts keyboard yang susah untuk dipencet.

Karena tidak ingin lama-lama berhenti menulis, apalagi jika keyboard bermasalah, saya juga tidak bisa mengerjakan tugas. Laptop ini, selama mengalami masa rusak hanya saya pakai untuk nonton film. Hingga pada suatu hari, saya mulai mencari casing bekas untuk laptop ini. Diberbagai macam situs belanja online saya kunjungi. Barangnya memang sudah sangat langka. Saya menemukan beberapa harga yang jauh dari budget saya. Saya mulai mencari di tempat lain, seperti Facebook. Disana, saya juga menemukan seseorang. Sedang menawarkan casing, warna biru, masih terlihat baru, keyboard dan lcd masih ada (sepertinya), tapi harga juga jauh dari budget saya. Jadi, saya mencari orang khilaf lainnya.

Tanggal 14 Februari, sebuah pesan Facebook membuat saya sedikit gembira. Pertannyaann saya pada beberapa akun yang menjual spare part komputer dijawab. Katanya, ada, tapi tipe C800. Saya bertanya, apakah sama. Dijawab iya, hanya beda spek dan prosesor. Itu penjelasan dari Mas Iwan, nama penjual casing untuk laptop saya.

Saya minta nomor WhatsApp agar lebih intim. Kami membicaraka masalah beberapa hal sebelum masuk ke tahap pengiriman. Disini, kepercayaan saya kembali teruji. Ini bukan situs belanja onlinne dimana, kita bisa dapat garansi jika kita hendak ditiup. Dan tibalah, hari itu, tanggal 16 Februari, saya transfer setelah Mas Iwan ngirim foto packingannya. Beberapa saat, Mas Iwan kirm balik nomor resi pengirimannya.

Casing saya tiba tanggal 20 Februari. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor baru menelpon saat saya sedang di Kampus. Katanya dari pengantar barang. Saya konfirmasi alamat rumah, dan uang DFOD sudah saya titip dengan orang rumah.

Pulangnya, saya sangat senang. Selangkah lagi, laptop saya akan sembuh. Saya kirim pesan di Facebook, kepada tukang service yang dulunya mau memperbaiki laptop saya. Perjalanan untuk membawa laptop juga tidak mudah. Karena Om Putra (nama yang saya tau dari Facebooknya), jarang ada di toko. Jadi, pada malam saat menerima casing, dengan Adit saya pergi ke tempat yang sudah ditentukan. Memang, saya minta Om Putra membagikan lokasi agar tidak kesasar.

Saya suruh Adit membawa motor, biar saya yang melihat Google Maps. Kami menyusuri malam, waktu itu mati lampu hampir seluruh kota entah karena alasan apa. Jadi, perjalanan, hanya beberapa ruko dan rumah yang menyala. Seharusnya, malam itu saya tidak kemana-mana, karena malam ke-100 Om saya disamping rumah. Tapi, info baru saya tau pas malam.

"100 meter belok kiri," kata Mba Google.

"Belok kiri, Dit," perintah saya,"Eh, belum, lurus dulu, eh, belok, eh."

Kami berhenti pada satu tempat sebelum memutuskan masuk ke sebuah lorong. Dari luar, sudah terlihat sangat gelap. Namun, tidak ada feeling buruk karena jalannya masih beraspal. Semakin jauh kami masuk, Mba Google mulai ngaco. Jalanan mulai tidak beraspal. Dan sangat gelap dikelilingi hutan. Adit takut, begitu juga saya. Kami kembali ke jalan utama. Kata Om Putra, tunggu saja di depan, biar dia yang keluar.

Kami berhenti didepann Poltekes Gizi. Om Putra, dengan mungkin anaknya perempuan datang. Saya menyerahkan laptop dan casing. Om Putra menolak charge. Katanya, sudah ada.

Sepulangnya, langit yang tidak berbintang menunjukkan hawa-hawa tidak menyenangkan. Rintik mulai turun. Semakin lama semakin besar. Adit menjerit karena mulai terkena hujan. Saya mengambil belokan untuk berteduh. Disana banyak orang yang juga berteduh. Kami hanya sebentar karena kami harus jalan lagi. Namun hujan kembali deras. Kami berhenti lagi, disana ada dua pengendara motor. Kami himpit-himpitan. Jalan lagi. Berhenti lagi. Dan tempat-tempat yang kami singgahi selalu ada orang. Jadi, ini semacam stasiun-stasiun untuk kami lewati.

Baju sudah sangat basah. Jadi, saat hujan sudah mulai reda, kami buru-buru sebelum hujan kembali keras. Dijalan, sifat rese mulai muncul. Dua pasangan disamping kanan tidak sengaja saya cipratkan air ketika motor terlalu cepat menerobos genangan air. Adit memukul pundak saya diiringi tertawa karena melihat reaksi orang itu. Didepan, kembali, ada dua orang perempuan. Lagi-lagi, secara tidak sengaja, motor yang terlalu cepat menimbulkan genangan air yang tinggi. Air menjilat kaki perempuan yang digonceng. Perempuan itu menjerit. Saya tidak bisa menahan tawa, begitu juga Adit. Kami jadi dua orang rese yang kehujanan. Maafkan kami, orang-orang yang kami cipratkan air.

Dirumah, masih mati lampu. Saya ganti baju, dan kesebelah. Sudah ada teman-teman yang lain. Acara yasinan sudah selesai. Makan sedang berlangsung. Beberapa sudah kelar. Saya masuk untuk mengambil makan dan bergabung dengan yang lain.

Dua hari setelahnya, tepatnya hari ini, hari Jum'at. Saya pergi mengambil laptop saya. Katanya, ada kerusakan di port usb-nya, sehingga tidak jadi instal ulang. Biaya untuk memperbaiki agak mahal. Jadi, saya menunda perbaikan itu dulu. Yang penting, keyboard sudah bekerja dengan normal. Saya memang tahu, masalahnya bukan di keyboard, tapi cara pasang keyboardnya sewaktu dibongkar dulu. Jadi, saya tidak ragu untuk menolak untuk memperbaiki port.

Beberapa kondisi casing laptop lama:

Itu stiker UI, beli pas study tour tahun lalu.

Yang patah, dekat lubang charge.

Tampilan full.
Dengan menulis ini, laptop saya sudah kembali normal. Sembuh. Dan sudah melewati masa kritisnya. Pemikiran untuk membelikan casing sudah akhir tahun 2017. Namun, baru kesampaian karena sudah sangat mendesak. Terima kasih, untuk uang arisan yang dipakai untuk membelikan casing dan biaya pasangnya. Terima kasih untuk Tuhan dengan segala rencana baiknyaTerima kasih untuk Mas Iwan dan Om Putra. Terima kasih kepada laptop ini karena masih mau berjuang bersama. Saya rasa, perjuangan akan sia-sia hanya salah satu yang berjuang. Terima kasih untuk orang-orang yang sudah hadir dalam hidup saya. Mengisi beragam cerita diblog ini sampai sekarang. Terima kasih oleh hasrat bercerita yang masih ada. Terima kasih oleh semua yang tidak bisa saya absen satu-satu. Salam sayang. Ummmuah!

Beberapa minggu ini, saya jarang publish diblog ini. Bukan karena saya cukup sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mengisi blog ini. Tapi, ...

Dua Kabar Buruk Dua Kabar Buruk

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Beberapa minggu ini, saya jarang publish diblog ini. Bukan karena saya cukup sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mengisi blog ini. Tapi, beberapa bulan yang lalu, laptop saya mulai kambu dari penyakit lama. Beberapa keyboard seperti 6, Y, H, dan N sangat sulit untuk ditekan. Untuk mengetik itu saja, saya butuh tenaga ekstra.

Umur laptop saya memang tidak bisa dibilang muda. Usia laptop ini, sudah hampir 7 tahun kalau tidak salah ingat. Itu hadiah ulang tahun saya, sebuah laptop Toshiba Satelite C840 berwarna hitam dari orang tua. Rasanya senang sekali waktu itu. Beberapa bulan setelahnya, saya juga dibelikan modem. 

Sekarang, kondisi laptop ini sudah tidak segagah dulu. Sendinya sering pegal linu, daya tahannya sering drop, bahkan sudah tidak bisa diajak main lagi. Jadinya, saya hanya memakai laptop ini untuk menonton film, mengerjakan tugas, dan menulis blog.

Dan sekarang, keyboardnya mulai susah diajak kompromi. Salah satu anjuran yang pasti disarankan adalah memakai keyboard usb. Sudah. Tapi, lagi-lagi laptop ini telah punya banyak masalah, termasuk usb. Jadi, saya mulai bingung, karena tidak lagi bisa mengerjakan tugas dan menulis di blog. Laptop ini tinggal punya satu fungsi; nonton film.

Sejak itu, postingan blog mulai tidak karuan. Kadang malas nulis karena susah ngetik. Beberapa kali ada pikiran buat cerpen lagi, tapi lagi-lagi malas karena ngetiknya susah. Akhirnya, ada pikiran untuk mengganti laptop. Tentu saja tidak semudah menjentikkan jari Thanos. Uang yang dibutuhkan tidak sedikit, mengingat saya mau beli sekalian dengan spek menengah. Biar bisa tahan lama, dan dipakai buka aplikasi berat dan main game.

Penyisihan uang mulai saya lakukan. Rencananya, awal tahun depan sudah bisa kalau saya tetap pada rencana nabung. Tapi, setahun bukan waktu yang cepat. Maka dari itu, saya berpikir untuk memperbaiki laptop. Setidaknya untuk menemani setahun ngumpul uang.

Yang pertama, adalah mencarikan laptop saya casing baru. Casing laptop sekarang sudah hancur dan patah pada bagian engsel, jadi harus digantik dengan yang baru. Berminggu-minggu mencari, dari toko online satu ke toko online yang lain. Sampai-sampai, saya searching di Facebook tentang casing ini. Baru saya tau kenapa sulit, karena memang langka. Banyak juga yang nyari.

Saya tentu tidak lekas putus asa. Disuatu malam yang gabut, saya menemukan satu harapan. Sebuah akun, yang saya harap bisa memberi saya sedikit harapan. Saya chat, lalu meminta nomor WA agar lebih intim. Dia kemudian memberi saya foto casingnya. Berwarna biru, meski tidak terlalu saya suka namun saya juga lebih butuh. Kami sudah deal-dealan sebelum saya bertanya harga, kaget. 450 tidak kurang.

Yang saya lakukan tentu saja mencari alternatif lain. Tiga hari kemudian, saya kembali menemukan satu akun Facebook dengan profil spare part komputer/laptop. Saya tanya, apakah casing C840 ready. Katanya, Senin masuk. Menunggulah saya untuk hari Senin. Tak ada kabar. Beberapa kali saya chat, kemudian dibalas tinggal C800. Katanya setipe. Kembali, saya minta nomor WA. Kami saling chat, beberapa kali saya bertanya. Dan tentu saja, yang ini harganya cocok.

Sampai sekarang, kami masih saling bernegosiasi. Katanya, akan dikirim hari ini. Doakan saja casing ini mendarat dengan mulus. Dan bisa ngumpul buat biaya pasang dan service laptop.

Kabar buruk kedua, burung saya, maksudnya, kami punya burung peliharaan di rumah. Sering kami panggil Nuri. Warna bulunya dominan merah. Dirawat sejak adik bungsu saya kecil, kira-kira sudah 7 tahun lebih. Kira-kira, seumur laptop saya juga lah.

Nuri dan Majikan.
Dan, Nuri, pada tanggal 5 Februari. Beberapa hari sebelum meninggal, Nuri memang jarang teriak. Saat kami tau Nuri meninggal, seisi rumah berkabung. Soalnya, bertahun-tahun Nuri tinggal bersama kami. Karena dia tidur di toilet rumah, setiap malam ketika saya sikat gigi, Nuri selalu nyaut-nyaut.

Kami sedih, perlahan kami masih sering ingat kebiasaan tiap hari. Kasih makan pisang, atau apa aja yang kami makan. Masukin dia di kandang, keluarin kalo malam. Ngomelnya Mama waktu Nuri ee di dalam rumah. Kami rindu kebiasaan itu. Terutama Bapak, yang dekat dengan Nuri. Juga Tante yang nangis. Nuri, kami rindu.


31 hari di Januari saya habiskan dengan ngapain aja? Biar saya runutkan satu persatu. Sebelum itu, saya akan memberitahukan bahwa dari akhir...

Oh, Januari Oh, Januari

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

31 hari di Januari saya habiskan dengan ngapain aja? Biar saya runutkan satu persatu. Sebelum itu, saya akan memberitahukan bahwa dari akhir Desember saya sudah libur hingga awal Februari. Jadi dipastikan, Januari adalah libur panjang saya. Pertanyaannya, saya ngapain aja?

Pertama-tama, karena ini libur. Panjang. Saya perlu membuat sebuah dobrakan untuk diri saya. Dari yang tadinya malas bangun pagi, jadi mulai bangun pagi. Dari yang tadinya tidak pernah olahraga, sekarang setiap hari jogging pagi. Dan, tentunya, saya sudah berhasil membuat rekor lari lima putaran. Rekor terbaik dalam hidup saya.

Di rumah, Mama dan Tante saya memulai usaha jual Pop Ice dan Gorengan. Berawal dari maraknya jualan Es Kepal Milo, ide kemudian tercetur untuk membuat. Namun, ide yang dulunya menjual Es Kepal Milo berubah menjadi gorengan dan Pop Ice. Dapat diduga, hype Es Kepal Milo mulai meredup dan goregan tak pernah mati.

Diusaha itu, saya tidak banyak mengambil peran. Paling hanya melayani warung jika yang lain sibuk, atau tugas tetap menjadi pembuang sampah. Ganti-gantian dengan adik saya. 

Biasanya, setelah pulang jogging, saya sarapan dulu. Kemudian, nonton satu film. Siangnya lanjut nonton serial Game of Thrones. Sebelumnya, saya sudah sempat nonton, tapi berhenti. Dan sekarang, saat baru tau musim terakhir tahun ini. Saya buru-buru nonton ulang. Masih banyak series yang saya ikuti, tapi untuk sekarang lagi fokus ke Game of Thrones dulu.

Tercatat dari akun Letterboxd saya, tahun ini sudah nonton 23 film dan 5 TV series. Kelima series adalah sebagai berikut: The ABC Murders, Game of Thrones musim pertama, Encounter, Cek Toko Sebelah Series, Game of Thrones musim kedua.


Kegiatan menjelang malam biasanya random. Diawal-awal Januari, saya lagi keranjingan nonton Encounter. Kemudian Game of Thrones. Sekarang, malam biasanya saya pakai untuk baca buku. Setelah menyelesaikan Anak Semua Bangsa karya Pram, saya berlanjut pada buku ketiga, Jejak Langkah. Baru mulai. 


  1. Januari, itu saja sih kegiatan saya. Hanya beberapa malam yang berbeda. Yaitu malam Sabtu atau Minggu. Bareng teman-teman, kami biasanya hangout bareng. Salah satu tempat makan kami, adalah yang sekarang paling sering kami kunjungi, adalah warung depan SD. Harganya murah meriah dan enak.

Januari sudah berlalu, dan bentar lagi masuk kuliah semester genap. Oh, sungguh tidak sabar.