Jupri namanya. Ia lahir di sebuah desa bernama Teppo'e. Tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani. Jupri baru saja naik k...

Karena Jupri Karena Jupri

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras



Jupri namanya. Ia lahir di sebuah desa bernama Teppo'e. Tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani. Jupri baru saja naik ke tingkat SMA saat 2003. Bisa dikatakan bahwa Jupri adalah orang yang kutu buku, meski ia selalu geram ketika dicap begitu. Menurutnya, apa yang salah dengan membaca buku. Lagipula, tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Pemuda di sana kebanyakan nongkrong di pos ronda sambil main dam atau domino. Sementara Jupri bukan orang yang senang dengan hal seperti itu. Bahkan, malam itu, dengan tangan menadah kepalanya, ia hanya memperhatikan langit-langit.

Sore hari sebelumnya, dari kota datang seorang perempuan berambut bob dengan kulit kuning langsat. Perawakannya agak tua dari umurnya. Kemana-mana, ia selalu menenteng buku dan walkman. Itu yang membuat Jupri mulai tertarik ketika sebuah mobil Kijang Krista melewati surau yang sering Jupri lewati. Pak Amin, seorang petani dari desa sebelah berdecak kagum. Sampai-sampai, ia memukul bahu Jupri untuk mengungkapkan kekagumannya.

Jupri pulang dipenuhi tanda tanya di kepalanya, perasaan yang aneh di dadanya, dan kegelisahan yang dari tadi ia tahan untuk tidak terlalu mondar mandir saat berada di rumah. Buku Iwan Simatupang yang ia pegang sudah ia habiskan sebelumnya. Pikirannya rancu, untuk berpikir di luar dari perempuan itu sangat susah sekali. Pamannya sudah menyalakan api yang dibuat dari botol kaca yang diisi minyak tanah. Itu untuk dipakai menerangi ketika mereka makan. Jupri menyendok nasi, dan mengambil ikan sebagai lauk dengan mata kosong kedepan. Ia benar-benar sudah terkena sihir, pikirnya.

"Ada masalah, Pri?" tanya Paman.

"Tidak Paman, tidak ada masalah," jawab Jupri.

"Kalo ada masalah, lekaslah cerita," kata Paman.

Keesokan paginya, saat berada di sekolah, Jupri mulai mencari-cari perempuan itu. Kiranya ia berpikir bahwa perempuan itu datang disini untuk bersekolah. Ia harap benar begitu. Namun sampai sekolah dibubarkan, perempuan itu tak kunjung datang. Kemana perempuan itu? Padahal, ia ingin melihatnya.

Perjalanan menuju rumah bersama beberapa teman kelas, Jupri akhirnya pamit ketika harus berpisah jalan. Ia berbelok menuju bagian paling dekat untuk sampai ke rumah. Mengganti pakaian, kemudian duduk di bale-bale depan rumah. Pohon mangga didepan rumahnya sangat ia syukuri, karena berkat itu juga dihalaman rumahnya terasa sejuk. Meski begitu, cuaca disana memang kelewat sejuk. Kau masih bisa menemukan embun saat matahari mulai naik. Dan itu yang membuat daerah itu terlihat segar dan asri. Bahkan ketika menjelang siang, angin yang bertiup seakan mengajak orang untuk lepas dari pekerjaan dan melanjutkan mimpi semalam.

Saat sedang melihat-lihat orang berlalu lalang, ia akhirnya terkejut. Perempuan itu, bersama seorang yang lebih tua, mungkin Ibunya, terlihat berjalan tepat didepan rumahnya. Kemudian, dengan agak kebingungan seolah beradu argumen dengan Ibunya, mereka masih tepat dibagian depan rumah Jupri. Yang ia duga sebagai Ibu dari perempuan itu kemudian memanggil.

"Dek, disini warung yang dekat mana yah?"

"Oh, kalo boleh tau warung apa yah, Bu? Warung makan atau warung belanja?" tanya Jupri balik.

Perempuan itu memegang erat walkmannya, dan sesekali memperhatikan Jupri.

"Yang warung belanja, Dek."

"Oh, disitu. Warung Pak Maun."

"Bisa antar kami kesana."

"Boleh."


~o~

Jupri berjalan sedikit lebih depan, itu lebih kepada karena ia agak malu dengan perempuan itu. Tanpa banyak bicara, Jupri mengambil belokan setelah jalan utama, itu menuju warung Pak Maun yang tidak terlalu besar.

"Ini, Bu." kata Jupri.

"Makasih, Dek," kata Ibu itu,"Jangan pergi dulu yah."

"Iya, Bu."

Jupri menunggu Ibu itu masuk bersama perempuan itu. Agak lama karena masih mencari apa-apa saja yang akan mereka beli. Sampai akhirnya, Ibu keluar, membawa satu kantong kresek hitam penuh. Lalu, memberi Jupri sebotol minuman.

"Tidak perlu, Bu." kata Jupri.

"Ambil aja, Dek."

Jupri pasrah dan mengambil minuman itu. Langkahnya hampir sama, tidak lagi berjalan lebih depan. Jupri hanya diam, mendengar percakapan Ibu dan perempuan itu. Sesekali meneguk minum ketika merasa canggung.

"Makanya, kamu jangan dirumah terus, Ren." 

Perempuan itu tidak menjawab, hanya tetap berjalan.

"Coba kalo Ibu ngomong kamu denger," kata Ibu,"Karen!"

"Iya, Bu, denger." lalu perempuan itu berbalik dan mendapati Jupri yang sedang memperhatikan.

Jupri mengalihkan pandangan dan sedikit malu. Ibu itu bertanya,"Nama kamu siapa, Dek?"

"Jupri, Bu."

"Kenalin, ini Karen. Saya Ibunya." 

Lalu perempuan itu tersenyum, tipis tapi manis. Jupri membalasnya.

Jupri hampir berbelok untuk ke rumahnya, lalu Ibu itu memanggil Jupri. Ibu Karen menyuruh Jupri untuk mengajak Karen jalan atau berkeliling melihat desa. Jupri mengangguk perlahan, dan memperhatikan apakah ada ekspresi menolak dari Karen. Namun, yang sejauh ia lihat, Karen terus menunduk.

~o~

Kegelisahan Jupri semakin menggila saat menjelang malam. Apa yang bisa ia lakukan saat itu? Tidak ada. Selain menatap langit-langit kamar dan mengingat wajah dari Karen. Siang itu, banyak hal yang bisa ia katakan namun tidak. Ia hanya ragu merusak suasana yang begitu baik saat ia bisa sedekat itu dengan Karen. Suaranya yang sedikit serak, dan tatapannya yang malu-malu adalah hal yang benar-benar merusak sistem kerja otak Jupri. Kemudian Jupri tidak lagi mengingat apa-apa.

~o~

Jupri kaget, kakinya kaku tidak bisa bergerak, mulutnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. Karen datang dengan wajah yang benar-benar semringah. Ia duduk di bale-bale samping Jupri. Tanpa bicara, Karen menyodorkan  tangan, itu untuk memulai perkenalan. Jupri berkata,"Kan, kemarin sudah."

"Itukan lewat Ibuku," kata Karen.

Jupri mengambil tangan Karen,"Jupri Alan Sinatra."

"Karena Saputri, panggil saja Karen," kata Karen.

"Oh."

"Kenapa?"

"Tidak."

"Ada masalah dengan namaku?"

"Tidak, tidak," Jupri mencoba meyakinkan,"Hanya sedikit aneh, baru mendengar nama seperti itu."

"Kau akan terbiasa, percayalah."

Kemudian, suasana mulai mencair. Jupri banyak cerita setelahnya. Tentang bagaimana desa ini setiap harinya. Pekerjaan tetap yang ada disini. Sampai apa-apa saja trivia yang bisa Karen tahu. Karen juga cerita, bahwa kedatangannya disini adalah karena Ayahnya yang sedang kerja. Meninjau kerja para petani disini. Memberi panduan, ataupun segala hal yang berkaitan agar padi bisa tumbuh subur dan lebih menghasilkan. Karen bercerita tanpa ada yang ia tahan. Seakan, apa yang diceritakan itu adalah lumrah cerita seorang kawan kepada kawannya. 

"Saya akan ngajak kamu keliling. Mau?" kata Jupri.

Tanpa berkata, Karen mengangguk.

Jupri mengajak Karen melewati aspal jalan yang ada disana. Jalan beraspal hanya sedikit, hanya satu jalur yang menghubungkan ke jalan utama.

Jupri banyak mengabsen rumah-rumah yang ada disana. Kebanyakan rumah masih memakai rumah panggung. Itu biasa untuk menyimpan barang, atau padi mereka, kadang-kadang mereka memelihara anjing dibawah rumah. Jupri menunjukkan bekas gigitan dilututnya ketika waktu itu mengganggu anjing gila dibawah rumah. Jupri bisa saja rabies waktu itu, tapi disana banyak orang tua yang ahli. Dengan sedikit sentuhan, kemudian diludahi, seingat Jupri, semuanya jadi baik-baik saja.

Pohon kelapa kuning mulai terlihat banyak ketika mereka berbelok dari aspal menuju lapangan sepak bola. Lapangan itu hanya lapangan biasa yang dibuatkan gawang dari bambu dikedua sisinya. Tempat lewat sapi untuk menuju kandang. Ohya, Jupri kemudian cerita, disana juga, kebanyakan para petani menggunakan sapi untuk membajak sawah. Maka dari itu, memelihara sapi adalah hal yang sangat lumrah. Bukan karena kaya, tapi lebih untuk kebutuhan bertani.

Karen tidak banyak bicara lagi, ia hanya menyimak bak anak SD yang sedang menjadi murid study tour. Ketika berada ditengah-tengah lapangan, Jupri mengajak Karen untuk masuk ke dalam hutan. Langit masih terlalu cerah untuk pulang. Jupri berjalan didepan untuk memotong dan membuat jalan agar Karen tidak terhalang alang-alang. Aroma hutan benar-benar membuat Karen mudah tersenyum. Tanah yang lembab, serta dahan yang masih basah karena embun semalam. Itu benar-benar dirasakan mereka berdua. Kemudian, Jupri tidak banyak bicara, ia hanya membawa Karen berkeliling melihat hutan. 

"Hati-hati, banyak babi hutan," kata Jupri mencoba menakuti Karen.

"Iii..ih," Karen memperhatikan sekeliling.

"Kamu senang baca?" kemudian Karen bertanya.

"Tahu darimana?"

"Kemarin, aku melihatmu memegang buku? Buku apa itu?" tanya Karen.

"Oh, itu, Anne Karenina, dari guruku," katanya.

"Tolstoy, bukan?" 

"Tepat sekali."

Jupri mengajak Karen untuk ke Sawah. Itu jauh, namun kalau memotong jalan lewat hutan itu hanya beberapa menit. Disana, tidak terlalu luas. Yang luas harus memakai motor. Juga itu bukan punya Paman Jupri. Namun, itu setidaknya bisa ia perlihatkan kepada Karen. Dibeberapa kesempatan seperti saat ini, kita bisa melihat sekawanan burung yang berada didahan pohon. Bukit yang ada dibalik hutan juga menambah keindahan. Tekstur tanah mulai berubah. Dari yang tadinya lembab menjadi lembek dan berair. Jupri mengajak Karen melewati pinggiran sawah. Itu untuk keujung dimana ada sebuah dangau. Terletak beberpaa orang-orangan sawah juga. Jupri kembali cerewet menjelaskan. Dan sebagai pendengar yang baik, Karen hanya berfokus pada apa yang Jupri katakan. Meski begitu, Karen sempat bertanya,"Kalo besar kamu mau jadi petani?"

Jupri terdiam.

"Sepertinya tidak. Saya mau menulis. Banyak yang perlu dan menarik untuk ditulis disini," kata Jupri.

"Wah, kalau begitu, aku ingin disini bersamamu. Menemanimu menulis. Tapi,.."

"Tapi kenapa?" tanya Jupri.

"Aku harus kembali. Ayahku akan pulang seminggu lagi."


Karena terlalu jauh dan lama, mereka kemudian keluar. Melewati lapangan yang sudah banyak anak mudah sedang bermain sepak bola. Kebanyakan teman sekolah Jupri yang menganggunya. Banyak dari mereka yang mencoba menunjukkan esksistensinya. Terutama yang sedang buka baju. Jupri hanya mencoba menuntun Karen agar lebih cepat sampai di rumah.

"Jupri, bolehkah kami kenal dengannnya?" kata teman Jupri, seolah melogat bahasa perkotaan.

Saat sudah melewati lapangan, Jupri tidak melihat kebelakang. Namun suara cieeee dan suit suit sangat jelas menggema diudara.

Jupri pulang, namun terlebih dulu mengantarkan Karen sampai ke rumahnya. Itu lumayan dekat dengan rumahnya. Ada tiga petak disamping rumahnya. Karen tinggal dengan keluarga Bu Dirsa. Karen masuk. Disana tidak ada orang diteras maupun halaman. Kata Karen, Ayahnya sedang keluar, sementara Ibunya sedang pergi dengan Bu Dirsa.

"Daripada bingung di rumah, mending ke rumah kamu," kata Karen.

"Saya pulang dulu, yah. Takut Paman cari." kata Jupri.

~o~

Kokok ayam begitu nyaring terdengar dari pintu belakang. Jupri bergerak untuk pergi bersekolah. Di sekolah, ia melewati hal-hal yang begitu aneh. Segala aktivitas disekelilingnya tidak asing untuk ia lihat.Saat pulang, ia benar-benar merasa aneh ketika dirinya tanpa sengaja bergerak menuju bale-bale dengan buku ditangannya. Seorang Ibu dan perempuan datang, bertanya,"Dek, disini warung yang dekat mana yah?"

Adi, teman saya, sudah memberi ajakan untuk berenang. Tempat dan waktunya adalah di Koni pada hari Minggu. Kenapa Koni? Itu murah dan kenapa...

Mematahkan Stigma Mandi Pagi di Hari Minggu Mematahkan Stigma Mandi Pagi di Hari Minggu

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Adi, teman saya, sudah memberi ajakan untuk berenang. Tempat dan waktunya adalah di Koni pada hari Minggu. Kenapa Koni? Itu murah dan kenapa Minggu? Sesungguhnya itu adalah kesepakatan bersama. Sehingga, yang saya tahu, disepakatinya hari Minggu karena Senin sampai Sabtu kita masuk Kampus. Dan itulah, tanggal 11 November adalah tanggal yang cukup cantik. Saya dibangunkan untuk segera bersiap. Mandi kemudian sarapan perkedel KFC sisa kemarin.

Kebetulan saya bawa motor dan searah dengan rumah Aping, jadi itu yang membuat saya menyinggahinya untuk pergi bersama. Dijalan, Aping bercerita bahwa tadi malam, ia menghadiri rapat himpunan mahasiswa dari kampungnya. Kemudian, saat hampir melewati Taman Kota, jalan dialihkan untuk kami kemudian berbelok. Lalu mengambil beberapa jalan tikus untuk sampai kejalan raya kembali. 

Sesampainya di Koni, kami langsung ke parkiran. Padahal, kata Aping, didepan gerbang ada Adi yang sedang nunggu. Saya membuka hape, lalu mengirimkan pesan untuk Adi. Itulah yang membuat ia datang berjalan kaki dengan celana pendek dan jaket abu-abu yang ia tenteng ditangan kirinya. Sembari menunggu Iyar, Ridwan datang. 

Kami masih diparkiran ketika dari atas terdengar sebuah panggilan. Dan ternyata, itu adalah Iyar. Dia turun bersama Arjun dan Danil yang datang. Kami mengumpulkan uang untuk tiket masuk. Untuk usia kami, biasa masuk adalah 7 ribu dan 2 ribu untuk parkir. Kami masuk dan memilih tempat diujung kolam yang disana, cahaya matahari tidak terlalu panas.



Sembari membuka baju, Adi menghubungi Fandy mau datang. Kemudian, saya mengirimkan Fandy lokasi lewat Google Maps sebelum menyimpan hape didalam tas. Yang lain sudah siap mandi setelah awalnya malu-malu. Padahal, yang seharusnya malu adalah saya yang belum pandai berenang. Jadi, ketika yang lain sudah melompat bebas di kolam tiga meter, saya masih bisa tenggelam kolam anak-anak. 

Disana, Ridwan dengan sok jago memberi saya teori untuk berenang, "Gampang ji berenang, lah." (Gampang kok berenang) Kemudian ia memberi beberapa gaya berenang diudara bak seorang pelatih.

"Kau saja ko nda tau berenang," gumam saya. (Kau saja tidak tau berenang)

Lalu kami naik. Danil sudah menjemput Fandy yang ada diluar sebelum kami ngumpul uang untuk beli gorengan. Tidak bisa dipungkiri, Mie dan Gorengan adalah penyelamat kami selama jadi mahasiswa. Meski tidak ngekos, beberapa kali disaat jam nanggung untuk pulang saya dan kawan-kawan nebeng di kosan teman untuk makan dan istirahat. Jadi, dengan segala hormat, saya dan kawan-kawan, apalagi yang ngekos, mengucapkan terima kasih untuk Mie dan Gorengan.


Fandy sudah siap bersama yang lain untuk turun. Beberapa kali, sempat saya nyoba untuk ke kolam tiga meter. Tapi selalu naik kembali karena takut tenggelam. Akhirnya, saya dan Ridwan harus pasrah berdua di kolam dua meter. Itu sedada saya. Dan cukup tinggilah untuk belajar-belajar renang.

Entah karena kasian atau apa, yang lain menepi ke kolam dua meter bersama kami. Waktu itu, Ridwan sedang ngobrol dengan seorang Bapak-Bapak. Dari pembicaraannya, mereka sepertinya ngobrol masalah berenang dan tempat tinggal. Sempat saya curiga tentang Bapak-Bapak itu. Apalagi, durasi ngobrolnya bersama Ridwan cukup lama. Hanya, itu kami biarkan, karena Ridwan juga memberi kami banyak kekesalan. Dimulai dari ia mengatakan anak kosan makan kacang sebiji bisa kenyang. Dan Arjun, dengan emosi yang cepat naik, berkata: "Ih, coba kasih kos ini anak. Jangan kasih uang satu hari." Kami semua ketawa. Itu lebih kepada ekspresi Arjun yang lucu. Pokoknya, Ridwan itu punya argumen yang lucu dan kadang-kadang imajinatif. Makanya, jika ngobrol dengan dia, kami sudah tahu dan tidak mengambil pusing. Seringkali, ketika ia berbicata, saya nahan ketawa dengan Iyar dibelakang. Namun Arjun, yah, bukan dia kalau tidak emosi.

Sementera kami semua turun, Danil hanya duduk. Sebenarnya, ia mau turun. Namun itu ia urungkan ketika harus membuka baju. Danil adalah salah satu mahasiswa yang alim. Sholat lima waktu ia laksanakan. Dan untuk itu, ia memilih untuk tidak mandi. Katanya, itu mengumbar aurat. Saya pikir, ini cuma masalah niat. Danil tidak berubah pikiran. Ia naik keatas tribun untuk menyaksikan kami berenang. Kecewa dengan Danil yang tidak turun adalah satu dari yang lain, dimana Marwan saat itu juga tidak bisa hadir. Awalnya, dari WhatsApp tidak bisa dihubungi. Lalu, aktif dan mengabari bahwa ia ada acara. Kami pikir itu cuma alasan yang ia buat.

Di kolam, kami saling adu tahan napas. Lalu, Aping, Fandy, dan Adi yang adu renang. Sampai salto antara Aping dan Fandy. Semuanya seru. Mengingat kebiasaan kami di Sekret hanyalah makan gorengan dan diskusi. Kelas berenang hari itu adalah sekaligus refreshing untuk kami.

Dan setelahnya, kami naik ke atas tribun bersama Danil. Itu lebih karena kami sudah lelah berenang. Padahal, saya masih mampu jika sekedar berendam. Kemudian, dengan masih bertelanjang dada, Arjun memanggil seorang perempuan untuk moto. Sempat terjadi insiden panjang dimana Adi dan Danil malu untuk berfoto. Namun Arjun menarik Adi sementara saya menarik Danil. Itulah dimana badan kami yang bagus diabadikan.



Selesai foto, kami turun untuk bilas dan ganti pakaiaan. Sebelum pulang, kami naik lagi ke tribun. Tujuannya untuk foto, karena, pada saat tadi, berfoto dengan telanjang dada, adalah opsi kedua untuk mengunggah di sosial media. Harus ada opsi lain dimana kami terlihat keren dan berpakaian. Kami tidak ingin memberi orang pemikiran untuk mengasihani kami karena tidak mempunyai pakaian.




Setelah foto, yang dilakukan oleh anak kecil, kami turun. Lalu bersiap untuk pulang. Saya bersama Aping. Ridwan dan Iyar sendiri karena yang lain tidak membawa helm. Membonceng mereka sama saja menyerahkan diri ke polisi. Apalagi, minggu itu adalah masa operasi zebra. Saat melewati Adi, Arjun, Danil, dan Fandy, saya membunyikan klakson dan mengangkat tangan dengan tujuan pulang duluan. Mereka menyahut dari belakang.

Tanpa banyak obrolan, motor melewati jalan demi jalan. Lampu merah hanya kami dapati ketika melewati SMAN 4 Kendari. Kemudian, kami dengan beruntung mendapat lampu hijau untuk terus bergerak. Aping saya turunkan tepat didepan tempat proyeknya. Kami bersalaman sebelum saya kembali memacu motor untuk pulang. Dan itulah dia, hari Minggu yang dimana kami mampu mematahkan stigma "Tidak Mandi di Hari Libur". Lalu dengan demikian, Minggu kami tidak semonoton biasanya. Menjadi sebuah cerita yang benar-benar mampu membawa saya pada satu titik untuk kembali merasakan pertemanan yang solid. 

Setelah bangun dari tidur siang, saya benar-benar kaget. Soalnya hari itu, ada kelas menulis dari Rumah Bunyi. Seharusnya, di hari Sabtu say...

Pesta Bidik Misi, Perut Banyak Isi Pesta Bidik Misi, Perut Banyak Isi

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Setelah bangun dari tidur siang, saya benar-benar kaget. Soalnya hari itu, ada kelas menulis dari Rumah Bunyi. Seharusnya, di hari Sabtu saya jarang tidur siang walaupun mata kuliah hanya satu dipagi hari. Namun, pagi tadi, sama dosen saya, mata kuliahnya diganti dengan acara seminar "Kebangkitan Sastra Di Sulawesi Tenggara" pada 4 November. Komsumsinya tidak bisa bikin kami bertahan. Sehingga, kami keluar sebelum pukul 12 siang, dan makan didepan Fakultas Teknik. Disana ada nasi kuning harga murah 5 ribu.

Marwan dan Adi in Auditorium Mokodompit, UHO.

Setelah memacu motor cukup kencang, saya berhasil sampai sebelum sesi kelas menulis dimulai. Disana ada dosen saya, Bu Ila bersama suaminya Bang Kahar. Hari itu, dari pemateri seminar, ada Aslan Abidin, penyair dari Makassar, yang akan mengisi kelas menulis hari itu. Dianya ngisi kelas hari itu dengan santai. Nanya-nanya buku yang kita baca terakhir. Dan, menceritakan kisah masa kecilnya yang pas SD minjam buku dari rumah ke perpustakaan dengan jarak 5 KM jalan kaki. Lalu bagaimana dia waktu kuliah. Masak Indomie bagi empat. Sebelumnya dosen saya juga cerita dengan hal yang hampir sama. Hanya, dosen saya bagi dua. Bang Aslan ini lebih ekstrim. Tidak sulit membagi Indomie jadi dua, bahkan empat. Yang sulit adalah membagi bumbunya itu gimana.



Setelah kelas menulis, kami foto-foto dulu dengan Bang Aslan Abidin. Lalu, ingat, hari itu teman-teman kami yang nerima Bidik Misi bikin acara nanti malam. Karena bingung, saya terpaksa manut aja. Karena semua teman saya yang disitu mau kesana semua.

Saya dan Arjun bersama Aslan Abidin.

Kami berjalan menyusuri jalan Kampus yang mulai gelap. Cahaya lampu mulai ada dimana-mana. Kami belok kiri, kemudian mendapatkan jalan lurus yang lumayan panjang untuk setelahnya belok kanan lagi. Sampai disana, kami parkir motor didepan rumah orang. Lalu masuk ke Asrama teman kami, lebih tepatnya rumah. Sudah ada dua orang yang nunggu. Yang lain belum datang. Katanya lagi beli bahan masakan. 



Saya duduk bersama yang lain sampai Lasmin datang membawa bahan masakan yang kemudian dikerjakan oleh perempuan yang ada disana. Kemudian, Arjun minjam motor, katanya mau jemput Danil, ketua tingkat kelas kami. Fandy dan Iyar datang setelah saya kirimin lokasi. Mereka duduk diluar ngga mau masuk. Malu, katanya. Tapi karena dipanggil minum sirup, langsung buang malu mereka.

Pis Iyar dan Pis Fandy.

Fandy dan Iyar duduk dikursi ruang tamu. Kebetulan lampunya tidak nyala dan kami lebih senang begitu. Beberapa waktu, Arjun datang bersama Danil dan gitar. Itu yang kemudian membuat suasana jadi makin rame. Arjun lagi-lagi mainin lagu Kebenarakan Akan Terus Hidup, hasil dari aransemen Fajar Merah dari puisi ayahnya Wiji Thukul. Dia ngefans banget dengan Thukul. Sampai-sampai, saat ditanya alasan masuk Sastra Indonesia yah karena baca puisi Wiji Thukul.

Yang lain mulai datang meramaikan acara, walaupun tidak bisa dikatakan hadir semua. Untuk laki-laki, yang ada hanya saya, Arjun, Iyar, dan Fandy. Yang lain seperti Marwan, Adi, dan Ridwan tak bisa hadir karena satu dan lain hal. Aping saja, datang setelah ditelpon Danil. Turun didepan Kampus, kemudian dijemput dengan Fandy.

Sebelum Aping datang, saya, Lasmin, Novin dan Mawar pergi ke depan kampus. Itu untuk beli gorengan dan ambil daun pisang. Untuk apa, kata teman yang lain. Itu jadi inisiatif saya ketika ngeliat piring di dapur hanya beberapa. Yang sial dari ambil daun pisang adalah satu celana saya ditempeli alang-alang. Kemudian pulang dengan segera sebelum kepergok.

Diluar asrama, kami sempat berdebat hebat. Itu dimiulai ketika saya mulai memancing pembahasan. Dan kejadian itu bisa dibilang cukup lama sampai akhirnya kami sadar. Sementara berdebat, Danil sibuk juga nyari pasangan sendalnya yang hilang. Sementara yang lain, ngantar Isma pulang karena sudah ditelpon orang rumah. Itu adalah Arjun dengan Atma sebagai penunjuk arah pulang, dan Mawar dan Isma. Kami mulai lapar ketika nunggu mereka balik. Saya juga mulai khawatir, sebab Arjun dengan niat yang baik tapi memakai motor saya.

Disela-sela nunggu, seorang Bapak yang berumur datang masuk kedalam Rumah. Itu juga yang membuat Iyar kaget ketika berada tepat didepan pintu. Akhirnya kami tahu, itu adalah pemilik rumah yang ditinggali teman kami. Dia datang untuk negur kami yang berisik. Katanya, dapat telepon dari tetangga. Terus Lasmin jadi korban kena marah. Sebab, kata si Bapak yang harus dinasihatin bukan kami sebagai tamu, tapi teman kami sebagai yang tinggal. Indah kemudian dibangunkan. Kata Bapak, harus dinasihatin dulu biar paham.

Ini kaki.

Dari cara ngomong Bapak itu sangat baik. Sehingga, untuk ngeles kami pun tidak bisa. Terakhir saya tahu, ternyata dia dosen di FKIP. Bapak itu pulang setelah ngecek lampu dan air. 

Selanjutnya, kami sudah lapar, jam 10 lewat mereka belum balik. Saya sudah berpikir begitu mengingat jarak rumah Isma lebih jauh dari rumah saya. Setelah datang, kami bersorak hore. Tandanya kami akan segera makan. Kami, yang adalah Arjun, Iyar, Fandy, Danil, dan Aping ngambil tempat disudut kiri. Sementara yang lain menyesuaikan.



Kami makan dengan sangat senang, apalagi saat makan berjejer dialasi daun pisang. Saya rasa itu benar-benar beda ketika kami hanya makan dengan piring. Apalagi, saat itu, bisa dikatakan, makanan kami tidak se-wah untuk sebuah acara. Namun, inti dari itu adalah keeratan kami. Saya berpikir kembali tentang pikiran saya waktu akhir SMA. Itu tentang paranoid saya dengan teman-teman  saya didunia perkuliahan. Namun, saya rasa itu tidak jadi soal lagi. Teman lama saya baik, dan mereka sedang buat cerita baru untuk hidupnya. Begitu juga dengan saya.



Selesai makan, kami rehat sejenak sambil nunggu Lasmin dan Iyar buang sampah sisa makan kami. Kemudian, gorengan yang belum sempat mereka makan (karena saya sudah makan), kami tinggalkan. Itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

"Hul, sama sapa ko pulang?" tanya Aping (Hul, sama siapa kamu pulang?"

"Nanti kita sama," jawab saya.

Karena kami pulang dengan arah yang berbeda-beda, kami terbagi dari bermacam kelompok. Saya jalan bersama Siska yang sendiri, Iyar yang bersama Fandy dan Mawar yang bersama Novin. Awalnya kami ngisi bensin botol di depan kampus, itu Iyar yang sudah khawatir dengan bensinnya. Kemudian, kami ngantar Siska ke kosannya. Lalu, menuju Perumahan Dosen untuk ngantar Fandy. Sebelumnya, Mawar dan Novin sudah belok saat kami tetap lurus.

Dijalan saat sudah ngantar Siska, Iyar bilang,"Pis, kita antar dulu Fandy nah." 

"Ko takut kah?" tanya saya (kamu takut kah?)

"Ada juga, Pis!" sambil tertawa kecil.

Setelah ngantar Fandy, kami tidak belok kanan untuk kembali kejalan utama. Kami milih belok kiri untuk ngambil jalan memotong. Lalu tembus di bundaran tank. Diperjalanan menuju Tapak Kuda, Iyar belok kiri sementara kami lurus. Dengan klakson besar seperti kapal, saya ngebunyiin untuk mancing Iyar ketawa. Dari jauh, ia mengirim jempol sambil tertawa.

Keluar dari Tapak Kuda, keadaan yang tadinya mulai gelap berubah mejadi terang. Orang-orang masih ramai berkendara, padahal saat saya nanya jam ke Aping sudah hampir pukul 12 malam. Dari jalan belakang, saya belok kanan untuk ke jalan poros. Itu adalah tempat dimana Aping tinggal. Sebelum pergi, saya jabat tangan Aping. Itu adalah hal yang benar-benar baik untuk dilakukan saat itu. Mengingat dia adalah yang paling tua dan punya banyak cerita. Jika perlu saya katakan, Aping itu lahir tahun 1993. Tujuh tahun hampir diatas kami semua. Kenapa begitu? Ada cerita yang benar-benar harus kalian pahami tapi tidak sekarang.

Setelahnya, saya memacu motor kembali. Sebelum Aping masuk, saya memencet kembali klakson dengan bunyi seperti kapal. Aping tertawa, saya mengangkat tangan untuk kemudian memacu motor lebih kencang menembus angin malam. Kenapa klakson motor saya berbunyi seperti kapal, itu adalah perbuatan Bapak saya. Yang dimana, itu bukan motor yang sering saya pakai. 

Baru mau membuka pagar rumah, sudah muncul tante saya yang membuka. Ternyata sedang nyusun barang di warung. Saya masuk, buka jaket dan tas, dan ngecek-ngecek foto dari grup WhatsApp. Dalam bayangan saya yang lalu, tidak seperti saat ini yang saya lihat. Mungkin, ketakutan yang saya bayangkan belum tentu terjadi seperti ketakutan UN dan Sunat waktu itu. Yang bisa saya yakini adalah waktu punya misteri penting untuk dipecahkan.

Didunia ini, orang akan mengalami perubahan-perubahan dalam hidup mereka. Fase-fase yang mereka lewati, hingga waktu akan mengubah hidup mer...

Perubahan Dalam Hidup Perubahan Dalam Hidup

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Didunia ini, orang akan mengalami perubahan-perubahan dalam hidup mereka. Fase-fase yang mereka lewati, hingga waktu akan mengubah hidup mereka. Saya sudah lama ingin menulis tentang ini, namun rasanya baru pas untuk saya tulis sekarang.

Umur saya sudah 18 tahun sejak 13 April kemarin. Dan saya sudah berada di Bumi sejak 18 tahun Mama saya melahirkan saya. Tidak banyak yang saya ingat sewaktu kecil. Beberapa hanyalah potongan-potongan kecil yang acak. Misalnya, pas waktu kecil, saya makan obat beberapa pil hingga ketiduran dan dikira mati. Cerita itu juga dikuatkan oleh nostalgia saya bersama orang rumah.

Perubahan dalam hidup saya mungkin sebagian besar juga terjadi diumur kalian di 18 tahun. Perubahan yang akan membuat kalian merenung dan berpikir. Layaknya seorang remaja yang diposisikan sebagai anak sulung, saya punya banyak menanggung beban. Saya setidaknya harus jadi panutan untuk adik-adik saya, sampai saya harus bisa membanggakan kedua orang tua.

Perubahan pertama,

Seiring berjalannya waktu, umur membawa saya pada satu titik keraguan. Kebebasan yang dijanjikan dunia perkuliahan mungkin tidak sebebas yang saya bayangkan sewaktu nonton film-film remaja. Saya harus bisa menjadi orang yang berguna dimata keluarga sebagai anak sulung. Ini jelas terlihat dari ucapan Mama saya pada suatu malam.

"Nanti, Mama ingin ngerasain hasil dari uang kamu. Sudah cukup Mama biayain sampai kuliah."

Disatu sisi, saya agak marah karena Mama selalu memperdebatkan jurusan yang saya pilih (meski sekarang sudah tidak). Disisi yang lain, saya mulai merenungkan, apakah saya bisa hidup dari apa yang saya pilih ini. Bagaimana saya bisa menyenangkan orang tua saya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengiang sepanjang malam.

Perubahan kedua,

Saya ingin cepat dewasa, kata saya sewaktu kecil. Menjadi dewasa tidak sekeren dan sebebas yang saya pikirkan sewaktu kecil. Ada batas-batas yang saya rindukan ketika menjadi anak kecil yang bermain disore hari waktu itu. Misalnya, saya rindu ketika disuruh tidur siang sampai dijagain, yang ujung-ujungnya saya akan akting pura-pura tidur dalam waktu tiga jam hanya untuk dapat izin main sore.

Saya rindu saat-saat main sepak bola didepan rumah dengan sendal sebagai tiangnya. Saya rindu dipanggil untuk mandi sore sampai dikejar masuk kedalam kamar mandi. Saya rindu dengan pemikiran-pemikiran saya sewaktu kecil. Impian-impian besar bersama sahabat yang tumbuh bersama hingga sekarang. Kemudian melihat, sejauh mana mimpi itu terbang.

Perubahan ketiga,

Saya sudah cukup banyak mengalami perubahan teman. Dari teman SD saya yang nakal, pindah ke teman SMP yang konyol, kemudian pindah ke teman SMA yang ngangenin. Banyak hal yang saya lewatkan antara perpindahan-perpindahan itu. Saya cukup merasa ada yang janggal dengan hidup ini, bagaimana semesta mempertemukan kita dengan orang dengan karakter yang hampir sama dengan teman lama kita. Kemudian disadarkan, bahwa mereka adalah satu karakter yang beda. Terlalu egois untuk menyama-nyamakan mereka.

Entah, teman apalagi yang saya akan temui dimasa perkuliahan ini. Karena jujur, saya cukup paranoid bertemu dengan orang baru, meski ujung-ujungnya saya juga akan terbiasa.

Sejak tulisan ini berada dalam draf, saya mulai membuka kembali. Ada satu bentuk keraguan yang kini patah. Kawan-kawan saya sekarang adalah yang terbaik. Mereka dari yang ada benar-benar orang yang baru. Semesta benar-benar mengejutkan. Apalagi saat ini, bagaimana orang yang tidak pernah berpikir untuk kenal dipertemukan. Sekarang, saya punya Aping, Arjun, Marwan, Iyar, Fandy, Adi, Ridwan, juga Danil sebagai ketua tingkat kelas kami.



Suatu waktu, kami mengklaim sebuah tempat di depan perpustakaan sebagai Sekret kami. Itu dibawah pohon dan sejuk. Setelah jam selesai, kami sering ngumpul disana. Kumpul uang untuk gorengan atau somay. Kadang-kadang hanya ngobrol singkat, atau diskusi panjang lebar. Daun-daun jatuh, kering dan mulai menyatu dengan tanah adalah saksi kami ada disana. Saya pikir, itu tidak akan berubah selama kami tetap disana.

Hari Jumat, 12 Oktober setelah mata kuliah Sejarah Bahasa Indonesia kami sudah berada di Secret kami. Itu berada tepat didepan fakultas kami...

Drama Kosan Fandy Drama Kosan Fandy

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Hari Jumat, 12 Oktober setelah mata kuliah Sejarah Bahasa Indonesia kami sudah berada di Secret kami. Itu berada tepat didepan fakultas kami, yang sejuk dan banyak pohon. Kadang-kadang bikin ngantuk meski tidak tau harus tidur dimana. Kami yang saya maksud adalah orang-orang yang seharusnya sudah saya perkenalkan. Ada Apin, Iyar, Marwan, Fandy, Arjun, Ridwan, dan Adi. Sebenarnya beberapa orang juga meramaikan Secret kami. Namun terlalu banyak untuk diabsen.




Siang itu, seharusnya kami bisa saja mengumpul uang keliling seperti biasa untuk beli gorengan. Namun beberapa teman sedang sibuk dengan tugas dan kelompoknya. Seperti Iyar, yang sudah disandera oleh anggota kelompoknya. 

Karena tidak tau harus ngapain, tiba-tiba saja Fandy dengan ide cemerlangnya mengajak kami ke kosan-nya. Kosan Fandy lebih terlihat seperti sebuah rumah, ditempati oleh beberapa orang yang ia kenal. Minggu lalu pada hari yang sama kami juga sempat pergi ke sana. Numpang makan dan bobo. Begitu pula hari itu, tepat sebelum masuk kami sudah mengumpul uang untuk membeli Indomie. Disana ada Marwan yang pergi, kemudian kembali dengan empat bungkus Indomie isi dua.

Apin dan Marwan sudah lebih dulu menaikkan air panas dan membuka bungkus mie, sementara Fandy masih memasukkan password wifi kepada kami semua. Saya datang memberi bantuan. Itu adalah buka-membuka bumbu Indomie. Marwan yang saat itu sakit perut, sesegera mungkin menuntaskan panggilan alam setelah orang dari kamar mandi keluar.

Foto Minggu lalu. Di Kosan Fandy.
Apin duduk sambil menggenjreng gitar. Saya duduk disebelahnya memantau info dari grup WhatsApp. Air mulai meluap dikarenakan Fandy menutupnya dengan penutup. Saat kami mulai mengambil Mie, disana masih ada Ridwan yang masih sibuk dengan laptopnya. Atau mungkin malu. Dari pintu dapur, muncul Adi yang tadinya tidak ingin ikut, disusul oleh Arjun yang bersamanya. Dengan sedikit tawaran dan rasa lapar, mereka mulai mengambil mie. Ridwan masih saja didepan tivi memainkan laptopnya. Berkali-kali dipanggil namun selalu menolak dengan malu-malu.

Aping. Diruang Tivi.
Saya selalu percaya, matahari dihari Jumat selalu lebih panas dari hari yang lain. Apalagi saat-saat mendekati sholat Jumat. Karena sudah bolos jumat kemarin, saya benar-benar menjaga agar tidak lagi ketiduran. Teman-teman saya minggu lalu juga begitu. Saat saya bertanya dengan keadaan baru bangun,"Kalian tidak ke Mesjid?"

"Sudah jam 1."

Maka dari itu, Jumat kali ini saya benar-benar harus terjaga. Fandy dengan sebuah telpon kemudian meminta kunci motor, katanya Iyar minta dijemput. Oh, ternyata ia sudah bebas. Didepan tivi, kami sudah membuka kemeja. Marwan dan Arjun sibuk menyaksikan Tokyo Ghoul Live Action dari laptopnya. Sementara Apin berada tepat disamping saya, berbicara sebentar dan mulai ngorok. Dari hape, tidak ada notifikasi dari grup WhatsApp. Batrei juga masih aman. Lagipula banyak cas dan colokan kosong disana.

Aping. Sudah ngorok.

I'll Be There For You-nya Bon Jovi terputar dari Spotifyku. Mengalun pelan diudara. Mengisi jarak kekosongan antara suara bising diruangan itu. Arjun sudah tertidur dengan menjadikan Marwan sebagai bantal guling. Ridwan masih maruk mendownload anime yang sudah ia buatkan daftarnya dihape. Iyar datang bersama Fandy yang menjemputnya.

"Aman, Pis?" tanya Iyar. (Pis: Panggilan Akrab)

Saya jelas saja membuat senyum tipis diwajah. Kemudian menjawab,"Aman!"

Arjun, Marwan, dan Iyar disudut.

Iyar mencari posisi ternyaman disudut ruang. Dengan tas yang dijadikan bantal ia mencoba untuk tidur. Adzan sudah berkumandang dari Mesjid yang berada disekitar kompleks. Adi mematikan hape yang sejak tadi menonton One Piece untuk segera ke Mesjid. Apin terbangun, katanya ingin ikut. Jadi, total kami yang pergi berjumlah lima orang. Dengan absen sebagai berikut: Rahul, Fandy, Adi, Ridwan, dan Apin. Iyar terbangun namun tidak ada niat untuk bergerak. Begitu juga dengan yang lain. Mereka pikir ini kuliah.

"Pis, Sholat E!" kataku.

Arjun sudah terbangun, ada disudut ruang dengan raut muka tak enak. Iyar tidak merespon, begitu juga dengan Marwan yang mulai terlelap.

"Jangan sampe korang bangun sudah putih semua." kataku (Jangan sampai kalian bangun sudah putih semua)

Semua tertawa.

Kami keluar. Didepan kosan ada dua pasang sendal. Itu yang dipake Fandy dan Adi. Sisanya memakai sepatu. Di Mesjid kami mengambil air wudhu dan duduk dideker Mesjid belakang. Udaranya enak. Mengundang gairah untuk tidur. Saya melihat didepan pintu belakang Mesjid terdapat sebuah pemandangan yang sangat menyorot perhatian. Anak-anak bergonta-ganti kesana. Begitu juga dengan orang tua dan anak muda. Apa itu? Ternyata minuman gratis. Es tebu yang enak. Bersama Ridwan kami kesana untuk mengambil. Meski sempat ragu, namun keraguan itu hilang setelah mengingat kata Arjun suatu waktu,"Malu atau Lapar?"





Sepulangnya dari Mesjid, kami bergegas untuk ke Kampus. Jaraknya dekat namun sama sekali tidak menyenangkan. Beberapa jalan rusak dan berdebu. Diiringi matahari yang menunjukkan eksistensinya. Untungnya, dosen berikutnya sedang ada tugas penting. Ia hanya masuk sejam mengajar tentang "Describing Time", lalu pamit. Sebelum pulang, Senior menyiapkan kami untuk kegiatan Spektra (Spektakuler Etnik Sastra). Semacam pengganti LDKS atau Ospek.

Kelompok saya adalah Fandy, yang kemudian saya antar pulang. Didepan fakultas ada Iyar yang sibuk dengan kelompoknya. Matahari sudah mulai turun. Kesejukan sore hari, serta kepadatan di jalanan mengiringi perjalanan. Dengan berbagai bentuk keganasan pengendara, saya berusaha sabar. Sampai dirumah, ada Riki, Dandy, dan Rendy sedang main bulu tangkis disamping rumah. Saya pikir ini hal penting.

Tanggal 29 September, sebelum malam Minggu, saya pergi ke Rumah Bunyi. Disana, dengan Ibu Dosen saya, Bu Ila, ada kelas menulis untuk yang m...

Kumpul-Kumpul Katharsis, Lembaga Pers Mahasiswa Kumpul-Kumpul Katharsis, Lembaga Pers Mahasiswa

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Tanggal 29 September, sebelum malam Minggu, saya pergi ke Rumah Bunyi. Disana, dengan Ibu Dosen saya, Bu Ila, ada kelas menulis untuk yang mau. Ada hampir delapan orang yang ikut untuk angkatan 2018. Semuanya dari kelas genap berhubung Bu Ila ngajarnya disana.

Hari itu, kami membahas buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk karya Buya Hamka. Seharusnya, itu sudah dari minggu lalu kami diskusikan. Namun minggu lalu harus ditunda dan diganti dengan hari ini untuk membahas kisah cinta Zainuddin dan Hayati.

Setelah mendiskusikan buku, kami diberi tugas menceritakan apa yang kami alami dari bangun tidur sampai berada di Rumah Bunyi. Beberapa dari kami saling lihat-lihatan. Padahal, seharusnya tidak sulit menulis cerita seperti ini. Namun, tangan saya kaku, pikiran benar-benar tidak fokus. Kemudian saya cerita tentang bagaimana saya telat bangun dan tidak hadir mata kuliah pagi. Namun sejujurnya, hari itu ada insiden yang tidak ingin saya tuliskan.

Kami berpindah tempat, dari ruang tengah ke teras. Disana kami membaca cerita kami satu persatu. Itu dimulai dari saya sebagai satu-satunya lelaki. Dengan satu tarikan napas, saya membaca cerita itu. Yang lain menyimak, ada tawa yang coba mereka tahan. Begitupun saya. Disana, ada Atma, Isma, Novin, dan Siska.

Bu Ila pamit kedalam untuk memandikan anaknya, Ain. Disana diambil alih oleh Kak Kahar, pendiri Rumah Bunyi. Ia memberi kuis kepada kami berlima dengan hadiah sebuah buku. Menuliskan kata dari makanan favorit kami masing-masing. Yang menang adalah Siska, ketika kami salah menangkap maksud dan menulisnya dalam bentuk cerita.

Kami pamit pulang, Isma pamit ketika Bapaknya sudah menunggu. Siska menggonceng Atma, dan saya menggonceng Novin. Kami masuk kedalam kampus, di depan Kesmas, tepat di Secret Katharsis, Pers Mahasiswa. Disana diadakan kumpul-kumpul. Direncanakan dari Minggu lalu. Sudah banyak orang dan ikan sudah naik pada pembakaran. Siska pamit pulang, tak mau tinggal katanya.

Ada Arjun disana, peserta kelas Rumah Bunyi yang tidak datang. Beberapa senior juga ada, meski tidak banyak. Ada yang hanya duduk, ada juga yang sukarela menjaga ikan dan bermandikan asap.

"Ridwan mana?" Saya tanya ke Arjun.

"Tadi ada, antar Ikhy kayaknya."

Karena tahu diri baru datang, saya mencoba membantu menjaga ikan dipembakaran. Beberapa kali kami histeris ketika api menyala dan asap mulai membuat mata menjadi perih. Bakar ikan tidak susah, tapi tidak gampang. Intinya ia harus matang luar dalam. Jangan sampai api membuat ikan jadi cepat matang, namun membuat daging didalam masih berdarah. Maka dari itu, orang yang menjaga ikan itu sangat berjiwa besar.



Terbiasa makan ikan membuat saya tahu hal-hal masalah ikan. Mulai dari ikan mana yang enak, salah satunya Ikan Baronang. Meski durinya banyak, dagingnya manis dan empuk. Atau bagian mana dari ikan yang enak. Banyak. Mulai dari daging, jika ikannya besar, bagian tengah daging yang berwarna hitam itu enak. Kalau kecil, di pinggir tulang mungkin alternatif. Untuk bagian yang lain, seperti kepala, dikhususkan bagian mata dan otak adalah yang paling enak. Apalagi jika ikannya besar. Bagian perut adalah tulang didekat perut, usahakan insan sudah dibersihkan agar tak pahit. Ekor juga enak, kalau digoreng, bisa kunyah. Itulah sedikit info tentang ikan.



Ikan bakar sudah siap, kami menunggu kak Juli, ketua Katharsis yang sedang mengajar di JILC. Karena ada gitar, kami iseng bernyanyi. Disana ada Indah, Harni, Ima, saya Alfa, dan tentu saja Ridwan yang memainkan gitar. Beberapa lagu kami bawakan. Mulai dari Iwan Fals sampai Armada. Mulai dari lagu kebangsaan sampai lagu wajib. Mulai dari Pop sampai Dangdut. Saya kira, lagu adalah satu kesatuan yang asik. Tak peduli itu apa, yang penting bertujuan untuk senang. Lebih-lebih jika disenandukan bersama, dengan suka ria.

Saya, Ridwan, dan Arjun
Ketika Kak Juli datang, kami menjejerkan daun pisang sebagai wadah tempat makanan diletakkan. Ada nasi, sayur, mie, ikan bakar, dan tentu saja lomboknya. Kami makan bersama. Saling melempar guyon ditengah-tengah menyuapkan nasi kedalam mulut.

"Jangan sisa yah. Tahun lalu itu banyak sisa." kata Kak Juli.



Semuanya senang, apalagi jika perut sudah diisi. Kemudian kami membersihkan sisa dan kotoran bekas makan kami. Lalu pamit pulang, dan mengantar Atma yang sejalur. Novin sudah pulang sebelum kami makan, katanya tak enak badan. Perlu saya akui, kerinduan seperti ini sangat banyak dikepala. Apalagi bersama orang-orang yang saya kenang. Itu kemudian jadi tanda, bagaimana kami akan kumpul-kumpul kembali. Kemudian, yang ada, hanya angin malam. Dihiasi orang-orang yang sibuk dengan malam Minggunya. Beriringan membunuh waktu hingga sadar besok hari Senin lagi.