Sebenarnya, saat ini saya hanya ingin tidur. Tapi tentu saja tak bisa karena jadwal tidur saya sudah kacau lebih dulu. Semua bermula ketika ...

Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Sebenarnya, saat ini saya hanya ingin tidur. Tapi tentu saja tak bisa karena jadwal tidur saya sudah kacau lebih dulu. Semua bermula ketika libur dimulai. Awalnya hanya ingin merayakan libur dengan begadang semalam bermain PUBG di hape. Namun, karena keasikan, malah terbawa-bawa hingga malam berikutnya.


Malam itu, sehabis bermain Creative Destruction (game yang mirip Fornite) di hape, saya mencoba untuk tidur lebih awal. Alih-alih tidur, pikiran saya malah semakin liar. Badan saya tidak berhenti untuk bergerak dari kasur. Seakan ada hasrat dari tubuh yang mengatakan: "Ayo, Bangun! Mari begadang!"

Semakin saya lawan dengan memejamkan mata, semakin pikiran saya liar. Ini tidak mungkin pengaruh kopi tadi siang, pikir saya. Sampai kemudian, pemikiran saya sampai pada melihat perkembangan di dunia ini lewat perkembangan game.

Dulu, saya bermain tetris di sebuah konsol game yang dibelikan oleh Ibu saya. Saya masih ingat waktu itu, konsol tetris saya warna biru langit. Saya menghabiskan waktu-waktu saya dengan main game tetris itu. Kadang-kadang dipake ole Tante saya. Permainan itu mengharuskan kita sebagai pemegang kontrol untuk membangun sebuah bata yang sudah ditentukan bentuknya. Semakin berkembangnya jaman, permainan semakin canggih. Sekarang, kita sudah tidak bermain tetris lagi, melainkan Fortnite. Game yang jika mau dibandingkan memang sangat jauh berbeda. Namun, jika dilihat lebih lanjut, memiliki persamaan yang bisa dijadikan kajian. Asik.

Kedua game itu sama-sama bersifat build to play. Yang satu hanya khusus membangun, yang satu membangun sekaligus mematikan lawan dan bertahan hidup. Itu mencerminkan kehidupan kita sekarang bahwa membangun saja tidak cukup, kita juga butuh bertahan dan tidak sedikit yang saling menjatuhkan?

Disisi yang lain, sesudah bermain game Tetris, saya beranjak bermain game konsol di Nintendo sepupu saya. Saat itu, saya jatuh cinta bermain game Contra. Biasanya, saya akan memakai Lance Bean, karakter dengan kostum warna biru. Sedangkan sepupu saya memakai Bill Rizer, karakter yang berkostum merah. Game itu menuntut kita untuk bekerja sama untuk menyingkirkan sebuah kelompok yang akan mengambil alih bumi.

Semakin berkembangnya jaman, saya mulai bermain PlayerUnknown's Battlegrounds di hape. Game yang dimana kita akan diturunkan disebuah tempat, kemudian mencari senjata untuk bertahan hidup. Jika tidak dibunuh, ya membunuh.

Dan kemudian, saya masih gelisah di tempat tidur. Sedikit demi sedikit, catatan kecil untuk membantu saya menulis ini mulai saya catat. Ada satu lagi game yang ingin saya jadikan perbandingan. Tapi, belum menemukan game pembanding yang cocok. Itu adalah game werewolf. Meski di dalam game itu kita diajarkan untuk bermusyawarah, namun secara tidak sadar kita juga diajarkan menjadi pembohong atau penipu andal saat memainkan peran Werewolf itu sendiri.

Saya membuat postingan ini bukan untuk menyerang pihak manapun. Sebagai orang yang bermain game, ini hanya sedikit kegelisahan saya sewaktu ingin tidur. Dan saya rasa ini keisengan yang membuat saya sadar bahwa saya terlalu jauh memikirkan segalanya, mungkin. Saya pikir, kemudian game hanya untuk membunuh waktu, pengusir rasa bosan, atau pengisi waktu senggang. Meski dibeberapa kasus, orang menjadikan game sebagai bagian dari hidupnya.

Sudah saya bilang, saya hanya ingin tidur. Membiarkan pikiran saya berpikir liar begini bisa membuat banyak perdebatan.

Perlu saya katakan bahwa ini adalah salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya tempuh menggunakan jalur darat. Itu adalah malam Sabtu...

Karena Liburan, Gagal Final Karena Liburan, Gagal Final

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Perlu saya katakan bahwa ini adalah salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya tempuh menggunakan jalur darat. Itu adalah malam Sabtu, dimana kami sudah mengumpul uang 100.000/orang untuk biaya bensin dan lain-lain. Yang akan ikut, diperkirakan sekitar delapan orang. Yaitu, Kak Rijal yang dimana bertugas menyetir, kemudian Ari, Dandi, Ali, Riki, Rendy, dan saya sendiri. Yang terakhir adalah Sudi, yang kami jemput di rumah kakeknya.

Rencana perjalanan ini sudah direncanakan sejak hampir setahun yang lalu. Itu waktu kami sedang nginap di hotel. Awalnya kami hanya ingin ke Danau Biru, yang waktu itu lagi hits-hitsnya. Namun, rencana kami ini lebih besar. Kami akan ke Kolaka mengelilingi beberapa objek wisata.

Malam Minggu tanggal 22, kami sudah hampir siap sebelum saya mendapat info dari grup kelas. Katanya, Senin ini akan ada final test. Saya mulai panik. Beberapa teman saya yang sudah ada di Kampung apalagi. Kami bernegosiasi di grup dengan keting kami Danil. Lewat teman saya, kami bicara sambung tiga dengan Danil. Saya mencoba bernegosiasi, apakah bisa final dipindahkan ke hari lain. Masalahnya, kalender kampus menunjukkan hari itu adalah libur bersama sebelum besoknya perayaann Natal. Beberapa menit berbincang dengan kolot, Danil kemudian bersedia ngomong dengan Pak Saur, Asisten Dosen mata kuliah Pengantar Linguistik.

Kabar dari Danil kemudian datang: final tetap hari Senin. Alasannya, itu bukan kuasa Pak Saur untuk memindah-mindahkan jadwal. Apalagi peng-inputan nilai sudah sangat dekat. Saya mulai pasrah. Saat Riki datang ke rumah, saya katakan tidak jadi pergi. Ia sedikit kecewa. Beberapa orang seperti Ali, Dandi, dan Ari sudah datang ke kamar. Dengan kecewa, membujuk saya agar tetap ikut.

Saya mencoba mencari cara. Saat Kak Rijal datang, saya memberitahukan permasalahan. Ia bersedia bicara dengan Pak Saur lewat telepon. Dan, akhirnya, sama saja. Pak Saur hanya bisa mengarahkan kami dengan Pak La Ino, dosen penanggung jawab. Jadi, lewat nomor Dosen saya, Kak Rijal menuliskan pesan singkat untuk meminta ijin dan kebijaksanaan agar saya bisa final meski dihari lain. Dengan itu, baju yang sudah ada di tas, tidak jadi saya keluarkan. Meskipun belum mendapat ijin pasti, saya tetap pergi. Dengan banyak keraguan dan pertimbangan.

Dijalan, kawan-kawan saya berusaha menenangkan saya dengan ungkapan: tenang saja. Namun realitanya saya masih was-was sepanjang jalan. Hingga sudah benar-benar meninggalkan Kendari, saya berusaha untuk tenang dan mencoba menikmati perjalan. Jika saya terus bersusah hati, saya malah rugi pada dua pilihan itu. Yang saya takutkan adalah mengecewakan Mama saya, itu saja. Karena, beliau sudah dengan perlahan mengikhlaskan saya belajar pada jurusan ini.

Kami berbincang singkat didalam mobil, sesekali tertawa, lalu mengenang kembali rencana yang akhirnya jadi. Jika mau diputar balik, rencana ini sudah dibicarakan dari tahun lalu. Waktu itu kami sedang melakukan project tahunan juga, yaitu: bermalam di salah satu hotel ternama Kendari. Lalu, salah satu dari kami mengeluarkan opini,"Danau biru bagus juga."

Kami memulai perjalanan hampir pukul 10 malam, kemudian mengisi bensin sebelum benar-benar meninggalkan Kendari. Lalu, melaju tanpa henti ke Kolaka. Disana, saya tertidur karena mulai pusing. Perjalanan kurang lebih 5 jam. Itu sudah kami menjemput Sudi, makan disalah satu warung (walaupun saya bungkus), dan sampai disalah satu tempat yang akan kami tiduri malam ini. Tempat itu adalah rumah keluarga Riki.

Kami datang sebagai tamu yang bisa dibilang menyebalkan. Datang sepagi itu, dan membangunkan si empunya rumah. Meski begitu, empunya rumah menyambut kami dengan baik. Karena lama saat memanggil empunya rumah, nasi yang dibeli saya makan didepan pagar. Dibantu Dandi yang juga tidak makan malam itu.

Kami tidur di kamar dengan jumlah enam orang. Empat yang dikasur, yaitu saya, Riki, Rendy, dan Dandi. Dibawah, ada Ali dan Ari. Sementara itu, Kak Rijal dan Sudi tidur di depan ruang tivi. Sempat terjadi perbincangan intim sebelum tidur. Dan akhirnya kami semua tumbang terlelap.

Pagi hari, yang pertama saya cek adalah balasan sms Dosen saya yang dimana tidak ada. Beberapa yang di kamar sudah bangun. Seperti Dandi dan Riki. Saya terbangun ketika mendengar suara berisik mereka. Itu ketika mereka menertawai tidur kami. Disana ada Rendy, adik saya, yang akrab disapa Onge. Itu tidur dengan gaya yang aneh dan mulut menganga. Ali mem-video sambil menahan tawa.

Dengan pikiran masih kacau, saya mencuci muka dan boker. Lalu minum teh dan makan kue yang sudah dihidangkan. Kami ngobrol santai bersama empunya rumah, terutama Ridho, anak kecil yang ada tinggal disana. Ia meminta kirim game Badminton yang ada di hape Kak Rijal.



Kami meninggalkan tempat itu sebelum jam 9, kemudian lanjut ke Tamborasi, salah satu tujuan kami juga. Sebuah objek wisata pantai sekaligus sungai. Air sungainya sangat dingin. Saking dinginnya, air minum yang kami bawa menjadi air es.

Sebelum sampai kesana, kami singgah ke beberapa tempat, salah tiganya untuk membeli permen, obat anti mabuk, dan makan. Karena kurang percaya diri, saya ikut-ukutan minum obat anti mabuk. Yang saya tidak sadar adalah efek dari obat tersebut. Akibatnya, sepanjang jalan saya tertidur pulas. Saking pulasnya, menjadi objek paparazzi.


Di Tamborasi, kami makan nasi goreng di bawahh tebing. Airnya mengalir dingin. Cocok sekali dengan situasi yang sedang lapar-laparnya. Kami makan dengan lahap. Perpaduan antara lapar dan nasi gorengnya yang memang enak. Telurnnya dua, dan dengar-dengar bukan telur ayam tapi bebek. Setelah makan, semua langsung merendam diri. Segar sekali. Kalian perlu mencoba. Semua sudah ke tempat yang airnya tinggi sementara saya dan Ali masih duduk dibawa tebing. Meski airnya segar, masih ada perasaan kacau. Apalagi saat itu, lensa saya terkena air pas menyeberang.




Ali memberi saya dua pilihan: mau menjaga barang dulu, atau mandi. Namun sebelum menjawab, ia menyuruh saya lebih dulu mandi. Saya mengiyakan. Tebing itu tidak tinggi, tapi berlumut dan curam. Setelah berhasil melewati beberapa bebatuan. Saya salah mengambil langkah dan terpeleset. Kaki kanan saya mendarat pada batu pipih. Dalam hati saat hendak melihat kaki, saya berdoa,"Jangan luka, jangan luka, jangan luka.."

Namun inilah adanya. Punggung kaki saya robek. Putih dahulu, kemudian diiringi banjir darah. Ali yang melihat membantu saya mengambil posisi untuk duduk. Kemudian memanggil yang lain. Saya memeriksa bagian tubuh yang lain. Alhamdulillah. Aman. Hampir saja, telapak tangan saya ikut robek. Untungnya batu yang berlawanan dengan telapak saya bukan batu runcing juga.

Kak Rijal datang dan melihat luka saya. Sembari meringis, Kak Rijal merobek sebuah kain untuk diikatkan pada kaki saya. Salah satu yang saya ingat saat jatuh adalah dosen saya. Benar-benar kualat saya ini. Yang lain datang dengan wajah khawatir. Kemudian, mereka lanjut mandi saat saya memilih untuk kembali ke mobil beristirahat.

Ali yang mengantar saya ke mobil membelikan saya handyplast di warung depan. Ia kemudian lanjut mandi bersama yang lain sementara saya meringis membersihkan luka dan menutupinya dengan handyplasti berbalut tisu. Jika ini sebuah kesalahan, maafkan saya. Disituasi genting seperti itu, pikiran saya benar-benar sempit dan memilih jalan keluar cepat.

Saya rebahan sebentar sebelum mereka datang dan mengambil foto. Saya menolak ajakan mereka karena kaki saya masih sakit dan sendal saya juga putus. Diperjalan, saya memakai sendal Ali. Sementara ia mulai memakai sepatu. Riki dan Rendy bertelanjang kaki setelah sendalnya hilang ditelan arus. Perjalanan berikutnya adalah ke Danau Biru. Dengan kaki yang sudah terluka, teman-teman memberi dukunga agar saya kembali semangat. Bagi saya, liburan ini benar-benar dilema besar untuk saya. Di grup WhatsApp, saya mencoba merayu agar beberapa teman yang sudah balik ke kampung untuk sama-sama ujian susulan. Namun mereka terlampau takut dan pasrah kembali ke Kendari.

Yang saya lakukan saat itu mencoba benar-benar merekalan sesuatu yang sudah terjadi. Mengingat kata dosen saya ini, beliau dalam PBM pernah berkata,"Jika ngantuk, jangan ke Kampus. Tidur saja di Rumah. Jangan datang ke Kampus dan membuat dirimu tidak fokus belajar, dan membuat kau rugi tidak tidur."

Karena sudah begini, saya mencoba merelakan yang telah terjadi dan menikmati apa yang saya pilih. Diperjalanan menuju Danau Biri, lagu Always-nya Bon Jovi menjadi lagu yang benar-benar mengaung diudara. Kami bernyanyi riang dan sangat liar. Ditengah perjalanan, kami berhenti untuk berfoto didepann gerbang selamat datang. Kegembiraan mulai saya raih kembali.

Tibanya di Danau Biru, itu disebuah depan pantai. Kami harus naik beberapa anak tangga sebelum benar-benar sampai ke Danau Biru. Dan setelah naik, seperti yang sering kami lihat di postingan orang-orang di Instagram, airnya benar-benar biru, tempatnya benar-benar keren. Kami takjub dibuatnya. Saat sampai, semua bersiap untuk mandi kecuali saya. Jika kaki saya tidak terluka, saya mungkin sudah bersenang-senang diatas air yang keren itu.

Saya hanya dipinggir, menyaksikan mereka berenang dan memotret. Untuk sebuah objek wisata, ini sangat-sangat rekomendasi. Saya tahu, ini sudah agak terlambat. Orang-orang mungkin sudah kesekian kalinya datang kesini ketika kami baru takjub dibuatnya.

Dari atas, memang terlihat dangkal. Namun, sangat jarang yang bisa mendapatkan dasarnya. Beberapa orang yang tidak mahir berenang tidak usah khawatir. Disana disewakan ban renang untuk yang tidak mahir berenang. Meski begitu, tidak sedikit yang jago berenang dan melompat dari atas tebing dan bergelantungan. Itu benar-benar keren.

Hampir lupa waktu kami disana. Kami berganti pakaian dan naik kembali. Itu untuk kebutuhan dokumentasi. Untungnya, ada kakak senior Ali dan saya pas SMA untuk kami minta tolong mengambilkann kami foto bersama. Kemudian, Ali disuruhnya menjepretnya dengan istrinya.


Dari foto-foto, kami bergerak meninggalkan Danau Biru. Diperjalanan keluar, mobil berhenti ketika bunyi krek yang sangat keras dibawa mobil. Saat kami melihat, ternyata besi yang ada dibawa mobil sudah terangkat karena mobil kelebihan muatan. Mobil sempat didongkrak untuk Kak Rijal memukul besi itu. Namun besi terlampau kuat dan kami menyerah. Terpaksa kami jalan hingga mobil melewati medan yang tidak rata itu.


Pemberhentian selanjutnnya ke Desa Watumena. Itu kampung Kak Rijal. Disana, kami akan nginap untuk semalam. Tapi, sebelum itu, kami singgah di jalan by pass dekat sebuah Mesjid. Disana ada beberapa pedagang. Kami membeli siomay dan minum sebelum bergerak ke kembali. Sebelum jalan, kami bertemu Sul, orang yang sempat kuliah di Kendari dan akrab bersama kami. Kami jalan setelah foto bersama. Perjalanan ke Desa Watumena cukup cepat namun kami sudah hampir kehabisan tenaga.

Sampai disana, kami disambut hangat. Kami masuk kedalam rumah dan dipersilahkan oleh Mama Kak Rijal. Setelah beristirahat sebentar, hindangan makan malam mulai disediakan. Dandi, yang dimana keluarga Kak Rijal membantu menghidangka kami makan. Dan malam itu, kami makan dengan lahap, kemudian berbincang dengan hangat.

Setelah makan, kami diajak Kak Rijal untuk ke sebelah liat proses kerja cengkeh. Kami datang untuk melihat sambil membantu dan belajar memisahkan cengkeh dari rantingnya. Kami dapat ilmu malam itu, terutama saya, yang baru ngerti kalo bahan utama rokok itu cengkeh. Setau saya sih, cengkeh buat makanan.



Sembari memisahkan cengkeh dari ranting, Dandi datang setelah mandi dari rumahnya. Setelah selesai, kami kembali untuk minum teh yang sudah disediakan. Kaki yang kena luka masih terasa perih ketika jalan. Itu yang membuat Kak Rijal nyuruh saya untuk ke sebelah lagi, bersama Om-nya Kak Rijal. Dengan minyak yang entah apa namanya, kaki saya diolesin dan Om itu semacam ngurut dan doa dalam hati.

Tidur dalam keheningan malam. Hape kurang mendapat sinyal. Hanya obrolan dan teh hangat. Lampu sudah dimatikan, dan kami sudah baring ditempat masing-masing. Riki, Sudi, dan Rendy, pindah ke bagian depan. Paginya, saya bangun pukul 7 pagi. Terus keluar. Disana ada Kak rijal dengan sarung. Mobil sudah di dongkrak untuk diperbaiki oleh Om yang kita kenal sebagai Om Ompeng.



Saat Riki bangun, kami nyobain motor rakitan Om Aris. Mirip CB klasik, tapi bukan katanya. Biaya beli dan rakitnya cuma sejuta. Kami kaget. Sebelum sempat nyobain, kami dipanggil masuk untuk sarapan. Kami makan Sokko dan Ikan Masak. Barusan dapat sarapan begitu. Tapi, enak. Hampir semua dari kami nambah.

Habis makan, kami diajak Kak Rijal metik jeruk nipis. Saya dan Ali malah lebih milih metik coklat. Tapi yang kami petik coklat yang sudah atau belum masak. Dari rumah, kami ngambil handuk untuk mandi di belakang rumah. Bukan tempat mandi biasa. Itu adalah dibawah jembatan kecil yang katanya sungai. Tapi, lebih mirip kali, eh, ngga juga. Meski kecil, airnya bersih. Yang mandi hanya saya, Riki, Ali, dan Rendy. Ditemani tiga adik Kak Rijal.


Balik dari mandi, kami tidak ganti pakaian karena katanya mau ke sungai lagi. Kali ini, hampir semua ikut. Saya dan Riki naik matic. Saya membiarkan Riki untuk membawa motor karena ingin dokumentasi. Saking senangnya, dijalan, Ali teriak-teriak sambil mengepakkan tangan. Kami melewati gerbang, nama sungai yang kami tuju adalah Lapolu.

Awalnya, kami ingin membawa motor hingga ke dalam. Tapi, motor yang dibawa Ali tidak bisa dibawa menanjak. Kami jalan beberapa meter, dan mendengar suara arus yang mengundang gairah. Dari sana, kami langsung buka pakaian dan terjun. Airnya lumayan dingin, meski tidak sedingin Tamborasi.



Batunya besar-besar dan licin. Jadi, kami harus ekstra hati-hati saat berjalan. Apalagi, perlu saya katakan bahwa arus sungai Lapolu sangat berbahaya. Arus seperti ini seharusnya memakai alat pengaman. Beberapa kali, oleh batu yang sudah berlumut saya tergelincir. Dan yang paling pertama saya lihat adalah luka kaki. Disini, saya mulai mendapat jaringan untuk membuka grup WhatsApp. Isinya foto teman-teman saya yang sudah final. Oh, saya rasa kalian perlu kesini.

Suasananya benar-benar pedesaaan, ditambah tidak ada hal-hal yang kami sibukkan selain bermain air. Ditemani oleh Om Ompeng, kami diajaknya untuk naik keatas menuju air terjun yang paling ujung. Tapi kami menolok karena terlalu jauh. Disini saja sudah bagus. Kami hanya perlu naik sedikit lagi untuk bersama Sudi, Ari, dan Ali yang sudah naik. Bersama Riki, kami saling bantu untuk bisa menaiki batu besar dan menerjang arus bagaikan ikan salmon.

Sampai diatas, kami duduk dibatu besar yang dialiri arus air. Kerasnya arus yang menghantam punggung bagai sedang dipijit. Saya nantang Ali untuk minum air itu, karena saya tahu, air itu jernih dan dari sumber air.

Setelah mandi, kami siap-siap untuk pulang sebelum lupa waktu. Dijalan, Kak Rijak datang dengan mobil. Katanya bawa es buah. Karena sudah terlanjur pulang, kami makannya di rumah. Setelah makan es buah, saya, Riki, dan Ali kembali ngetes motor rakitan Om Aris. Kami ngetes tanpa baju soalnya sudah kehabisan baju dan sedang panas-panasnya. Disaat percobaan dan merekam untuk dokumentasi, saya hampir menabrak pagar bambu rumah orang karena lupa ngerem.



Dari ngetes motor, kami kepanasan. Diajaknya Om Aris untuk ke belakang rumah duduk-duduk. Sebelum pulang, kami diajak lagi ke laut dekat rumah. Lagi-lagi tidak pake baju. Hanya sebentar kami disana karena panas. Dirumah, sudah disediain lagi es kelapa muda. Benar. Disini, makan kami benar-benar di service. Kami banyak terima kasih kepada keluarga besar Kak Rijal. Kami jadi banyak merepotkan. Kami orang kota yang norak. Ketemu sungai, norak. Ketemu air, norak. Hal-hal yang kami jarang liat di kota itu benar-benar membuat kami senang.


Kami ingin lebih lama lagi disana. Tapi, besoknya, Ali ada presentasi. Jadi, sore kami pulang. Hanya berhenti untuk makan, beli salak, dan kencing. Semua tepar lebih dulu. Yang masih bertahan hanya saya, Ali, dan Kak Rijal yang bawa mobil. Saat sudah mau sampai, akhirnya saya tepar juga. Sampai di rumah, langsung tidur setelah menonaktifkan hape. Setelah bangun keesokann harinya, saya sudah mendengar suara rutinitas saya lagi. Oh, secepat inikah rindu itu tiba.


Oleh-oleh

Harbolnas kemarin adalah pertama kalinya saya ikut. Ternyata, berburu diskon itu seru. Apalagi jika hanya lewat internet. Mojok salah satu y...

Belanja Buku dan Resolusi 2019 Belanja Buku dan Resolusi 2019

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Harbolnas kemarin adalah pertama kalinya saya ikut. Ternyata, berburu diskon itu seru. Apalagi jika hanya lewat internet. Mojok salah satu yang mengadakan paket harbolnas buku. Karena lagi ada uang lebih, saya beli paket cinta yang isinnya 9 buku Mojok seharga 170 ribu. Meski sampai sekarang, paket masih belum sampai. Katanya tertahan di cargo bandara.

Di kesempatan yang lain, diskon akhir tahun sedang diadakan di Gramedia. Saya awalnya kesana sendirian setelah pulang kuliah. Di pertigaan lampu merah, ternyata banyak teman saya yang juga ingin kesana. Kami pergi bersama, meski saya pulang lebih awal.

Di paparazzi oleh netijen Lambe Turah


Dari beberapa buku yang diskon besar-besaran, ada tiga yang saya bawa pulang. Yaitu Sang Petinju oleh Reinhard Kleist, Sentuh Dengan Hati-Hati oleh Jodi Picoult, dan Dari Kirara Untuk Seekor Gagak oleh Erni Aladjai. Tiga buku dengan harga 70 ribu. Jarang-jarang dapat segini. Sikat!



Sebenarnya saya agak malas ngomongin ini. Soalnya, tiap liat postingan resolusi tahun kemarin, masih banyak resolusi yang belum tercapai. Beberapa mungkin ada sih, tapi lebih banyak yang tidak. Terus, kenapa saya masih buat resolusi tahun depan. Mungkin biar blog ini ada isinya, benar juga. Tapi itu lebih karena saya ingin ada tujuan hidup untuk setiap tahun. Bagaimana rasanya hidup tanpa tujuan. Itu hampa sekali. Dan, sebagai orang yang kebetulan punya blog, saya mencoba menuliskan agar resolusi itu bisa jadi cerminan atau kilas balik saya dikemudian hari.

Bagi beberapa orang, resolusi mungkin adalah hal yang tidak perlu. Itu terserah untuk mereka. Saya pikir, kepentingan adalah apa yang kita anggap penting. Dan, saya tidak mengatakan resolusi itu penting. Saya lebih ingin mengatakan bahwa tujuan hidup itu penting, goals in your life lah istilahnya.

Sebelum saya ngomongin resolusi tahun 2019, saya akan mencoba merangkum resolusi saya tahun-tahun sebelumnya. Ini dia, diurutkan dari yang paling lama.

Resolusi Tahun 2016:

1. Bisa buat buku
2. Buat keluarga bangga
3. Bisa beli barang sendiri
4. Berguna untuk orang lain

Dulu, salah satu cita besar saya adalah menerbitkan buku. Sampai sekarang, cita-cita itu masih saya pegang. Entah dengan tujuan apa, itu berubah-ubah.

Dengan konteks apa, saya mengatakan ingin membuat keluarga saya bangga. Mungkin waktu itu, saya banyak mengecewakan mereka. Jika ditanya, apakah saya sudah membuat keluarga, atau orang tua saya bangga? Saya tidak tahu jawabannya. Pilihan saya kadang-kadang membuat mereka kecewa.

Yang bisa saya katakan sudah tercapai adalah bisa membeli barang sendiri. Meski bukan untuk tahun  itu, dan bukan uang dari hasil sendiri. Berguna bagi orang lain mungkin belum. Jujur, saya merasa lebih banyak menyusahkan dan membuat mereka kecewa. Teruntuk teman saya yang sedang membaca ini, saya minta maaf jika banyak salah.

Resolusi Tahun 2017:

Saya tidak buat untuk tahun ini.

Resolusi 2018:

1. Lulus dengan nilai memuaskan
2. Masuk Universitas idaman dengan jurusan sastra atau komunikasi
3. Bikin buku
4. Penghasilan sendiri

Nilai kelulusan saya cukup untuk membawa saya masuk pada jurusan yang saya idamkan; Sastra Indonesia. Meski, impian untuk masuk Universitas Indonesia harus saya simpan dulu. Meski begitu, saya sangat bersyukur, oleh orang tua saya yang masih dibiayai hingga saat ini. Terima kasih, Mama, Bapak.

Bikin buku memang cita-cita besar saya. Sekarang, saya malah berpikir untuk memulai dengan membuat e-book. Tunggu saja. Dan, mudah-mudahan, buku perdana saya dengan berbentuk fisik bisa terwujud. Berkaitan dengan penghasilan sendiri, saya masih mencari pekerjaan yang bisa saya isi disela waktu kuliah. Hitung-hitung biaya tambahan.

Dari resolusi saya diatas, bisa diliat apa-apa saja big goals dalam hidup saya. Beberapa ada yang sudah tercapai, beberapa ada yang belum. Saya rasa penting untuk membuat resolusi seperti ini, meski tidak ditaroh didalam blog. Selain daripada untuk tujuan hidup, ini juga bisa jadi tolak ukur hidup.

Oh ya, sudah kepanjangan. Resolusi saya untuk tahun 2019 adalah rangkuman dari resolusi saya yang belum tercapai. Banyak? Memang. Mari kita lihat, sejauh apa saya bisa mewujudkannya.

Ilustrasi dari  Revi.us Aku bisa mendengar, melihat, merasakan, namun tidak dengan yang satu ini. Kurasa ini benar-benar mempersulit di...

Angkot Burhan Angkot Burhan

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Ilustrasi dari Revi.us

Aku bisa mendengar, melihat, merasakan, namun tidak dengan yang satu ini. Kurasa ini benar-benar mempersulit diriku. Untungnya, aku mulai terbiasa dan tidak lagi menjadi beban yang berarti. Itu adalah hari Jumat di akhir November, pagi dimana istriku yang sekarang sudah pergi dengan lelaki lain, membuatkan aku kopi dengan sebuah campuran yang membuat suaraku lenyap selamanya.

Anakku, Arum, sekarang sudah duduk di kelas 3 Sekolah Dasar yang tidak jauh dari rumah. Sebagai orang tua yang diwajibkan bertanggung jawab, aku benar-benar harus melakukan segala yang terbaik untuk Arum. Kadang-kadang, harus melawan lapar dan dunia.

Orang-orang mengatakan diriku penyabar. Aku marah. Meski hanya dalam hati. Mereka tidak tahu rasanya menjelaskan untuk ditertawai. Dan bagaimana rasanya menanggung malu ketika anak sudah terlanjut malu. Aku kira harus banyak bersyukur ketika anakku dianugerahi rasa toleransi yang baik untuk Bapaknya. Namun tidak. Itu normal untuk merasa aneh. Ketika mempunyai seorang Bapak bisu dengan pekerjaan menjadi supir angkot.

Setiap hari, aku sudah melek setelah adzan shubuh. Membuat kopi dan sarapan untuk Arum, kemudian membuatnya terbangun untuk berangkat ke sekolah. Setiap pagi, kami selalu mengawali dengan ketentraman Bapak-Anak senormalnya keluarga. Itu setelah aku membelikan Arum baju sekolah yang baru.

Angkotku berhenti tiga puluh meter sebelum gerbang sekolah, kemudian menurunkan Arum. Dibelakangnya, sudah ada dua Ibu-Ibu penjual dari pelelangan ikan membawa dua ember penuh ikan, termasuk cakalang yang sering kulihat, untuk dijual. Mukanya penuh bedak tumbuk berwarna kuning. Salah satu kesamaan aku dengan ibu-ibu itu adalah sama-sama membawa handuk kecil yang dililitkan pada leher. Ibu itu turun di depan pelelangan ikan, ada dua anak SMP yang baru saja masuk. Mereka banyak bercerita tentang gurunya yang kejam. Itu membuatku rindu dengan masaku bersekolah lagi. Hal-hal yang menjadi hiburanku memang sesederhana obrolan dikursi penumpang. Kadang-kadang, yang mengisi kursi depan mengajak aku ngobrol. Kadang juga diam hingga benar-benar turun ditujuan. Jika diamati, karakter orang memang lucu. Selucu dunia ini.

Anak SMP itu turun dan memberiku uang lima ribu rupiah. Tanpa bicara, aku menunjuk mereka berdua. Dan mereka seketika paham. Kumajukan mobilku untuk kembali bekerja. Pagi menuju Siang, tidak banyak yang bisa kuhasilkan. Sudah tiga kali memutar hanya menghasilkan uang bensin. Tidak ada uang untuk bisa mengisi perut. Aku mulai panik, soalnya beberapa hari yang lalu, uang sudah kupakai membayar kosan dan beberapa jam lagi, Arum harus kujemput dan membelikannya makanan. Aduh, sial, apa yang harus aku katakan. Setidaknya, lima atau tujuh orang lagi harus kuangkut agar bisa memberi makan Arum. Tuhan, sekali lagi, aku tidak bermaksud menghina.

Sampai satu putaran penuh, hanya dua penumpang yang kuangkut. Seorang ibu tua dan seorang bapak yang kuperkirakan adalah suaminya. Tangannya tidak lepas dari cengkaraman lengan suami. Oh, aku rindu hal-hal itu. Istriku, Hayati, meninggalkanku dengan seorang lelaki lain. Maksudnya, seorang Om-Om beruang. Seandainya, aku tidak seidealis dulu, aku juga bisa lebih baik dari sekarang. Aku pikir sastra mampu membawaku menjadi seorang sastrawan besar macam Tolstoy ataupun Pram. Jangankan menjadi sastrawan, supir angkot saja sudah bersyukur. Keterampilan menulis dan berpikir tidak lagi banyak berguna. Idealisku perlahan memudar. Sekarang malah aku ingin memperdalam ilmu akuntansiku. Bagaimana memprediksi kekayaanku 50 tahun yang akan datang. Kupikir itu juga sia-sia.

Beberapa buku telah kujual, hanya beberapa yang masih kusimpan. Itu lebih karena punya nilai memori disana. Padahal, jika mau, keinginan membuka perpustakaan mini untuk warga setempat bisa saja terlaksana oleh buku yang aku koleksi sewaktu muda. Namun, ekonomi diatas segalanya. Aku melelang buku itu kepada mahasiswa yang kutemui dijalan. Aku membandrol dengan harga semurah mungkin. Kemudian, itu bisa membuatku hidup hinga beberapa hari.

***

"Sudah kubilang Ibu! Aku ingin tetap disini!" 

"Mau jadi apa kau nanti?"

"Aku bisa menulis, Ibu. Percayalah. Sekolah duluku beberapa kali membuat tulisanku berada di majalah dinding."

"Terserah, Burhan! Ibu harap, Sastra bisa membuatmu hidup!"

***

Dari pembelokan rumah sakit Siti Aisyah, aku mengambil untuk menuju sekolah anakku. Kebetulan, disana agak ramai dan macet. Setelah lewat dari jalan Baronang, aku melihat ada yang tidak biasa. Sekumpulan orang dijalan terlihat lumayan ramai, kemungkinan terjadi ricuh, pikirku. Saat angkot mulai mendekat, aku melihat darah berceceran, tergenang ditengah jalan. Sudah kental berwarna gelap. Aku bisa melihat pantulan dari refleksi darah itu. Aroma pekatnya juga benar-benar menusuk hidungku. Komar, kawanku yang bekerja jadi tukang becak berlari dengan napas yang tersengal-sengal. Tak bisa kata menjadi jelas diucapnya.

"Han, Arr.. rum," katanya.

"Hehafa," tanyaku, yang artinya,"Kenapa?"

"Arum, Han. Ditabrak. Ditabrak, Han."

Aku tidak menjawab. Badanku serasa ingin lepas, memisahkan diri. Kepalaku pening, pendanganku kosong. Aku masih mencerna baik-baik perkataan Komar dan bertanya tentang kebenaran yang seharusnya tidak perlu kupertanyakan lagi. Komar naik dibangku sebelah, setelah berkata Arum dibawah ke rumah sakit Siti Aisyah.

Mobilku masuk kedalam area parkir yang semestinya mungkin tidak diperbolehkan. Aku berlari dengan bingung, dipimpin oleh Komar yang berada disamping kiriku. Setelah dari resepsionis, mereka ke lorong kanan ujung. Itulah pertama kali aku melihat ruang ICU.

***

Seorang dokter kutemui untuk memperjelas semua yang belum kuketahui. Dari name tag-nya aku bisa tahu namanya Wayan Sugito. Katanya, Arum mengalami banyak pendarahan akibat bocornya kulit kepala, dan robeknya lengan kanan. Itu bukan masalah kata dokter setelah tahu darah Burhan bisa didonorkan kepada Arum. Setelah nada yang amat panjang, hening yang menjelma menjadi satuan detak bunyi jam dinding, Dokter Wayan berkata,"Aku ragu. Ragu."

Aku kaget, bingung, dan Komarlah yang menjadi pengalih-bahasaku. 

"Dari hasil benturan yang dialami anak Anda. Ada sedikit yang saya ragukan dari gejala yang akan timbul," kata Dokter Wayan.

"Apa itu, Dokter?"

"Aku ragu ia akan amnsesia."

Aku pusing. Pusing dengan keadaan Arum. Pusing dengan biaya Rumah Sakit.

***

Lima hari berlalu setelah Arum tak sadarkan diri, pada sebuah malam ia kemudian bisa membuka mata. Mengeluarkan air mata, dan tidur kembali. Infus yang dialiri makanan dilepas ketika pagi. Arum sudah mulai lebih segar dari semalam. Bubur yang dibawakan oleh seorang Suster bernama Yesi dimakannya dengan suapanku. Aku sudah berpikir bahwa hari itu akan menarik saat siang hari. Komar akan datang siang itu, ia sudah berjanji sejak Arum berada disini, ia akan menjaganya untukku selama aku bekerja. Peduli setan dengan dirinya. Ia tidak keberatan, mengingat istrinya juga meninggalkannya dari dunia.

Arum tidak memanggilku "Bapak" seperti biasanya. Ia masih terdiam diranjangnya. Matanya hanya kesana kemari saat pertama kali ia membuka mata. Aku ingin bertanya, namun tidak ingin banyak menganggunya. Kemudian ia melihatku. 

"Aku mau Pipis, Om." kata Arum.

***

Kuberi tahu Komar saat ia datang. Aku benar-benar sedih dan mencoba meluapkan segalanya. Air mataku pecah saat mengantarnya ke kamar mandi. Aku benar-benar ragu akan semunya. Katakan padaku kau bercanda, Arum. Katakan. Segala yang ada di dunia ini seakan hilang fungsinya. Dunia merenggut segala yang kupunya.

Setelah pulang dari bekerja, aku mengunjungi Rumah Sakit dan mendapati Komar sedang membaca buku yang kupinjamkan. Aku tidak tahu lagi, bagaimana harus bersikap kepada Arum. Komar mengajakku merokok diluar, dan membiarkan Arum beristirahat.

Asap ditelan gelap malam dari mulutku yang bisu. Komar berkata,"Han, Arum tadi memanggilku Bapak."

Aku berbalik kepada Komar. Memperjelas semuanya. Katanya, ia sudah mencoba untuk menjelaskan, namun bibirnya terus membisu. Komar tidak mengerti dengan segala yang ia alami. Dari malam itu, aku sudah hampir bunuh diri dengan beban yang sudah minta dilepaskan. Istriku pergi meninggalkanku, begitu juga dengan suaraku, anakku tidak lagi mengenalku dan menganggap Komar sebagai Ayahnya. Dengan kondisi seperti ini, aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskannya. Kuberi tahu Komar untuk merawat Arum. Tiga malam berikutnya, aku pergi meninggalkan Komar dan Arum. Kutemui istri Komar, keceritakan segala macam persoalanku dengan pisang goreng, teh hangat, dan tawa. Saat sampai pada bagian dimana Arum telah melupakanku, kami mulai berhenti tertawa.

Seharusnya, tulisan ini sudah lama bisa saya publish. Tapi, saya masih menunggu beberapa foto dari senior yang sampai saat ini belum bi...

Peresmian Mahasiswa Baru Peresmian Mahasiswa Baru

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras





Seharusnya, tulisan ini sudah lama bisa saya publish. Tapi, saya masih menunggu beberapa foto dari senior yang sampai saat ini belum bisa dibagikan. Jadi, mending saya publish dengan foto yang sudah ada. Foto yang lain bisa menyusul. Ini juga menjadi penutup dari tetralogi Mahasiswa Baru. Cerita yang lain adalah: Pola Hidup Mahasiswa Baru, Balada Mahasiswa Baru, dan Resiko Mahasiswa Baru.


Jam 12 siang pada tanggal 13 Oktober hari Sabtu, saya sudah berada di angkot lengkap dengan tas yang berisi baju ganti dan makanan. Hari itu akan terjadi Wisata Mahasiswa (WISMA) sekaligus pentas seni yang dipanitiai oleh senior untuk angkatan Sastra Indonesia UHO 2018. Dari kelas ganjil dan genap menghiasi depan fakultas waktu saya berjalan masuk. Sebagai ketua kelompok yang dipilih dadakan semalam, saya bertanggung jawab dengan anggota kelompok.

ID Card.
Disana sudah banyak teman-teman berbaju merah dengan celana training hitam (seperti yang diberitahukan), meski tak sedikit dengan celana jeans. Saya berjalan menuju gazebo samping perpustakaan menemui teman-teman yang lain. Disana ada juga satu anggota kelompok saya dengan malasnya tidak mau bergerak mencari teman-teman yang lain.

























Saat itu mentor kami belum datang. Namanya kak Destin dan Arif. Kepercayaan kelompok benar-benar diberikan kepada saya. Maka dari itu, saat banyak teman-teman menunjuk saya untuk jadi ketua, saya menerimanya dan menggerutu dalam hati,"Terima kasih bebannya, teman-teman."




Saya bisa saja menolak, namun ini bukan jaman SMA lagi. Menolak hanya akan membuat saya tidak menjadi lebih baik. Sebagai salah tiga dari laki-laki di kelompok 2, saya dengan berani bertanggung jawab menjadi ketua. Kemudian, mengumpulkan teman yang lain dan mendiskusikan yel-yel. Disana ada 12 orang yang lengkap dari sebelumnya. Ada 9 orang perempuan dan tiga laki-laki. Itu adalah saya, Fandy, dan Wuna. Seharusnya bisa lebih seru lagi, ketika Iyar dan Adi juga ikut. Tapi mereka tidak dengan alasan masing-masing.

Ima, sebagai orang yang pernah kupercayai akan menjadi ketua kelompok memberi banyak masukan untuk yel-yel. Sebagai mantan anggota pramuka, ia mencoba mencari dan kembali mengingat yel-yel yang mudah dan menarik. Selanjutnya, saya mencoba menghapal bait sebagai pemimpin yel-yel.

Tidak lama setelah itu, dari depan fakultas, tempat teman-teman kami yang ramai terjadi insiden. Mata saya menangkap senior dengan amarahnya kepada mahasiswa baru. Setelah digiring untuk bergabung, saya baru tahu ketika laki-laki diperintahkan untuk berdiri. Kesalahannya adalah merokok di depan fakultas, juga bermain gitar saat orang sedang melaksanakan shalat.

Ketua Panitia, Kak Indah, mengambil alih,"Tadi itu senior angkatan 2014. Saya juga tidak tahu karena ia sudah memakai cadar. Lain kali, dijadikan pembelajaran saja."

Kemudian kami digiring lagi, menuju depan perpustakaan. Berbaris sesuai kelompok. Disana, sudah ada Kak Destin. Lalu, ia menghampiri,"Yel-yel sudah siap?"

Kami mengangguk.

"Yang mau kalian tampilkan?" tanya Kak Destin lagi.

"Belum ada."

Ia memasang raut was-was dan kecewa. Seharusnya Ima bisa saja maju membacakan puisi, kemudian kelompok kami aman. Namun, Ima juga sedikit bingung karena akan mewakili angkatan untuk tampil. Setelah diberi arahan, kami lagi-lagi digiring menuju bus yang sudah parkir di depan fakultas. Bus pertama menampung kelompok 1 dan 2 perempuan. Sementara itu, bus kedua menampung orang yang acak. Kami masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman, sebelum akhirnya kembali berdiri ketika perempuan naik.



Di Bus, ada Arjun, Marwan, Aping, Ridwan, dan teman-teman yang lain. Arjun memainkan gitar, melatunkan Dimana-Mana Hatiku Senang diikuti oleh seiisi bus. Karena tahu akan berada cukup lama di bus, kami hanya memainkan dua lagu, menyimpan tenaga dengan saling ngobrol. Bus bergerak cukup intens, lewat jalan belakang hingga melewati Kendari Beach. Teman-teman banyak yang sudah tidur. Saat melewati alumni sekolah, SMA Negeri 9 Kendari, saya cukup antusias memperkenalkannya kepada kawan dengan berseru,"Kerennya ini sekolah."

Kaki kami sudah terasa sedikit pegal ketika baru memasuki daerah kelurahan Mata. Pepohonan yang saling berpelukan mulai terlihat, menutup sebagian langit hingga membuat bus serasa memamasuki terowongan. Bus masih bergerak, dengan kecepatan yang saya perkirakan mulai naik, dan yang terjadi saat beberapa kali lubang dan pohon disikat habis. Hingga pada sebuah lubang yang cukup besar, dengan kecepatan yang begitu cepat, bus sontak membuat guncangan besar, membuat semua penumpang bangun dan kaget. Salah satu peserta, yang juga teman kelas saya, napasnya terkunci. Kemudian dibantu oleh senior perempuan yang ada disana.




Saat kami tiba, bus yang lain sudah ada disana. Orang-orang sudah berhamburan. Sempat terjadi adu cekcok antara tetap di dalam bus atau langsung turun. Karena panas, peserta tidak sabar untuk turun untuk mencari udara segar. Saat turun, tas saya tenteng sebelum akhirnya diperintakan untuk menaruh tas. Hape mulai dimintai, karena saya tidak mau, secepat mungkin saya simpan didalam tas kemudian kembali pada barisan. Upacara pembukaan dimulai. Pencabutan hak asasi juga begitu. Seperti yang saya pikirkan, ketika hak asasi sudah dicabut ada hal yang berkaitan dengan senioritas lagi. Entah untuk maksud yang baik atau buruk.

Selepas upacara, kami diperintahkan untuk berjalan menuju tempat yang sudah disiapkan. Cukup jauh untuk ukuran jalan kaki. Sebagai ketua kelompok, saya berjalan paling depan disamping Kak Destin. Sampai disana, yang saya butuhkan cuma dua: istirahat dan minum. Dan kemudian syukur, dari waktu itu sampai selesai Magrib adalah waktu Ishoma. Itu kami pergunakan untuk membeli air minum bersama Fandy dan Wuna. Kami ngobrol banyak, sesekali tertawa. Itu adalah hal yang baik menyambut malam. Sempat terjadi insiden baru, tentang hilangnya uang di warung tempat kami jajan.

Kelompok lain sedang makan ketika kembali. Sepertinya, hanya kelompok kami yang laki-lakinya harus liat orang makan. Perempuan makan sebungkus nasi bersama. Soalnya, saya pikir makan hari ini sudah disiapin panitia, maka dari itu pas ditawarin bawa makan sama Mama, saya nolak. Oh, insting Mamaku tajam sekali.

Untungnya, Arjun bak malaikat penolong datang membawa sebuah nasi yang kami makan berempat dengan Fandy dan Wuna. Oh, Arjun, terima kasih malam itu. Sebenarnya, biar ngga makanpun saya belum lapar juga. Tapi kalo dibiarkan, mengingat ini acara dengan banyak orang, pasti makan yang disediakan akan telat. Jadi selagi ada makan, yah makan aja dulu. Ngisi space yang kosong untuk lambung.

Selesai makan, acara berikutnya yaitu perkenalan yang terjadi cukup lama dan sorry to say, membosankan. Tidak adanya ketegasan dari moderator untuk mengefesienkan waktu. Padahal, setelah perkenalan akan dilanjutkan oleh penampilan seni dari tiap kelompok. Dinilai oleh Dosen kami yang baru datang, Pak Sudu dan Pak Maliudin.




Penampilan berlangsung sudah hampir jam 9 malam, jika saya tidak salah ingat. Tidak banyak ragam penampilan. Hanya bernyanyi dan puisi. Dan kelompok kami menggabungkan keduanya dengan musik Laskar Pelangi-nya Nidji. Salah satu saran saya waktu itu adalah drama. Namun ditolak halus karena waktu yang tidak memungkinkan. Saya kira, kamilah kelompok yang tidak egois dan menerapkan tema "Solidaritas" dengan maju ber-duabelas untuk tampil. Itu adalah cara yang baik untuk beda. Namun perlu saya akui, penampilan teman saya tidak kalah baik adalah Arjun yang membawakan musikalisasi puisi dari puisi Wiji Thukul berjudul Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa. Diakhiri dengan tepuk tangan yang gemuruh. Dan sorakan untuk menampilkan lagu kedua.

Setelah penampilan seni, pemutaran film mulai disusun. Sembari memasang alat, itu dimanfaatkan oleh senior untuk mengisi dengan baca puisi. Semuanya bagus dan seru. Namun keadaan saat itu benar-benar tidak mendukung. Terlalu lama duduk, membuat belakang saya mulai pegal dan perutku sakit. Saya sempat melihat awal pemutaran film Genius. Membuat peserta saling melirik ketika adegan panas diawal scene. Karena tidak kuat, saya pindah ke belakang. Lalu, dengan beberapa senior akhirnya ditanya dan dibawa ke tenda untuk istirahat. Disana, ada anak kelas ganjil yang juga sakit. Saya baring disebelahnya. Beberapa senior yang masuk kedalam tenda, memeriksa kondisi kami. Salah satunya mengurut betis saya dengan mem-fonisnya saya masuk angin. Senior yang lain memberi makan saya terlebih dahulu sebelum yang lain. Sebenarnya ada rasa tidak enak, tapi biar cepat sembuh yah dimakan aja.

Tidak sampai disitu, saat Kak Prayoko datang, saya langsung disuruh tengkurap untuk dikerok. Malam itu jadi pengalaman pertama saya dikerok. Kak Prayoko membuka tas rajutnya, kemudian meminta minyak urut kepada panitia yang mengurus kesehatan. Tidak ada ternyata. Lalu, Kak Prayoko kembali bertanya,"Minyak goreng ada?"

"Ada. Kenapa?"

"Ya. itu. Sinimi," katanya.

Dengan keadaan tengkurap, aku bisa melihat orang-orang dari jendela tenda yang mengintip. Kak Prayoko berkata,"Sa kerjakan dulu kau." (Saya kerjakan dulu kau)

Ternyata benar. Dari mulai dikerok hingga selesai, belakang saya mulai terasa enak. Apalagi saat koin bergerak dari atas ke bawah. Lalu dari kiri ke kanan. Membentuk tulang ikan dipunggu saya. Setelah enakan, saya mendengar suara kaki dan berisik. Itu adalah teman-teman yang dipanggil dan dipersiapkan untuk makan malam. Setelah tidur sebentar, saya dibangunkan. Tujuan awalnya hanya untuk melebarkan tikar untuk tempat tidur. Tapi karena sudah enakan, saya disuruh tidur bersama teman laki-laki yang lain diluar.

Disana, mereka sedang bingung. Tidak ada tempat tidur. Padahal, kami berpikir akan dapat tempat lebih baik mengingat jumlah kami yang sedikit. Danil sudah capek, memilih tidur dibawah pohon tanpa alas apapun. Sebenarnya kami bisa saja tidur disana. Tapi kami tidak jamin akan benar-benar bisa tidur. Walaupun pasir pantai sehalus apapun.

Setelah berunding hebat, beberapa senior yang sedang tidur di gazebo mempersilahkan kami untuk tidur. Kesempatan tidur itu benar-benar kami manfaatkan, mengingat kami harus bangun lagi jam 3 pagi. Namun, baru hendak menutup mata, teriakan orang kesurupan dari tenda perempuan membangunkan kami semua. Dari analisa, kemungkinan itu teman kelas saya lagi yang sempat sesak napas saat di bus. Setelah suara mulai redam, kami kembali mencoba untuk tidur. Dan lagi-lagi, baru saja ingin memejamkan mata, Kampus sebelah dibangunkan dengan alarm. Itu yang membuat kami semua bangun kembali.

Dan, saat dibangunkan pukul 3 pagi, saya merasa seperti tidak tidur sama sekali. Malam itu, jadi tidur malam saya yang paling singkat. Namun saya cukup bersyukur bisa tidur malam itu. Nyenyak tidaknya soal lain. Dan baru saya tahu ketika pagi bahwa Arjun, Alkap, dan beberapa teman yang lain tidur dipesisir pantai. Untungnya laut tidak naik saat malam, jika ia, mereka sudah habis dijilat ombak.

Kami dikumpulkan kembali, membentuk barisan sesuai kelompok, dan lagi-lagi menyorakkan yel-yel. Meski nyawa belum benar-benar kembali, namun semangat tetap menyala. Setidaknya kami tidak ingin malu. Kelompok 1 dipersilahkan untuk maju, berjalan diposko pertama.  Kami masih menunggu, sambil memegang buku yang kami tidak tahu untuk apa.



Kemudian giliran kami, maju dan berhenti beberapa meter hingga kelompok 1 benar-benar selesai. Lalu maju, dan menyusun barisan. Dan, lagi-lagi kami harus memainkan yel-yel yang mulai mengganggu. Namun, karena tidak ingin ada masalah, itu kami lakukan dengan baik. Lalu diposko itu, kami ditanya masalah kapan beridirinya UHO, siapa Rektor pertama, dan nama-nama besar yang ada di UHO. Selebihnya kami hanya menerima informasi tentang filsuf yunani yang mati akibat racun, yaitu Socrates. Setelah itu, kami dipersilahkan menuju posko kedua.

Posko kedua, kami kembali berhenti menunggu kelompok 1 benar-benar selesai. Kemudian menuju kesana dengan jalan jongkok. Di posko dua, kami diberi pertanyaan berkaitan dengan Sastra. Kebanyakan masalah pencipta prosa. Tiga dari enam jawaban berhasil kami jawab dan menjadikan kami kelompok yang paling ehm, pintar. Namun, itu berarti membuat mentor kami mendapatkan tiga kali coretan arang lagi.

Di posko tiga, adalah salah satu posko yang benar-benar absurd. Ada sebuah kardus kecil yang dimana kami ber-12 harus bisa naik kedalam kardus itu. Dengan menyusun strategi, kami seharusnya bisa berhasil. Tapi saya merasa ada senioritas lagi disana. Itu membuat mentor kami kembali mendapat coretan, dan sebagai ketua kelompok saya harus melakukan itu untuk mentor saya. Ada perasaan ragu dan tidak enak. Namun, disana banyak senior lain dan juga lebih tua. Saya coba nurut aja, dan minta maaf pas nyoret.

Kami berjalan cukup jauh ke posko empat. Sampai disana, kami mendapat teguran karena tidak memberi salam. Kurang etika, katanya. Jadi, kami kembali beberapa meter dan mengucapkan salam kembali. Di posko ini, kami tidak banyak melakukan hal. Hanya mendapat teguran. Saat hendak pergi, salah satu senior bertanya,"Ada yang haus?"

Saya mulai curiga, tidak menjawab. Hanya, salah satu dari kami akhirnya menjawab: "Haus, Kak." Disitulah, kami diberi botol berisi air. Saya bertugas menjadi kelinci percobaan untuk teman-teman saya. Karena sudah curiga, saya hanya meneguk sedikit. Rasanya asin. Oh, sial, itu  air laut. Saya bisa saja menyimpan air laut itu dimulut untuk dibuang saat kami pergi. Namun, sebagai ketua, saya harus menunjukkan rasa solidaritas. Itu benar murni agar, setidaknya saya tidak menjadi akibat dari dihukumnya teman-teman saya. Disana, ada Fandy dan Wuna yang sudah mulai capek. Begitu pula dengan perempuan dan dua mentor kami.

Di posko terakhir, kami berjalan jongkok kembali dan mengucapkan salam. Disinilah, kami kembali diperingatkan. Itu karena muka mentor kami yang sudah penuh dengan coretan arang.

"Waktu mentor kalian dicoret, ada yang protes," kata salah satu Senior.

Saya rasa ini pertanyaan kambing hitam yang seharusnya tidak digunakan. Sebab, diposko sebelumnya, salah satu dari kami menegur senior yang sempat berkata ingin membaca pertanyaan ke-tujuh. Padahal, awalnya hanya dijanjikan enam pertanyaan. Katanya: "Kamu yang mau atur saya?"

Sewaktu kami diperingatkan, saya menjelaskan hal itu. Namun tetap dibantah. Apa yang kami lakukan selanjutnya? Hanya mendengarkan. Kami rasa, itulah jalan keluar paling baik. Mentor kami, Kak Destin, menangis dengan nada kesal setelahnya. Katanya, kami terlalu manja selama mementori kami. Tidak ada rasa tanggung jawab. Itu benar, mentor kami sangat baik dan tidak masalah jika ia marah. Apalagi, melihat wajahnya penuh coretan arang. Saya sempat disinggung, ketika mau saja disuruh mencoretnya.

Beberapa dari kami, apalagi yang laki-laki menunaikan sholat Shubuh di gazebo. Kebetulan, posko lima, tempat kami dikumpul memang berada dipinggiran pantai. Banyak gazebo yang bisa digunakan sholat. Kecuali air, yang kami harus menggunakan air laut untuk wudhu.

Selanjutnya, kami kembali mendengarkan uneg-uneg mentor. Lalu, kami membentuk barisan untuk melakukan peregangan. Bermain sahut kata, dan saling berpelukan dan nutup mata. Kondisi saat itu benar-benar melelahkan. Namun cahaya matahari yang terbit menyapa bulan yang pamit benar-benar keren. Sedih tidak mengabadikan. Hanya melihat itu berlalu sembari kami tetap melakukan peregangan badan sebelum kembali ke tempat kami semula.


Sesampainya ditempat awal, kami diperintahkan memegang gelas dan energen yang kami bawa dari rumah. Itu untuk kami siram ditempat panitia komsumsi. Kemudian membentuk lingkaran. Agak lama menunggu hingga semua benar-benar kebagian air panas. Disana ada Arjun dan Marwan yang baru saja bangun dari tidurnya. Katanya tidak enak badan.

Kami juga mengambil roti yang kami bawa, itu juga yang kami bagi kepada yang tidak bawa. Setelahnya, kami doa bersama sebelum makan. Dan, itulah dimana kami benar-benar lega. Tidak berapa lama setelah makan, kami kembali dipersilahkan untuk bersih-bersih badan. Yang dimana, semua orang langsung segera menenteng handuk untuk mandi. Beberapa orang, termasuk saya, tidak ada niat untuk mandi. Mending sekalian dirumah, kata salah satu teman.

Saat semua selesai, kami kembali dikumpulkan. Itu juga yang membuat kami kembali kena marah. Karena terlalu mengulur waktu. Padahal, kami sudah siap, dan mengambil waktu sebentar untuk istirahat di gazebo. Kami dikumpulkan untuk melaksanakan salah satu acara terakhir yang saya kira itu sudah tidak ada. Itu adalah outbound, atau sederhananya permainan yang akan dilakukan oleh peserta. Yang sudah mandi pasti kecewa, dan itu hal yang perlu saya syukuri. Ada dua macam permainan yang akan kami tandingkan.

Yang pertama adalah tiarap seperti latihan-latihan tentara dan yang kedua adalah melewati sebuah tali yang dipasang. Itu dilakukan per kelompok. Awalnya penilaian berdasarkan yang tercepat. Karena satu dan lain hal, penilaian berubah menjadi yang paling solid antar kelompok. Sebagai ketua kelompok, saya memimpin anggota saya untuk permainan pertama.

"SATU.... DUAA...... TI.......... GA!"


Kami berjalan jongkok hingga tempat kami akan tiarap. Ada Aping disebelah kanan saya, kami merayap diatas pasir pantai. Saya mencoba menggeser badan karena tali yang sudah mulai menyentuh punggung. Setelah hampir sampai, teman saya yang lain mengikut dari belakang. Saat sudah bisa menggapai tangannya, saya menariknya. Begitu juga dengan teman yang lain. Kelompok lain sudah berlari menuju permainan kedua sementara kami masih menunggu Fandy yang masih berjuang.

Setelah anggota lengkap, kami berlari menuju permaianan kedua. Anggota perempuan mulai melihat dengan nada pesimis. Saya kemudian menunduk agar mereka bisa menaiki punggung saya. Dibantu oleh Wuna dan Fandy. Kami sampai digaris finish pada urutan kedua. Kami membersihkan badan sembari mendapat senyum dari mentor kami yang kembali bangga.

Acara selanjutnya adalah pemberian materi lagi, yang disampaikan oleh Bang Kahar, selaku pendiri Rumah Bunyi. Ia menghadiahi banyak buku untuk orang yang ia suka dan bertanya. Itu adalah teman-teman saya yang dapat ketika kami ditanya satu pertanyaan tentang: kenapa kamu bisa jadi peserta yang terbaik?

Setelah hampir setengah jam ngobrol-ngobrol, makan siang sudah tersedia. Diatas daun pisang, ada nasi, ikan bakar, dan sayur. Sungguh mengundang selera ketika kami sudah duduk dan saling bertatap-tatapan. Setelah berdoa, kami makan dengan lahap. Bahkan, sempat beberapa kali meminta nasi dari teman sebelah.




Menjelang sore, kami dikumpulkan kembali. Membentuk sebuah lingkaran. Yang laki-laki diminta untuk maju, saya mulai curiga. Dan itulah yang terjadi ketika rambut kami kembali dicukur pendek. Sempat terjadi insiden ketika salah satu teman kami, menolak untuk dicukur. Pada saat itu, rambut saya belum cukup panjang, namun dicukur untuk kedua kalinya adalah hal yang perlu dipikirkan.

Setelahnya, kami kembali kebarisan lingkaran, dan bergantian memperkenalkan diri. Seringkali, ketika salah satu dari kami menyebut daerah asal dan senior histeris dengan sendirinya. Setelah lewat beberapa orang setelah saya, itu adalah Khairul yang mendapat bagian. Dan salah satu senior lama, menyuruhnya duduk. Sementara senior yang lain, Kak Prayoko menyuruhnya lanjut.

"Buat apa acara perkenalan ini? Tidak ada faedahnya!"

Lalu terjadi insiden antar senior. Para lelaki, dipanggil naik kembali. Kemudian dimintai pendapat tentang pencukuran rambut. Kami menjawab aman dengan tidak keberatan. Padahal, ini hal yang benar-benar perlu dipertanyakan. Kami masih berada didepan ketika insiden semakin panas. Senior mulai saling bertikai. Peserta perempuan mulai ketakutan, namun coba ditenangkan. Setelah hampir terjadi baku pukul, salah satu senior melontarkan pertanyaan,"Kenapa ko ketawa?" (Kenapa kau ketawa?)

Lalu dijawab. "Karena lucu," Kemudian semua tertawa dengan gembira. Semua akhirnya tahu itu adalah bagian dari drama. Namun saya sudah tahu lebih awal ketika Ferdian berkata,"Kalo ada yang aneh sebentar, diam saja."

Acara drama-drama selesai. Beberapa orang masih tidak percaya. Pendapatku, ini adalah hal yang kurang baik untuk ditiru. Namun, dari serangkaian acara, ini yang benar-benar bisa membuat suasana menjadi beda dan cair. Setelahnya, kami tidak kagok lagi ngobrol dengan senior. Acara terakhir ditutup dengan mencari botol dengan saling berpegangan tangan dilaut. Kami tidak mendapat apa-apa selain botol lama yang hanya terisi pasir. Lomba itu diakhiri dengan membuang semua senior ke laut. Kami mengejar yang lari, menyeret dan membuang yang tertangkap.

Setelahnya kami saling bersalaman sebelum pulang. Bus sudah datang dan mandi adalah hal yang tidak perlu. Yang kami pikirkan saat itu adalah cukup pulang dulu. Dijalan, bus menurunkan saya ditempat biasa saya turun ketika naik angkot. Saya berpamitan dengan yang lain sebelum turun dan berjalan menuju rumah.

Oleh-oleh
Sampai di rumah, badan sudah mulai nyeri, betis mulai pegal, dan badan sudah minta istirahat. Saya kira, cukup sudah cerita tentang Spektra ini. Menjadi penutup dari tetralogi Mahasiswa Baru. Semoga cukup jadi paduan untuk menjadi bayangan kepada yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Sabtu pagi di awal Desember, itu adalah tanggal 1 yang lumayan mendung. Bersama Isma yang minta nebeng, kami berhenti di Warung Kopi X-Bro u...

Bertemu Penjaga Harta Presiden Bertemu Penjaga Harta Presiden

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Sabtu pagi di awal Desember, itu adalah tanggal 1 yang lumayan mendung. Bersama Isma yang minta nebeng, kami berhenti di Warung Kopi X-Bro untuk menghadiri Workshop Konser Sastra. Seharusnya, hari itu ada mata kuliah Pengantar Linguistik, namun kami diberi ijin untuk menghadiri meski saat sudah sampai, di kelas saya hanya seorang diri laki-laki.

Disana sudah ada Atma yang sedang makan, kami membentuk kursi dengan saling berhadap-hadapan. Namun, kursi disusun ulang ketika yang lain sudah mulai datang. Kursi dibalik agar menghadap panggung. Saya duduk dibarisan kedua dari depan bersama Vira dan Isma (kalau tidak salah ingat). Baliho mulai dipasang bersama kursi yang mulai disusun. Tercantum nama Jose Rizal Manua yang saya tahu-pun tidak.

Beberapa menit setelah menanti, dari arah belakang, pemateri, yaitu Oom Jose Rizal Manua keluar dari pintu mobil dengan batik merah jambu. Dia hadir dengan riang gembira memperkenalkan diri sebagai seorang pelakon yang mengurus teater yang dinamai: Teater Tanah Air. Membawakan beberapa puisi dengan menarik.

Ketika membawakan materi dengan sangat ringan, saya membuka hape dan mulai men-searching. Beberapa riwayat sudah tercantum dari Oom Jose. Kata beliau, ia pernah melatih beberapa aktor seperti Dian Sastro, Nicholas Saputra, dan beberapa nama yang ia sebut. Untuk itu, saya mulai menelusuri kebenaran. Kemudian, mendapatkan satu fakta yang benar-benar mencengangkan. Dari tabel Filmografi Wikipedia, saya melihat Oom Jose pernah bermain dalam film favorit saya, Kala (2007) arahan Joko Anwar. Kemudian saya liat, berperan sebagai apa dia, kenapa saya bisa selengah itu. Setelah membuka lebih lanjut, Oom Jose ternyata berperan sebagai Pindoro, yang dimana pada film itu bertugas menjaga harta Presiden.

Saya shock, antara percaya dan tidak. Meski baru ngeh, namun itu adalah fakta yang benar-benar nyata. Bahwa film favorit saya, ternyata dibintangi oleh Oom Jose yang berdiri tepat disana menyampaikan materi tentang kepenulisan. Ia lebih spesifik membahas masalah puisi.

Yang pertama, ia menanyakan 25 kata dari 25 orang untuk kemudian dirangkai menjadi puisi. Beberapa puisi dibacakan oleh pembuatnya. Kemudian, bagian kedua berlanjut, kami disuruh maju kedepan, kemudian melihat ke depan dan belakang. Lalu kembali dan menjadikan itu puisi lagi. Dan, yang terakhir, ia menyimpan beberapa material didepan untuk kemudian dijadikan puisi lagi. Semua dari kami membuat puisi. Beberapa ada yang dibaca. Waktu itu, saya hanya sempat buat satu puisi karena sudah mulai excited saat tahu beliau adalah bagian dari film favorit saya.

Sebenarnya, tidak hanya itu, Oom Jose juga bermain dalam film Danur (2007) arahan Awi Suryadi, namun Kala adalah alasan yang benar-benar mampu membuat saya tampak excited. Disana, kembali Oom Jose menghibur kami dengan lakon dan pembacaan puisinya. Dari akun Instagram yang saya rasa masih dipegang langsung oleh beliau, itu banyak menampilkan perjalanannya dalam semindar dan workshop. Beberapa foto juga menampilkan foto keluarganya.

Oom Jose menutup acara dengan sesi tanya jawab yang sebelumnya juga dilakukan. Dia menjawab dengan hal-hal yang saya suka. Bagaimana sudut pandang beliau benar-benar beda dan unik. Tidak eksakta dan teoritis namun tetap masuk akal. Salah satu jargon beliau adalah: "Merenung seperti gunung, bergerak seperti ombak".

Dan, setelah itu, ditutup oleh sesi foto yang benar-benar singkat karena beliau akan istirahat. Kami foto sekelas dengan beberapa kali jepret.  Disisi kanan, makanan prasmanan sudah disiapkan. Bagi yang sudah foto, bisa langsung ambil makan dan duduk menikmati. Setelah beliau hendak pergi, saya menahannya untuk foto berdua. Kemudian saya pamit, untuk lanjut makan.



Kameranya mana, matanya kemana(?)

Makanan habis untuk saya bawa gelas kopi itu didepan Warkop. Disana ada guru SMA yang juga hadir. Ia membawa dua murid untuk ikut partisipasi. Saya ambil tangan beliau untuk kami lanjut dengan basa-basi agar ia ingat. Setelah kopi habis, kami pulang. Semua dengan kendaraan masing-masing. Ada yang naik angkot juga. Saya masih dengan Isma yang saya turunkan di depan SMEA. Saya pulang dengan perasaan gembira. Pertemuan yang benar-benar tidak saya sangka. Padahal, tujuan saya pergi hanya karena saya malas di rumah dan lagi ingin dengar seminar. Pematerinya pun saya tak peduli siapa. Hingga akhirnya, alam semesta benar-benar tidak diduga. Secara tidak langsung, saya sudah bertemu Pindoro, sang penjaga harta Presiden. Saya masih ingin banyak bertemu yang lain tentunya. Salah satunya Joko Anwar. Namun ini cukup jadi awal yang baik. Dan satu hal yang saya ingin lakukan saat itu adalah menonton ulang film Kala.

Ranti dan Pindoro pada film Kala (2007)