Sabtu pagi di awal Desember, itu adalah tanggal 1 yang lumayan mendung. Bersama Isma yang minta nebeng, kami berhenti di Warung Kopi X-Bro u...

Bertemu Penjaga Harta Presiden Bertemu Penjaga Harta Presiden

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Sabtu pagi di awal Desember, itu adalah tanggal 1 yang lumayan mendung. Bersama Isma yang minta nebeng, kami berhenti di Warung Kopi X-Bro untuk menghadiri Workshop Konser Sastra. Seharusnya, hari itu ada mata kuliah Pengantar Linguistik, namun kami diberi ijin untuk menghadiri meski saat sudah sampai, di kelas saya hanya seorang diri laki-laki.

Disana sudah ada Atma yang sedang makan, kami membentuk kursi dengan saling berhadap-hadapan. Namun, kursi disusun ulang ketika yang lain sudah mulai datang. Kursi dibalik agar menghadap panggung. Saya duduk dibarisan kedua dari depan bersama Vira dan Isma (kalau tidak salah ingat). Baliho mulai dipasang bersama kursi yang mulai disusun. Tercantum nama Jose Rizal Manua yang saya tahu-pun tidak.

Beberapa menit setelah menanti, dari arah belakang, pemateri, yaitu Oom Jose Rizal Manua keluar dari pintu mobil dengan batik merah jambu. Dia hadir dengan riang gembira memperkenalkan diri sebagai seorang pelakon yang mengurus teater yang dinamai: Teater Tanah Air. Membawakan beberapa puisi dengan menarik.

Ketika membawakan materi dengan sangat ringan, saya membuka hape dan mulai men-searching. Beberapa riwayat sudah tercantum dari Oom Jose. Kata beliau, ia pernah melatih beberapa aktor seperti Dian Sastro, Nicholas Saputra, dan beberapa nama yang ia sebut. Untuk itu, saya mulai menelusuri kebenaran. Kemudian, mendapatkan satu fakta yang benar-benar mencengangkan. Dari tabel Filmografi Wikipedia, saya melihat Oom Jose pernah bermain dalam film favorit saya, Kala (2007) arahan Joko Anwar. Kemudian saya liat, berperan sebagai apa dia, kenapa saya bisa selengah itu. Setelah membuka lebih lanjut, Oom Jose ternyata berperan sebagai Pindoro, yang dimana pada film itu bertugas menjaga harta Presiden.

Saya shock, antara percaya dan tidak. Meski baru ngeh, namun itu adalah fakta yang benar-benar nyata. Bahwa film favorit saya, ternyata dibintangi oleh Oom Jose yang berdiri tepat disana menyampaikan materi tentang kepenulisan. Ia lebih spesifik membahas masalah puisi.

Yang pertama, ia menanyakan 25 kata dari 25 orang untuk kemudian dirangkai menjadi puisi. Beberapa puisi dibacakan oleh pembuatnya. Kemudian, bagian kedua berlanjut, kami disuruh maju kedepan, kemudian melihat ke depan dan belakang. Lalu kembali dan menjadikan itu puisi lagi. Dan, yang terakhir, ia menyimpan beberapa material didepan untuk kemudian dijadikan puisi lagi. Semua dari kami membuat puisi. Beberapa ada yang dibaca. Waktu itu, saya hanya sempat buat satu puisi karena sudah mulai excited saat tahu beliau adalah bagian dari film favorit saya.

Sebenarnya, tidak hanya itu, Oom Jose juga bermain dalam film Danur (2007) arahan Awi Suryadi, namun Kala adalah alasan yang benar-benar mampu membuat saya tampak excited. Disana, kembali Oom Jose menghibur kami dengan lakon dan pembacaan puisinya. Dari akun Instagram yang saya rasa masih dipegang langsung oleh beliau, itu banyak menampilkan perjalanannya dalam semindar dan workshop. Beberapa foto juga menampilkan foto keluarganya.

Oom Jose menutup acara dengan sesi tanya jawab yang sebelumnya juga dilakukan. Dia menjawab dengan hal-hal yang saya suka. Bagaimana sudut pandang beliau benar-benar beda dan unik. Tidak eksakta dan teoritis namun tetap masuk akal. Salah satu jargon beliau adalah: "Merenung seperti gunung, bergerak seperti ombak".

Dan, setelah itu, ditutup oleh sesi foto yang benar-benar singkat karena beliau akan istirahat. Kami foto sekelas dengan beberapa kali jepret.  Disisi kanan, makanan prasmanan sudah disiapkan. Bagi yang sudah foto, bisa langsung ambil makan dan duduk menikmati. Setelah beliau hendak pergi, saya menahannya untuk foto berdua. Kemudian saya pamit, untuk lanjut makan.



Kameranya mana, matanya kemana(?)

Makanan habis untuk saya bawa gelas kopi itu didepan Warkop. Disana ada guru SMA yang juga hadir. Ia membawa dua murid untuk ikut partisipasi. Saya ambil tangan beliau untuk kami lanjut dengan basa-basi agar ia ingat. Setelah kopi habis, kami pulang. Semua dengan kendaraan masing-masing. Ada yang naik angkot juga. Saya masih dengan Isma yang saya turunkan di depan SMEA. Saya pulang dengan perasaan gembira. Pertemuan yang benar-benar tidak saya sangka. Padahal, tujuan saya pergi hanya karena saya malas di rumah dan lagi ingin dengar seminar. Pematerinya pun saya tak peduli siapa. Hingga akhirnya, alam semesta benar-benar tidak diduga. Secara tidak langsung, saya sudah bertemu Pindoro, sang penjaga harta Presiden. Saya masih ingin banyak bertemu yang lain tentunya. Salah satunya Joko Anwar. Namun ini cukup jadi awal yang baik. Dan satu hal yang saya ingin lakukan saat itu adalah menonton ulang film Kala.

Ranti dan Pindoro pada film Kala (2007)

Sebuah rencana pada Sabtu sore tanggal 24 November membawa saya kembali ke Rumah Oma. Itu adalah Rumah Oma Aryo, teman SMA saya. Tempat bolo...

Rumah Oma, Reuni, dan Hampir Mati Rumah Oma, Reuni, dan Hampir Mati

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Sebuah rencana pada Sabtu sore tanggal 24 November membawa saya kembali ke Rumah Oma. Itu adalah Rumah Oma Aryo, teman SMA saya. Tempat bolos dan nongkrong kami pas SMA. Tiap Jumat, biasanya kami kesana sebelum salat Jumat. Setelah salat Jumat, kami tetap disana sampai bel pulang untuk kami ngambil tas atau memang sudah membuang tas lewat pagar belakang.

Kenapa saya bisa sebandel itu? Perlu saya jelaskan bahwa waktu itu, adalah hal yang kami anggap biasa. Mengingat, guru yang masuk saat jam setelah salat Jumat jarang hadir. Itu bisa kami lihat ada tidaknya mobil di parkiran. Mungkin, kami tetap melakukan kesalahan dan biarlah itu jadi bagian dari masa lalu. Mudah-mudahan jadi acuan agar tidak lagi begitu.

Waktu itu, langit lumayan mendung. November benar-benar membuat hari-hari saya cukup was-was. Permasalahannya, jarak rumah ke Kampus lumayan jauh. Dan untuk kesana, saya biasanya memakai motor. Untung-untung, saya masih bisa memakai jas hujan. Bagaimana, dalam suatu keadaan dan situasi saya terjebak hujan dan lupa membawa jas hujan. Saya rasa tidak perlu banyak mengeluh, banyak teman saya yang lebih sulit jika berhadapan dengan situasi seperti itu. 

Saat itu, Kelas Menulis tidak dilaksanakan karena satu dan lain hal. Untunglah, jadi saya tidak perlu bolos untuk kelas itu. Karena saya merasa bahwa itu adalah mata kuliah saya diluar Kampus. Jam 3 lewat, saya sudah berada di Rumah Oma untuk kumpul. Itu tidak jauh dari rumah saya, hanya sekitar beberapa ratus meter keluar dari jalan raya. Disana, sudah ada Aryo dan Inggrit. Kami nunggu yang lain, yaitu Vian yang baru datang setelahnya. Memeluk dengan rasa geli. Rencananya, kami akan mandi di sebuah tempat bernama Wonua Monapa yang biasa disingkat WM. Kami ngobrol banyak, terutama waktu Vian memancing cerita saat seorang Ibu memarahi kami di rumah belakang. Waktu itu, lupa hari apa, kami bolos tapi bukan di Rumah Oma, tapi di rumah belakang. Masih bagian dari rumah Aryo. Kami banyak, kira-kira hampir 15 orang. Namun beberapa pergi ke tempat lain setelahnya. Disana, kami main hape dengan beberapa yang lain bermain game Mobile Legends atau Free Fire. Dan saat itu, kami nunggu apel selesai, agar kami bisa masuk tanpa harus menghadapi penokaan. Saat masih menunggu, seorang Ibu mengintip dari jendela dan bertanya kepada Aryo,"Apa korang bikin disitu?" (Yang artinya: Apa kalian buat disitu?)

Aryo menjawab,"Tidak adaji." (Tidak ada)

"Kenapa korang nda sekolah?" tanya Ibu itu lagi. (Kenapa kalian tidak ke sekolah?)

"Sebentar," jawab Aryo, cuek.

Lalu terjadi adu mulut yang kolot. Kami hanya diam, membiarkan Aryo saja yang mengurus mengingat Ibu itu masih bagian dari tetangganya. Kata Aryo, Ibu itu memang banyak urusan kepadanya. Kata Ibu itu, ia akan melaporkan kami ke guru kami. Dan kata Aryo, itu lebih karena Ibu itu sudah panas dan jengkel kepada Aryo

Rumah Oma, 24 November

Dan begitulah, banyak cerita kami di Rumah Oma saat SMA. Tidak hanya itu. Namun, saya rasa, itu adalah hal yang perlu saya ceritakan agar bisa berdamai dengan masa lalu saya dan memperkenalkan bagaimana saya tumbuh di SMA sebagai seorang remaja. Namun, jika ditanya, apakah saya menyesal dengan itu, saya masih tidak bisa menjawab menyesal. Ada banyak keraguan untuk pertanyaan yang menyangkut itu. Apalagi, saat itu masih belum lewat terlalu jauh. Jika ingin menyesal, saya hanya ingin menyesal tidak memanfaatkan waktu dan mulai rindu untuk masa-masa SMA.

Kemudian, saat masih asik cerita-cerita, Dea datang dengan motor. Lalu Ika yang akan naik bersama Dea. Kami bisa saja jalan saat itu, namun kami masih nunggu Irma. Soalnya, kami masih nunggu dia ganti pakaian. Setelah datang, dengan helm yang ia pegang, kami berangkat. Seharusnya, banyak saat itu yang harusnya pergi. Namun, entah kenapa, setiap rencana, hanya menjadi wacana diawal dan diakhiri dengan menjadi sider di grup WhatsApp. (Silent Reader).

Saat itu, kami hanya bertujuh. Saya menggonceng Irma, yang dimana saat itu seharusnya adalah Vian. Saya berhenti di Bank agar Irma bisa narik uang. Kemudian, Dea dan Ika yang sudah ngisi bensin datang. Bersama Aryo yang bersama Inggrit, dan Vian yang sendiri. Kami berbelok karena ingin lewat jalan belakang. Saat sudah melewati Hollywood Square, perjanjian agar tidak ngebut dilanggar oleh semua. Karena tidak tahu jalan, saya coba ngebut ngejar mereka. Itu sesudah melewati Progrill (dulu dikenal dengan nama: Pronto), didepan Karaoke Inul Vista, karena dibagian kiri sudah ditutup dua mobil, saya mengambil bagian kanan yang agak kosong. Saya mencoba melewati mobil Nissan, kemudian saya tidak begitu melihat ada sebuah motor yang mencoba belok kanan. Saya mencoba menarik rem sekuat mungkin dan berbelok ke kiri untuk menghindar. Namun sudah tidak bisa, kami terjatuh. Membuat beberapa orang yang disana berteriak dan mencoba membantu. Sedetik setelah saya jatuh, hanya bayangan hitam yang saya lihat beberapa detik. Kemudian, didepan, bagian jalan saya melihat jam tangan Irma yang sudah putus. Lalu, seorang laki-laki mencoba membantu mengangkat motor saya. Ia kaget pas tahu motor saya gasnya lengket dan buru-buru dicabutnya kunci.

Saya melihat Irma sudah menepi dipinggir jalan dengan ketakutan. Saya bertanya apakah ia tidak apa-apa, meski saya tahu pasti ia kaget dan syok. Saya juga begitu. Apalagi, saya melihat motor saya mengeluarkan bensin setelah diangkat dan ditepikan. Saya baru sadar, yang didepan saya ternyata seorang Bapak dan Ibu yang saya ketahui berikutnya adalah ojek yang mengantar Ibu itu untuk bekerja di rumah makan tepat di depan kami. Saya merasa takut. Takut untuk semua. Saya mencoba kembali meyakinkan Irma apakah tidak apa-apa. Celana kiri saya robek sedikit. Untungnya, saya memakai jaket jeans yang bisa melindungi saya. Dan kata Irma, ia benar-benar bersyukur saat itu tidak ada mobil atau truk yang sedang lewat. Saya beli air minum untuk Irma, takut ia syok dan jatuh sakit.

Sekarang, saya harus berurusan dengan Ibu itu. Karena saat setelahnya Bapak itu bilang tidak apa-apa dan menyuruh saya untuk lanjut. Yang membuat saya takut, adalah ketika orang-orang sudah mengerumuni saya dan meminta penjelasan. Dari penjelasan Bapak Tukang Ojek itu, katanya ia berjalan pelan dan sudah menyalakan lampu sein dari jauh. Saya bisa menerima kalau ia memang berjalan pelan. Tapi untuk sein, saya tidak begitu terima setelah mengingat tidak pernah melihat lampu seinnya menyala. Namun, saya tidak banyak bicara. Dalam hal ini, saya dalam posisi yang tidak baik untuk bicara. Saya hanya bisa akting kesakitan agar tidak diperpanjang. Hanya itu yang ada dipikiran saya. Saya sudah meminta maaf kepada Bapak itu dua kali, dan Ibu itu tiga kali. Namun, seorang ketua karyawan menanyakan mau jalur damai atau bagaimana. Saya mengatakan, jelas ingin berdamai saja.

"Namun, kamu harus tanggung jawab. Ibu itu datang kesini untuk kerja dan sekarang kena musibah," katanya.

"Betul juga," kata saya dalam hati.

Setelah sepakat dengan Irma, kami patungan 50-50 untuk ngasih Ibu itu uang urut. Awalnya, kami ingin ngasih 50 ribu saja, namun saya rasa itu terlalu sedikit, saya tambah saja 50 ribu. Saya nyuruh Irma untuk nelepon Aryo kembali, berhubung ia tahu banyak soal motor. Saya masih parno dengan bensin yang keluar tadi meski motor saya masih bisa nyala.

Setelah datang, Aryo menggerutu karena kebodohan saya. Ternyata, sebuah pipa kecil yang saya anggap putus adalah saluran pembuangan, katanya. Aryo menjelaskan bahwa bensin yang keluar saat jatuh adalah memang karena motor yang dimiringkan. Saya hanya tersenyum. Selain karena biar memastikan motor baik-baik saja, saya juga masih butuh mereka karena tidak tahu jalan. Irma tahu, namun masih meragukan.

Kami kembali berjalan, meninggalkan tempat perkara itu. Irma kemudian cerita, bahwa itu mungkin karma karena bilang ke Neneknya mau ke rumah teman. Mereka semua ketawa, saat saya mencoba menceritakan insiden itu. Saya benar-benar tidak tahu harus merespon apa. Untungnya, masalah itu tidak diperpanjang. Kami sampai kemudian. Lalu mandi.

Wonua Monapa, 24 November
Disela-sela mandi, kami banyak gangguin orang yang sedang pacaran di kolam. Itu karena kami menghindari adanya perbuatan zina, bukan karena sirik. Itu beda. Selanjutnya, saya dan Aryo masih berenang sebelum Vian menyerah karena badannya mulai tidak enak. Kami makan Ubi Goreng yang dipesan Irma, kemudian masih lanjut mandi sebelum bilas dan pulang.

Diperjalanan pulang, kami terjebak macet oleh sebuah pesta pernikahan orang yang lumayan besar. Saya rasa itu syuting Crazy Rich Asians 2. Katanya ngundang artis, yang saya tahu Judika. Kami tidak ada pikiran untuk singgah nonton atau makan. Kami tetap lanjut. Aryo berbelok untuk pergi ke Bengkel Buaya bersama Inggrit. Kayaknya, pergi ke Ayahnya. Kami tetap berjalan pulang. Posisinya, Vian sendiri didepan, saya dan Irma ditengah, lalu Dea dan Ika dibelakang. Saya jadi ingat salah satu adegan. Ehm.

Lalu, Dea, Irma, dan Ika turun di Kebi, itu adalah tempat dipinggir jalan. Banyak makanan dan penjual. Saya dan Vian pamit pulang. Kemudian, di rumah saya, Vian nelpon dosennya karena bermasalah dan terancam tidak ikut final. Setelah Vian pulang, karena saya dan teman lorong (Kios Ummi) mau makan malam di sebuah warung Mie Instan di depan Rumah Sakit Santa Anna. Lalu, malam itu kenyang. Disebuah story WhatsApp Irma besok siang, ia foto tangannya yang memar. Saya balas,"Lukanya mi saya." Kemudian, kami lanjut chattingan dan saling sepakat untuk melupakan kejadian itu.


Setelah Salat Jum'at 23 November, saya memantau tidak ada tanda-tanda masuk dari grup WhatsApp kelas. Itu menandakan bahwa seharusnya ha...

Misteri Hilangnya Kunci Motor Misteri Hilangnya Kunci Motor

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Setelah Salat Jum'at 23 November, saya memantau tidak ada tanda-tanda masuk dari grup WhatsApp kelas. Itu menandakan bahwa seharusnya hari itu bisa saja menjadi libur sehari penuh. Soalnya, mata kuliah pagi tadi juga tidak masuk. Hingga pada jam 1 lewat, kabar mendadak dari Ketua Tingkat mengatakan bahwa hari itu masuk. Karena kaget, saya buru-buru menelpon Atma, teman saya, dengan tujuan mencari kebenaran info tersebut. Memang benar, masuk, itu terdengar dari suara Danil, Ketua Tingkat yang katanya mendapat telepon.

Dengan sekejap, saya menyambar satu lembar pakaian, jaket, dan helm. Kemudian langsung keluar dan ingin cepat-cepat berangkat. Pagi tadi, motor X-Ride yang sering saya bawa, rusak. Tidak bisa starter tangan, dan starter kaki juga susah. Sudah dibawa di bengkel sebelum sholat Jum'at, tapi saat ingin berangkat motor itu kembali rewel. Akhirnya, saya memakai motor Bapak saya, Aerox. Itu adalah motor yang berukuran besar dan sudah melekat stiker biru diseluruh body motor.

Seharusnya, saya bisa saja memacu motor diatas 80 KM/jam. Tapi itu tidak saya lakukan karena tahu bahwa saya akan tiba sebelum dosen. Meskipun, jarak dari rumah ke kampus tidak dekat.

Saya berhenti ditepi jalan ketika berada dijalan By Pass depan Same Hotel. Kemudian meng-aktifkan data seluler agar jika, ada info, saya bisa tahu dari getaran disaku celana. Namun hingga sampai, tidak ada getaran yang benar-benar saya rasa. Setelah di depan Perpustakaan, itu berhadapan dengan Sekret yang sudah ditempati oleh teman-teman yang lain. Pikiran saya mulai tidak enak. Ada apa? Jangan-jangan, dosen berubah pikiran. Tiba di parkiran, saya mengecek grup, tidak ada tanda-tanda dosen berubah pikiran.

Scroll. 

Scroll.

"Tapi masuk jam 3.30."

Gubrak.

Sembari melihat hape, saya mencoba memasukkan helm ke dalam jok motor ketika memperkirakan akan turun hujan. Namun karena helm terlalu besar, itu hanya saya kaitkan pada sadel motor. Dari parkiran, saya berjalan menuju Sekret. Disana sudah ada beberapa orang, termasuk Atma yang sedang duduk. Tersenyum bak murid tertangkap nyontek.

Dibagian ujung, ada Marwan, Iyar, Fandy, dan Adi. Sedang ngobrol dan kelihatannya serius. Meski begitu, kehadiran saya tetap jadi hal yang bisa membuat percakapan itu berhenti. Kemudian dilanjutkan dengan topik yang lain.

Kami masih disana ketika perempuan sudah meninggalkan Sekret. Aping datang dengan motor Marwan yang ia pake. Beberapa saat setelahnya, Adi berkata,"Masuk!"

Marwan masih menunggu kepastian ketika dia memasang ekspresi yang ragu. Kemudian, datang beberapa teman perempuan yang lain. Katanya memang masuk. Kami bergegas, namun tidak berlari. Hanya berjalan dengan kecepatan yang agak dipercepat. Melewati depan Perpustakaan, lalu memotong jalan agar tidak memutar. Di ruangan, kata yang lain, dosennya sedang keluar. Saya mengambil kursi dibawah kipas angin. Itu diapit oleh Rika dan Maya.

Dosen masuk, memberi sedikit pengantar dan mulai mengabsen. Itu pelajaran Bahasa Inggris. Lalu dilanjutkan dengan materi memperkenalkan diri. Seharusnya, hari itu kami akan maju satu persatu memperkenalkan diri dengan Bahasa Inggris. Namun, kata mayoritas teman kelas mengatakan belum siap. Itu dituruti oleh dosen yang juga ingin keluar. Setelah mendikte kami pada papan tulis, ia keluar dan mata kuliah hari itu telah selesai.

Sebelum pulang, Iyar menyuruh kami agar ke Sekret dulu. Itu memang sering kami lakukan. Apalagi, saat kami pulang masih terlalu sore. Hanya duduk dan cerita kecil. Kadang-kadang jika terbawa arus, kami bisa membuka forum diskusi. Marwan sudah keluar dengan motornya, dihentikan Iyar yang menyuruhnya ke Sekret namun ia tetap pulang. Sampai di parkiran, saya merogoh kantong, mencari kunci motor untuk membawanya di depan Sekret. Namun jelas saja, ketika mencoba merogoh seluruh kantong hingga ke dalam tas tidak ada hal yang benar-benar bisa membuat saya lega. Iyar bertanya, dan saya mengatakan bahwa kunci motor saya hilang.

Kemudian, ia membelokkan motornya, bersama Fandy yang sudah hampir pulang diantarnya. Saya mencoba mengikuti arah saya waktu ke Sekret. Lalu mencarinya. Tidak ada. Setelah kembali, yang lain kembali bertanya. Saya jawab seadanya karena fokus untuk mencari. Beberapa teman membantu mencari, terutama yang masih belum pulang. Iyar menggonceng saya menuju Sekret kembali setelah mengecek ruangan yang sudah dibersihkan oleh cleaning service.

Tidak ada. Jawaban dari segala pertanyaan yang terus berulang.

Matahari sudah menyala, kemudian hampir padam. Kami masih mencari. Tidak ada hasil sampai Atma dengan inisiatif mencoba menyebar info pada grup fakultas dan beberapa grup lain. Kemudian, telepon masuk dari seseorang dengan nomor Indosat. Lalu ditelepon untuk menanyakan karena sudah berkata menememukan kunci motor Yamaha.

Lama berselang dari drama telpon menelpon, akhirnya kami ketahui bahwa itu adalah Fandy. Yang pulang kemudian menjahili kami semua. Solusi terakhir adalah pulang untuk mengambil kunci cadangannya. Iyar menggonceng saya sampai ke rumah. Motor ia pacu perlahan seperti biasa ia membawa motor. Kami bertemu Marwan dan bertanya apakah melihat kunci motor. Jawabnya tidak. Kemudian kami pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Di teras, ada Mama dan Bapak sedang ngobrol. Saya tidak banyak bicara hanya langsung berkata bahwa kunci hilang, kemungkinan ada tercecer dibawah jok motor. Bapak menggerutu. Tanpa banyak ambil pusing, saya kembali bersama Iyar yang sudah membelokkan motornya. Kami tiba lebih cepat dari perjalanan pergi. Sampai di depan fakultas saat Maghrib. Disana masih ada teman-teman yang setia menunggu. Saya mengembalikkan helm yang saya pinjam dari Mawar. Kemudian mengecek apakah benar kunci motor ada di jok motor. Hasilnya tidak ada.

Rara minta nebeng, katanya minta diantar didepan Kampus. Yang lain pulang bersama dengan jalan kaki menuju tempat mengambil angkot. Saya belum sempat terima kasih sampai saya memakai helm dan sebuah benda keras berada tepat diatas kepala. Saya membuka helm, dan sebuah kunci motor terjatuh. Saya berteriak kepada teman yang sudah hendak pergi, semuanya tertawa gemas. Disana ada teman-teman yang sudah setia menunggu. Tidak usah diabsen satu-satu nanti jadi besar kepala.


Diperjalanan pulang, saya berpikir, bisa-bisanya benda sekecil ini membuat sibuk banyak kepala. Oh, yang saya tahu, mungkin ini cerita yang baik untuk ditulis. Mengingat tidak setiap hari saya kehilangan kunci.

Jupri namanya. Ia lahir di sebuah desa bernama Teppo'e. Tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani. Jupri baru saja naik k...

Karena Jupri Karena Jupri

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras



Jupri namanya. Ia lahir di sebuah desa bernama Teppo'e. Tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani. Jupri baru saja naik ke tingkat SMA saat 2003. Bisa dikatakan bahwa Jupri adalah orang yang kutu buku, meski ia selalu geram ketika dicap begitu. Menurutnya, apa yang salah dengan membaca buku. Lagipula, tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Pemuda di sana kebanyakan nongkrong di pos ronda sambil main dam atau domino. Sementara Jupri bukan orang yang senang dengan hal seperti itu. Bahkan, malam itu, dengan tangan menadah kepalanya, ia hanya memperhatikan langit-langit.

Sore hari sebelumnya, dari kota datang seorang perempuan berambut bob dengan kulit kuning langsat. Perawakannya agak tua dari umurnya. Kemana-mana, ia selalu menenteng buku dan walkman. Itu yang membuat Jupri mulai tertarik ketika sebuah mobil Kijang Krista melewati surau yang sering Jupri lewati. Pak Amin, seorang petani dari desa sebelah berdecak kagum. Sampai-sampai, ia memukul bahu Jupri untuk mengungkapkan kekagumannya.

Jupri pulang dipenuhi tanda tanya di kepalanya, perasaan yang aneh di dadanya, dan kegelisahan yang dari tadi ia tahan untuk tidak terlalu mondar mandir saat berada di rumah. Buku Iwan Simatupang yang ia pegang sudah ia habiskan sebelumnya. Pikirannya rancu, untuk berpikir di luar dari perempuan itu sangat susah sekali. Pamannya sudah menyalakan api yang dibuat dari botol kaca yang diisi minyak tanah. Itu untuk dipakai menerangi ketika mereka makan. Jupri menyendok nasi, dan mengambil ikan sebagai lauk dengan mata kosong kedepan. Ia benar-benar sudah terkena sihir, pikirnya.

"Ada masalah, Pri?" tanya Paman.

"Tidak Paman, tidak ada masalah," jawab Jupri.

"Kalo ada masalah, lekaslah cerita," kata Paman.

Keesokan paginya, saat berada di sekolah, Jupri mulai mencari-cari perempuan itu. Kiranya ia berpikir bahwa perempuan itu datang disini untuk bersekolah. Ia harap benar begitu. Namun sampai sekolah dibubarkan, perempuan itu tak kunjung datang. Kemana perempuan itu? Padahal, ia ingin melihatnya.

Perjalanan menuju rumah bersama beberapa teman kelas, Jupri akhirnya pamit ketika harus berpisah jalan. Ia berbelok menuju bagian paling dekat untuk sampai ke rumah. Mengganti pakaian, kemudian duduk di bale-bale depan rumah. Pohon mangga didepan rumahnya sangat ia syukuri, karena berkat itu juga dihalaman rumahnya terasa sejuk. Meski begitu, cuaca disana memang kelewat sejuk. Kau masih bisa menemukan embun saat matahari mulai naik. Dan itu yang membuat daerah itu terlihat segar dan asri. Bahkan ketika menjelang siang, angin yang bertiup seakan mengajak orang untuk lepas dari pekerjaan dan melanjutkan mimpi semalam.

Saat sedang melihat-lihat orang berlalu lalang, ia akhirnya terkejut. Perempuan itu, bersama seorang yang lebih tua, mungkin Ibunya, terlihat berjalan tepat didepan rumahnya. Kemudian, dengan agak kebingungan seolah beradu argumen dengan Ibunya, mereka masih tepat dibagian depan rumah Jupri. Yang ia duga sebagai Ibu dari perempuan itu kemudian memanggil.

"Dek, disini warung yang dekat mana yah?"

"Oh, kalo boleh tau warung apa yah, Bu? Warung makan atau warung belanja?" tanya Jupri balik.

Perempuan itu memegang erat walkmannya, dan sesekali memperhatikan Jupri.

"Yang warung belanja, Dek."

"Oh, disitu. Warung Pak Maun."

"Bisa antar kami kesana."

"Boleh."


~o~

Jupri berjalan sedikit lebih depan, itu lebih kepada karena ia agak malu dengan perempuan itu. Tanpa banyak bicara, Jupri mengambil belokan setelah jalan utama, itu menuju warung Pak Maun yang tidak terlalu besar.

"Ini, Bu." kata Jupri.

"Makasih, Dek," kata Ibu itu,"Jangan pergi dulu yah."

"Iya, Bu."

Jupri menunggu Ibu itu masuk bersama perempuan itu. Agak lama karena masih mencari apa-apa saja yang akan mereka beli. Sampai akhirnya, Ibu keluar, membawa satu kantong kresek hitam penuh. Lalu, memberi Jupri sebotol minuman.

"Tidak perlu, Bu." kata Jupri.

"Ambil aja, Dek."

Jupri pasrah dan mengambil minuman itu. Langkahnya hampir sama, tidak lagi berjalan lebih depan. Jupri hanya diam, mendengar percakapan Ibu dan perempuan itu. Sesekali meneguk minum ketika merasa canggung.

"Makanya, kamu jangan dirumah terus, Ren." 

Perempuan itu tidak menjawab, hanya tetap berjalan.

"Coba kalo Ibu ngomong kamu denger," kata Ibu,"Karen!"

"Iya, Bu, denger." lalu perempuan itu berbalik dan mendapati Jupri yang sedang memperhatikan.

Jupri mengalihkan pandangan dan sedikit malu. Ibu itu bertanya,"Nama kamu siapa, Dek?"

"Jupri, Bu."

"Kenalin, ini Karen. Saya Ibunya." 

Lalu perempuan itu tersenyum, tipis tapi manis. Jupri membalasnya.

Jupri hampir berbelok untuk ke rumahnya, lalu Ibu itu memanggil Jupri. Ibu Karen menyuruh Jupri untuk mengajak Karen jalan atau berkeliling melihat desa. Jupri mengangguk perlahan, dan memperhatikan apakah ada ekspresi menolak dari Karen. Namun, yang sejauh ia lihat, Karen terus menunduk.

~o~

Kegelisahan Jupri semakin menggila saat menjelang malam. Apa yang bisa ia lakukan saat itu? Tidak ada. Selain menatap langit-langit kamar dan mengingat wajah dari Karen. Siang itu, banyak hal yang bisa ia katakan namun tidak. Ia hanya ragu merusak suasana yang begitu baik saat ia bisa sedekat itu dengan Karen. Suaranya yang sedikit serak, dan tatapannya yang malu-malu adalah hal yang benar-benar merusak sistem kerja otak Jupri. Kemudian Jupri tidak lagi mengingat apa-apa.

~o~

Jupri kaget, kakinya kaku tidak bisa bergerak, mulutnya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. Karen datang dengan wajah yang benar-benar semringah. Ia duduk di bale-bale samping Jupri. Tanpa bicara, Karen menyodorkan  tangan, itu untuk memulai perkenalan. Jupri berkata,"Kan, kemarin sudah."

"Itukan lewat Ibuku," kata Karen.

Jupri mengambil tangan Karen,"Jupri Alan Sinatra."

"Karena Saputri, panggil saja Karen," kata Karen.

"Oh."

"Kenapa?"

"Tidak."

"Ada masalah dengan namaku?"

"Tidak, tidak," Jupri mencoba meyakinkan,"Hanya sedikit aneh, baru mendengar nama seperti itu."

"Kau akan terbiasa, percayalah."

Kemudian, suasana mulai mencair. Jupri banyak cerita setelahnya. Tentang bagaimana desa ini setiap harinya. Pekerjaan tetap yang ada disini. Sampai apa-apa saja trivia yang bisa Karen tahu. Karen juga cerita, bahwa kedatangannya disini adalah karena Ayahnya yang sedang kerja. Meninjau kerja para petani disini. Memberi panduan, ataupun segala hal yang berkaitan agar padi bisa tumbuh subur dan lebih menghasilkan. Karen bercerita tanpa ada yang ia tahan. Seakan, apa yang diceritakan itu adalah lumrah cerita seorang kawan kepada kawannya. 

"Saya akan ngajak kamu keliling. Mau?" kata Jupri.

Tanpa berkata, Karen mengangguk.

Jupri mengajak Karen melewati aspal jalan yang ada disana. Jalan beraspal hanya sedikit, hanya satu jalur yang menghubungkan ke jalan utama.

Jupri banyak mengabsen rumah-rumah yang ada disana. Kebanyakan rumah masih memakai rumah panggung. Itu biasa untuk menyimpan barang, atau padi mereka, kadang-kadang mereka memelihara anjing dibawah rumah. Jupri menunjukkan bekas gigitan dilututnya ketika waktu itu mengganggu anjing gila dibawah rumah. Jupri bisa saja rabies waktu itu, tapi disana banyak orang tua yang ahli. Dengan sedikit sentuhan, kemudian diludahi, seingat Jupri, semuanya jadi baik-baik saja.

Pohon kelapa kuning mulai terlihat banyak ketika mereka berbelok dari aspal menuju lapangan sepak bola. Lapangan itu hanya lapangan biasa yang dibuatkan gawang dari bambu dikedua sisinya. Tempat lewat sapi untuk menuju kandang. Ohya, Jupri kemudian cerita, disana juga, kebanyakan para petani menggunakan sapi untuk membajak sawah. Maka dari itu, memelihara sapi adalah hal yang sangat lumrah. Bukan karena kaya, tapi lebih untuk kebutuhan bertani.

Karen tidak banyak bicara lagi, ia hanya menyimak bak anak SD yang sedang menjadi murid study tour. Ketika berada ditengah-tengah lapangan, Jupri mengajak Karen untuk masuk ke dalam hutan. Langit masih terlalu cerah untuk pulang. Jupri berjalan didepan untuk memotong dan membuat jalan agar Karen tidak terhalang alang-alang. Aroma hutan benar-benar membuat Karen mudah tersenyum. Tanah yang lembab, serta dahan yang masih basah karena embun semalam. Itu benar-benar dirasakan mereka berdua. Kemudian, Jupri tidak banyak bicara, ia hanya membawa Karen berkeliling melihat hutan. 

"Hati-hati, banyak babi hutan," kata Jupri mencoba menakuti Karen.

"Iii..ih," Karen memperhatikan sekeliling.

"Kamu senang baca?" kemudian Karen bertanya.

"Tahu darimana?"

"Kemarin, aku melihatmu memegang buku? Buku apa itu?" tanya Karen.

"Oh, itu, Anne Karenina, dari guruku," katanya.

"Tolstoy, bukan?" 

"Tepat sekali."

Jupri mengajak Karen untuk ke Sawah. Itu jauh, namun kalau memotong jalan lewat hutan itu hanya beberapa menit. Disana, tidak terlalu luas. Yang luas harus memakai motor. Juga itu bukan punya Paman Jupri. Namun, itu setidaknya bisa ia perlihatkan kepada Karen. Dibeberapa kesempatan seperti saat ini, kita bisa melihat sekawanan burung yang berada didahan pohon. Bukit yang ada dibalik hutan juga menambah keindahan. Tekstur tanah mulai berubah. Dari yang tadinya lembab menjadi lembek dan berair. Jupri mengajak Karen melewati pinggiran sawah. Itu untuk keujung dimana ada sebuah dangau. Terletak beberpaa orang-orangan sawah juga. Jupri kembali cerewet menjelaskan. Dan sebagai pendengar yang baik, Karen hanya berfokus pada apa yang Jupri katakan. Meski begitu, Karen sempat bertanya,"Kalo besar kamu mau jadi petani?"

Jupri terdiam.

"Sepertinya tidak. Saya mau menulis. Banyak yang perlu dan menarik untuk ditulis disini," kata Jupri.

"Wah, kalau begitu, aku ingin disini bersamamu. Menemanimu menulis. Tapi,.."

"Tapi kenapa?" tanya Jupri.

"Aku harus kembali. Ayahku akan pulang seminggu lagi."


Karena terlalu jauh dan lama, mereka kemudian keluar. Melewati lapangan yang sudah banyak anak mudah sedang bermain sepak bola. Kebanyakan teman sekolah Jupri yang menganggunya. Banyak dari mereka yang mencoba menunjukkan esksistensinya. Terutama yang sedang buka baju. Jupri hanya mencoba menuntun Karen agar lebih cepat sampai di rumah.

"Jupri, bolehkah kami kenal dengannnya?" kata teman Jupri, seolah melogat bahasa perkotaan.

Saat sudah melewati lapangan, Jupri tidak melihat kebelakang. Namun suara cieeee dan suit suit sangat jelas menggema diudara.

Jupri pulang, namun terlebih dulu mengantarkan Karen sampai ke rumahnya. Itu lumayan dekat dengan rumahnya. Ada tiga petak disamping rumahnya. Karen tinggal dengan keluarga Bu Dirsa. Karen masuk. Disana tidak ada orang diteras maupun halaman. Kata Karen, Ayahnya sedang keluar, sementara Ibunya sedang pergi dengan Bu Dirsa.

"Daripada bingung di rumah, mending ke rumah kamu," kata Karen.

"Saya pulang dulu, yah. Takut Paman cari." kata Jupri.

~o~

Kokok ayam begitu nyaring terdengar dari pintu belakang. Jupri bergerak untuk pergi bersekolah. Di sekolah, ia melewati hal-hal yang begitu aneh. Segala aktivitas disekelilingnya tidak asing untuk ia lihat.Saat pulang, ia benar-benar merasa aneh ketika dirinya tanpa sengaja bergerak menuju bale-bale dengan buku ditangannya. Seorang Ibu dan perempuan datang, bertanya,"Dek, disini warung yang dekat mana yah?"

Adi, teman saya, sudah memberi ajakan untuk berenang. Tempat dan waktunya adalah di Koni pada hari Minggu. Kenapa Koni? Itu murah dan kenapa...

Mematahkan Stigma Mandi Pagi di Hari Minggu Mematahkan Stigma Mandi Pagi di Hari Minggu

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Adi, teman saya, sudah memberi ajakan untuk berenang. Tempat dan waktunya adalah di Koni pada hari Minggu. Kenapa Koni? Itu murah dan kenapa Minggu? Sesungguhnya itu adalah kesepakatan bersama. Sehingga, yang saya tahu, disepakatinya hari Minggu karena Senin sampai Sabtu kita masuk Kampus. Dan itulah, tanggal 11 November adalah tanggal yang cukup cantik. Saya dibangunkan untuk segera bersiap. Mandi kemudian sarapan perkedel KFC sisa kemarin.

Kebetulan saya bawa motor dan searah dengan rumah Aping, jadi itu yang membuat saya menyinggahinya untuk pergi bersama. Dijalan, Aping bercerita bahwa tadi malam, ia menghadiri rapat himpunan mahasiswa dari kampungnya. Kemudian, saat hampir melewati Taman Kota, jalan dialihkan untuk kami kemudian berbelok. Lalu mengambil beberapa jalan tikus untuk sampai kejalan raya kembali. 

Sesampainya di Koni, kami langsung ke parkiran. Padahal, kata Aping, didepan gerbang ada Adi yang sedang nunggu. Saya membuka hape, lalu mengirimkan pesan untuk Adi. Itulah yang membuat ia datang berjalan kaki dengan celana pendek dan jaket abu-abu yang ia tenteng ditangan kirinya. Sembari menunggu Iyar, Ridwan datang. 

Kami masih diparkiran ketika dari atas terdengar sebuah panggilan. Dan ternyata, itu adalah Iyar. Dia turun bersama Arjun dan Danil yang datang. Kami mengumpulkan uang untuk tiket masuk. Untuk usia kami, biasa masuk adalah 7 ribu dan 2 ribu untuk parkir. Kami masuk dan memilih tempat diujung kolam yang disana, cahaya matahari tidak terlalu panas.



Sembari membuka baju, Adi menghubungi Fandy mau datang. Kemudian, saya mengirimkan Fandy lokasi lewat Google Maps sebelum menyimpan hape didalam tas. Yang lain sudah siap mandi setelah awalnya malu-malu. Padahal, yang seharusnya malu adalah saya yang belum pandai berenang. Jadi, ketika yang lain sudah melompat bebas di kolam tiga meter, saya masih bisa tenggelam kolam anak-anak. 

Disana, Ridwan dengan sok jago memberi saya teori untuk berenang, "Gampang ji berenang, lah." (Gampang kok berenang) Kemudian ia memberi beberapa gaya berenang diudara bak seorang pelatih.

"Kau saja ko nda tau berenang," gumam saya. (Kau saja tidak tau berenang)

Lalu kami naik. Danil sudah menjemput Fandy yang ada diluar sebelum kami ngumpul uang untuk beli gorengan. Tidak bisa dipungkiri, Mie dan Gorengan adalah penyelamat kami selama jadi mahasiswa. Meski tidak ngekos, beberapa kali disaat jam nanggung untuk pulang saya dan kawan-kawan nebeng di kosan teman untuk makan dan istirahat. Jadi, dengan segala hormat, saya dan kawan-kawan, apalagi yang ngekos, mengucapkan terima kasih untuk Mie dan Gorengan.


Fandy sudah siap bersama yang lain untuk turun. Beberapa kali, sempat saya nyoba untuk ke kolam tiga meter. Tapi selalu naik kembali karena takut tenggelam. Akhirnya, saya dan Ridwan harus pasrah berdua di kolam dua meter. Itu sedada saya. Dan cukup tinggilah untuk belajar-belajar renang.

Entah karena kasian atau apa, yang lain menepi ke kolam dua meter bersama kami. Waktu itu, Ridwan sedang ngobrol dengan seorang Bapak-Bapak. Dari pembicaraannya, mereka sepertinya ngobrol masalah berenang dan tempat tinggal. Sempat saya curiga tentang Bapak-Bapak itu. Apalagi, durasi ngobrolnya bersama Ridwan cukup lama. Hanya, itu kami biarkan, karena Ridwan juga memberi kami banyak kekesalan. Dimulai dari ia mengatakan anak kosan makan kacang sebiji bisa kenyang. Dan Arjun, dengan emosi yang cepat naik, berkata: "Ih, coba kasih kos ini anak. Jangan kasih uang satu hari." Kami semua ketawa. Itu lebih kepada ekspresi Arjun yang lucu. Pokoknya, Ridwan itu punya argumen yang lucu dan kadang-kadang imajinatif. Makanya, jika ngobrol dengan dia, kami sudah tahu dan tidak mengambil pusing. Seringkali, ketika ia berbicata, saya nahan ketawa dengan Iyar dibelakang. Namun Arjun, yah, bukan dia kalau tidak emosi.

Sementera kami semua turun, Danil hanya duduk. Sebenarnya, ia mau turun. Namun itu ia urungkan ketika harus membuka baju. Danil adalah salah satu mahasiswa yang alim. Sholat lima waktu ia laksanakan. Dan untuk itu, ia memilih untuk tidak mandi. Katanya, itu mengumbar aurat. Saya pikir, ini cuma masalah niat. Danil tidak berubah pikiran. Ia naik keatas tribun untuk menyaksikan kami berenang. Kecewa dengan Danil yang tidak turun adalah satu dari yang lain, dimana Marwan saat itu juga tidak bisa hadir. Awalnya, dari WhatsApp tidak bisa dihubungi. Lalu, aktif dan mengabari bahwa ia ada acara. Kami pikir itu cuma alasan yang ia buat.

Di kolam, kami saling adu tahan napas. Lalu, Aping, Fandy, dan Adi yang adu renang. Sampai salto antara Aping dan Fandy. Semuanya seru. Mengingat kebiasaan kami di Sekret hanyalah makan gorengan dan diskusi. Kelas berenang hari itu adalah sekaligus refreshing untuk kami.

Dan setelahnya, kami naik ke atas tribun bersama Danil. Itu lebih karena kami sudah lelah berenang. Padahal, saya masih mampu jika sekedar berendam. Kemudian, dengan masih bertelanjang dada, Arjun memanggil seorang perempuan untuk moto. Sempat terjadi insiden panjang dimana Adi dan Danil malu untuk berfoto. Namun Arjun menarik Adi sementara saya menarik Danil. Itulah dimana badan kami yang bagus diabadikan.



Selesai foto, kami turun untuk bilas dan ganti pakaiaan. Sebelum pulang, kami naik lagi ke tribun. Tujuannya untuk foto, karena, pada saat tadi, berfoto dengan telanjang dada, adalah opsi kedua untuk mengunggah di sosial media. Harus ada opsi lain dimana kami terlihat keren dan berpakaian. Kami tidak ingin memberi orang pemikiran untuk mengasihani kami karena tidak mempunyai pakaian.




Setelah foto, yang dilakukan oleh anak kecil, kami turun. Lalu bersiap untuk pulang. Saya bersama Aping. Ridwan dan Iyar sendiri karena yang lain tidak membawa helm. Membonceng mereka sama saja menyerahkan diri ke polisi. Apalagi, minggu itu adalah masa operasi zebra. Saat melewati Adi, Arjun, Danil, dan Fandy, saya membunyikan klakson dan mengangkat tangan dengan tujuan pulang duluan. Mereka menyahut dari belakang.

Tanpa banyak obrolan, motor melewati jalan demi jalan. Lampu merah hanya kami dapati ketika melewati SMAN 4 Kendari. Kemudian, kami dengan beruntung mendapat lampu hijau untuk terus bergerak. Aping saya turunkan tepat didepan tempat proyeknya. Kami bersalaman sebelum saya kembali memacu motor untuk pulang. Dan itulah dia, hari Minggu yang dimana kami mampu mematahkan stigma "Tidak Mandi di Hari Libur". Lalu dengan demikian, Minggu kami tidak semonoton biasanya. Menjadi sebuah cerita yang benar-benar mampu membawa saya pada satu titik untuk kembali merasakan pertemanan yang solid. 

Setelah bangun dari tidur siang, saya benar-benar kaget. Soalnya hari itu, ada kelas menulis dari Rumah Bunyi. Seharusnya, di hari Sabtu say...

Pesta Bidik Misi, Perut Banyak Isi Pesta Bidik Misi, Perut Banyak Isi

Ocehan Digital Mahasiswa Setengah Waras

Setelah bangun dari tidur siang, saya benar-benar kaget. Soalnya hari itu, ada kelas menulis dari Rumah Bunyi. Seharusnya, di hari Sabtu saya jarang tidur siang walaupun mata kuliah hanya satu dipagi hari. Namun, pagi tadi, sama dosen saya, mata kuliahnya diganti dengan acara seminar "Kebangkitan Sastra Di Sulawesi Tenggara" pada 4 November. Komsumsinya tidak bisa bikin kami bertahan. Sehingga, kami keluar sebelum pukul 12 siang, dan makan didepan Fakultas Teknik. Disana ada nasi kuning harga murah 5 ribu.

Marwan dan Adi in Auditorium Mokodompit, UHO.

Setelah memacu motor cukup kencang, saya berhasil sampai sebelum sesi kelas menulis dimulai. Disana ada dosen saya, Bu Ila bersama suaminya Bang Kahar. Hari itu, dari pemateri seminar, ada Aslan Abidin, penyair dari Makassar, yang akan mengisi kelas menulis hari itu. Dianya ngisi kelas hari itu dengan santai. Nanya-nanya buku yang kita baca terakhir. Dan, menceritakan kisah masa kecilnya yang pas SD minjam buku dari rumah ke perpustakaan dengan jarak 5 KM jalan kaki. Lalu bagaimana dia waktu kuliah. Masak Indomie bagi empat. Sebelumnya dosen saya juga cerita dengan hal yang hampir sama. Hanya, dosen saya bagi dua. Bang Aslan ini lebih ekstrim. Tidak sulit membagi Indomie jadi dua, bahkan empat. Yang sulit adalah membagi bumbunya itu gimana.



Setelah kelas menulis, kami foto-foto dulu dengan Bang Aslan Abidin. Lalu, ingat, hari itu teman-teman kami yang nerima Bidik Misi bikin acara nanti malam. Karena bingung, saya terpaksa manut aja. Karena semua teman saya yang disitu mau kesana semua.

Saya dan Arjun bersama Aslan Abidin.

Kami berjalan menyusuri jalan Kampus yang mulai gelap. Cahaya lampu mulai ada dimana-mana. Kami belok kiri, kemudian mendapatkan jalan lurus yang lumayan panjang untuk setelahnya belok kanan lagi. Sampai disana, kami parkir motor didepan rumah orang. Lalu masuk ke Asrama teman kami, lebih tepatnya rumah. Sudah ada dua orang yang nunggu. Yang lain belum datang. Katanya lagi beli bahan masakan. 



Saya duduk bersama yang lain sampai Lasmin datang membawa bahan masakan yang kemudian dikerjakan oleh perempuan yang ada disana. Kemudian, Arjun minjam motor, katanya mau jemput Danil, ketua tingkat kelas kami. Fandy dan Iyar datang setelah saya kirimin lokasi. Mereka duduk diluar ngga mau masuk. Malu, katanya. Tapi karena dipanggil minum sirup, langsung buang malu mereka.

Pis Iyar dan Pis Fandy.

Fandy dan Iyar duduk dikursi ruang tamu. Kebetulan lampunya tidak nyala dan kami lebih senang begitu. Beberapa waktu, Arjun datang bersama Danil dan gitar. Itu yang kemudian membuat suasana jadi makin rame. Arjun lagi-lagi mainin lagu Kebenarakan Akan Terus Hidup, hasil dari aransemen Fajar Merah dari puisi ayahnya Wiji Thukul. Dia ngefans banget dengan Thukul. Sampai-sampai, saat ditanya alasan masuk Sastra Indonesia yah karena baca puisi Wiji Thukul.

Yang lain mulai datang meramaikan acara, walaupun tidak bisa dikatakan hadir semua. Untuk laki-laki, yang ada hanya saya, Arjun, Iyar, dan Fandy. Yang lain seperti Marwan, Adi, dan Ridwan tak bisa hadir karena satu dan lain hal. Aping saja, datang setelah ditelpon Danil. Turun didepan Kampus, kemudian dijemput dengan Fandy.

Sebelum Aping datang, saya, Lasmin, Novin dan Mawar pergi ke depan kampus. Itu untuk beli gorengan dan ambil daun pisang. Untuk apa, kata teman yang lain. Itu jadi inisiatif saya ketika ngeliat piring di dapur hanya beberapa. Yang sial dari ambil daun pisang adalah satu celana saya ditempeli alang-alang. Kemudian pulang dengan segera sebelum kepergok.

Diluar asrama, kami sempat berdebat hebat. Itu dimiulai ketika saya mulai memancing pembahasan. Dan kejadian itu bisa dibilang cukup lama sampai akhirnya kami sadar. Sementara berdebat, Danil sibuk juga nyari pasangan sendalnya yang hilang. Sementara yang lain, ngantar Isma pulang karena sudah ditelpon orang rumah. Itu adalah Arjun dengan Atma sebagai penunjuk arah pulang, dan Mawar dan Isma. Kami mulai lapar ketika nunggu mereka balik. Saya juga mulai khawatir, sebab Arjun dengan niat yang baik tapi memakai motor saya.

Disela-sela nunggu, seorang Bapak yang berumur datang masuk kedalam Rumah. Itu juga yang membuat Iyar kaget ketika berada tepat didepan pintu. Akhirnya kami tahu, itu adalah pemilik rumah yang ditinggali teman kami. Dia datang untuk negur kami yang berisik. Katanya, dapat telepon dari tetangga. Terus Lasmin jadi korban kena marah. Sebab, kata si Bapak yang harus dinasihatin bukan kami sebagai tamu, tapi teman kami sebagai yang tinggal. Indah kemudian dibangunkan. Kata Bapak, harus dinasihatin dulu biar paham.

Ini kaki.

Dari cara ngomong Bapak itu sangat baik. Sehingga, untuk ngeles kami pun tidak bisa. Terakhir saya tahu, ternyata dia dosen di FKIP. Bapak itu pulang setelah ngecek lampu dan air. 

Selanjutnya, kami sudah lapar, jam 10 lewat mereka belum balik. Saya sudah berpikir begitu mengingat jarak rumah Isma lebih jauh dari rumah saya. Setelah datang, kami bersorak hore. Tandanya kami akan segera makan. Kami, yang adalah Arjun, Iyar, Fandy, Danil, dan Aping ngambil tempat disudut kiri. Sementara yang lain menyesuaikan.



Kami makan dengan sangat senang, apalagi saat makan berjejer dialasi daun pisang. Saya rasa itu benar-benar beda ketika kami hanya makan dengan piring. Apalagi, saat itu, bisa dikatakan, makanan kami tidak se-wah untuk sebuah acara. Namun, inti dari itu adalah keeratan kami. Saya berpikir kembali tentang pikiran saya waktu akhir SMA. Itu tentang paranoid saya dengan teman-teman  saya didunia perkuliahan. Namun, saya rasa itu tidak jadi soal lagi. Teman lama saya baik, dan mereka sedang buat cerita baru untuk hidupnya. Begitu juga dengan saya.



Selesai makan, kami rehat sejenak sambil nunggu Lasmin dan Iyar buang sampah sisa makan kami. Kemudian, gorengan yang belum sempat mereka makan (karena saya sudah makan), kami tinggalkan. Itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

"Hul, sama sapa ko pulang?" tanya Aping (Hul, sama siapa kamu pulang?"

"Nanti kita sama," jawab saya.

Karena kami pulang dengan arah yang berbeda-beda, kami terbagi dari bermacam kelompok. Saya jalan bersama Siska yang sendiri, Iyar yang bersama Fandy dan Mawar yang bersama Novin. Awalnya kami ngisi bensin botol di depan kampus, itu Iyar yang sudah khawatir dengan bensinnya. Kemudian, kami ngantar Siska ke kosannya. Lalu, menuju Perumahan Dosen untuk ngantar Fandy. Sebelumnya, Mawar dan Novin sudah belok saat kami tetap lurus.

Dijalan saat sudah ngantar Siska, Iyar bilang,"Pis, kita antar dulu Fandy nah." 

"Ko takut kah?" tanya saya (kamu takut kah?)

"Ada juga, Pis!" sambil tertawa kecil.

Setelah ngantar Fandy, kami tidak belok kanan untuk kembali kejalan utama. Kami milih belok kiri untuk ngambil jalan memotong. Lalu tembus di bundaran tank. Diperjalanan menuju Tapak Kuda, Iyar belok kiri sementara kami lurus. Dengan klakson besar seperti kapal, saya ngebunyiin untuk mancing Iyar ketawa. Dari jauh, ia mengirim jempol sambil tertawa.

Keluar dari Tapak Kuda, keadaan yang tadinya mulai gelap berubah mejadi terang. Orang-orang masih ramai berkendara, padahal saat saya nanya jam ke Aping sudah hampir pukul 12 malam. Dari jalan belakang, saya belok kanan untuk ke jalan poros. Itu adalah tempat dimana Aping tinggal. Sebelum pergi, saya jabat tangan Aping. Itu adalah hal yang benar-benar baik untuk dilakukan saat itu. Mengingat dia adalah yang paling tua dan punya banyak cerita. Jika perlu saya katakan, Aping itu lahir tahun 1993. Tujuh tahun hampir diatas kami semua. Kenapa begitu? Ada cerita yang benar-benar harus kalian pahami tapi tidak sekarang.

Setelahnya, saya memacu motor kembali. Sebelum Aping masuk, saya memencet kembali klakson dengan bunyi seperti kapal. Aping tertawa, saya mengangkat tangan untuk kemudian memacu motor lebih kencang menembus angin malam. Kenapa klakson motor saya berbunyi seperti kapal, itu adalah perbuatan Bapak saya. Yang dimana, itu bukan motor yang sering saya pakai. 

Baru mau membuka pagar rumah, sudah muncul tante saya yang membuka. Ternyata sedang nyusun barang di warung. Saya masuk, buka jaket dan tas, dan ngecek-ngecek foto dari grup WhatsApp. Dalam bayangan saya yang lalu, tidak seperti saat ini yang saya lihat. Mungkin, ketakutan yang saya bayangkan belum tentu terjadi seperti ketakutan UN dan Sunat waktu itu. Yang bisa saya yakini adalah waktu punya misteri penting untuk dipecahkan.