Beberapa minggu ini, saya jarang publish diblog ini. Bukan karena saya cukup sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mengisi blog ini. Tapi, ...

Dua Kabar Buruk Dua Kabar Buruk

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Beberapa minggu ini, saya jarang publish diblog ini. Bukan karena saya cukup sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mengisi blog ini. Tapi, beberapa bulan yang lalu, laptop saya mulai kambu dari penyakit lama. Beberapa keyboard seperti 6, Y, H, dan N sangat sulit untuk ditekan. Untuk mengetik itu saja, saya butuh tenaga ekstra.

Umur laptop saya memang tidak bisa dibilang muda. Usia laptop ini, sudah hampir 7 tahun kalau tidak salah ingat. Itu hadiah ulang tahun saya, sebuah laptop Toshiba Satelite C840 berwarna hitam dari orang tua. Rasanya senang sekali waktu itu. Beberapa bulan setelahnya, saya juga dibelikan modem. 

Sekarang, kondisi laptop ini sudah tidak segagah dulu. Sendinya sering pegal linu, daya tahannya sering drop, bahkan sudah tidak bisa diajak main lagi. Jadinya, saya hanya memakai laptop ini untuk menonton film, mengerjakan tugas, dan menulis blog.

Dan sekarang, keyboardnya mulai susah diajak kompromi. Salah satu anjuran yang pasti disarankan adalah memakai keyboard usb. Sudah. Tapi, lagi-lagi laptop ini telah punya banyak masalah, termasuk usb. Jadi, saya mulai bingung, karena tidak lagi bisa mengerjakan tugas dan menulis di blog. Laptop ini tinggal punya satu fungsi; nonton film.

Sejak itu, postingan blog mulai tidak karuan. Kadang malas nulis karena susah ngetik. Beberapa kali ada pikiran buat cerpen lagi, tapi lagi-lagi malas karena ngetiknya susah. Akhirnya, ada pikiran untuk mengganti laptop. Tentu saja tidak semudah menjentikkan jari Thanos. Uang yang dibutuhkan tidak sedikit, mengingat saya mau beli sekalian dengan spek menengah. Biar bisa tahan lama, dan dipakai buka aplikasi berat dan main game.

Penyisihan uang mulai saya lakukan. Rencananya, awal tahun depan sudah bisa kalau saya tetap pada rencana nabung. Tapi, setahun bukan waktu yang cepat. Maka dari itu, saya berpikir untuk memperbaiki laptop. Setidaknya untuk menemani setahun ngumpul uang.

Yang pertama, adalah mencarikan laptop saya casing baru. Casing laptop sekarang sudah hancur dan patah pada bagian engsel, jadi harus digantik dengan yang baru. Berminggu-minggu mencari, dari toko online satu ke toko online yang lain. Sampai-sampai, saya searching di Facebook tentang casing ini. Baru saya tau kenapa sulit, karena memang langka. Banyak juga yang nyari.

Saya tentu tidak lekas putus asa. Disuatu malam yang gabut, saya menemukan satu harapan. Sebuah akun, yang saya harap bisa memberi saya sedikit harapan. Saya chat, lalu meminta nomor WA agar lebih intim. Dia kemudian memberi saya foto casingnya. Berwarna biru, meski tidak terlalu saya suka namun saya juga lebih butuh. Kami sudah deal-dealan sebelum saya bertanya harga, kaget. 450 tidak kurang.

Yang saya lakukan tentu saja mencari alternatif lain. Tiga hari kemudian, saya kembali menemukan satu akun Facebook dengan profil spare part komputer/laptop. Saya tanya, apakah casing C840 ready. Katanya, Senin masuk. Menunggulah saya untuk hari Senin. Tak ada kabar. Beberapa kali saya chat, kemudian dibalas tinggal C800. Katanya setipe. Kembali, saya minta nomor WA. Kami saling chat, beberapa kali saya bertanya. Dan tentu saja, yang ini harganya cocok.

Sampai sekarang, kami masih saling bernegosiasi. Katanya, akan dikirim hari ini. Doakan saja casing ini mendarat dengan mulus. Dan bisa ngumpul buat biaya pasang dan service laptop.

Kabar buruk kedua, burung saya, maksudnya, kami punya burung peliharaan di rumah. Sering kami panggil Nuri. Warna bulunya dominan merah. Dirawat sejak adik bungsu saya kecil, kira-kira sudah 7 tahun lebih. Kira-kira, seumur laptop saya juga lah.

Nuri dan Majikan.
Dan, Nuri, pada tanggal 5 Februari. Beberapa hari sebelum meninggal, Nuri memang jarang teriak. Saat kami tau Nuri meninggal, seisi rumah berkabung. Soalnya, bertahun-tahun Nuri tinggal bersama kami. Karena dia tidur di toilet rumah, setiap malam ketika saya sikat gigi, Nuri selalu nyaut-nyaut.

Kami sedih, perlahan kami masih sering ingat kebiasaan tiap hari. Kasih makan pisang, atau apa aja yang kami makan. Masukin dia di kandang, keluarin kalo malam. Ngomelnya Mama waktu Nuri ee di dalam rumah. Kami rindu kebiasaan itu. Terutama Bapak, yang dekat dengan Nuri. Juga Tante yang nangis. Nuri, kami rindu.


31 hari di Januari saya habiskan dengan ngapain aja? Biar saya runutkan satu persatu. Sebelum itu, saya akan memberitahukan bahwa dari akhir...

Oh, Januari Oh, Januari

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

31 hari di Januari saya habiskan dengan ngapain aja? Biar saya runutkan satu persatu. Sebelum itu, saya akan memberitahukan bahwa dari akhir Desember saya sudah libur hingga awal Februari. Jadi dipastikan, Januari adalah libur panjang saya. Pertanyaannya, saya ngapain aja?

Pertama-tama, karena ini libur. Panjang. Saya perlu membuat sebuah dobrakan untuk diri saya. Dari yang tadinya malas bangun pagi, jadi mulai bangun pagi. Dari yang tadinya tidak pernah olahraga, sekarang setiap hari jogging pagi. Dan, tentunya, saya sudah berhasil membuat rekor lari lima putaran. Rekor terbaik dalam hidup saya.

Di rumah, Mama dan Tante saya memulai usaha jual Pop Ice dan Gorengan. Berawal dari maraknya jualan Es Kepal Milo, ide kemudian tercetur untuk membuat. Namun, ide yang dulunya menjual Es Kepal Milo berubah menjadi gorengan dan Pop Ice. Dapat diduga, hype Es Kepal Milo mulai meredup dan goregan tak pernah mati.

Diusaha itu, saya tidak banyak mengambil peran. Paling hanya melayani warung jika yang lain sibuk, atau tugas tetap menjadi pembuang sampah. Ganti-gantian dengan adik saya. 

Biasanya, setelah pulang jogging, saya sarapan dulu. Kemudian, nonton satu film. Siangnya lanjut nonton serial Game of Thrones. Sebelumnya, saya sudah sempat nonton, tapi berhenti. Dan sekarang, saat baru tau musim terakhir tahun ini. Saya buru-buru nonton ulang. Masih banyak series yang saya ikuti, tapi untuk sekarang lagi fokus ke Game of Thrones dulu.

Tercatat dari akun Letterboxd saya, tahun ini sudah nonton 23 film dan 5 TV series. Kelima series adalah sebagai berikut: The ABC Murders, Game of Thrones musim pertama, Encounter, Cek Toko Sebelah Series, Game of Thrones musim kedua.


Kegiatan menjelang malam biasanya random. Diawal-awal Januari, saya lagi keranjingan nonton Encounter. Kemudian Game of Thrones. Sekarang, malam biasanya saya pakai untuk baca buku. Setelah menyelesaikan Anak Semua Bangsa karya Pram, saya berlanjut pada buku ketiga, Jejak Langkah. Baru mulai. 


  1. Januari, itu saja sih kegiatan saya. Hanya beberapa malam yang berbeda. Yaitu malam Sabtu atau Minggu. Bareng teman-teman, kami biasanya hangout bareng. Salah satu tempat makan kami, adalah yang sekarang paling sering kami kunjungi, adalah warung depan SD. Harganya murah meriah dan enak.

Januari sudah berlalu, dan bentar lagi masuk kuliah semester genap. Oh, sungguh tidak sabar. 

Libur panjang dimulai ketika mata kuliah di semester satu berakhir. Mulai dari itulah, saya mulai kembali menikmati hari-hari yang selalu sa...

Perjalanan Menjadi Saitama Perjalanan Menjadi Saitama

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Libur panjang dimulai ketika mata kuliah di semester satu berakhir. Mulai dari itulah, saya mulai kembali menikmati hari-hari yang selalu saya lakukan ketika libur: begadang. Setiap malam, bersama teman saya (ataupun sendiri), saya selalu bermain PUBG. Karena mulai sering begadang, pola tidur terganggu. Yang biasanya jam 11-12 sudah ngantuk, sekarang jam 3 pagi masih segar.

Saya merasa ini sebuah kesalahan. Disaat libur, saya tidak seharusnya begadang. Saya sudah janji akan rutin berolahraga disepanjang liburan ini. Maka dari itu, saya mulai memperbaiki pola tidur. Membuat jadwal mati hape, sehingga tidak ada alasan untuk begadang. Sejam setelah mencoba tidur, tidak bisa. Dan akhirnya memutuskan membaca buku hingga ngantuk pukul 3 pagi.

Setelah pola tidur mulai membaik, pada Minggu pagi rencananya kami (anak-anak lorong), ingin pergi ke Taman Kota untuk jogging dan senam. Namun, karena semalam begadang lagi, akhirnya batal. Maksudnya, beberapa dari mereka tetap pergi, sementara saya bangun sudah pukul 10 pagi,

Akhirnya menyesal, dan berpikir untuk menebus segalanya. Saya tidak enak dengan diri sendiri. Bagaimana bisa, saya sudah mengingkar janji kepada diri saya sendiri. Siang itu, disela bermai PUBG, saya mengajak teman saya, Adit, untuk jogging. Ali dan Riki juga saya ajak. Mereka mau, meski akhirnnya, sore itu, hanya saya dan Adit yang pergi.

Adit datang dengan motor, lalu kami jalan bareng ke lapangan. Jarak rumah ke lapangan sangat dekat. Dan itu yang membuat saya berpikir, kenapa fasilitas sebagus ini sangat saya sia-siakan.

Bersama Adit, dia menjadi mentor saat memulai jogging. Awalnya kami berjalan hingga didepan gor, lalu memulai berlari. Saya terlalu bersemangat, hingga pada putaran pertama mulai ngos-ngosan. Pelajaran pertama yang saya dapat dari Adit adalah bernapas menggunakan hidung. Awalnya agak sulit, menarik dan menghembuskan lewat hidung sambil berlari. Namun, semua jadi mudah ketika memasuki putaran kedua.

Saat hendak menuju putaran ketiga, saya berhenti dan menyuruh Adit untuk meneruskan. Saya berjalan dan menuju tempat duduk. Ada beberapa orang yang sedang sit up. Setelah capek, Adit menghampiri, katanya empat putaran.

Kami ngobrol sebentar sebelum Bapaknya nelpon. Katanya ada perlu, dan mau balik lagi. Setelah pergi, Ali datang. Kami berdua lari lagi, saya hanya dapat dua, Ali masih terus sementara saya berhenti untuk istirahat. Lagi.

Tidak berapa lama, Ega, teman pas SMA datang. Kami ngobrol selayaknya dua teman yang sudah lama tidak ketemu. Saling tukar kabar, kemudian menanyakan teman-teman yang lain. Ali datang dengan ngos-ngosa sementara Ega baru saja mulai berlari. Adit datang dengan motornya. Seperti biasa, pertemuan Adit dan Ali adalah sebuah pertunjukan. Hari itu, saya kurang puas dengan intensitas saling ganggu mereka yang tidak seintens via telpon.

Jadi, kami hanya ngobrol tentang beberapa hal mengenai teman-teman, masa perkuliahan, sedikit-sedikit menyerempet ke gosip. Ega juga mulai berhenti dan menghampiri kami yang sedang ngobrol. Dan, nyatanya, itu adalah hari yang sangat baik untuk tertawa. Kami ngobrol dan banyak tertawa. Ega yang memang intonasi suaranya keras, membuat Adit sesekali menegur sambil tertawa.

Setelah sore itu, saya berencana jogging lagi. Besok pagi dihari Senin. Malamnya, saat sedang main squad di PUBG Mobile, saya ajak Adit lagi. Tapi, karena ngantuk, saya bangun jam 10 pagi.

Besoknya, saya berusaha untuk tidur lebih awal. Dan akhirnya, pukul 6 pagi saya bangun dan melihat tidak ada tanda-tanda Adit akan datang. Saya ambil sepatu, kemudian berangkat ke lapangan. Hari itu, saya menganggap itu sebagai permulaan saya berolahraga setelah kemarin sempat pemanasan. Tidak banyak orang, dan cuaca sedang bagus. Hari itu saya dapat lima putaran. Tiga putaran pertama, dan dua lagi setelah istirahat. Saya senang, dengan teknik dari Adit, saya mulai bisa melampaui rekor saya selama ini. Biasanya, saya hanya bisa dapat dua putaran, itupun sudah ngos-ngosan.

Kesalahan saya selama ini adalah tidak pandai mengatur napas. Dulunya, saat pelajaran olahraga lari, saya mulai dengan start paling depan menghabiskan sekuat tenaga. Demi apa? Tentu saja biar terlihat keren dimata teman-teman cewek. Keren? Tidak. Ngos-ngosan? Iya.


Nah, selain lari, saya mencoba mengontrol pola makan. Di pagi hari, saya hanya makan dua telur rebus dan minum segelas susu atau kopi. Siangnya makan bebas. Lalu malam hanya minum Energen. Sarapan dengan telur rebus dan susu cukup mengenyangkan hingga siang. Kenapa telur? Sejujurnya, inspirasinya dari film The Shape of Water.



Pelajaran kedua dari Adit adalah, jika mulai merasa capek, ambil langkah pendek secara perlahan sembari kembali mengatur napas. Awalnya, saya pikir itu adalah hal yang sia-sia. Ternyata, benar-benar worth it. Saya bisa lari dengan tiga putaran, yang dimana itu rekor dalam hidup saya.

Hari kedua, Rabu, saya berusaha untuk naik level. Saya naikkan dari tiga putaran menjadi empat putaran. Meski sempat ragu, dengan dua pelajaran diatas, saya bisa menuntaskan tantangan saya itu. Dikepala saya saat itu ada Atta Halilintar yang dimana disetiap akhir video selalu memberi motivasi. Salah satunya seperti ini: "Memang gaes, usaha itu ngga akan menghianati hasil. Gue udah nge-push diri gue untuk bikin video hampir setiap hari. 9 juta subscribers gaes. Asiyaaapp!!!"

Tidak sampai disitu, hari Kamis, saya kembali men-challenge diri lagi. Empat putaran saya naikkan menjadi lima putaran. Awalnya saya juga tidak akan percaya bisa menuntaskan tantangan itu. Tapi sekali lagi, itu adalah rekor saya selama hidup. Dengan pelajaran ketiga, yaitu, jika sudah capek, ambillah langkah kecil dan bergerak secara pelan hingga napas kembali teratur. Jangan sampai berhenti hanya karena merasa capek. Lima putaran bisa saya tuntaskan. Lalu bayangan Atta kembali dikepala,"Asiyaaap!!!"

Hari Jumat saya memilih untuk istirahat. Soalnya, saya pikir siangnya mau sholat Jumat. Jogging belakangan ini sering membuat betis dan paha saya sakit. Mending saya istirahat, pikir saya pagi itu. Yang saya lakukan pagi itu membersihkan kipas angin yang sudah berdebut.

Dan hari Sabtu, saya bangun, dan bergerak ke lapangan. Sebenarnya, Ali mau ikut, namun pagi-pagi dia WhatsApp, Katanya sedang ada kerjaan. Hari itu, entah faktor apa, saya hanya dapat tiga putaran. Lalu ngobrol dengan anak lorong sebelah. Usianya 25-an lah. Kami ngobrol masalah pekerjaan, game, dan sesekali dapat wejangan dari dia.

Sebelum jam 8, kami memutuskan untuk pulang. Dia terus dan pamit, sementara saya belok ke rumah. Pelajaran beberapa hari ini adalah semua orang bisa kalau berusaha. Lagi-lagi klise. Tapi, ini sudah saya buktikan. Cobalah, keluar dari zona nyaman sesekali untuk melihat sampai dimana batas kemampuan kita.

Menjadi Saitama memang tidaklah mudah. Tapi setidaknya, saya sudah bisa mengalahkan diri saya sendiri yang malas bangun pagi, suka begadang, dan makan dengan tidak terkontrol. Ditengah kehidupan ini, saya mulai bisa merasa bangga dengan lima putaran yang saya tuntaskan. Kemudian pikiran saya tertuju pada masa olahraga. Lima putaran itu hanya standar untuk perempuan.

Menjadi Saitama tidaklah mudah.

Sebenarnya, saat ini saya hanya ingin tidur. Tapi tentu saja tak bisa karena jadwal tidur saya sudah kacau lebih dulu. Semua bermula ketika ...

Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Sebenarnya, saat ini saya hanya ingin tidur. Tapi tentu saja tak bisa karena jadwal tidur saya sudah kacau lebih dulu. Semua bermula ketika libur dimulai. Awalnya hanya ingin merayakan libur dengan begadang semalam bermain PUBG di hape. Namun, karena keasikan, malah terbawa-bawa hingga malam berikutnya.


Malam itu, sehabis bermain Creative Destruction (game yang mirip Fornite) di hape, saya mencoba untuk tidur lebih awal. Alih-alih tidur, pikiran saya malah semakin liar. Badan saya tidak berhenti untuk bergerak dari kasur. Seakan ada hasrat dari tubuh yang mengatakan: "Ayo, Bangun! Mari begadang!"

Semakin saya lawan dengan memejamkan mata, semakin pikiran saya liar. Ini tidak mungkin pengaruh kopi tadi siang, pikir saya. Sampai kemudian, pemikiran saya sampai pada melihat perkembangan di dunia ini lewat perkembangan game.

Dulu, saya bermain tetris di sebuah konsol game yang dibelikan oleh Ibu saya. Saya masih ingat waktu itu, konsol tetris saya warna biru langit. Saya menghabiskan waktu-waktu saya dengan main game tetris itu. Kadang-kadang dipake ole Tante saya. Permainan itu mengharuskan kita sebagai pemegang kontrol untuk membangun sebuah bata yang sudah ditentukan bentuknya. Semakin berkembangnya jaman, permainan semakin canggih. Sekarang, kita sudah tidak bermain tetris lagi, melainkan Fortnite. Game yang jika mau dibandingkan memang sangat jauh berbeda. Namun, jika dilihat lebih lanjut, memiliki persamaan yang bisa dijadikan kajian. Asik.

Kedua game itu sama-sama bersifat build to play. Yang satu hanya khusus membangun, yang satu membangun sekaligus mematikan lawan dan bertahan hidup. Itu mencerminkan kehidupan kita sekarang bahwa membangun saja tidak cukup, kita juga butuh bertahan dan tidak sedikit yang saling menjatuhkan?

Disisi yang lain, sesudah bermain game Tetris, saya beranjak bermain game konsol di Nintendo sepupu saya. Saat itu, saya jatuh cinta bermain game Contra. Biasanya, saya akan memakai Lance Bean, karakter dengan kostum warna biru. Sedangkan sepupu saya memakai Bill Rizer, karakter yang berkostum merah. Game itu menuntut kita untuk bekerja sama untuk menyingkirkan sebuah kelompok yang akan mengambil alih bumi.

Semakin berkembangnya jaman, saya mulai bermain PlayerUnknown's Battlegrounds di hape. Game yang dimana kita akan diturunkan disebuah tempat, kemudian mencari senjata untuk bertahan hidup. Jika tidak dibunuh, ya membunuh.

Dan kemudian, saya masih gelisah di tempat tidur. Sedikit demi sedikit, catatan kecil untuk membantu saya menulis ini mulai saya catat. Ada satu lagi game yang ingin saya jadikan perbandingan. Tapi, belum menemukan game pembanding yang cocok. Itu adalah game werewolf. Meski di dalam game itu kita diajarkan untuk bermusyawarah, namun secara tidak sadar kita juga diajarkan menjadi pembohong atau penipu andal saat memainkan peran Werewolf itu sendiri.

Saya membuat postingan ini bukan untuk menyerang pihak manapun. Sebagai orang yang bermain game, ini hanya sedikit kegelisahan saya sewaktu ingin tidur. Dan saya rasa ini keisengan yang membuat saya sadar bahwa saya terlalu jauh memikirkan segalanya, mungkin. Saya pikir, kemudian game hanya untuk membunuh waktu, pengusir rasa bosan, atau pengisi waktu senggang. Meski dibeberapa kasus, orang menjadikan game sebagai bagian dari hidupnya.

Sudah saya bilang, saya hanya ingin tidur. Membiarkan pikiran saya berpikir liar begini bisa membuat banyak perdebatan.

Perlu saya katakan bahwa ini adalah salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya tempuh menggunakan jalur darat. Itu adalah malam Sabtu...

Karena Liburan, Gagal Final Karena Liburan, Gagal Final

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Perlu saya katakan bahwa ini adalah salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya tempuh menggunakan jalur darat. Itu adalah malam Sabtu, dimana kami sudah mengumpul uang 100.000/orang untuk biaya bensin dan lain-lain. Yang akan ikut, diperkirakan sekitar delapan orang. Yaitu, Kak Rijal yang dimana bertugas menyetir, kemudian Ari, Dandi, Ali, Riki, Rendy, dan saya sendiri. Yang terakhir adalah Sudi, yang kami jemput di rumah kakeknya.

Rencana perjalanan ini sudah direncanakan sejak hampir setahun yang lalu. Itu waktu kami sedang nginap di hotel. Awalnya kami hanya ingin ke Danau Biru, yang waktu itu lagi hits-hitsnya. Namun, rencana kami ini lebih besar. Kami akan ke Kolaka mengelilingi beberapa objek wisata.

Malam Minggu tanggal 22, kami sudah hampir siap sebelum saya mendapat info dari grup kelas. Katanya, Senin ini akan ada final test. Saya mulai panik. Beberapa teman saya yang sudah ada di Kampung apalagi. Kami bernegosiasi di grup dengan keting kami Danil. Lewat teman saya, kami bicara sambung tiga dengan Danil. Saya mencoba bernegosiasi, apakah bisa final dipindahkan ke hari lain. Masalahnya, kalender kampus menunjukkan hari itu adalah libur bersama sebelum besoknya perayaann Natal. Beberapa menit berbincang dengan kolot, Danil kemudian bersedia ngomong dengan Pak Saur, Asisten Dosen mata kuliah Pengantar Linguistik.

Kabar dari Danil kemudian datang: final tetap hari Senin. Alasannya, itu bukan kuasa Pak Saur untuk memindah-mindahkan jadwal. Apalagi peng-inputan nilai sudah sangat dekat. Saya mulai pasrah. Saat Riki datang ke rumah, saya katakan tidak jadi pergi. Ia sedikit kecewa. Beberapa orang seperti Ali, Dandi, dan Ari sudah datang ke kamar. Dengan kecewa, membujuk saya agar tetap ikut.

Saya mencoba mencari cara. Saat Kak Rijal datang, saya memberitahukan permasalahan. Ia bersedia bicara dengan Pak Saur lewat telepon. Dan, akhirnya, sama saja. Pak Saur hanya bisa mengarahkan kami dengan Pak La Ino, dosen penanggung jawab. Jadi, lewat nomor Dosen saya, Kak Rijal menuliskan pesan singkat untuk meminta ijin dan kebijaksanaan agar saya bisa final meski dihari lain. Dengan itu, baju yang sudah ada di tas, tidak jadi saya keluarkan. Meskipun belum mendapat ijin pasti, saya tetap pergi. Dengan banyak keraguan dan pertimbangan.

Dijalan, kawan-kawan saya berusaha menenangkan saya dengan ungkapan: tenang saja. Namun realitanya saya masih was-was sepanjang jalan. Hingga sudah benar-benar meninggalkan Kendari, saya berusaha untuk tenang dan mencoba menikmati perjalan. Jika saya terus bersusah hati, saya malah rugi pada dua pilihan itu. Yang saya takutkan adalah mengecewakan Mama saya, itu saja. Karena, beliau sudah dengan perlahan mengikhlaskan saya belajar pada jurusan ini.

Kami berbincang singkat didalam mobil, sesekali tertawa, lalu mengenang kembali rencana yang akhirnya jadi. Jika mau diputar balik, rencana ini sudah dibicarakan dari tahun lalu. Waktu itu kami sedang melakukan project tahunan juga, yaitu: bermalam di salah satu hotel ternama Kendari. Lalu, salah satu dari kami mengeluarkan opini,"Danau biru bagus juga."

Kami memulai perjalanan hampir pukul 10 malam, kemudian mengisi bensin sebelum benar-benar meninggalkan Kendari. Lalu, melaju tanpa henti ke Kolaka. Disana, saya tertidur karena mulai pusing. Perjalanan kurang lebih 5 jam. Itu sudah kami menjemput Sudi, makan disalah satu warung (walaupun saya bungkus), dan sampai disalah satu tempat yang akan kami tiduri malam ini. Tempat itu adalah rumah keluarga Riki.

Kami datang sebagai tamu yang bisa dibilang menyebalkan. Datang sepagi itu, dan membangunkan si empunya rumah. Meski begitu, empunya rumah menyambut kami dengan baik. Karena lama saat memanggil empunya rumah, nasi yang dibeli saya makan didepan pagar. Dibantu Dandi yang juga tidak makan malam itu.

Kami tidur di kamar dengan jumlah enam orang. Empat yang dikasur, yaitu saya, Riki, Rendy, dan Dandi. Dibawah, ada Ali dan Ari. Sementara itu, Kak Rijal dan Sudi tidur di depan ruang tivi. Sempat terjadi perbincangan intim sebelum tidur. Dan akhirnya kami semua tumbang terlelap.

Pagi hari, yang pertama saya cek adalah balasan sms Dosen saya yang dimana tidak ada. Beberapa yang di kamar sudah bangun. Seperti Dandi dan Riki. Saya terbangun ketika mendengar suara berisik mereka. Itu ketika mereka menertawai tidur kami. Disana ada Rendy, adik saya, yang akrab disapa Onge. Itu tidur dengan gaya yang aneh dan mulut menganga. Ali mem-video sambil menahan tawa.

Dengan pikiran masih kacau, saya mencuci muka dan boker. Lalu minum teh dan makan kue yang sudah dihidangkan. Kami ngobrol santai bersama empunya rumah, terutama Ridho, anak kecil yang ada tinggal disana. Ia meminta kirim game Badminton yang ada di hape Kak Rijal.



Kami meninggalkan tempat itu sebelum jam 9, kemudian lanjut ke Tamborasi, salah satu tujuan kami juga. Sebuah objek wisata pantai sekaligus sungai. Air sungainya sangat dingin. Saking dinginnya, air minum yang kami bawa menjadi air es.

Sebelum sampai kesana, kami singgah ke beberapa tempat, salah tiganya untuk membeli permen, obat anti mabuk, dan makan. Karena kurang percaya diri, saya ikut-ukutan minum obat anti mabuk. Yang saya tidak sadar adalah efek dari obat tersebut. Akibatnya, sepanjang jalan saya tertidur pulas. Saking pulasnya, menjadi objek paparazzi.


Di Tamborasi, kami makan nasi goreng di bawahh tebing. Airnya mengalir dingin. Cocok sekali dengan situasi yang sedang lapar-laparnya. Kami makan dengan lahap. Perpaduan antara lapar dan nasi gorengnya yang memang enak. Telurnnya dua, dan dengar-dengar bukan telur ayam tapi bebek. Setelah makan, semua langsung merendam diri. Segar sekali. Kalian perlu mencoba. Semua sudah ke tempat yang airnya tinggi sementara saya dan Ali masih duduk dibawa tebing. Meski airnya segar, masih ada perasaan kacau. Apalagi saat itu, lensa saya terkena air pas menyeberang.




Ali memberi saya dua pilihan: mau menjaga barang dulu, atau mandi. Namun sebelum menjawab, ia menyuruh saya lebih dulu mandi. Saya mengiyakan. Tebing itu tidak tinggi, tapi berlumut dan curam. Setelah berhasil melewati beberapa bebatuan. Saya salah mengambil langkah dan terpeleset. Kaki kanan saya mendarat pada batu pipih. Dalam hati saat hendak melihat kaki, saya berdoa,"Jangan luka, jangan luka, jangan luka.."

Namun inilah adanya. Punggung kaki saya robek. Putih dahulu, kemudian diiringi banjir darah. Ali yang melihat membantu saya mengambil posisi untuk duduk. Kemudian memanggil yang lain. Saya memeriksa bagian tubuh yang lain. Alhamdulillah. Aman. Hampir saja, telapak tangan saya ikut robek. Untungnya batu yang berlawanan dengan telapak saya bukan batu runcing juga.

Kak Rijal datang dan melihat luka saya. Sembari meringis, Kak Rijal merobek sebuah kain untuk diikatkan pada kaki saya. Salah satu yang saya ingat saat jatuh adalah dosen saya. Benar-benar kualat saya ini. Yang lain datang dengan wajah khawatir. Kemudian, mereka lanjut mandi saat saya memilih untuk kembali ke mobil beristirahat.

Ali yang mengantar saya ke mobil membelikan saya handyplast di warung depan. Ia kemudian lanjut mandi bersama yang lain sementara saya meringis membersihkan luka dan menutupinya dengan handyplasti berbalut tisu. Jika ini sebuah kesalahan, maafkan saya. Disituasi genting seperti itu, pikiran saya benar-benar sempit dan memilih jalan keluar cepat.

Saya rebahan sebentar sebelum mereka datang dan mengambil foto. Saya menolak ajakan mereka karena kaki saya masih sakit dan sendal saya juga putus. Diperjalan, saya memakai sendal Ali. Sementara ia mulai memakai sepatu. Riki dan Rendy bertelanjang kaki setelah sendalnya hilang ditelan arus. Perjalanan berikutnya adalah ke Danau Biru. Dengan kaki yang sudah terluka, teman-teman memberi dukunga agar saya kembali semangat. Bagi saya, liburan ini benar-benar dilema besar untuk saya. Di grup WhatsApp, saya mencoba merayu agar beberapa teman yang sudah balik ke kampung untuk sama-sama ujian susulan. Namun mereka terlampau takut dan pasrah kembali ke Kendari.

Yang saya lakukan saat itu mencoba benar-benar merekalan sesuatu yang sudah terjadi. Mengingat kata dosen saya ini, beliau dalam PBM pernah berkata,"Jika ngantuk, jangan ke Kampus. Tidur saja di Rumah. Jangan datang ke Kampus dan membuat dirimu tidak fokus belajar, dan membuat kau rugi tidak tidur."

Karena sudah begini, saya mencoba merelakan yang telah terjadi dan menikmati apa yang saya pilih. Diperjalanan menuju Danau Biri, lagu Always-nya Bon Jovi menjadi lagu yang benar-benar mengaung diudara. Kami bernyanyi riang dan sangat liar. Ditengah perjalanan, kami berhenti untuk berfoto didepann gerbang selamat datang. Kegembiraan mulai saya raih kembali.

Tibanya di Danau Biru, itu disebuah depan pantai. Kami harus naik beberapa anak tangga sebelum benar-benar sampai ke Danau Biru. Dan setelah naik, seperti yang sering kami lihat di postingan orang-orang di Instagram, airnya benar-benar biru, tempatnya benar-benar keren. Kami takjub dibuatnya. Saat sampai, semua bersiap untuk mandi kecuali saya. Jika kaki saya tidak terluka, saya mungkin sudah bersenang-senang diatas air yang keren itu.

Saya hanya dipinggir, menyaksikan mereka berenang dan memotret. Untuk sebuah objek wisata, ini sangat-sangat rekomendasi. Saya tahu, ini sudah agak terlambat. Orang-orang mungkin sudah kesekian kalinya datang kesini ketika kami baru takjub dibuatnya.

Dari atas, memang terlihat dangkal. Namun, sangat jarang yang bisa mendapatkan dasarnya. Beberapa orang yang tidak mahir berenang tidak usah khawatir. Disana disewakan ban renang untuk yang tidak mahir berenang. Meski begitu, tidak sedikit yang jago berenang dan melompat dari atas tebing dan bergelantungan. Itu benar-benar keren.

Hampir lupa waktu kami disana. Kami berganti pakaian dan naik kembali. Itu untuk kebutuhan dokumentasi. Untungnya, ada kakak senior Ali dan saya pas SMA untuk kami minta tolong mengambilkann kami foto bersama. Kemudian, Ali disuruhnya menjepretnya dengan istrinya.


Dari foto-foto, kami bergerak meninggalkan Danau Biru. Diperjalanan keluar, mobil berhenti ketika bunyi krek yang sangat keras dibawa mobil. Saat kami melihat, ternyata besi yang ada dibawa mobil sudah terangkat karena mobil kelebihan muatan. Mobil sempat didongkrak untuk Kak Rijal memukul besi itu. Namun besi terlampau kuat dan kami menyerah. Terpaksa kami jalan hingga mobil melewati medan yang tidak rata itu.


Pemberhentian selanjutnnya ke Desa Watumena. Itu kampung Kak Rijal. Disana, kami akan nginap untuk semalam. Tapi, sebelum itu, kami singgah di jalan by pass dekat sebuah Mesjid. Disana ada beberapa pedagang. Kami membeli siomay dan minum sebelum bergerak ke kembali. Sebelum jalan, kami bertemu Sul, orang yang sempat kuliah di Kendari dan akrab bersama kami. Kami jalan setelah foto bersama. Perjalanan ke Desa Watumena cukup cepat namun kami sudah hampir kehabisan tenaga.

Sampai disana, kami disambut hangat. Kami masuk kedalam rumah dan dipersilahkan oleh Mama Kak Rijal. Setelah beristirahat sebentar, hindangan makan malam mulai disediakan. Dandi, yang dimana keluarga Kak Rijal membantu menghidangka kami makan. Dan malam itu, kami makan dengan lahap, kemudian berbincang dengan hangat.

Setelah makan, kami diajak Kak Rijal untuk ke sebelah liat proses kerja cengkeh. Kami datang untuk melihat sambil membantu dan belajar memisahkan cengkeh dari rantingnya. Kami dapat ilmu malam itu, terutama saya, yang baru ngerti kalo bahan utama rokok itu cengkeh. Setau saya sih, cengkeh buat makanan.



Sembari memisahkan cengkeh dari ranting, Dandi datang setelah mandi dari rumahnya. Setelah selesai, kami kembali untuk minum teh yang sudah disediakan. Kaki yang kena luka masih terasa perih ketika jalan. Itu yang membuat Kak Rijal nyuruh saya untuk ke sebelah lagi, bersama Om-nya Kak Rijal. Dengan minyak yang entah apa namanya, kaki saya diolesin dan Om itu semacam ngurut dan doa dalam hati.

Tidur dalam keheningan malam. Hape kurang mendapat sinyal. Hanya obrolan dan teh hangat. Lampu sudah dimatikan, dan kami sudah baring ditempat masing-masing. Riki, Sudi, dan Rendy, pindah ke bagian depan. Paginya, saya bangun pukul 7 pagi. Terus keluar. Disana ada Kak rijal dengan sarung. Mobil sudah di dongkrak untuk diperbaiki oleh Om yang kita kenal sebagai Om Ompeng.



Saat Riki bangun, kami nyobain motor rakitan Om Aris. Mirip CB klasik, tapi bukan katanya. Biaya beli dan rakitnya cuma sejuta. Kami kaget. Sebelum sempat nyobain, kami dipanggil masuk untuk sarapan. Kami makan Sokko dan Ikan Masak. Barusan dapat sarapan begitu. Tapi, enak. Hampir semua dari kami nambah.

Habis makan, kami diajak Kak Rijal metik jeruk nipis. Saya dan Ali malah lebih milih metik coklat. Tapi yang kami petik coklat yang sudah atau belum masak. Dari rumah, kami ngambil handuk untuk mandi di belakang rumah. Bukan tempat mandi biasa. Itu adalah dibawah jembatan kecil yang katanya sungai. Tapi, lebih mirip kali, eh, ngga juga. Meski kecil, airnya bersih. Yang mandi hanya saya, Riki, Ali, dan Rendy. Ditemani tiga adik Kak Rijal.


Balik dari mandi, kami tidak ganti pakaian karena katanya mau ke sungai lagi. Kali ini, hampir semua ikut. Saya dan Riki naik matic. Saya membiarkan Riki untuk membawa motor karena ingin dokumentasi. Saking senangnya, dijalan, Ali teriak-teriak sambil mengepakkan tangan. Kami melewati gerbang, nama sungai yang kami tuju adalah Lapolu.

Awalnya, kami ingin membawa motor hingga ke dalam. Tapi, motor yang dibawa Ali tidak bisa dibawa menanjak. Kami jalan beberapa meter, dan mendengar suara arus yang mengundang gairah. Dari sana, kami langsung buka pakaian dan terjun. Airnya lumayan dingin, meski tidak sedingin Tamborasi.



Batunya besar-besar dan licin. Jadi, kami harus ekstra hati-hati saat berjalan. Apalagi, perlu saya katakan bahwa arus sungai Lapolu sangat berbahaya. Arus seperti ini seharusnya memakai alat pengaman. Beberapa kali, oleh batu yang sudah berlumut saya tergelincir. Dan yang paling pertama saya lihat adalah luka kaki. Disini, saya mulai mendapat jaringan untuk membuka grup WhatsApp. Isinya foto teman-teman saya yang sudah final. Oh, saya rasa kalian perlu kesini.

Suasananya benar-benar pedesaaan, ditambah tidak ada hal-hal yang kami sibukkan selain bermain air. Ditemani oleh Om Ompeng, kami diajaknya untuk naik keatas menuju air terjun yang paling ujung. Tapi kami menolok karena terlalu jauh. Disini saja sudah bagus. Kami hanya perlu naik sedikit lagi untuk bersama Sudi, Ari, dan Ali yang sudah naik. Bersama Riki, kami saling bantu untuk bisa menaiki batu besar dan menerjang arus bagaikan ikan salmon.

Sampai diatas, kami duduk dibatu besar yang dialiri arus air. Kerasnya arus yang menghantam punggung bagai sedang dipijit. Saya nantang Ali untuk minum air itu, karena saya tahu, air itu jernih dan dari sumber air.

Setelah mandi, kami siap-siap untuk pulang sebelum lupa waktu. Dijalan, Kak Rijak datang dengan mobil. Katanya bawa es buah. Karena sudah terlanjur pulang, kami makannya di rumah. Setelah makan es buah, saya, Riki, dan Ali kembali ngetes motor rakitan Om Aris. Kami ngetes tanpa baju soalnya sudah kehabisan baju dan sedang panas-panasnya. Disaat percobaan dan merekam untuk dokumentasi, saya hampir menabrak pagar bambu rumah orang karena lupa ngerem.



Dari ngetes motor, kami kepanasan. Diajaknya Om Aris untuk ke belakang rumah duduk-duduk. Sebelum pulang, kami diajak lagi ke laut dekat rumah. Lagi-lagi tidak pake baju. Hanya sebentar kami disana karena panas. Dirumah, sudah disediain lagi es kelapa muda. Benar. Disini, makan kami benar-benar di service. Kami banyak terima kasih kepada keluarga besar Kak Rijal. Kami jadi banyak merepotkan. Kami orang kota yang norak. Ketemu sungai, norak. Ketemu air, norak. Hal-hal yang kami jarang liat di kota itu benar-benar membuat kami senang.


Kami ingin lebih lama lagi disana. Tapi, besoknya, Ali ada presentasi. Jadi, sore kami pulang. Hanya berhenti untuk makan, beli salak, dan kencing. Semua tepar lebih dulu. Yang masih bertahan hanya saya, Ali, dan Kak Rijal yang bawa mobil. Saat sudah mau sampai, akhirnya saya tepar juga. Sampai di rumah, langsung tidur setelah menonaktifkan hape. Setelah bangun keesokann harinya, saya sudah mendengar suara rutinitas saya lagi. Oh, secepat inikah rindu itu tiba.


Oleh-oleh

Harbolnas kemarin adalah pertama kalinya saya ikut. Ternyata, berburu diskon itu seru. Apalagi jika hanya lewat internet. Mojok salah satu y...

Belanja Buku dan Resolusi 2019 Belanja Buku dan Resolusi 2019

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Harbolnas kemarin adalah pertama kalinya saya ikut. Ternyata, berburu diskon itu seru. Apalagi jika hanya lewat internet. Mojok salah satu yang mengadakan paket harbolnas buku. Karena lagi ada uang lebih, saya beli paket cinta yang isinnya 9 buku Mojok seharga 170 ribu. Meski sampai sekarang, paket masih belum sampai. Katanya tertahan di cargo bandara.

Di kesempatan yang lain, diskon akhir tahun sedang diadakan di Gramedia. Saya awalnya kesana sendirian setelah pulang kuliah. Di pertigaan lampu merah, ternyata banyak teman saya yang juga ingin kesana. Kami pergi bersama, meski saya pulang lebih awal.

Di paparazzi oleh netijen Lambe Turah


Dari beberapa buku yang diskon besar-besaran, ada tiga yang saya bawa pulang. Yaitu Sang Petinju oleh Reinhard Kleist, Sentuh Dengan Hati-Hati oleh Jodi Picoult, dan Dari Kirara Untuk Seekor Gagak oleh Erni Aladjai. Tiga buku dengan harga 70 ribu. Jarang-jarang dapat segini. Sikat!



Sebenarnya saya agak malas ngomongin ini. Soalnya, tiap liat postingan resolusi tahun kemarin, masih banyak resolusi yang belum tercapai. Beberapa mungkin ada sih, tapi lebih banyak yang tidak. Terus, kenapa saya masih buat resolusi tahun depan. Mungkin biar blog ini ada isinya, benar juga. Tapi itu lebih karena saya ingin ada tujuan hidup untuk setiap tahun. Bagaimana rasanya hidup tanpa tujuan. Itu hampa sekali. Dan, sebagai orang yang kebetulan punya blog, saya mencoba menuliskan agar resolusi itu bisa jadi cerminan atau kilas balik saya dikemudian hari.

Bagi beberapa orang, resolusi mungkin adalah hal yang tidak perlu. Itu terserah untuk mereka. Saya pikir, kepentingan adalah apa yang kita anggap penting. Dan, saya tidak mengatakan resolusi itu penting. Saya lebih ingin mengatakan bahwa tujuan hidup itu penting, goals in your life lah istilahnya.

Sebelum saya ngomongin resolusi tahun 2019, saya akan mencoba merangkum resolusi saya tahun-tahun sebelumnya. Ini dia, diurutkan dari yang paling lama.

Resolusi Tahun 2016:

1. Bisa buat buku
2. Buat keluarga bangga
3. Bisa beli barang sendiri
4. Berguna untuk orang lain

Dulu, salah satu cita besar saya adalah menerbitkan buku. Sampai sekarang, cita-cita itu masih saya pegang. Entah dengan tujuan apa, itu berubah-ubah.

Dengan konteks apa, saya mengatakan ingin membuat keluarga saya bangga. Mungkin waktu itu, saya banyak mengecewakan mereka. Jika ditanya, apakah saya sudah membuat keluarga, atau orang tua saya bangga? Saya tidak tahu jawabannya. Pilihan saya kadang-kadang membuat mereka kecewa.

Yang bisa saya katakan sudah tercapai adalah bisa membeli barang sendiri. Meski bukan untuk tahun  itu, dan bukan uang dari hasil sendiri. Berguna bagi orang lain mungkin belum. Jujur, saya merasa lebih banyak menyusahkan dan membuat mereka kecewa. Teruntuk teman saya yang sedang membaca ini, saya minta maaf jika banyak salah.

Resolusi Tahun 2017:

Saya tidak buat untuk tahun ini.

Resolusi 2018:

1. Lulus dengan nilai memuaskan
2. Masuk Universitas idaman dengan jurusan sastra atau komunikasi
3. Bikin buku
4. Penghasilan sendiri

Nilai kelulusan saya cukup untuk membawa saya masuk pada jurusan yang saya idamkan; Sastra Indonesia. Meski, impian untuk masuk Universitas Indonesia harus saya simpan dulu. Meski begitu, saya sangat bersyukur, oleh orang tua saya yang masih dibiayai hingga saat ini. Terima kasih, Mama, Bapak.

Bikin buku memang cita-cita besar saya. Sekarang, saya malah berpikir untuk memulai dengan membuat e-book. Tunggu saja. Dan, mudah-mudahan, buku perdana saya dengan berbentuk fisik bisa terwujud. Berkaitan dengan penghasilan sendiri, saya masih mencari pekerjaan yang bisa saya isi disela waktu kuliah. Hitung-hitung biaya tambahan.

Dari resolusi saya diatas, bisa diliat apa-apa saja big goals dalam hidup saya. Beberapa ada yang sudah tercapai, beberapa ada yang belum. Saya rasa penting untuk membuat resolusi seperti ini, meski tidak ditaroh didalam blog. Selain daripada untuk tujuan hidup, ini juga bisa jadi tolak ukur hidup.

Oh ya, sudah kepanjangan. Resolusi saya untuk tahun 2019 adalah rangkuman dari resolusi saya yang belum tercapai. Banyak? Memang. Mari kita lihat, sejauh apa saya bisa mewujudkannya.