Seharusnya, tulisan ini sudah lama bisa saya publish. Tapi, saya masih menunggu beberapa foto dari senior yang sampai saat ini belum bi...

Peresmian Mahasiswa Baru Peresmian Mahasiswa Baru

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras





Seharusnya, tulisan ini sudah lama bisa saya publish. Tapi, saya masih menunggu beberapa foto dari senior yang sampai saat ini belum bisa dibagikan. Jadi, mending saya publish dengan foto yang sudah ada. Foto yang lain bisa menyusul. Ini juga menjadi penutup dari tetralogi Mahasiswa Baru. Cerita yang lain adalah: Pola Hidup Mahasiswa Baru, Balada Mahasiswa Baru, dan Resiko Mahasiswa Baru.


Jam 12 siang pada tanggal 13 Oktober hari Sabtu, saya sudah berada di angkot lengkap dengan tas yang berisi baju ganti dan makanan. Hari itu akan terjadi Wisata Mahasiswa (WISMA) sekaligus pentas seni yang dipanitiai oleh senior untuk angkatan Sastra Indonesia UHO 2018. Dari kelas ganjil dan genap menghiasi depan fakultas waktu saya berjalan masuk. Sebagai ketua kelompok yang dipilih dadakan semalam, saya bertanggung jawab dengan anggota kelompok.

ID Card.
Disana sudah banyak teman-teman berbaju merah dengan celana training hitam (seperti yang diberitahukan), meski tak sedikit dengan celana jeans. Saya berjalan menuju gazebo samping perpustakaan menemui teman-teman yang lain. Disana ada juga satu anggota kelompok saya dengan malasnya tidak mau bergerak mencari teman-teman yang lain.

























Saat itu mentor kami belum datang. Namanya kak Destin dan Arif. Kepercayaan kelompok benar-benar diberikan kepada saya. Maka dari itu, saat banyak teman-teman menunjuk saya untuk jadi ketua, saya menerimanya dan menggerutu dalam hati,"Terima kasih bebannya, teman-teman."




Saya bisa saja menolak, namun ini bukan jaman SMA lagi. Menolak hanya akan membuat saya tidak menjadi lebih baik. Sebagai salah tiga dari laki-laki di kelompok 2, saya dengan berani bertanggung jawab menjadi ketua. Kemudian, mengumpulkan teman yang lain dan mendiskusikan yel-yel. Disana ada 12 orang yang lengkap dari sebelumnya. Ada 9 orang perempuan dan tiga laki-laki. Itu adalah saya, Fandy, dan Wuna. Seharusnya bisa lebih seru lagi, ketika Iyar dan Adi juga ikut. Tapi mereka tidak dengan alasan masing-masing.

Ima, sebagai orang yang pernah kupercayai akan menjadi ketua kelompok memberi banyak masukan untuk yel-yel. Sebagai mantan anggota pramuka, ia mencoba mencari dan kembali mengingat yel-yel yang mudah dan menarik. Selanjutnya, saya mencoba menghapal bait sebagai pemimpin yel-yel.

Tidak lama setelah itu, dari depan fakultas, tempat teman-teman kami yang ramai terjadi insiden. Mata saya menangkap senior dengan amarahnya kepada mahasiswa baru. Setelah digiring untuk bergabung, saya baru tahu ketika laki-laki diperintahkan untuk berdiri. Kesalahannya adalah merokok di depan fakultas, juga bermain gitar saat orang sedang melaksanakan shalat.

Ketua Panitia, Kak Indah, mengambil alih,"Tadi itu senior angkatan 2014. Saya juga tidak tahu karena ia sudah memakai cadar. Lain kali, dijadikan pembelajaran saja."

Kemudian kami digiring lagi, menuju depan perpustakaan. Berbaris sesuai kelompok. Disana, sudah ada Kak Destin. Lalu, ia menghampiri,"Yel-yel sudah siap?"

Kami mengangguk.

"Yang mau kalian tampilkan?" tanya Kak Destin lagi.

"Belum ada."

Ia memasang raut was-was dan kecewa. Seharusnya Ima bisa saja maju membacakan puisi, kemudian kelompok kami aman. Namun, Ima juga sedikit bingung karena akan mewakili angkatan untuk tampil. Setelah diberi arahan, kami lagi-lagi digiring menuju bus yang sudah parkir di depan fakultas. Bus pertama menampung kelompok 1 dan 2 perempuan. Sementara itu, bus kedua menampung orang yang acak. Kami masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman, sebelum akhirnya kembali berdiri ketika perempuan naik.



Di Bus, ada Arjun, Marwan, Aping, Ridwan, dan teman-teman yang lain. Arjun memainkan gitar, melatunkan Dimana-Mana Hatiku Senang diikuti oleh seiisi bus. Karena tahu akan berada cukup lama di bus, kami hanya memainkan dua lagu, menyimpan tenaga dengan saling ngobrol. Bus bergerak cukup intens, lewat jalan belakang hingga melewati Kendari Beach. Teman-teman banyak yang sudah tidur. Saat melewati alumni sekolah, SMA Negeri 9 Kendari, saya cukup antusias memperkenalkannya kepada kawan dengan berseru,"Kerennya ini sekolah."

Kaki kami sudah terasa sedikit pegal ketika baru memasuki daerah kelurahan Mata. Pepohonan yang saling berpelukan mulai terlihat, menutup sebagian langit hingga membuat bus serasa memamasuki terowongan. Bus masih bergerak, dengan kecepatan yang saya perkirakan mulai naik, dan yang terjadi saat beberapa kali lubang dan pohon disikat habis. Hingga pada sebuah lubang yang cukup besar, dengan kecepatan yang begitu cepat, bus sontak membuat guncangan besar, membuat semua penumpang bangun dan kaget. Salah satu peserta, yang juga teman kelas saya, napasnya terkunci. Kemudian dibantu oleh senior perempuan yang ada disana.




Saat kami tiba, bus yang lain sudah ada disana. Orang-orang sudah berhamburan. Sempat terjadi adu cekcok antara tetap di dalam bus atau langsung turun. Karena panas, peserta tidak sabar untuk turun untuk mencari udara segar. Saat turun, tas saya tenteng sebelum akhirnya diperintakan untuk menaruh tas. Hape mulai dimintai, karena saya tidak mau, secepat mungkin saya simpan didalam tas kemudian kembali pada barisan. Upacara pembukaan dimulai. Pencabutan hak asasi juga begitu. Seperti yang saya pikirkan, ketika hak asasi sudah dicabut ada hal yang berkaitan dengan senioritas lagi. Entah untuk maksud yang baik atau buruk.

Selepas upacara, kami diperintahkan untuk berjalan menuju tempat yang sudah disiapkan. Cukup jauh untuk ukuran jalan kaki. Sebagai ketua kelompok, saya berjalan paling depan disamping Kak Destin. Sampai disana, yang saya butuhkan cuma dua: istirahat dan minum. Dan kemudian syukur, dari waktu itu sampai selesai Magrib adalah waktu Ishoma. Itu kami pergunakan untuk membeli air minum bersama Fandy dan Wuna. Kami ngobrol banyak, sesekali tertawa. Itu adalah hal yang baik menyambut malam. Sempat terjadi insiden baru, tentang hilangnya uang di warung tempat kami jajan.

Kelompok lain sedang makan ketika kembali. Sepertinya, hanya kelompok kami yang laki-lakinya harus liat orang makan. Perempuan makan sebungkus nasi bersama. Soalnya, saya pikir makan hari ini sudah disiapin panitia, maka dari itu pas ditawarin bawa makan sama Mama, saya nolak. Oh, insting Mamaku tajam sekali.

Untungnya, Arjun bak malaikat penolong datang membawa sebuah nasi yang kami makan berempat dengan Fandy dan Wuna. Oh, Arjun, terima kasih malam itu. Sebenarnya, biar ngga makanpun saya belum lapar juga. Tapi kalo dibiarkan, mengingat ini acara dengan banyak orang, pasti makan yang disediakan akan telat. Jadi selagi ada makan, yah makan aja dulu. Ngisi space yang kosong untuk lambung.

Selesai makan, acara berikutnya yaitu perkenalan yang terjadi cukup lama dan sorry to say, membosankan. Tidak adanya ketegasan dari moderator untuk mengefesienkan waktu. Padahal, setelah perkenalan akan dilanjutkan oleh penampilan seni dari tiap kelompok. Dinilai oleh Dosen kami yang baru datang, Pak Sudu dan Pak Maliudin.




Penampilan berlangsung sudah hampir jam 9 malam, jika saya tidak salah ingat. Tidak banyak ragam penampilan. Hanya bernyanyi dan puisi. Dan kelompok kami menggabungkan keduanya dengan musik Laskar Pelangi-nya Nidji. Salah satu saran saya waktu itu adalah drama. Namun ditolak halus karena waktu yang tidak memungkinkan. Saya kira, kamilah kelompok yang tidak egois dan menerapkan tema "Solidaritas" dengan maju ber-duabelas untuk tampil. Itu adalah cara yang baik untuk beda. Namun perlu saya akui, penampilan teman saya tidak kalah baik adalah Arjun yang membawakan musikalisasi puisi dari puisi Wiji Thukul berjudul Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa. Diakhiri dengan tepuk tangan yang gemuruh. Dan sorakan untuk menampilkan lagu kedua.

Setelah penampilan seni, pemutaran film mulai disusun. Sembari memasang alat, itu dimanfaatkan oleh senior untuk mengisi dengan baca puisi. Semuanya bagus dan seru. Namun keadaan saat itu benar-benar tidak mendukung. Terlalu lama duduk, membuat belakang saya mulai pegal dan perutku sakit. Saya sempat melihat awal pemutaran film Genius. Membuat peserta saling melirik ketika adegan panas diawal scene. Karena tidak kuat, saya pindah ke belakang. Lalu, dengan beberapa senior akhirnya ditanya dan dibawa ke tenda untuk istirahat. Disana, ada anak kelas ganjil yang juga sakit. Saya baring disebelahnya. Beberapa senior yang masuk kedalam tenda, memeriksa kondisi kami. Salah satunya mengurut betis saya dengan mem-fonisnya saya masuk angin. Senior yang lain memberi makan saya terlebih dahulu sebelum yang lain. Sebenarnya ada rasa tidak enak, tapi biar cepat sembuh yah dimakan aja.

Tidak sampai disitu, saat Kak Prayoko datang, saya langsung disuruh tengkurap untuk dikerok. Malam itu jadi pengalaman pertama saya dikerok. Kak Prayoko membuka tas rajutnya, kemudian meminta minyak urut kepada panitia yang mengurus kesehatan. Tidak ada ternyata. Lalu, Kak Prayoko kembali bertanya,"Minyak goreng ada?"

"Ada. Kenapa?"

"Ya. itu. Sinimi," katanya.

Dengan keadaan tengkurap, aku bisa melihat orang-orang dari jendela tenda yang mengintip. Kak Prayoko berkata,"Sa kerjakan dulu kau." (Saya kerjakan dulu kau)

Ternyata benar. Dari mulai dikerok hingga selesai, belakang saya mulai terasa enak. Apalagi saat koin bergerak dari atas ke bawah. Lalu dari kiri ke kanan. Membentuk tulang ikan dipunggu saya. Setelah enakan, saya mendengar suara kaki dan berisik. Itu adalah teman-teman yang dipanggil dan dipersiapkan untuk makan malam. Setelah tidur sebentar, saya dibangunkan. Tujuan awalnya hanya untuk melebarkan tikar untuk tempat tidur. Tapi karena sudah enakan, saya disuruh tidur bersama teman laki-laki yang lain diluar.

Disana, mereka sedang bingung. Tidak ada tempat tidur. Padahal, kami berpikir akan dapat tempat lebih baik mengingat jumlah kami yang sedikit. Danil sudah capek, memilih tidur dibawah pohon tanpa alas apapun. Sebenarnya kami bisa saja tidur disana. Tapi kami tidak jamin akan benar-benar bisa tidur. Walaupun pasir pantai sehalus apapun.

Setelah berunding hebat, beberapa senior yang sedang tidur di gazebo mempersilahkan kami untuk tidur. Kesempatan tidur itu benar-benar kami manfaatkan, mengingat kami harus bangun lagi jam 3 pagi. Namun, baru hendak menutup mata, teriakan orang kesurupan dari tenda perempuan membangunkan kami semua. Dari analisa, kemungkinan itu teman kelas saya lagi yang sempat sesak napas saat di bus. Setelah suara mulai redam, kami kembali mencoba untuk tidur. Dan lagi-lagi, baru saja ingin memejamkan mata, Kampus sebelah dibangunkan dengan alarm. Itu yang membuat kami semua bangun kembali.

Dan, saat dibangunkan pukul 3 pagi, saya merasa seperti tidak tidur sama sekali. Malam itu, jadi tidur malam saya yang paling singkat. Namun saya cukup bersyukur bisa tidur malam itu. Nyenyak tidaknya soal lain. Dan baru saya tahu ketika pagi bahwa Arjun, Alkap, dan beberapa teman yang lain tidur dipesisir pantai. Untungnya laut tidak naik saat malam, jika ia, mereka sudah habis dijilat ombak.

Kami dikumpulkan kembali, membentuk barisan sesuai kelompok, dan lagi-lagi menyorakkan yel-yel. Meski nyawa belum benar-benar kembali, namun semangat tetap menyala. Setidaknya kami tidak ingin malu. Kelompok 1 dipersilahkan untuk maju, berjalan diposko pertama.  Kami masih menunggu, sambil memegang buku yang kami tidak tahu untuk apa.



Kemudian giliran kami, maju dan berhenti beberapa meter hingga kelompok 1 benar-benar selesai. Lalu maju, dan menyusun barisan. Dan, lagi-lagi kami harus memainkan yel-yel yang mulai mengganggu. Namun, karena tidak ingin ada masalah, itu kami lakukan dengan baik. Lalu diposko itu, kami ditanya masalah kapan beridirinya UHO, siapa Rektor pertama, dan nama-nama besar yang ada di UHO. Selebihnya kami hanya menerima informasi tentang filsuf yunani yang mati akibat racun, yaitu Socrates. Setelah itu, kami dipersilahkan menuju posko kedua.

Posko kedua, kami kembali berhenti menunggu kelompok 1 benar-benar selesai. Kemudian menuju kesana dengan jalan jongkok. Di posko dua, kami diberi pertanyaan berkaitan dengan Sastra. Kebanyakan masalah pencipta prosa. Tiga dari enam jawaban berhasil kami jawab dan menjadikan kami kelompok yang paling ehm, pintar. Namun, itu berarti membuat mentor kami mendapatkan tiga kali coretan arang lagi.

Di posko tiga, adalah salah satu posko yang benar-benar absurd. Ada sebuah kardus kecil yang dimana kami ber-12 harus bisa naik kedalam kardus itu. Dengan menyusun strategi, kami seharusnya bisa berhasil. Tapi saya merasa ada senioritas lagi disana. Itu membuat mentor kami kembali mendapat coretan, dan sebagai ketua kelompok saya harus melakukan itu untuk mentor saya. Ada perasaan ragu dan tidak enak. Namun, disana banyak senior lain dan juga lebih tua. Saya coba nurut aja, dan minta maaf pas nyoret.

Kami berjalan cukup jauh ke posko empat. Sampai disana, kami mendapat teguran karena tidak memberi salam. Kurang etika, katanya. Jadi, kami kembali beberapa meter dan mengucapkan salam kembali. Di posko ini, kami tidak banyak melakukan hal. Hanya mendapat teguran. Saat hendak pergi, salah satu senior bertanya,"Ada yang haus?"

Saya mulai curiga, tidak menjawab. Hanya, salah satu dari kami akhirnya menjawab: "Haus, Kak." Disitulah, kami diberi botol berisi air. Saya bertugas menjadi kelinci percobaan untuk teman-teman saya. Karena sudah curiga, saya hanya meneguk sedikit. Rasanya asin. Oh, sial, itu  air laut. Saya bisa saja menyimpan air laut itu dimulut untuk dibuang saat kami pergi. Namun, sebagai ketua, saya harus menunjukkan rasa solidaritas. Itu benar murni agar, setidaknya saya tidak menjadi akibat dari dihukumnya teman-teman saya. Disana, ada Fandy dan Wuna yang sudah mulai capek. Begitu pula dengan perempuan dan dua mentor kami.

Di posko terakhir, kami berjalan jongkok kembali dan mengucapkan salam. Disinilah, kami kembali diperingatkan. Itu karena muka mentor kami yang sudah penuh dengan coretan arang.

"Waktu mentor kalian dicoret, ada yang protes," kata salah satu Senior.

Saya rasa ini pertanyaan kambing hitam yang seharusnya tidak digunakan. Sebab, diposko sebelumnya, salah satu dari kami menegur senior yang sempat berkata ingin membaca pertanyaan ke-tujuh. Padahal, awalnya hanya dijanjikan enam pertanyaan. Katanya: "Kamu yang mau atur saya?"

Sewaktu kami diperingatkan, saya menjelaskan hal itu. Namun tetap dibantah. Apa yang kami lakukan selanjutnya? Hanya mendengarkan. Kami rasa, itulah jalan keluar paling baik. Mentor kami, Kak Destin, menangis dengan nada kesal setelahnya. Katanya, kami terlalu manja selama mementori kami. Tidak ada rasa tanggung jawab. Itu benar, mentor kami sangat baik dan tidak masalah jika ia marah. Apalagi, melihat wajahnya penuh coretan arang. Saya sempat disinggung, ketika mau saja disuruh mencoretnya.

Beberapa dari kami, apalagi yang laki-laki menunaikan sholat Shubuh di gazebo. Kebetulan, posko lima, tempat kami dikumpul memang berada dipinggiran pantai. Banyak gazebo yang bisa digunakan sholat. Kecuali air, yang kami harus menggunakan air laut untuk wudhu.

Selanjutnya, kami kembali mendengarkan uneg-uneg mentor. Lalu, kami membentuk barisan untuk melakukan peregangan. Bermain sahut kata, dan saling berpelukan dan nutup mata. Kondisi saat itu benar-benar melelahkan. Namun cahaya matahari yang terbit menyapa bulan yang pamit benar-benar keren. Sedih tidak mengabadikan. Hanya melihat itu berlalu sembari kami tetap melakukan peregangan badan sebelum kembali ke tempat kami semula.


Sesampainya ditempat awal, kami diperintahkan memegang gelas dan energen yang kami bawa dari rumah. Itu untuk kami siram ditempat panitia komsumsi. Kemudian membentuk lingkaran. Agak lama menunggu hingga semua benar-benar kebagian air panas. Disana ada Arjun dan Marwan yang baru saja bangun dari tidurnya. Katanya tidak enak badan.

Kami juga mengambil roti yang kami bawa, itu juga yang kami bagi kepada yang tidak bawa. Setelahnya, kami doa bersama sebelum makan. Dan, itulah dimana kami benar-benar lega. Tidak berapa lama setelah makan, kami kembali dipersilahkan untuk bersih-bersih badan. Yang dimana, semua orang langsung segera menenteng handuk untuk mandi. Beberapa orang, termasuk saya, tidak ada niat untuk mandi. Mending sekalian dirumah, kata salah satu teman.

Saat semua selesai, kami kembali dikumpulkan. Itu juga yang membuat kami kembali kena marah. Karena terlalu mengulur waktu. Padahal, kami sudah siap, dan mengambil waktu sebentar untuk istirahat di gazebo. Kami dikumpulkan untuk melaksanakan salah satu acara terakhir yang saya kira itu sudah tidak ada. Itu adalah outbound, atau sederhananya permainan yang akan dilakukan oleh peserta. Yang sudah mandi pasti kecewa, dan itu hal yang perlu saya syukuri. Ada dua macam permainan yang akan kami tandingkan.

Yang pertama adalah tiarap seperti latihan-latihan tentara dan yang kedua adalah melewati sebuah tali yang dipasang. Itu dilakukan per kelompok. Awalnya penilaian berdasarkan yang tercepat. Karena satu dan lain hal, penilaian berubah menjadi yang paling solid antar kelompok. Sebagai ketua kelompok, saya memimpin anggota saya untuk permainan pertama.

"SATU.... DUAA...... TI.......... GA!"


Kami berjalan jongkok hingga tempat kami akan tiarap. Ada Aping disebelah kanan saya, kami merayap diatas pasir pantai. Saya mencoba menggeser badan karena tali yang sudah mulai menyentuh punggung. Setelah hampir sampai, teman saya yang lain mengikut dari belakang. Saat sudah bisa menggapai tangannya, saya menariknya. Begitu juga dengan teman yang lain. Kelompok lain sudah berlari menuju permainan kedua sementara kami masih menunggu Fandy yang masih berjuang.

Setelah anggota lengkap, kami berlari menuju permaianan kedua. Anggota perempuan mulai melihat dengan nada pesimis. Saya kemudian menunduk agar mereka bisa menaiki punggung saya. Dibantu oleh Wuna dan Fandy. Kami sampai digaris finish pada urutan kedua. Kami membersihkan badan sembari mendapat senyum dari mentor kami yang kembali bangga.

Acara selanjutnya adalah pemberian materi lagi, yang disampaikan oleh Bang Kahar, selaku pendiri Rumah Bunyi. Ia menghadiahi banyak buku untuk orang yang ia suka dan bertanya. Itu adalah teman-teman saya yang dapat ketika kami ditanya satu pertanyaan tentang: kenapa kamu bisa jadi peserta yang terbaik?

Setelah hampir setengah jam ngobrol-ngobrol, makan siang sudah tersedia. Diatas daun pisang, ada nasi, ikan bakar, dan sayur. Sungguh mengundang selera ketika kami sudah duduk dan saling bertatap-tatapan. Setelah berdoa, kami makan dengan lahap. Bahkan, sempat beberapa kali meminta nasi dari teman sebelah.




Menjelang sore, kami dikumpulkan kembali. Membentuk sebuah lingkaran. Yang laki-laki diminta untuk maju, saya mulai curiga. Dan itulah yang terjadi ketika rambut kami kembali dicukur pendek. Sempat terjadi insiden ketika salah satu teman kami, menolak untuk dicukur. Pada saat itu, rambut saya belum cukup panjang, namun dicukur untuk kedua kalinya adalah hal yang perlu dipikirkan.

Setelahnya, kami kembali kebarisan lingkaran, dan bergantian memperkenalkan diri. Seringkali, ketika salah satu dari kami menyebut daerah asal dan senior histeris dengan sendirinya. Setelah lewat beberapa orang setelah saya, itu adalah Khairul yang mendapat bagian. Dan salah satu senior lama, menyuruhnya duduk. Sementara senior yang lain, Kak Prayoko menyuruhnya lanjut.

"Buat apa acara perkenalan ini? Tidak ada faedahnya!"

Lalu terjadi insiden antar senior. Para lelaki, dipanggil naik kembali. Kemudian dimintai pendapat tentang pencukuran rambut. Kami menjawab aman dengan tidak keberatan. Padahal, ini hal yang benar-benar perlu dipertanyakan. Kami masih berada didepan ketika insiden semakin panas. Senior mulai saling bertikai. Peserta perempuan mulai ketakutan, namun coba ditenangkan. Setelah hampir terjadi baku pukul, salah satu senior melontarkan pertanyaan,"Kenapa ko ketawa?" (Kenapa kau ketawa?)

Lalu dijawab. "Karena lucu," Kemudian semua tertawa dengan gembira. Semua akhirnya tahu itu adalah bagian dari drama. Namun saya sudah tahu lebih awal ketika Ferdian berkata,"Kalo ada yang aneh sebentar, diam saja."

Acara drama-drama selesai. Beberapa orang masih tidak percaya. Pendapatku, ini adalah hal yang kurang baik untuk ditiru. Namun, dari serangkaian acara, ini yang benar-benar bisa membuat suasana menjadi beda dan cair. Setelahnya, kami tidak kagok lagi ngobrol dengan senior. Acara terakhir ditutup dengan mencari botol dengan saling berpegangan tangan dilaut. Kami tidak mendapat apa-apa selain botol lama yang hanya terisi pasir. Lomba itu diakhiri dengan membuang semua senior ke laut. Kami mengejar yang lari, menyeret dan membuang yang tertangkap.

Setelahnya kami saling bersalaman sebelum pulang. Bus sudah datang dan mandi adalah hal yang tidak perlu. Yang kami pikirkan saat itu adalah cukup pulang dulu. Dijalan, bus menurunkan saya ditempat biasa saya turun ketika naik angkot. Saya berpamitan dengan yang lain sebelum turun dan berjalan menuju rumah.

Oleh-oleh
Sampai di rumah, badan sudah mulai nyeri, betis mulai pegal, dan badan sudah minta istirahat. Saya kira, cukup sudah cerita tentang Spektra ini. Menjadi penutup dari tetralogi Mahasiswa Baru. Semoga cukup jadi paduan untuk menjadi bayangan kepada yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Sabtu pagi di awal Desember, itu adalah tanggal 1 yang lumayan mendung. Bersama Isma yang minta nebeng, kami berhenti di Warung Kopi X-Bro u...

Bertemu Penjaga Harta Presiden Bertemu Penjaga Harta Presiden

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Sabtu pagi di awal Desember, itu adalah tanggal 1 yang lumayan mendung. Bersama Isma yang minta nebeng, kami berhenti di Warung Kopi X-Bro untuk menghadiri Workshop Konser Sastra. Seharusnya, hari itu ada mata kuliah Pengantar Linguistik, namun kami diberi ijin untuk menghadiri meski saat sudah sampai, di kelas saya hanya seorang diri laki-laki.

Disana sudah ada Atma yang sedang makan, kami membentuk kursi dengan saling berhadap-hadapan. Namun, kursi disusun ulang ketika yang lain sudah mulai datang. Kursi dibalik agar menghadap panggung. Saya duduk dibarisan kedua dari depan bersama Vira dan Isma (kalau tidak salah ingat). Baliho mulai dipasang bersama kursi yang mulai disusun. Tercantum nama Jose Rizal Manua yang saya tahu-pun tidak.

Beberapa menit setelah menanti, dari arah belakang, pemateri, yaitu Oom Jose Rizal Manua keluar dari pintu mobil dengan batik merah jambu. Dia hadir dengan riang gembira memperkenalkan diri sebagai seorang pelakon yang mengurus teater yang dinamai: Teater Tanah Air. Membawakan beberapa puisi dengan menarik.

Ketika membawakan materi dengan sangat ringan, saya membuka hape dan mulai men-searching. Beberapa riwayat sudah tercantum dari Oom Jose. Kata beliau, ia pernah melatih beberapa aktor seperti Dian Sastro, Nicholas Saputra, dan beberapa nama yang ia sebut. Untuk itu, saya mulai menelusuri kebenaran. Kemudian, mendapatkan satu fakta yang benar-benar mencengangkan. Dari tabel Filmografi Wikipedia, saya melihat Oom Jose pernah bermain dalam film favorit saya, Kala (2007) arahan Joko Anwar. Kemudian saya liat, berperan sebagai apa dia, kenapa saya bisa selengah itu. Setelah membuka lebih lanjut, Oom Jose ternyata berperan sebagai Pindoro, yang dimana pada film itu bertugas menjaga harta Presiden.

Saya shock, antara percaya dan tidak. Meski baru ngeh, namun itu adalah fakta yang benar-benar nyata. Bahwa film favorit saya, ternyata dibintangi oleh Oom Jose yang berdiri tepat disana menyampaikan materi tentang kepenulisan. Ia lebih spesifik membahas masalah puisi.

Yang pertama, ia menanyakan 25 kata dari 25 orang untuk kemudian dirangkai menjadi puisi. Beberapa puisi dibacakan oleh pembuatnya. Kemudian, bagian kedua berlanjut, kami disuruh maju kedepan, kemudian melihat ke depan dan belakang. Lalu kembali dan menjadikan itu puisi lagi. Dan, yang terakhir, ia menyimpan beberapa material didepan untuk kemudian dijadikan puisi lagi. Semua dari kami membuat puisi. Beberapa ada yang dibaca. Waktu itu, saya hanya sempat buat satu puisi karena sudah mulai excited saat tahu beliau adalah bagian dari film favorit saya.

Sebenarnya, tidak hanya itu, Oom Jose juga bermain dalam film Danur (2007) arahan Awi Suryadi, namun Kala adalah alasan yang benar-benar mampu membuat saya tampak excited. Disana, kembali Oom Jose menghibur kami dengan lakon dan pembacaan puisinya. Dari akun Instagram yang saya rasa masih dipegang langsung oleh beliau, itu banyak menampilkan perjalanannya dalam semindar dan workshop. Beberapa foto juga menampilkan foto keluarganya.

Oom Jose menutup acara dengan sesi tanya jawab yang sebelumnya juga dilakukan. Dia menjawab dengan hal-hal yang saya suka. Bagaimana sudut pandang beliau benar-benar beda dan unik. Tidak eksakta dan teoritis namun tetap masuk akal. Salah satu jargon beliau adalah: "Merenung seperti gunung, bergerak seperti ombak".

Dan, setelah itu, ditutup oleh sesi foto yang benar-benar singkat karena beliau akan istirahat. Kami foto sekelas dengan beberapa kali jepret.  Disisi kanan, makanan prasmanan sudah disiapkan. Bagi yang sudah foto, bisa langsung ambil makan dan duduk menikmati. Setelah beliau hendak pergi, saya menahannya untuk foto berdua. Kemudian saya pamit, untuk lanjut makan.



Kameranya mana, matanya kemana(?)

Makanan habis untuk saya bawa gelas kopi itu didepan Warkop. Disana ada guru SMA yang juga hadir. Ia membawa dua murid untuk ikut partisipasi. Saya ambil tangan beliau untuk kami lanjut dengan basa-basi agar ia ingat. Setelah kopi habis, kami pulang. Semua dengan kendaraan masing-masing. Ada yang naik angkot juga. Saya masih dengan Isma yang saya turunkan di depan SMEA. Saya pulang dengan perasaan gembira. Pertemuan yang benar-benar tidak saya sangka. Padahal, tujuan saya pergi hanya karena saya malas di rumah dan lagi ingin dengar seminar. Pematerinya pun saya tak peduli siapa. Hingga akhirnya, alam semesta benar-benar tidak diduga. Secara tidak langsung, saya sudah bertemu Pindoro, sang penjaga harta Presiden. Saya masih ingin banyak bertemu yang lain tentunya. Salah satunya Joko Anwar. Namun ini cukup jadi awal yang baik. Dan satu hal yang saya ingin lakukan saat itu adalah menonton ulang film Kala.

Ranti dan Pindoro pada film Kala (2007)

Sebuah rencana pada Sabtu sore tanggal 24 November membawa saya kembali ke Rumah Oma. Itu adalah Rumah Oma Aryo, teman SMA saya. Tempat bolo...

Rumah Oma, Reuni, dan Hampir Mati Rumah Oma, Reuni, dan Hampir Mati

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Sebuah rencana pada Sabtu sore tanggal 24 November membawa saya kembali ke Rumah Oma. Itu adalah Rumah Oma Aryo, teman SMA saya. Tempat bolos dan nongkrong kami pas SMA. Tiap Jumat, biasanya kami kesana sebelum salat Jumat. Setelah salat Jumat, kami tetap disana sampai bel pulang untuk kami ngambil tas atau memang sudah membuang tas lewat pagar belakang.

Kenapa saya bisa sebandel itu? Perlu saya jelaskan bahwa waktu itu, adalah hal yang kami anggap biasa. Mengingat, guru yang masuk saat jam setelah salat Jumat jarang hadir. Itu bisa kami lihat ada tidaknya mobil di parkiran. Mungkin, kami tetap melakukan kesalahan dan biarlah itu jadi bagian dari masa lalu. Mudah-mudahan jadi acuan agar tidak lagi begitu.

Waktu itu, langit lumayan mendung. November benar-benar membuat hari-hari saya cukup was-was. Permasalahannya, jarak rumah ke Kampus lumayan jauh. Dan untuk kesana, saya biasanya memakai motor. Untung-untung, saya masih bisa memakai jas hujan. Bagaimana, dalam suatu keadaan dan situasi saya terjebak hujan dan lupa membawa jas hujan. Saya rasa tidak perlu banyak mengeluh, banyak teman saya yang lebih sulit jika berhadapan dengan situasi seperti itu. 

Saat itu, Kelas Menulis tidak dilaksanakan karena satu dan lain hal. Untunglah, jadi saya tidak perlu bolos untuk kelas itu. Karena saya merasa bahwa itu adalah mata kuliah saya diluar Kampus. Jam 3 lewat, saya sudah berada di Rumah Oma untuk kumpul. Itu tidak jauh dari rumah saya, hanya sekitar beberapa ratus meter keluar dari jalan raya. Disana, sudah ada Aryo dan Inggrit. Kami nunggu yang lain, yaitu Vian yang baru datang setelahnya. Memeluk dengan rasa geli. Rencananya, kami akan mandi di sebuah tempat bernama Wonua Monapa yang biasa disingkat WM. Kami ngobrol banyak, terutama waktu Vian memancing cerita saat seorang Ibu memarahi kami di rumah belakang. Waktu itu, lupa hari apa, kami bolos tapi bukan di Rumah Oma, tapi di rumah belakang. Masih bagian dari rumah Aryo. Kami banyak, kira-kira hampir 15 orang. Namun beberapa pergi ke tempat lain setelahnya. Disana, kami main hape dengan beberapa yang lain bermain game Mobile Legends atau Free Fire. Dan saat itu, kami nunggu apel selesai, agar kami bisa masuk tanpa harus menghadapi penokaan. Saat masih menunggu, seorang Ibu mengintip dari jendela dan bertanya kepada Aryo,"Apa korang bikin disitu?" (Yang artinya: Apa kalian buat disitu?)

Aryo menjawab,"Tidak adaji." (Tidak ada)

"Kenapa korang nda sekolah?" tanya Ibu itu lagi. (Kenapa kalian tidak ke sekolah?)

"Sebentar," jawab Aryo, cuek.

Lalu terjadi adu mulut yang kolot. Kami hanya diam, membiarkan Aryo saja yang mengurus mengingat Ibu itu masih bagian dari tetangganya. Kata Aryo, Ibu itu memang banyak urusan kepadanya. Kata Ibu itu, ia akan melaporkan kami ke guru kami. Dan kata Aryo, itu lebih karena Ibu itu sudah panas dan jengkel kepada Aryo

Rumah Oma, 24 November

Dan begitulah, banyak cerita kami di Rumah Oma saat SMA. Tidak hanya itu. Namun, saya rasa, itu adalah hal yang perlu saya ceritakan agar bisa berdamai dengan masa lalu saya dan memperkenalkan bagaimana saya tumbuh di SMA sebagai seorang remaja. Namun, jika ditanya, apakah saya menyesal dengan itu, saya masih tidak bisa menjawab menyesal. Ada banyak keraguan untuk pertanyaan yang menyangkut itu. Apalagi, saat itu masih belum lewat terlalu jauh. Jika ingin menyesal, saya hanya ingin menyesal tidak memanfaatkan waktu dan mulai rindu untuk masa-masa SMA.

Kemudian, saat masih asik cerita-cerita, Dea datang dengan motor. Lalu Ika yang akan naik bersama Dea. Kami bisa saja jalan saat itu, namun kami masih nunggu Irma. Soalnya, kami masih nunggu dia ganti pakaian. Setelah datang, dengan helm yang ia pegang, kami berangkat. Seharusnya, banyak saat itu yang harusnya pergi. Namun, entah kenapa, setiap rencana, hanya menjadi wacana diawal dan diakhiri dengan menjadi sider di grup WhatsApp. (Silent Reader).

Saat itu, kami hanya bertujuh. Saya menggonceng Irma, yang dimana saat itu seharusnya adalah Vian. Saya berhenti di Bank agar Irma bisa narik uang. Kemudian, Dea dan Ika yang sudah ngisi bensin datang. Bersama Aryo yang bersama Inggrit, dan Vian yang sendiri. Kami berbelok karena ingin lewat jalan belakang. Saat sudah melewati Hollywood Square, perjanjian agar tidak ngebut dilanggar oleh semua. Karena tidak tahu jalan, saya coba ngebut ngejar mereka. Itu sesudah melewati Progrill (dulu dikenal dengan nama: Pronto), didepan Karaoke Inul Vista, karena dibagian kiri sudah ditutup dua mobil, saya mengambil bagian kanan yang agak kosong. Saya mencoba melewati mobil Nissan, kemudian saya tidak begitu melihat ada sebuah motor yang mencoba belok kanan. Saya mencoba menarik rem sekuat mungkin dan berbelok ke kiri untuk menghindar. Namun sudah tidak bisa, kami terjatuh. Membuat beberapa orang yang disana berteriak dan mencoba membantu. Sedetik setelah saya jatuh, hanya bayangan hitam yang saya lihat beberapa detik. Kemudian, didepan, bagian jalan saya melihat jam tangan Irma yang sudah putus. Lalu, seorang laki-laki mencoba membantu mengangkat motor saya. Ia kaget pas tahu motor saya gasnya lengket dan buru-buru dicabutnya kunci.

Saya melihat Irma sudah menepi dipinggir jalan dengan ketakutan. Saya bertanya apakah ia tidak apa-apa, meski saya tahu pasti ia kaget dan syok. Saya juga begitu. Apalagi, saya melihat motor saya mengeluarkan bensin setelah diangkat dan ditepikan. Saya baru sadar, yang didepan saya ternyata seorang Bapak dan Ibu yang saya ketahui berikutnya adalah ojek yang mengantar Ibu itu untuk bekerja di rumah makan tepat di depan kami. Saya merasa takut. Takut untuk semua. Saya mencoba kembali meyakinkan Irma apakah tidak apa-apa. Celana kiri saya robek sedikit. Untungnya, saya memakai jaket jeans yang bisa melindungi saya. Dan kata Irma, ia benar-benar bersyukur saat itu tidak ada mobil atau truk yang sedang lewat. Saya beli air minum untuk Irma, takut ia syok dan jatuh sakit.

Sekarang, saya harus berurusan dengan Ibu itu. Karena saat setelahnya Bapak itu bilang tidak apa-apa dan menyuruh saya untuk lanjut. Yang membuat saya takut, adalah ketika orang-orang sudah mengerumuni saya dan meminta penjelasan. Dari penjelasan Bapak Tukang Ojek itu, katanya ia berjalan pelan dan sudah menyalakan lampu sein dari jauh. Saya bisa menerima kalau ia memang berjalan pelan. Tapi untuk sein, saya tidak begitu terima setelah mengingat tidak pernah melihat lampu seinnya menyala. Namun, saya tidak banyak bicara. Dalam hal ini, saya dalam posisi yang tidak baik untuk bicara. Saya hanya bisa akting kesakitan agar tidak diperpanjang. Hanya itu yang ada dipikiran saya. Saya sudah meminta maaf kepada Bapak itu dua kali, dan Ibu itu tiga kali. Namun, seorang ketua karyawan menanyakan mau jalur damai atau bagaimana. Saya mengatakan, jelas ingin berdamai saja.

"Namun, kamu harus tanggung jawab. Ibu itu datang kesini untuk kerja dan sekarang kena musibah," katanya.

"Betul juga," kata saya dalam hati.

Setelah sepakat dengan Irma, kami patungan 50-50 untuk ngasih Ibu itu uang urut. Awalnya, kami ingin ngasih 50 ribu saja, namun saya rasa itu terlalu sedikit, saya tambah saja 50 ribu. Saya nyuruh Irma untuk nelepon Aryo kembali, berhubung ia tahu banyak soal motor. Saya masih parno dengan bensin yang keluar tadi meski motor saya masih bisa nyala.

Setelah datang, Aryo menggerutu karena kebodohan saya. Ternyata, sebuah pipa kecil yang saya anggap putus adalah saluran pembuangan, katanya. Aryo menjelaskan bahwa bensin yang keluar saat jatuh adalah memang karena motor yang dimiringkan. Saya hanya tersenyum. Selain karena biar memastikan motor baik-baik saja, saya juga masih butuh mereka karena tidak tahu jalan. Irma tahu, namun masih meragukan.

Kami kembali berjalan, meninggalkan tempat perkara itu. Irma kemudian cerita, bahwa itu mungkin karma karena bilang ke Neneknya mau ke rumah teman. Mereka semua ketawa, saat saya mencoba menceritakan insiden itu. Saya benar-benar tidak tahu harus merespon apa. Untungnya, masalah itu tidak diperpanjang. Kami sampai kemudian. Lalu mandi.

Wonua Monapa, 24 November
Disela-sela mandi, kami banyak gangguin orang yang sedang pacaran di kolam. Itu karena kami menghindari adanya perbuatan zina, bukan karena sirik. Itu beda. Selanjutnya, saya dan Aryo masih berenang sebelum Vian menyerah karena badannya mulai tidak enak. Kami makan Ubi Goreng yang dipesan Irma, kemudian masih lanjut mandi sebelum bilas dan pulang.

Diperjalanan pulang, kami terjebak macet oleh sebuah pesta pernikahan orang yang lumayan besar. Saya rasa itu syuting Crazy Rich Asians 2. Katanya ngundang artis, yang saya tahu Judika. Kami tidak ada pikiran untuk singgah nonton atau makan. Kami tetap lanjut. Aryo berbelok untuk pergi ke Bengkel Buaya bersama Inggrit. Kayaknya, pergi ke Ayahnya. Kami tetap berjalan pulang. Posisinya, Vian sendiri didepan, saya dan Irma ditengah, lalu Dea dan Ika dibelakang. Saya jadi ingat salah satu adegan. Ehm.

Lalu, Dea, Irma, dan Ika turun di Kebi, itu adalah tempat dipinggir jalan. Banyak makanan dan penjual. Saya dan Vian pamit pulang. Kemudian, di rumah saya, Vian nelpon dosennya karena bermasalah dan terancam tidak ikut final. Setelah Vian pulang, karena saya dan teman lorong (Kios Ummi) mau makan malam di sebuah warung Mie Instan di depan Rumah Sakit Santa Anna. Lalu, malam itu kenyang. Disebuah story WhatsApp Irma besok siang, ia foto tangannya yang memar. Saya balas,"Lukanya mi saya." Kemudian, kami lanjut chattingan dan saling sepakat untuk melupakan kejadian itu.


Setelah Salat Jum'at 23 November, saya memantau tidak ada tanda-tanda masuk dari grup WhatsApp kelas. Itu menandakan bahwa seharusnya ha...

Misteri Hilangnya Kunci Motor Misteri Hilangnya Kunci Motor

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Setelah Salat Jum'at 23 November, saya memantau tidak ada tanda-tanda masuk dari grup WhatsApp kelas. Itu menandakan bahwa seharusnya hari itu bisa saja menjadi libur sehari penuh. Soalnya, mata kuliah pagi tadi juga tidak masuk. Hingga pada jam 1 lewat, kabar mendadak dari Ketua Tingkat mengatakan bahwa hari itu masuk. Karena kaget, saya buru-buru menelpon Atma, teman saya, dengan tujuan mencari kebenaran info tersebut. Memang benar, masuk, itu terdengar dari suara Danil, Ketua Tingkat yang katanya mendapat telepon.

Dengan sekejap, saya menyambar satu lembar pakaian, jaket, dan helm. Kemudian langsung keluar dan ingin cepat-cepat berangkat. Pagi tadi, motor X-Ride yang sering saya bawa, rusak. Tidak bisa starter tangan, dan starter kaki juga susah. Sudah dibawa di bengkel sebelum sholat Jum'at, tapi saat ingin berangkat motor itu kembali rewel. Akhirnya, saya memakai motor Bapak saya, Aerox. Itu adalah motor yang berukuran besar dan sudah melekat stiker biru diseluruh body motor.

Seharusnya, saya bisa saja memacu motor diatas 80 KM/jam. Tapi itu tidak saya lakukan karena tahu bahwa saya akan tiba sebelum dosen. Meskipun, jarak dari rumah ke kampus tidak dekat.

Saya berhenti ditepi jalan ketika berada dijalan By Pass depan Same Hotel. Kemudian meng-aktifkan data seluler agar jika, ada info, saya bisa tahu dari getaran disaku celana. Namun hingga sampai, tidak ada getaran yang benar-benar saya rasa. Setelah di depan Perpustakaan, itu berhadapan dengan Sekret yang sudah ditempati oleh teman-teman yang lain. Pikiran saya mulai tidak enak. Ada apa? Jangan-jangan, dosen berubah pikiran. Tiba di parkiran, saya mengecek grup, tidak ada tanda-tanda dosen berubah pikiran.

Scroll. 

Scroll.

"Tapi masuk jam 3.30."

Gubrak.

Sembari melihat hape, saya mencoba memasukkan helm ke dalam jok motor ketika memperkirakan akan turun hujan. Namun karena helm terlalu besar, itu hanya saya kaitkan pada sadel motor. Dari parkiran, saya berjalan menuju Sekret. Disana sudah ada beberapa orang, termasuk Atma yang sedang duduk. Tersenyum bak murid tertangkap nyontek.

Dibagian ujung, ada Marwan, Iyar, Fandy, dan Adi. Sedang ngobrol dan kelihatannya serius. Meski begitu, kehadiran saya tetap jadi hal yang bisa membuat percakapan itu berhenti. Kemudian dilanjutkan dengan topik yang lain.

Kami masih disana ketika perempuan sudah meninggalkan Sekret. Aping datang dengan motor Marwan yang ia pake. Beberapa saat setelahnya, Adi berkata,"Masuk!"

Marwan masih menunggu kepastian ketika dia memasang ekspresi yang ragu. Kemudian, datang beberapa teman perempuan yang lain. Katanya memang masuk. Kami bergegas, namun tidak berlari. Hanya berjalan dengan kecepatan yang agak dipercepat. Melewati depan Perpustakaan, lalu memotong jalan agar tidak memutar. Di ruangan, kata yang lain, dosennya sedang keluar. Saya mengambil kursi dibawah kipas angin. Itu diapit oleh Rika dan Maya.

Dosen masuk, memberi sedikit pengantar dan mulai mengabsen. Itu pelajaran Bahasa Inggris. Lalu dilanjutkan dengan materi memperkenalkan diri. Seharusnya, hari itu kami akan maju satu persatu memperkenalkan diri dengan Bahasa Inggris. Namun, kata mayoritas teman kelas mengatakan belum siap. Itu dituruti oleh dosen yang juga ingin keluar. Setelah mendikte kami pada papan tulis, ia keluar dan mata kuliah hari itu telah selesai.

Sebelum pulang, Iyar menyuruh kami agar ke Sekret dulu. Itu memang sering kami lakukan. Apalagi, saat kami pulang masih terlalu sore. Hanya duduk dan cerita kecil. Kadang-kadang jika terbawa arus, kami bisa membuka forum diskusi. Marwan sudah keluar dengan motornya, dihentikan Iyar yang menyuruhnya ke Sekret namun ia tetap pulang. Sampai di parkiran, saya merogoh kantong, mencari kunci motor untuk membawanya di depan Sekret. Namun jelas saja, ketika mencoba merogoh seluruh kantong hingga ke dalam tas tidak ada hal yang benar-benar bisa membuat saya lega. Iyar bertanya, dan saya mengatakan bahwa kunci motor saya hilang.

Kemudian, ia membelokkan motornya, bersama Fandy yang sudah hampir pulang diantarnya. Saya mencoba mengikuti arah saya waktu ke Sekret. Lalu mencarinya. Tidak ada. Setelah kembali, yang lain kembali bertanya. Saya jawab seadanya karena fokus untuk mencari. Beberapa teman membantu mencari, terutama yang masih belum pulang. Iyar menggonceng saya menuju Sekret kembali setelah mengecek ruangan yang sudah dibersihkan oleh cleaning service.

Tidak ada. Jawaban dari segala pertanyaan yang terus berulang.

Matahari sudah menyala, kemudian hampir padam. Kami masih mencari. Tidak ada hasil sampai Atma dengan inisiatif mencoba menyebar info pada grup fakultas dan beberapa grup lain. Kemudian, telepon masuk dari seseorang dengan nomor Indosat. Lalu ditelepon untuk menanyakan karena sudah berkata menememukan kunci motor Yamaha.

Lama berselang dari drama telpon menelpon, akhirnya kami ketahui bahwa itu adalah Fandy. Yang pulang kemudian menjahili kami semua. Solusi terakhir adalah pulang untuk mengambil kunci cadangannya. Iyar menggonceng saya sampai ke rumah. Motor ia pacu perlahan seperti biasa ia membawa motor. Kami bertemu Marwan dan bertanya apakah melihat kunci motor. Jawabnya tidak. Kemudian kami pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Di teras, ada Mama dan Bapak sedang ngobrol. Saya tidak banyak bicara hanya langsung berkata bahwa kunci hilang, kemungkinan ada tercecer dibawah jok motor. Bapak menggerutu. Tanpa banyak ambil pusing, saya kembali bersama Iyar yang sudah membelokkan motornya. Kami tiba lebih cepat dari perjalanan pergi. Sampai di depan fakultas saat Maghrib. Disana masih ada teman-teman yang setia menunggu. Saya mengembalikkan helm yang saya pinjam dari Mawar. Kemudian mengecek apakah benar kunci motor ada di jok motor. Hasilnya tidak ada.

Rara minta nebeng, katanya minta diantar didepan Kampus. Yang lain pulang bersama dengan jalan kaki menuju tempat mengambil angkot. Saya belum sempat terima kasih sampai saya memakai helm dan sebuah benda keras berada tepat diatas kepala. Saya membuka helm, dan sebuah kunci motor terjatuh. Saya berteriak kepada teman yang sudah hendak pergi, semuanya tertawa gemas. Disana ada teman-teman yang sudah setia menunggu. Tidak usah diabsen satu-satu nanti jadi besar kepala.


Diperjalanan pulang, saya berpikir, bisa-bisanya benda sekecil ini membuat sibuk banyak kepala. Oh, yang saya tahu, mungkin ini cerita yang baik untuk ditulis. Mengingat tidak setiap hari saya kehilangan kunci.

Jupri namanya. Ia lahir di sebuah desa bernama Teppo'e. Tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani. Jupri baru saja naik k...

Karena Jupri Karena Jupri

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras



Jupri namanya. Ia lahir di sebuah desa bernama Teppo'e. Tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani. Jupri baru saja naik ke tingkat SMA saat 2003. Bisa dikatakan bahwa Jupri adalah orang yang kutu buku, meski ia selalu geram ketika dicap begitu. Menurutnya, apa yang salah dengan membaca buku. Lagipula, tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Pemuda di sana kebanyakan nongkrong di pos ronda sambil main dam atau domino. Sementara Jupri bukan orang yang senang dengan hal seperti itu. Bahkan, malam itu, dengan tangan menadah kepalanya, ia hanya memperhatikan langit-langit.

Sore hari sebelumnya, dari kota datang seorang perempuan berambut bob dengan kulit kuning langsat. Perawakannya agak tua dari umurnya. Kemana-mana, ia selalu menenteng buku dan walkman. Itu yang membuat Jupri mulai tertarik ketika sebuah mobil Kijang Krista melewati surau yang sering Jupri lewati. Pak Amin, seorang petani dari desa sebelah berdecak kagum. Sampai-sampai, ia memukul bahu Jupri untuk mengungkapkan kekagumannya.

Jupri pulang dipenuhi tanda tanya di kepalanya, perasaan yang aneh di dadanya, dan kegelisahan yang dari tadi ia tahan untuk tidak terlalu mondar mandir saat berada di rumah. Buku Iwan Simatupang yang ia pegang sudah ia habiskan sebelumnya. Pikirannya rancu, untuk berpikir di luar dari perempuan itu sangat susah sekali. Pamannya sudah menyalakan api yang dibuat dari botol kaca yang diisi minyak tanah. Itu untuk dipakai menerangi ketika mereka makan. Jupri menyendok nasi, dan mengambil ikan sebagai lauk dengan mata kosong kedepan. Ia benar-benar sudah terkena sihir, pikirnya.

"Ada masalah, Pri?" tanya Paman.

"Tidak Paman, tidak ada masalah," jawab Jupri.

"Kalo ada masalah, lekaslah cerita," kata Paman.

Keesokan paginya, saat berada di sekolah, Jupri mulai mencari-cari perempuan itu. Kiranya ia berpikir bahwa perempuan itu datang disini untuk bersekolah. Ia harap benar begitu. Namun sampai sekolah dibubarkan, perempuan itu tak kunjung datang. Kemana perempuan itu? Padahal, ia ingin melihatnya.

Perjalanan menuju rumah bersama beberapa teman kelas, Jupri akhirnya pamit ketika harus berpisah jalan. Ia berbelok menuju bagian paling dekat untuk sampai ke rumah. Mengganti pakaian, kemudian duduk di bale-bale depan rumah. Pohon mangga didepan rumahnya sangat ia syukuri, karena berkat itu juga dihalaman rumahnya terasa sejuk. Meski begitu, cuaca disana memang kelewat sejuk. Kau masih bisa menemukan embun saat matahari mulai naik. Dan itu yang membuat daerah itu terlihat segar dan asri. Bahkan ketika menjelang siang, angin yang bertiup seakan mengajak orang untuk lepas dari pekerjaan dan melanjutkan mimpi semalam.

Saat sedang melihat-lihat orang berlalu lalang, ia akhirnya terkejut. Perempuan itu, bersama seorang yang lebih tua, mungkin Ibunya, terlihat berjalan tepat didepan rumahnya. Kemudian, dengan agak kebingungan seolah beradu argumen dengan Ibunya, mereka masih tepat dibagian depan rumah Jupri. Yang ia duga sebagai Ibu dari perempuan itu kemudian memanggil.

"Dek, disini warung yang dekat mana yah?"

"Oh, kalo boleh tau warung apa yah, Bu? Warung makan atau warung belanja?" tanya Jupri balik.

Perempuan itu memegang erat walkmannya, dan sesekali memperhatikan Jupri.

"Yang warung belanja, Dek."

"Oh, disitu. Warung Pak Maun."

"Bisa antar kami kesana."

"Boleh."


~o~

Jupri berjalan sedikit lebih depan, itu lebih kepada karena ia agak malu dengan perempuan itu. Tanpa banyak bicara, Jupri mengambil belokan setelah jalan utama, itu menuju warung Pak Maun yang tidak terlalu besar.

"Ini, Bu." kata Jupri.

"Makasih, Dek," kata Ibu itu,"Jangan pergi dulu yah."

"Iya, Bu."

Jupri menunggu Ibu itu masuk bersama perempuan itu. Agak lama karena masih mencari apa-apa saja yang akan mereka beli. Sampai akhirnya, Ibu keluar, membawa satu kantong kresek hitam penuh. Lalu, memberi Jupri sebotol minuman.

"Tidak perlu, Bu." kata Jupri.

"Ambil aja, Dek."

Jupri pasrah dan mengambil minuman itu. Langkahnya hampir sama, tidak lagi berjalan lebih depan. Jupri hanya diam, mendengar percakapan Ibu dan perempuan itu. Sesekali meneguk minum ketika merasa canggung.

"Makanya, kamu jangan dirumah terus, Ren." 

Perempuan itu tidak menjawab, hanya tetap berjalan.

"Coba kalo Ibu ngomong kamu denger," kata Ibu,"Karen!"

"Iya, Bu, denger." lalu perempuan itu berbalik dan mendapati Jupri yang sedang memperhatikan.

Jupri mengalihkan pandangan dan sedikit malu. Ibu itu bertanya,"Nama kamu siapa, Dek?"

"Jupri, Bu."

"Kenalin, ini Karen. Saya Ibunya." 

Lalu perempuan itu tersenyum, tipis tapi manis. Jupri membalasnya.

Jupri hampir berbelok untuk ke rumahnya, lalu Ibu itu memanggil Jupri. Ibu Karen menyuruh Jupri untuk mengajak Karen jalan atau berkeliling melihat desa. Jupri mengangguk perlahan, dan memperhatikan apakah ada ekspresi menolak dari Karen. Namun, yang sejauh ia lihat, Karen terus menunduk.

~o~

Kegelisahan Jupri semakin menggila saat menjelang malam. Apa yang bisa ia lakukan saat itu? Tidak ada. Selain menatap langit-langit kamar dan mengingat wajah dari Karen. Siang itu, banyak hal yang bisa ia katakan namun tidak. Ia hanya ragu merusak suasana yang begitu baik saat ia bisa sedekat itu dengan Karen. Suaranya yang sedikit serak, dan tatapannya yang malu-malu adalah hal yang benar-benar merusak sistem kerja otak Jupri. Kemudian Jupri tidak lagi mengingat apa-apa.

~o~

Jupri kaget, kakinya kaku tidak bisa bergerak, mulutnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. Karen datang dengan wajah yang benar-benar semringah. Ia duduk di bale-bale samping Jupri. Tanpa bicara, Karen menyodorkan  tangan, itu untuk memulai perkenalan. Jupri berkata,"Kan, kemarin sudah."

"Itukan lewat Ibuku," kata Karen.

Jupri mengambil tangan Karen,"Jupri Alan Sinatra."

"Karena Saputri, panggil saja Karen," kata Karen.

"Oh."

"Kenapa?"

"Tidak."

"Ada masalah dengan namaku?"

"Tidak, tidak," Jupri mencoba meyakinkan,"Hanya sedikit aneh, baru mendengar nama seperti itu."

"Kau akan terbiasa, percayalah."

Kemudian, suasana mulai mencair. Jupri banyak cerita setelahnya. Tentang bagaimana desa ini setiap harinya. Pekerjaan tetap yang ada disini. Sampai apa-apa saja trivia yang bisa Karen tahu. Karen juga cerita, bahwa kedatangannya disini adalah karena Ayahnya yang sedang kerja. Meninjau kerja para petani disini. Memberi panduan, ataupun segala hal yang berkaitan agar padi bisa tumbuh subur dan lebih menghasilkan. Karen bercerita tanpa ada yang ia tahan. Seakan, apa yang diceritakan itu adalah lumrah cerita seorang kawan kepada kawannya. 

"Saya akan ngajak kamu keliling. Mau?" kata Jupri.

Tanpa berkata, Karen mengangguk.

Jupri mengajak Karen melewati aspal jalan yang ada disana. Jalan beraspal hanya sedikit, hanya satu jalur yang menghubungkan ke jalan utama.

Jupri banyak mengabsen rumah-rumah yang ada disana. Kebanyakan rumah masih memakai rumah panggung. Itu biasa untuk menyimpan barang, atau padi mereka, kadang-kadang mereka memelihara anjing dibawah rumah. Jupri menunjukkan bekas gigitan dilututnya ketika waktu itu mengganggu anjing gila dibawah rumah. Jupri bisa saja rabies waktu itu, tapi disana banyak orang tua yang ahli. Dengan sedikit sentuhan, kemudian diludahi, seingat Jupri, semuanya jadi baik-baik saja.

Pohon kelapa kuning mulai terlihat banyak ketika mereka berbelok dari aspal menuju lapangan sepak bola. Lapangan itu hanya lapangan biasa yang dibuatkan gawang dari bambu dikedua sisinya. Tempat lewat sapi untuk menuju kandang. Ohya, Jupri kemudian cerita, disana juga, kebanyakan para petani menggunakan sapi untuk membajak sawah. Maka dari itu, memelihara sapi adalah hal yang sangat lumrah. Bukan karena kaya, tapi lebih untuk kebutuhan bertani.

Karen tidak banyak bicara lagi, ia hanya menyimak bak anak SD yang sedang menjadi murid study tour. Ketika berada ditengah-tengah lapangan, Jupri mengajak Karen untuk masuk ke dalam hutan. Langit masih terlalu cerah untuk pulang. Jupri berjalan didepan untuk memotong dan membuat jalan agar Karen tidak terhalang alang-alang. Aroma hutan benar-benar membuat Karen mudah tersenyum. Tanah yang lembab, serta dahan yang masih basah karena embun semalam. Itu benar-benar dirasakan mereka berdua. Kemudian, Jupri tidak banyak bicara, ia hanya membawa Karen berkeliling melihat hutan. 

"Hati-hati, banyak babi hutan," kata Jupri mencoba menakuti Karen.

"Iii..ih," Karen memperhatikan sekeliling.

"Kamu senang baca?" kemudian Karen bertanya.

"Tahu darimana?"

"Kemarin, aku melihatmu memegang buku? Buku apa itu?" tanya Karen.

"Oh, itu, Anne Karenina, dari guruku," katanya.

"Tolstoy, bukan?" 

"Tepat sekali."

Jupri mengajak Karen untuk ke Sawah. Itu jauh, namun kalau memotong jalan lewat hutan itu hanya beberapa menit. Disana, tidak terlalu luas. Yang luas harus memakai motor. Juga itu bukan punya Paman Jupri. Namun, itu setidaknya bisa ia perlihatkan kepada Karen. Dibeberapa kesempatan seperti saat ini, kita bisa melihat sekawanan burung yang berada didahan pohon. Bukit yang ada dibalik hutan juga menambah keindahan. Tekstur tanah mulai berubah. Dari yang tadinya lembab menjadi lembek dan berair. Jupri mengajak Karen melewati pinggiran sawah. Itu untuk keujung dimana ada sebuah dangau. Terletak beberpaa orang-orangan sawah juga. Jupri kembali cerewet menjelaskan. Dan sebagai pendengar yang baik, Karen hanya berfokus pada apa yang Jupri katakan. Meski begitu, Karen sempat bertanya,"Kalo besar kamu mau jadi petani?"

Jupri terdiam.

"Sepertinya tidak. Saya mau menulis. Banyak yang perlu dan menarik untuk ditulis disini," kata Jupri.

"Wah, kalau begitu, aku ingin disini bersamamu. Menemanimu menulis. Tapi,.."

"Tapi kenapa?" tanya Jupri.

"Aku harus kembali. Ayahku akan pulang seminggu lagi."


Karena terlalu jauh dan lama, mereka kemudian keluar. Melewati lapangan yang sudah banyak anak mudah sedang bermain sepak bola. Kebanyakan teman sekolah Jupri yang menganggunya. Banyak dari mereka yang mencoba menunjukkan esksistensinya. Terutama yang sedang buka baju. Jupri hanya mencoba menuntun Karen agar lebih cepat sampai di rumah.

"Jupri, bolehkah kami kenal dengannnya?" kata teman Jupri, seolah melogat bahasa perkotaan.

Saat sudah melewati lapangan, Jupri tidak melihat kebelakang. Namun suara cieeee dan suit suit sangat jelas menggema diudara.

Jupri pulang, namun terlebih dulu mengantarkan Karen sampai ke rumahnya. Itu lumayan dekat dengan rumahnya. Ada tiga petak disamping rumahnya. Karen tinggal dengan keluarga Bu Dirsa. Karen masuk. Disana tidak ada orang diteras maupun halaman. Kata Karen, Ayahnya sedang keluar, sementara Ibunya sedang pergi dengan Bu Dirsa.

"Daripada bingung di rumah, mending ke rumah kamu," kata Karen.

"Saya pulang dulu, yah. Takut Paman cari." kata Jupri.

~o~

Kokok ayam begitu nyaring terdengar dari pintu belakang. Jupri bergerak untuk pergi bersekolah. Di sekolah, ia melewati hal-hal yang begitu aneh. Segala aktivitas disekelilingnya tidak asing untuk ia lihat.Saat pulang, ia benar-benar merasa aneh ketika dirinya tanpa sengaja bergerak menuju bale-bale dengan buku ditangannya. Seorang Ibu dan perempuan datang, bertanya,"Dek, disini warung yang dekat mana yah?"

Adi, teman saya, sudah memberi ajakan untuk berenang. Tempat dan waktunya adalah di Koni pada hari Minggu. Kenapa Koni? Itu murah dan kenapa...

Mematahkan Stigma Mandi Pagi di Hari Minggu Mematahkan Stigma Mandi Pagi di Hari Minggu

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Adi, teman saya, sudah memberi ajakan untuk berenang. Tempat dan waktunya adalah di Koni pada hari Minggu. Kenapa Koni? Itu murah dan kenapa Minggu? Sesungguhnya itu adalah kesepakatan bersama. Sehingga, yang saya tahu, disepakatinya hari Minggu karena Senin sampai Sabtu kita masuk Kampus. Dan itulah, tanggal 11 November adalah tanggal yang cukup cantik. Saya dibangunkan untuk segera bersiap. Mandi kemudian sarapan perkedel KFC sisa kemarin.

Kebetulan saya bawa motor dan searah dengan rumah Aping, jadi itu yang membuat saya menyinggahinya untuk pergi bersama. Dijalan, Aping bercerita bahwa tadi malam, ia menghadiri rapat himpunan mahasiswa dari kampungnya. Kemudian, saat hampir melewati Taman Kota, jalan dialihkan untuk kami kemudian berbelok. Lalu mengambil beberapa jalan tikus untuk sampai kejalan raya kembali. 

Sesampainya di Koni, kami langsung ke parkiran. Padahal, kata Aping, didepan gerbang ada Adi yang sedang nunggu. Saya membuka hape, lalu mengirimkan pesan untuk Adi. Itulah yang membuat ia datang berjalan kaki dengan celana pendek dan jaket abu-abu yang ia tenteng ditangan kirinya. Sembari menunggu Iyar, Ridwan datang. 

Kami masih diparkiran ketika dari atas terdengar sebuah panggilan. Dan ternyata, itu adalah Iyar. Dia turun bersama Arjun dan Danil yang datang. Kami mengumpulkan uang untuk tiket masuk. Untuk usia kami, biasa masuk adalah 7 ribu dan 2 ribu untuk parkir. Kami masuk dan memilih tempat diujung kolam yang disana, cahaya matahari tidak terlalu panas.



Sembari membuka baju, Adi menghubungi Fandy mau datang. Kemudian, saya mengirimkan Fandy lokasi lewat Google Maps sebelum menyimpan hape didalam tas. Yang lain sudah siap mandi setelah awalnya malu-malu. Padahal, yang seharusnya malu adalah saya yang belum pandai berenang. Jadi, ketika yang lain sudah melompat bebas di kolam tiga meter, saya masih bisa tenggelam kolam anak-anak. 

Disana, Ridwan dengan sok jago memberi saya teori untuk berenang, "Gampang ji berenang, lah." (Gampang kok berenang) Kemudian ia memberi beberapa gaya berenang diudara bak seorang pelatih.

"Kau saja ko nda tau berenang," gumam saya. (Kau saja tidak tau berenang)

Lalu kami naik. Danil sudah menjemput Fandy yang ada diluar sebelum kami ngumpul uang untuk beli gorengan. Tidak bisa dipungkiri, Mie dan Gorengan adalah penyelamat kami selama jadi mahasiswa. Meski tidak ngekos, beberapa kali disaat jam nanggung untuk pulang saya dan kawan-kawan nebeng di kosan teman untuk makan dan istirahat. Jadi, dengan segala hormat, saya dan kawan-kawan, apalagi yang ngekos, mengucapkan terima kasih untuk Mie dan Gorengan.


Fandy sudah siap bersama yang lain untuk turun. Beberapa kali, sempat saya nyoba untuk ke kolam tiga meter. Tapi selalu naik kembali karena takut tenggelam. Akhirnya, saya dan Ridwan harus pasrah berdua di kolam dua meter. Itu sedada saya. Dan cukup tinggilah untuk belajar-belajar renang.

Entah karena kasian atau apa, yang lain menepi ke kolam dua meter bersama kami. Waktu itu, Ridwan sedang ngobrol dengan seorang Bapak-Bapak. Dari pembicaraannya, mereka sepertinya ngobrol masalah berenang dan tempat tinggal. Sempat saya curiga tentang Bapak-Bapak itu. Apalagi, durasi ngobrolnya bersama Ridwan cukup lama. Hanya, itu kami biarkan, karena Ridwan juga memberi kami banyak kekesalan. Dimulai dari ia mengatakan anak kosan makan kacang sebiji bisa kenyang. Dan Arjun, dengan emosi yang cepat naik, berkata: "Ih, coba kasih kos ini anak. Jangan kasih uang satu hari." Kami semua ketawa. Itu lebih kepada ekspresi Arjun yang lucu. Pokoknya, Ridwan itu punya argumen yang lucu dan kadang-kadang imajinatif. Makanya, jika ngobrol dengan dia, kami sudah tahu dan tidak mengambil pusing. Seringkali, ketika ia berbicata, saya nahan ketawa dengan Iyar dibelakang. Namun Arjun, yah, bukan dia kalau tidak emosi.

Sementera kami semua turun, Danil hanya duduk. Sebenarnya, ia mau turun. Namun itu ia urungkan ketika harus membuka baju. Danil adalah salah satu mahasiswa yang alim. Sholat lima waktu ia laksanakan. Dan untuk itu, ia memilih untuk tidak mandi. Katanya, itu mengumbar aurat. Saya pikir, ini cuma masalah niat. Danil tidak berubah pikiran. Ia naik keatas tribun untuk menyaksikan kami berenang. Kecewa dengan Danil yang tidak turun adalah satu dari yang lain, dimana Marwan saat itu juga tidak bisa hadir. Awalnya, dari WhatsApp tidak bisa dihubungi. Lalu, aktif dan mengabari bahwa ia ada acara. Kami pikir itu cuma alasan yang ia buat.

Di kolam, kami saling adu tahan napas. Lalu, Aping, Fandy, dan Adi yang adu renang. Sampai salto antara Aping dan Fandy. Semuanya seru. Mengingat kebiasaan kami di Sekret hanyalah makan gorengan dan diskusi. Kelas berenang hari itu adalah sekaligus refreshing untuk kami.

Dan setelahnya, kami naik ke atas tribun bersama Danil. Itu lebih karena kami sudah lelah berenang. Padahal, saya masih mampu jika sekedar berendam. Kemudian, dengan masih bertelanjang dada, Arjun memanggil seorang perempuan untuk moto. Sempat terjadi insiden panjang dimana Adi dan Danil malu untuk berfoto. Namun Arjun menarik Adi sementara saya menarik Danil. Itulah dimana badan kami yang bagus diabadikan.



Selesai foto, kami turun untuk bilas dan ganti pakaiaan. Sebelum pulang, kami naik lagi ke tribun. Tujuannya untuk foto, karena, pada saat tadi, berfoto dengan telanjang dada, adalah opsi kedua untuk mengunggah di sosial media. Harus ada opsi lain dimana kami terlihat keren dan berpakaian. Kami tidak ingin memberi orang pemikiran untuk mengasihani kami karena tidak mempunyai pakaian.




Setelah foto, yang dilakukan oleh anak kecil, kami turun. Lalu bersiap untuk pulang. Saya bersama Aping. Ridwan dan Iyar sendiri karena yang lain tidak membawa helm. Membonceng mereka sama saja menyerahkan diri ke polisi. Apalagi, minggu itu adalah masa operasi zebra. Saat melewati Adi, Arjun, Danil, dan Fandy, saya membunyikan klakson dan mengangkat tangan dengan tujuan pulang duluan. Mereka menyahut dari belakang.

Tanpa banyak obrolan, motor melewati jalan demi jalan. Lampu merah hanya kami dapati ketika melewati SMAN 4 Kendari. Kemudian, kami dengan beruntung mendapat lampu hijau untuk terus bergerak. Aping saya turunkan tepat didepan tempat proyeknya. Kami bersalaman sebelum saya kembali memacu motor untuk pulang. Dan itulah dia, hari Minggu yang dimana kami mampu mematahkan stigma "Tidak Mandi di Hari Libur". Lalu dengan demikian, Minggu kami tidak semonoton biasanya. Menjadi sebuah cerita yang benar-benar mampu membawa saya pada satu titik untuk kembali merasakan pertemanan yang solid.