Baca juga: Bagian 1 Bagian 2 Bagian 3 Bagian 4 Bagian 5 Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu terdengar sangar keras dari. Gue mengump...

Jakarta Love Story - Bagian 6 Jakarta Love Story - Bagian 6

Jakarta Love Story - Bagian 6

Jakarta Love Story - Bagian 6

 Baca juga:
Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5


Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu terdengar sangar keras dari.

Gue mengumpulkan nyawa untuk bangun. Melihat samar-samar pada jam weker yang telah gue setel setiap malam.

"Sial!" kata gue sambil melompat dari kasur.

Sesegera mungkin gue berangkat ke kamar mandi. Pas membuka pintu kamar, terlihat Dito berpakaian rapi. Dia tersenyum dan menyapa.

"Gue telat" kata gue histeris kebingungan.

"Baru juga mau di bilangin" kata Dito.

"Bilang apa?" tanya gue.

"Lo kayaknya udah telat" kata Dito.

"UDAH TAU KAMPRET!" kata gue, sambil ngeloyor ke kamar mandi.

Di saat seperti ini, gue harus memanfaatkan waktu dengan saat baik. Telat beberapa detik aja bisa gawat. Makanya, gue kembali memakai metode 3 in 1. Metode dimana kita bisa mandi dengan memakai sabun, sampo, sikat gigi bersamaan. Setelah selesai mandi, gue buru-buru ke kamar. Di atas kasur, sudah terlihat baju dan celana yang biasa gue pake.

"Wah, baik juga Dito" kata gue dalam hati sambil mengejar waktu.

Setelah selesai berpakaian, gue langsung keluar. Masang sepatu dengan sesegera mungkin. Pas mau lari, gue di hadapkan lagi dengan ibu kos.

"Eh, udah jam berapa ini? kamu terlambat?" kata ibu kos.

"Lebih terlambat lagi kalau saya bicara kelamaan sama ibu. Dah, bu" kata gue langsung lari ke jalan poros.

Angkot pertama lewat dengan penumpang yang lumayan penuh. Angkot kedua ngga penuh-penuh amat, tapi angkotnya ngeloyor begitu aja. Angkot ketiga, ngga penuh, ngga ngeloyor juga, tapi penuh dengan dengan ibu-ibu dengan ikan yang baru dia beli dari pasar.

"Waduh gawat, nih. Kalo ngga naik, bisa telat. Kalo naik, bisa bau ikan gue" kata gue, mempertimbangkan.

Akhirnya gue naik. Gue harus mengorbankan paru-paru gue demi masuk kelas hari ini. Soalnya, hari ini ada mata pelajaran pak Yanto. Pertama lagi.

Angkotnya sangat-sangat tidak mendukung. Dia sering kali ngetem. Dia tidak memikirkan penumpang yang lagi mengejar waktu. Mungkin kita sama-sama membutuhkan. Setelah nyampe, gue berlari 'bak lagi di kejar banci'. Dari samping gue sudah melihat teman-teman gue sudah tidak ada lagi di tempat tongkrongan mereka biasanya. Samar-samar terlihat pintu kelas tertutup, gue membuka pintu. Dan betapa kagetnya gue saat belum ada pak Yanto. Pas lagi asik-asik nyegir merayakan keberhasilan gue sampai tanpa terlambat, tiba-tiba ada seorang yang menepuk pundak gue.

"Kamu ngga duduk?" kata pak Yanto dengan suara yang sudah menggambarkan karakternya.

"Iya pak, ini baru" kata gue, kalem.

"Iya anak-anak maaf saya sedikit telat. Ada beberapa faktor yang membuat saya tadi telat. Harap di maklumi" kata pak Yanto.

Enak banget jadi dosen, terlambat bisa-bisa aja di maklumi. Tapi, yang penting gue ngga telat juga kok, batin gue.

"Iya anak-anak, tugas yang pernah saya berikan silahkan langsung di taroh di meja saya," kata pak Yanto sambil melirik-lirik ke kanan dan kiri,"Sekarang"

Semua bergegas mengumpulkan tugas, kecuali gue. Gue keringat dingin. Ngga tau harus ngapain. Akhirnya, gue mencoba kalem karena dengan kalem, ekspresi ketakutan gue ngga timbul.

"Siapa yang belum menyetor tugas?" tanya pak Yanto.

Semua saling melirik. Tidak ada yang mau mengaku. Lha, bagaiamana mau mengaku kalau yang salah aja gue.

Pak Yanto mulai menghitung jumlah buku yang terkumpul,"Ini kurang satu" kata pak Yanto kalem. Kalem-kalem membunuh.

Lagi-lagi tidak ada yang mau mengaku. Gue semakin terpojok. Gue mau ngaku, takut tiba-tiba papan tulis melayang ke arah gue. Ngga ngaku juga bahaya. Akhirnya, dengan sifat gentle, gue mengacungkan tangan.

"Wah, kamu yah. Siapa namamu?" tanua pak Yanto.

"I..ilo pak" kata gue.

"Saya suka murid begini," kata pak Yanto,"maka dari itu kamu akan saya beri hadiah."

"Gawat" kata gue, dalam hati.

Gue di giring ke ruangan kosong belakang. Ngga, gue bukan mau di bunuh. Gue di suruh nge-bersihin ruangan itu. Padahal kotornya ampun-ampunan.

"Sampai bersih" kata pak Yanto dari kejauhan.

Gue mulai membersihkan. Dengan gerakan cepat, gue mulai membersihkan debu-debunya, mulai menyapu, mengelap, hari itu gue sukses jadi orang yang pembersih. Karena suasana horor ruangan itu juga yang membuat gue bisa secepat ini. Sekitar kurang lebih sejam, ruangan mulai bersih, tapi ngga bersih-bersih amat. Yang penting bersih lah, kata gue dalam hati.

Gue berjalan menuju kantin. Gue berjalan tanpa melihat jalan. Apa yang ada di depan gue, gue tendang. Pas baru aja gue meluapkan amarah ke botol aqua yang baru aja gue tendang.

"Aaah" kata seseorang.

Gue berbalik. Astaga, botol aqua itu kena kaki Indah. Gue menghampiri Indah dengan maksud minta maaf.

"Kak, maaf yah. Tadi ngga sengaja" kata gue tertunduk.

"Hmm, ngga apa-apa." kata Indah.

"Di maafin nih kak?" tanya gue.

"Iya. Dengan satu syarat" kata Indah.

"Apaan?" kata gue sambil mencoba menerka-nerka.

"Jangan panggil 'kak', ketuaan tau" kata Indah tersenyum.

"Iya kak" kata gue.

Indah menatap gue.

"Eh, maaf kak, eh, maksudnya Indah" kata gue terbata-bata.

Indah ngakak. Gue ngakak. Kita ketawa bareng-bareng. Gue ngga nyangka akibat hukuman ini malah membuat satu hal yang ngga gue sangka. Akrab sama Indah. Karena menurut gue, percuma kenal kalo ngga akrab. Tapi, lebih percuma lagi kalo akrab tapi ngga ada hubungan.

Bersambung..

4 comments:

  1. Udah langsung jadiin indahnya
    Biar akrabnya engga percuma
    Dasar dosen engga pernah salah
    Seharusnya tuh pak yanto dihukum juga
    Ikut bersih2
    Aaaah
    Lanjutannya diblog siapa nih??

    ReplyDelete
  2. berasa anak sekolahan ini kalau gak ngejain tugas suruh bersih-bersih hahaha.
    tapi mantep juga gara-gara gak ngumpulin tugas bisa ketemu si indah huuhu

    ReplyDelete
  3. berawal dari tendangan botol aqua ke kaki Indah, kayaknya benih-benih cinta mulai tumbuh nih nantinya wkwkwk :D

    ReplyDelete
  4. *spoiler* Ending: Karena stres, Ilo ngebunuh Dito. The End. :)

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..