Aug 23, 2017

3 Hari Jadi Arkeolog

Tepatnya tanggal 11 sampai 13 Agustus kemarin, gue ngga tidur di kamar gue, juga rumah gue. Ngga, gue bukan di usir. Untuk memperjelas situasinya, gue akan mulai dari awal. Awal mula gue sampai tidak tidur dirumah.

Ceritanya, setelah mengerjakan projek sekolah, bersama teman gue, gue akhirnya bisa nyantai. Projek itu adalah lomba audivisual sejarah yang diikuti oleh semua sekolah dari semua provinsi di Indonesia. Sekolah gue mengirim beberapa sinopsis. Semuanya lewat guru, kecuali gue. Bukan karena gue sok-sokan, tapi emang gue terlambat waktu itu dan akhirnya ngirim sendiri, isi formulis sendiri, dan.. ngga lolos seleksi.

Yang lolos seleksi salah satu murid di sekolah gue, dia anak Ipa. Gue, yang mungkin di ketahui ada basic untuk ngedit, langsung di mintai bantuan. Setelah, sinopsis mereka lolos, mereka akhirnya workshop, lalu menjalani proses pengambilan gambar. Setelah jadi, gue yang edit. Gue bingung mau mulai darimana. Gue mencoba minta sinopsis dan lembar jadwal pas pengambilan gambar. Gue liat klip-klip-nya, lalu pindahin folder dan tentuin mau taroh dimana.

Gue selalu membuat cerita dengan menggunakan unsur tiga babak. Jadi, semua klip gue susun, berdasarkan unsur tiga babak.

Sebenarnya, bukan itu yang mau gue omongin, jadi, gue percepat aja. Gue akhirnya selesai mengedit dan menyetor segala file yang ada. File itu dikirim, lalu tugas gue selesai.

Beberapa minggu setelah projek itu kelar, teman gue Bagus, yang telah membebani gue dengan projek pertama datang kembali dengan projek baru. Gue mendengarkan dengan despacito, dia bilang,"Ada lomba!" dengan semangat.

Gue lemes. "Lomba apa?"

Melihat gue ngga tertarik, dia menyodori dengan ungkapan bak MLM,"Lombanya tidak berat. Cuma bikin poster."

Gue dengar itu masih lemas,"Poster? Poster apa?" mencoba sedikit antusias.

"Poster. Semacam.." lalu dia sendiri bingung. "Bentar ke gazebo. Pak Sudarso yang jelaskan."

Dia lalu pergi membawa beban kembali.

Istirahat kedua, gue ke gazebo. Gue bertemua Bagus dan Pak Sudarso, guru sejarah, yang akan menjelaskan. Gue mencoba lebih antusias daripada sebelumnya. Setelah mendapat pencerahan, gue akhirnya sedikir antusias dengan beban ini. Poster yang di maksud adalah semacam sebuah media promosi, semacam baliho.

Setelah tahu apa yang mau di kerjakan, Sabtu sore gue ke sekolah bareng bagus. Jadi, gue dan yang lain akan meriset semacam peninggalan Jepang dan Belanda pada Perang Dunia ke II. Gue yang lumayan suka sejarah, akhirnya bisa memasang raut ekspresi antusias yang tidak terlalu palsu ke orang-orang. Setelah semua terkumpul, yang kalo gue hitung semua ada 10 orang dengan guru di satu mobil. Gue duduk paling pojok kanan belakang. Duduk dengan pantat sebelah dalam perjalanan hampir setengah jam lebih. Sebelum pergi, satu orang lagi kita singgahi, katanya, dia mau ikut. Sukses, gue cuma duduk dengan 1/4 pantat.

Tujuan kita adalah ke Bandara HaluOleo, bandara kota tempat gue tinggal. Bandara yang akan kita kunjungi ini dulunya adalah bekas tempat pertahanan Jepang. Peninggalan-peninggalan dari Jepang banyak tersebar di sini. Gue baru tahu, dan gue sangat antusias.

Mobil kami melewati posko pertama dengan jumawa. Beberapa menit kemudian, kita berhenti di posko kedua untuk melapor. Yang turun cuman Pak Sudarso, dari kaca terlihat dia menjelaskan. Setelah beberapa menit berbicara, dia kembali dengan raut wajah kecewa. Dia membuka pintu mobil, lalu mengambil tas yang berisi berkas.

Cek per cek kita tidak mendapat ijin untuk masuk. Mahasiswa anak Arkeologi yang mengundang kami untuk riset telah masuk kedalam dari pagi. Kami yang tiba pukul 3 sore cuma bisa pasrah. Gue cengegesan di bawah pohon menahan pantat yang masih sakit. Udaranya enak, cuacanya mendukung. Pengawas itu memberi solusi untuk melihat beberapa bunker yang terdapat di bagian luar. Kita sepakat untuk tidak pulang percuma.

Bunker (yang sebenarnya adalah gedung amunisi, karena kesalahan pengawas) pertama terletak di depan persis posko kedua ini. Kita lalu melihat, mengamati, mangambil foto. Lalu akhirnya kembali. Kita menaiki mobil untuk pergi ke gedung amunisi selanjutnya. Letaknya di dekat warung makan. Kita masuk ke dalam, mengambil foto, lalu keluar.

Seperti itu terus sampai kita pulang.

Di perjalanan pulang, kami duduk serius mendengarkan teman kami, Ical, membacakan syarat dan ketentuan untuk mengikuti lomba. Kami menyimak. Gue akhirnya tau, ukuran posternya. Iya, cuma itu dari lomba yang gue ikuti ini. Sebenarnya gue mau ikut aja ke cerpen, tapi mengingat gue ditugaskan untuk ikut lomba poster, gue ngga bisa buat pilihan.

Setelah pertengahan membaca, kami terheran dengan adanya syarat membawa tenda. Oke, gue mulai panik. Lalu dia melanjutkan,"Mulai dari tanggal 11 sampai 13 peserta wajib mengikuti sekolah lapangan.". Firasat gue benar, mati gue.

Kita akhirnya kembali ke sekolah tanpa percuma. Gue yang membawa kamera dslr berhasil mengambil beberapa gambar. Di sekolah, tidak ada orang yang sedang latihan ekstrakurikuler. Mungkin ada, tapi sudah pulang. Setelah sedikit beristirahat, gue memutuskan untuk pulang. Jarak sekolah ke rumah cukup dekat. Cuma beberapa puluh meter. Gue pulang, lalu tepar.

Tibalah tanggal 11 itu. Gue ke sekolah memakai baju olahraga dan celana abu-abu. Gue datang ke sekolah dengan bodohnya. Di saat orang datang memakai baju muslim, gue malah berdiri ngga jelas di depan pintu gerbang dengan kostum beda sendiri. Ngga mau tambah malu masuk ke dalam, gue hanya menunggu di luar, menunggu teman gue yang akan menyelematkan gue dari semua kemaluan ini.

Gue ingat pas malam, waktu gue baru mencetak poster dan brosur. Kata teman-teman gue, mereka akan sengaja datang terlambat. Lalu, gue dengan bodohnya datang terlalu pagi.

Setelah hampir ratusan orang masuk dan melihat gue, akhirnya beberapa orang dengan pakaian olahraga turun dari angkot. Dalam hati, yes gue terselamatkan. Gue sok-sok berdiri, karena belum terlalu akrab. Setelah melihat gue, akhirnya salah satu dari mereka memanggil gue, ngga mau menyia-nyiakan kesempatan, gue langsung ngibrit gabung sama mereka. Mereka memutuskan untuk masuk dari gerbang sebelah, yang langsung menuju gazebo, tapi tetap di lihat orang.

Gue baru tahu rasanya jadi minoritas.

Pas melewati barisan kelas 3 laki-laki yang sedang mendengarkan tausiyah singkat dari kelas yang bertugas, beberapa teman bertanya,"Rahul mau kemana?", "Rahul kenapa pake baju olahraga.". Leher gue mau bergerak ke belakang untuk menjawab, tapi gue malu. Gue akhirnya memutuskan untuk berbalik dan menjawab biar ngga di kira sombong. Walaupun gue ngga tahu siapa yang nanya.

Nyampe di gazebo, gue akhirnya bisa tenang. Gue lihat tas-tas mereka sudah gede-gede kayak traveller pada umumnya. Gue yang berpikir, rumah gue dekat, belum mengisi tas sama sekali. Isi tas gue cuma baju putih, yang katanya di pakai untuk acara pembukaan.

Gue sebenarnya ngga tahu perasaan gue ini. Gue senang karena kembali bisa kemping-kemping kayak gini, tapi sedih karena waktu libur gue ngga buat tenang-tenang dirumah.

Setelah yang lain sudah tiba, kita mengeluarkan tenda besar dari gudang. Membawa apa yang membuat kita bisa bertahan hidup itu perlu. Jadi, gue dan teman gue, Tahul, pulang mengisi tas kami masing-masing.

Setelah semua siap, dari peserta sampai keperluan. Kita akhirnya berangkat. Gue dan beberapa teman yang lain naik mobil bareng Pak Sudarso. Teman yang lain di angkot, menjaga barang, dan menunjukkan arah. Waktu yang di perlukan untuk sampai lumayan lama dari sebelumnya. Mungkin karena kita sempat singgah untuk menjemput yang lain.

Tidak seperti sebelumnya, di posko kedua, kita tidak di tahan lagi. Kita cuma perlu menulis nama, lalu salah satu panitia acara mengantar kami menuju tempat tujuan. Jaraknya lumayan jauh. Gue memperhatikan sekitar lewat jendela. Gue mulai rindu suasana seperti ini. Cuma ada pohon dan tanaman liar. Mobil berhenti, kami sampai di tempat tujuan.

Para lelaki, menurunkan tenda. Lalu membawa ke tengah lapangan. Plang nama sekolah sudah berjejer untuk menandai daerah kekuasan masing-masing sekolah. Tenda kami berada disudut. Di bantu oleh panitia, kami menaikkan tenda. Awalnya kami bingung, bentuk tenda ini akan naik seperti apa. Kami mengira, besinya ada yang hilang atau lupa di bawa. Kami panik.

Besi yang seharusnya berbentuk runcing pada bagian ujung, ternyata patah. Kami mencari akal, dan keterbatasan membongkar sisi kreatif di kepala kami. Kami melihat patok tenda, lalu memasukkan ke lubang besi. Hip hip hore, twididit. Lalu tiga siput datang dan merayakan keberhasilan.


Tenda lalu berdiri di iringi gerimis sampai akhirnya hujan bertambah deras. Sekolah yang lain masuk ke dalam gedung, tempat alternatif untuk tidur. Di tengah hujan, semua peserta dan pembina di tugaskan untuk pergi ke sebuah gedung untuk menerima materi dan makan. Dengan berbekal mobil, kita akhirnya sampai lebih awal, makan lebih awal. Lima deretan kursi bagian depan mempunyai bantalan, gue memutuskan untuk duduk disitu. Yang gue tunggu-tunggu akhirnya tiba, yah makan. Gue membuka nasi box lebih awal, mengecek lauk yang ada. Gue melihat ayam dan beberapa sayur yang baru gue liat. Saat yang lain belum membuka box nasi, mulut gue sudah lebih dulu mengunyah.

Seiring dengan makanan yang hampir habis, peserta dari sekolah lain berdatangan. Yang gue dengar ada 10 sekolah yang di undang dari tingkat SMA. Tapi, cuma 8 sekolah yang bersedia hadir.

Sore itu gue dan yang lain di beri materi umum. Materi yang di kasih menyangkut tentang Arkeologi. Lalu di hubungkan dengan perang dunia ke II. Slide yang di tampilkan lewat MS. Office Excel, membuat materi jadi lebih menarik. Semua peserta di bagikan semacam parsel. Isinya buku tulis, pulpen, kartu peserta, dan syarat lomba.

Gue mengeluarkan pulpen dan buku tulis. Di awal-awal slide di tampilkan beberapa film dengan tema perang dunia ke II, gue catet, berhubung gue suka nonton film. Lalu, di hubungkan dengan karakter film lagi, seperti Indiana Jones dan Lara Croft. Gue tahu mereka berdua Arkeolog, jadi pas slide ini gue sangat antusias. Sang pemateri menjelaskan bak anak SD.

"Indiana Jones ini Arkeolog, dari film.." Dari belakang, suara peserta berbicara,"Indiana Jones." Pemateri memberikan ekspresi kamu-pintar-sekali,"Betul. Dan satu lagi, Lara Croft di film.."

Kelas hening. Gue yang tahu, tiba-tiba nyeletuk dengan volume keras,"Tomb Raider."

Semua mata tertuju. Kembali hening yang di pecahkan oleh sahutan pemateri,"Betul sekali. Oke kita lanjut.."

Saat itu, gue jadi malas angkat atau jawab pertanyaan.

Materi selesai Maghrib, dan waktu itu hujan masih turun membasahi seisi lanud. Gue dan yang lain memutuskan untuk lari, pas tahu Pak Sudarso masih berbicara dengan guru pembina dari sekolah lain. Saat berlari, hujan semakin deras, tidak ada tempat berteduh, dengan pakaian yang setengah basah. Gue dan dua teman gue berlari setelah melihat sebuah gudang. Lalu menepi untuk berteduh.

Poster yang kami cetak tadi malam belum juga tiba. Ceritanya, poster itu selesai jam 11 siang, dua orang teman gue yang nyusul yang akan mengambil poster itu. Di tengah hujan yang deras, baju yang basah, konflik poster yang belum tiba pecah seakan beradu dengan derasnya hujan.

Teman gue, Bagus, yang menarik gue ke kelompok desain poster, menelpon Pak Sudarso. Setelah beberapa kali mencoba, hasilnya nihil. Desain poster cuma diperuntukkan untuk satu poster per-sekolah, tapi sekolah kami membuat dua poster. Poster pertama sudah ada, yang gue rasa ngga bakal dapat juara, karena cuma menampilkan gambar dan beberapa kalimat. Gue bukan menjatuhkan, tapi membandingkan dengan poster yang gue desain. Kita udah sepakat, kemenangan milik kita bersama.

Setelah beberapa saat, Pak Sudarso mengangkat telepon dan berbincang dengan Bagus. Akhirnya, dua orang yang kami tunggu telah datang. Membawa poster kami, yang dia gulung lalu masukkan ke dalam baju agar tidak basah. Gue bukan nanya kabar, langsung nanya,"Posterku mana?"

Setelah melihat hasil jadinya, gue yakin poster ini bakalan menang. Entah juara 1, 2, atau 3.

Jadwal berikutnya adalah Ishoma, yaitu Istirahat-Sholat-Makan. Makanan tiba dengan plastik putih besar berjumlah 11 box. Saat semua mengambil makanan, ternyata jumlah kami 12. Tidak tahu malu, kami melapor seakan-akan kami telah di tipu oleh oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dengan mental ngga tahu malu itulah yang membuat kami semua kenyang.

Di luar hujan, padahal beberapa tenda dari sekolah, termasuk sekolah gue sudah berdiri. Tas yang berada di tenda-tenda kami, di bawa masuk ke dalam gedung tempat kami berada sekarang karena kata panitia, banjir masuk sampai ke dalam tenda. Setelah makan, kami, para lelaki sejati, pergi mengecek tenda. Kami melihat kondisi, lalu memutuskan untuk tidur di tenda.

Pak Sudarso awalnya kaget, berhubung semua peserta dari sekolah lain tidak ada yang senekat kami, lebih tepatnya sebodoh kami. Dengan menjelaskan kami ingin menantang diri, Pak Sudarso mengijinkan. Lalu panitia datang dan menanyakan saat kami membawa tas dan barang-barang kami kembali ke tenda.

Kami menjawab seadanya, dan semua panitia yang berada disitu heran, menatap kami dengan tatapan sungguh-bodoh-anak-anak-ini. Seperti Pak Sudarso, mereka awalnya melarang kami, setelah salah seorang panitia bilang, tanah tempat kami mendirikan tenda tidak terlalu becek, akhirnya kami sukses tidur di tenda malam itu.

Di tenda, kami melebarkan terpal berwarna biru. Kami menaroh tas kami semua di bagian tengah agar kepala kami terhindar dari basah jika hujan masih masuk. Berhubung tempat kami berkemah ini adalah lapangan udara, hal yang kita dengar malam ini hanyalah suara pesawat lepas landas dan landing.

Malam itu hawa dingin menembus tenda, kaos, dan jaket. Untungnya perempuan tidak tidur di dalam tenda, celetuk salah satu teman gue. Awal ide kami tidur di tenda, mereka memilih untuk ikut, tapi Pak Sudarso melarang keras. Jadi, kebegoan hanya milik kami lelaki.

Malam yang dingin itu, teman gue Bagus nyeletuk,"Yang pakai sarung atau selimut kita angkat keluar." Beberapa yang tidak setuju, gue cuma diam. Karena minder, kami semua mengiyakan dengan keadaan terpaksa. Selimut yang gue bawa tidak ada gunanya. Dingin menusuk dari lengan kanan dan kiri, gue mencoba balik, sekarang dingin menusuk dari depan dan belakang.

Embun pagi tidak terlalu tebal. Beberapa dari kami terbangun, termasuk gue. Gue bangun karena mendengar suara pesawat lepas landas, dan suara ribut mereka. Gue mengumpulkan nyawa, lalu keluar dari tenda. Hawanya masih dingin, tapi segar. Gue ingat pas gue LDKS masuk SMA. Dingin pagi yang menusuk, tapi segar seperti ini. Gue ingat, setiap kali bangun, yang pertama akan gue injak adalah terpal lalu rumput yang basah. Setelah dua tahun, gue kembali merasakan ini. Bedanya, dulu gue mau masuk SMA, sekarang gue udah mau lulus.

Gue kembali masuk ke tenda untuk mengambil sikat gigi dan peralatan mandi lainnya. Bersama dua orang teman, kami pergi mencari tempat mandi. Awalnya kami pergi ke gedung, tempat yang lain tidur. Sampai disana, mereka sudah tiada. Mobil Pak Sudarso juga. Jadi, kami memutuskan untuk berjalan kosong, mencari sumber air. Gue kembali ingat rumah. Dirumah, mandi tidak pernah sesusah ini.

Di dekat Mesjid, ada sebuah pos. Kami berjalan kesitu karena melihat mobil Pak Sudarso. Semua perempuan sudah segar sehabis mandi, kami datang dengan bau belum mandi. Kami ikut nimbrung sama mereka, lalu mempersilahkan Pak Sudarso masuk duluan.

Waktu mandi kami lumayan cepat. Setelah Pak Sudarso selesai, mereka semua kembali ke gedung. Kami bertiga masih menunggu giliran. Gue dapat giliran terakhir.

Yang gue pegeng itu, handuk.
 Setelah mandi, kami berjalan kembali ke gedung dan tenda untuk sarapan yang kita ngga tahu ada atau tidak. Di perjalanan, kami melihat sekitar dengan seksama sambil mencoba membuat hipotesis atas apa yang kami lihat.

"Itu gedung yang pake garis polisi pasti pernah jadi tempat pembunuhan." kata teman gue, Ical.

"Tau darimana?" tanya Tahul sambil memperhatikan.

"Soalnya di film-film kayak gitu." jelasnya.

Setelah hipotesis-hipotesis kami yang tidak ada gunanya itu, kami tidak sadar, kami telah sampai. Kami masuk ke gedung, melihat yang lain tengah duduk ngobrol santai. Gue mengambil hape di tenda, untuk gue cas. Pas kembali, makanan udah datang.

Yang lain udah mengambil bagian, gue juga. Di sela-sela makan, gue nanya,"Hari ini jadwalnya apa?"

Teman gue yang cewek jawab,"Menjelajah."

Gue tersedak,"Kegiatan itu masih ada?"

Mereka mengangguk.

Awalnya, gue orang yang paling antusias pas mendengar akan ada kegiatan menjelajah. Pikiran gue udah kemana-mana. Pas tau dengan kondisi becek kegiatan ini akan tetap jalan, gue orang yang paling pesimis.

Setelah menghabiskan makan, kami dikumpulkan di tengah lapangan, di kelilingi tenda kami semua. Awalnya, kami diberi instruksi untuk bermain sebuah games. Games perkenalan, cara mainnya gampang. Ada satu bola kasti, lalu membentuk lingkaran sesuai kelompok yang sudah dibagi. Orang yang melempar, harus menyebutkan nama, asal sekolah, dan hobi, lalu melempar ke orang lain dan memberi tahukan nama, asal sekolah, dan hobi.


Saat games hampir selesai, jadwal tidak terduga kembali terjadi. Kami di arahkan masuk ke gerbang tempat lepas landas dan landingnya pesawat. Saat kami masuk, pesawat yang di pamerkan adalah pesawat angkatan udara. Pesawatnya besar dari pesawat-pesawat yang biasanya. Kita di ijinkan untuk melakukan sesi foto, dan melihat-lihat bagian luar pesawat.


Setelah semua itu, kami ke tengah lapangan kembali, di beri arahan sebelum masuk ke dalam hutan antah berantah. Yang gue ingat, kami di beri satu panitia pendamping dalam kelompok yang teracak. Lalu di beri peta, dan menggunakan Google Maps lewat hape sendiri. Panitia pendamping hanya bisa berbicara jika nyawa terancam. Oke, ini sudah tidak benar, pikir gue.

Tugas kami menemukan titik-titik tertentu, yang kita tahu itu adalah bunker dan sisa-sisa peninggalan lainnya. Saat penjelasan sudah selesai, kami berdiskusi dengan kelompok kami sejenak, perjelanan kita mulai.

Satu kelompok terdiri atas 8 orang dari sekolah yang berbeda. Tujuh orang cowok, satu cewek, dan satu orang pembina yang juga cewek. Semua kelompok berpencar, seakan tidak mau kalah. Kami mengambil jalur sebelah kanan. Beberapa teman yang lain ada yang bertugas memegang peta, ada yang bertugas melihat Google Maps, ada juga yang ngikut kayak gue. Di semua kelompok, kami adalah orang pertama yang mengambil jalur kanan. Kebanyakan kelompok mengambil jalur kiri. Jadi, jika setelah mereka telah kembali, dan kami belum, itu kesalahan si pembaca peta.

Di perjalanan, gue ngga bawa apa-apa. Mau itu hape, atau kamera. Gue cuma bawa air mineral gelas yang gue kantongi, id card yang gue kalungi, dan nyali yang sudah ciut dari tadi.

Mereka yang tugasnya membaca peta, berjalan paling depan, dengan muka serius melihat arah yang mungkin saja benar untuk kita lalui. Rintangan pertama  yang kita lewati adalah pagar, yang di kelilingi besi. Untuk para siswa yang sering bolos mungkin ini bukan masalah. Untungnya, kerja sama tim kami solid, jadi rintangan pertama terlewati tanpa beban yang berarti.

Diantara yang lain gue barisan paling belakang bersama satu cewek bernama Marni kalo ngga salah, dan yang paling gokil, Rinto. Dari awal perjalanan, Rinto adalah teman yang paling asik menurut gue. Dia orangnya terbuka, dan suka ngelucu walaupun garing. Kita di bagian belakang cuma cengenges ngga jelas. Kami menaruh nasib kepada pembaca peta.

Marni yang dari tadi membawa kantong kresek berisi air mineral memberikan tugas itu ke gue. Gue yang ngga mau debat, hanya memegang kantong itu tanpa protes. Gue jalan bareng Rinto sambil cerita-cerita. Dia cerita bahwa sekolahnya hanya mengikut sertakan saja siswa pada lomba ini. Mereka juga ngga tau apa-apa, cuma ingin menambah pengalaman, agar tahun berikutnya udah tau apa yang mau dilakuin. Mereka sebenarnya tidak tahu, kalo kita juga ngga tahu apa-apa.

Selain cerita masalah kehidupan, dia juga sering bikin lelucon absurd yang garing. Lelucon dia paling garing adalah,"Aduh, om ku sih, pake taroh bunker di hutan."

Semua menatap Rinto, dan seisi jangkrik di hutan berbunyi.

Setelah melintasi medan yang cukup terjal, kami sampai di titik pertama. Beberapa orang yang tugasnya mengambil foto telah menjalankan tugasnya. Gue yang cuma bertugas untuk ngikut, jadi bisa istirahat. Rinto juga ngikut yang lain, tapi dia mencoba merekam dan menjelaskan seolah-olah sedang nge-vlog. Dan lelucon garing tadi keluar lagi untuk menutup vlog-nya.

Setelah titik pertama, kami lanjut untuk mencari titik yang lain. Kami mendaki medan yang ada. Melihat kelompok lain, lalu bersembunyi seakan kami sedang berperang. Lalu setelah mereka lewat, kami kembali berjalan. Gue dan Rinto masih dalam posisi yang sama. Panitia pendamping yang belum berbicara apa-apa, langsung memberhentikan kami,"Kenapa ngga lewat sini aja?" Oke, kayaknya situasinya sudah berbahaya teman-teman.

Setelah mendengarkan instruksi, titik lain kami temukan. Berbentuk bunker juga, tapi sudah roboh. Untuk yang tidak tahu, bunker itu adalah tempat persembunyian Jepang pada waktu itu. Setelah mencatat dan mengambil gambar, kami di hadapkan menyebrang sungai.

Sungainya tidak dalam, cuma sepaha, namun arusnya cukup untuk membuat kita hanyut. Gue yang sering nonton orang-orang berpetualang tau apa yang musti gue lakukan. Pas mau angkat bicara, gue kegocek oleh teman yang lain,"Kita buat semacam jembatan. Lalu menyebrang satu-satu."

Jadi kita bersusun untuk membuat jembatan, lalu berpegangan tangan untuk bisa sampai ke pinggir sungai. Kita mendahulukan perempuan, lalu yang agak banci dari kita, di lanjut dengan panitia pendamping. Lalu kita satu persatu.


Titik demi titik kita lewati. Semua kita lewati dengan kerja sama. Sepatu yang kami pakai, kotor tidak terdeskripsi. Celana training kami basah. Salah satu dari kami mengeluh, kalian mungkin tahu yang mana,"Ih, kotornya deh."

Lalu panitia pendamping membalas,"Beginilah kerja Arkeolog."

Kami melanjutkan perjalanan, menuju titik terakhir, kembali menyebrang sungai. Jika yang tadi kami hanya menyebrangkan kelompok kami, sekarang beberapa kelompok yang lewat ikut kami sebrangkan. Alih-alih menolong, kami yang cowok mengambil kesempatan untuk modus ke perempuan. Lalu teman gue yang disamping berkata,"Oke, tenang, anggap aja arusnya ngga deras."

Sugesti yang sangat tidak membantu. Mungkin dia yang merasa arus ngga deras, lalu berjalan santai, dan malah di bawah oleh arus yang tidak deras itu. Kawan, kau baru saja hampir mencelakakan nyawa anak orang.

Di perjalanan menuju titik terakhir. Kami melewati alang-alang yang tingginya 1-2 depa. Gue dan Rinto yang berjalan di belakang, masih bercerita untuk menghilangkan pusing karena panas yang sangat tidak jelas ini. Rinto lalu berseru,"Pegang ini." dia memberi gue map-nya. Dia mengambil dua sisi alang-alang, dari sisi kiri dan kanan, lalu mengikatnya.

"Kalo mereka lewat sini, pasti takendo-kendo." dia berseru.

"Maksudnya?" tanya gue.

"Iya, pasti sampai tenda pincang." jelas Rinto.

Gue nyengir. Lalu berseru,"Kita buat banyak yuk."

Rinto tersenyum.

Di perjalan menuju titik terakhir kami, jebakan demi jebakan kami pasang. Sifat liar berpetualang gue naik saat bertemu Rinto. Gue jadi bisa menyatu dengan alam. Gue mulai bisa menerima badan yang kotor ini. Gue mulai terima medan yang terjal. Intinya, gue sudah mulai bisa beradaptasi.

Saat sudah menyelesaikan titik terakhir, kami pulang lewat tempat kami pergi. Jika tadi kami loncat, sekarang, kami bertiarap. Rupa kami betul-betul kotor setelah sampai di tenda. Kami kira, kelompok kami adalah orang yang pertama sampai. Setelah melihat satu kelompok lain, kami tahu bahwa kami orang kedua yang sampai. Kami lalu gabung bareng mereka, berbagi kisah saat perjalanan tadi.

Saat masih asyik berbagi cerita, seorang ibu-ibu datang,"Yang pingsan tadi yang mana?" kami cengo semua. Situasinya awkward, ibu itu bertanya ke panitia, lalu di jawab dengan muka tidak tahu apa-apa.

Kelompok yang lain satu persatu tiba, gue dan yang lain membersihkan sepatu lalu menjemur. Selesai dari menjemur sepatu, gue ke tenda mengambil baju dan handuk. Bisa beradaptasi dengan kotor ternyata tidak bertahan lama, badan gue mulai gatal-gatal.

Tempat mandi yang tadi pagi kita datangi sudah tidak bisa jadi alternatif mengingat lokasinya yang cukup jauh dan badan gue yang udah gatal-gatal. Gue mengambil jalan sederhana dengan mandi di gedung, tempat tidur yang lain. Kekurangan mandi di sini adalah kita harus ngantri, dan antri di sini itu sama dengan pedekate. Sedikit lengah, antrian diambil orang.

Gue mempersilahkan yang cewek untuk masuk, dan menerobos yang cowok untuk masuk. Badan gue rasanya sudah jadi markas kutu. Gatalnya minta ampun, apalagi bau badan yang mulai menyeruak. Bukan cuma badan gue, badan seluruh orang sudah tercium, jadi satu, jadi sebuah cita rasa baru. Kami semua tahu diri, dan tidak saling tuduh menuduh.

Sehabis mandi, para lelaki ke tenda, lalu di ikuti oleh yang cewek dan Pak Sudarso. Di tenda, kami ngobrol sebelum panitia memanggil untuk menerima materi. Setelah waktu berganti sore, dari toa panitia terdengar panggilan untuk pergi ke ruangan, tempat untuk menerima materi. Jika hari-hari pertama kita dapat bangku paling depan, bangku yang empuk. Hari-hari pertengahan, kami udah malas, lebih tepatnya capek. Kami duduk pojok kiri belakang. Tidak fokus mendengarkan materi lagi, kami melanjutkan obrolan.

Habisnya materi, tidak membuat kami, kelompok pembuat poster bisa beristirahat. Berhubung jadwal yang kacau karena kondisi cuaca, materi untuk pembuat poster di lanjutkan pada saat materi umum selesai. Kami di berikan materi hampir sekitar setengah jam lebih. Gue yang tidak mau terlihat tidak antusias, menjawab apa yang gue tahu. Gue menjawab beberapa pertanyaan, dan mengajukan pertanyaan yang gue tidak mengerti. Tingkat pede gue naik saat orang tinggal sedikit.

Setelah materi selesai, kami kembali. Karena ini malam terakhir, tepatnya malam Minggu waktu itu. Seluruh rombongan tidur di tenda, termasuk Pak Sudarso. Tenda jadi makin ramai malam itu. Saat Pak Sudarso keluar setelah makan, kami lanjut bermain jujur berani. Gue yang awal-awal main langsung kena, memilih jujur. Gue menjawab pertanyaan sensitif yang sangat pribadi kepada peserta yang bermain.

Permainan jujur berani berakhir saat gue dan beberapa teman yang lain ikut main bareng di luar bersama para panitia. Malam terakhir ini adalah malam paling seru. Awalnya sempat garing, saat kelompok laki-laki dan perempuan di pisahkan. Kami berkenalan sesama lelaki. Dan malam itu tawa pecah ketika satu orang di nobatkan jadi peserta paling hitz. Booth Instagram di ambil untuk di pegang, lalu beberapa peserta foto bareng sama dia. Malam Minggu yang sangat beda bagi gue.

Selanjutnya, kelompok di bagi menjadi kelompok saat kami bertualang. Kami bermain games baru. Games jejak zaman. Menyusun dari jaman tertua sampai jaman termuda, lalu mencocokkan material apa yang sudah ada pada jaman itu. Setelah games itu, permainan terakhir adalah, gue ngga tahu nama games-nya. Jadi intinya, kita bermain berkelompok, dengan satu kayu, kami menopang dengan dua telunjuk kami masing-masing untuk kita taruh di bawah.

Meski terdengar mudah, games ini rupanya sangat sulit. Butuh kerja sama tim yang baik. Jika bagian kiri turun, yang kanan juga harus turun untuk menyesuaikan. Satu hal yang kami pelajari dari games ini untuk bekerja sama adalah salah satu cara menang paling bahagia. Ketika tongkat itu jatuh, kami tidak merasa gagal, tapi mengulang dari awal. Sampai kami bisa, dan sewaktu kami bisa, tongkat yang kami topang telah sampai di tanah, kami senang, lompat, dan bahagia. Semua pecah malam itu.

Setelah semua sudah merasakan games, kami di pulangkan ke tenda atau tempat masing-masing untuk tidur. Sekolah-sekolah lain memilih untuk tidur di gedung, kita masih nekat untuk tidur di tenda. Tidak terlalu lama waktu untuk tidur malam itu karena kami semua dalam keadaan capek. Seperti malam kemarin, tantangan tidak memakai selimut dan sarung masih berlaku untuk lelaki. Bersenang lah untuk kalian yang perempuan.

Pagi itu di awali dengan menguap dan mengumpulkan nyawa. Seperti kemarin, kami berjalan ke pos untuk mandi. Kami pergi bertiga, bersama teman yang lain, Aim. Mandi bertiga sangat singkat daripada kemarin, beberapa menit kami sudah bisa kembali ke tenda. Sayangnya, di perjalanan, gue melupakan gelang. Gue kembali ke pos, melihat ada sekolah lain yang telah masuk, lalu bertanya,"Ada lihat gelang?"

"Dimana?" tanya salah satu dari mereka.

"Di dalam." seru gue.

"Oh, tunggu yah." katanya,"Sulton, kamu lihat gelangkah di dalam?"

"Tunggu." kata Sulton, salah satu teman kelompok gue,"Oh cuma kalung." lanjutnya.

"Coba keluarin." kata temannya.

Sulton membuka pintu sedikit, lalu mengeluarkan tangan yang memegang kalung hitam. Gue mengambil, lalu bilang bahwa ini bukan gelang gue. Sembari pulang, gue pamit ke mereka semua. Gue salut, walaupun mereka sekolah di bagian desa, mereka tidak menganggap orang yang sekolah di kota itu semacam, apa yah.. sombong mungkin. Gue menjadi respect sama mereka.

Di jalan, gue melihat, tempat yang gue perkirakan tempat gelang itu jatuh. Gelang itu bukan gelang mahal, tapi dari warna dan bentuk, gue suka. Tiap hari gue selalu memakai gelang itu bersama jam. Gue melihat sambil menunduk, karena warna aspal yang hampir mirip dengan gelang. Setelah memiringkan kepala, gue melihat gelang itu, lalu kembali berjalan pulang.

Pagi itu adalah hari dan makan terakhir kami untuk kegiatan ini. Tadi malam gue sempat ngomong, kalau gue yakin, tiga piala pasti kita bawa pulang. Sembari makan, kami mengisi tugas terakhir, yaitu teka-teki silang dan mengisi kesan dan pesan. Habis makanan, TTS belum juga penuh terisi dan kami telah di panggil untuk menghadiri pengumuman pemenang.

Kami kembali dapat bangku bagian belakang pojok kiri, tapi kali ini, kita agak tengah. Gue duduk sambil deg-degan, lalu teman-teman yang lain bilang bahwa mereka juga. Karena lembar hasil penjurian belum datang, kami di beri waktu untuk menghibur diri. Beberapa dari perwalian sekolah maju untuk menyanyi. Gue saat itu mau nyanyi, tapi gue ingat ini masih pagi, tidak mau mengacaukan mood semua orang.

Setelah sesi nyanyi, datanglah lembar hasil penjurian. Sebelum pengumuman di baca, kita di pertontonkan sebuah dokumentasi kegiatan yang kami ikuti dari hari pertama. Semua menonton dengan serius, mencari dimana muke-muke mereka muncul. Untuk lelaki yang muncul, mereka cuma tertawa lalu menepuk teman cowoknya. Tapi yang cewek, histeris kayak kerasukan. Foto gue cuma dikit, karena gue di kegiatan ini tidak begitu mencolok.

Dan waktu yang di tunggu tiba, setelah video habis dan suara tepuk tangan bergema di seluru penjuru ruang. Ketua panitia acar maju, memegang beberapa lembar hasil penjurian. Lalu membaca.

"Juara ini bukan ukuran bahwa yang tidak menang tidak bagus." katanya, sembari melanjutkan kalimat berikutnya.

"Saya mulai dari cerpen." panitia itu membacakan hasil komentar para juru tentang cerpen itu, lalu sedikit jeda sebelum mengumumkan pemenang biar agak drama.

"ADALAH.. SMA NEGERI 9 KENDARI."

Kami semua bersorak, sekolah kami menjadi awal dari sekolah yang di ucapkan, meski cuma juara dua. Sekolah-sekolah dari kota mendapatkan juara satu dan dua yaitu, juara satu dari Sma Negeri 1 Kendari, dan juara dua dari Sma Negeri 4 Kendari.

Selanjutnya, pembacaan juara untuk poster. Gue deg-degan luar biasa. Kali ini, juara di mulai dari juara tiga. Dan kali ini, penilaian berdasarkan poin. Seperti di awal, panitia kembali membacakan, lalu memberi jeda.

"..SMA NEGERI 9 KENDARI"

Gue bersorak. Meski tahu itu bukan poster itu. Gue sangat kecewa, meski sekolah gue menang. Gue yang awalnya ngga yakin, poster kelompok teman gue untuk menang, malah menggeser poster gue. Mereka mendapatkan juara. Gue memberi ucapan selamat kepada mereka. Seperti cerpen, juara poster di ungguli dari SMA bagian kota. Juara satu dari Sma Negeri 4 Kendari, dan juara dua dari Sma Negeri 1 Kendari.

Pengumuman terakhir adalah pengumuman juara lomba promosi situs sejarah. Teman kami, Tahul, bilang,"Kita tidak dapat juara ini. Dari SMA sini banyak yang datang." Gue dan yang lain menyemengati.

Seperti yang gue duga, kemenangan kembali berpihak kepada kami. Promosi situs mendapatkan juara dua, dan juara satu dari SMA Konawe Selatan yang gue lupa, juara dua dari Sma Negeri 1 Kendari. Demikian dari pembagian juara, kami semua di persilahkan untuk berfoto.
Kelompok Anak Arkelog.


Setelah sesi foto yang sama halnya dengan sesi foto yang lain, kami pergi ke tenda untuk merapikan barang. Kami mengemas tenda dan barang pribadi masing-masing. Saat tenda di buka, barang-barang kecil seperti celana dalam dan kaos kaki tercecer, dan anehnya, itu semua punya gue. Ini beberapa foto kelakuan primitif kami disana.




Saat tenda sudah tersusun, kami mengemas barang masing-masing, lalu meletakkan di mobil angkot yang sudah kita rental. Pulang, gue dapat giliran jaga di mobil angkot. Gue bertiga dengan Ical dan Lala. Di perjalanan, kedua orang itu tertidur, sementara gue yang dari kemarin mencari sinyal akhirnya lega karena sudah mendapat sinyal yang bagus. Instagram sudah bisa terbuka, hari-hari jadi lebih berwarna.

Pulang setelah meletakkan piala dan tenda di sekolah, kami beristirahat sambil ngobrol singkat.

Salah satu dari teman bilang,"Rahul benar, kita dapat tiga piala."

Gue nyeletuk dengan lemas,"Yah, meski bukan posterku."

"Tenang, pas pengumuman upacara, kita harus naik bareng." kata Ical.

Semua mengiyakan.

Tiga hari menjadi seorang Arkeolog. Gue merasa puas, capek, dan ada perasaan-perasaan yang tidak bisa di ucapkan. Di Sekolah Lapangan Arkeolog ini, gue dapat banyak teman, wawasan, dan pengalaman. Gue baru kembali merasakan berkemah sejak pertama masuk SMA, dua tahun yang lalu. Gue jadi akrab dengan teman satu sekolah, yang awalnya gue ngga kenal. Gue dan Bagus adalah minoritas anak IPS yang ikut dalam kegiatan ini, gue senang, ternyata anak IPA ngga kalah seru sama anak IPS.

Gue ngga tahu bagaimana cara menutup cerita ini, gue cuma mau bilang, terima kasih untuk tiga hari itu.

25 comments:

  1. Uh jadi inget banget masa-masa sekolah.
    masa dimana gue lagi suka-sukanya ikut kemping.
    dulu awalnya aku orang yang paling minder kalo ikut perkemahana bareng temen-temen sekolah gitu, apa lagi gabung sama sekolah luar.
    etapi lama-lama aku justru ketagihan karna kegiatan semacam itu ternyata memberikanya banyak banget pelajaran berharga,.

    emang bener apa kata pepatah, experience is the bestteacher :v
    COngrats ya bro sekolahnya menang dua juara sekaligus walaupun bukan lu yang menanging :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang campur sedih. Tapi, gpp,.lain kali mungkim~

      Delete
    2. Jangan lain kali.
      nanti keburu Lulus wkwk

      Delete
  2. Panjang banget tulisannya ... pasti capek ... mau web rahulsyarif.com? cuma 115 rb. dapatkan di sini https://goo.gl/TKVQLw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga juga sih bang. Emang lagi usahain nulis panjang2 di blof~

      Delete
  3. asyik mas .... oh ya kalau mau meneliti benda purbakala dateng aja mas ke Bondowoso ... kota kita ada sekitar 1000 warisan megalith

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih asik tuh, sayangnya kejauhan. Bisa jadi pilihan lah~

      Delete
  4. seru banget ya kalo masih muda itu, bisa jalan2 bebas, hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga bebas sih, cuma dapet banyak sesuatu yg baru~

      Delete
  5. Aduh Rahul, bikin gue jadi kangen masa masa sekolah begitu ya. Temannya banyak, beban hidup masih seputar sekolah dan seru seruan bareng teman teman. Gue juga pernah berkemah macam itu dan eang seru bangett bisa selalu bareng sama sama teman dari pagi sampai pagi lagi. Gue juga suka keoptimisan lu tentang poster itu sampai akhirnya bisa dapat Juara. Anam Muda emang harusnya begini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya, bukan posterku yang juara.. :(

      Delete
    2. nggak papa yang penting besok coba lagi :D

      Delete
  6. jadi ingat dulu abis lulus sma pengennya ambil arkeologi. Tapi ditolak mentah2 sama bapak. Akhirnya ke komunikasi deh..

    ReplyDelete
  7. Hal pertama yg ingin sy tanyakan adalah.. pantat ternyata terbagi jadi empat ya? Kirain dua :D. Ceritamu puanjaang bgt... Pas baca ulang judul, sy baru paham,... "Oohhh 3 hari" pantesan hahaha. Tapi bahasa Rahul yg lucu bikin yg nyimak cerita selamat dri kebosanan.
    Kebayang ya tidur di tenda ga pake selimut atau sarung, salut pada g masuk angin. Atau dikuat2in jangan2 biar ga dibilang "agak banci". Selamat ya atas kemenangan sekolahmu. Tak apa postermu blm juara, yg penting sdh maksimal bikinnya. Itu pun sdh terkategori juara kok. Kendari jauh amat ya dari Bandung. Jadi ingat juga dengan Wakatobi... Pengen ke sana.. hahaha. Mudah2an suatu saat bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara umum ada dua, jika kita telaah baik2, baru kita akan menemukan hal yg menakjubkan.

      Yah sekali2 kesini lah. Bosen tiap denger orang liburan selalu ke Bali~

      Delete
  8. Wuaaa... Akhirnya saya bisa nyelesaiin baca ceritamu juga.. Ini saya bacanya 2 hari loh ya..
    Waktu kegiatan kalian di bolehin pegang hp ngak? Ceritamu ini lebiih seru kalau ditambahin lagi gambar seperti gambar bunker, atau gambar hutan tempat kalian menjelajah..
    Tapi sejauh saya membaca, cerita ini seru.. Selamat buat 3 pialanya.. Rata2 juara 3 kan ya? Yah, walaupun bukan poster kamu.. Setidaknya kalian sudah membawa nama sekolah dan membuat sekolah bangga dengan prestasi kalian.. Salut saya..

    ReplyDelete
  9. Berharap banget sekolah gue juga adain kegiatan kayak gini. Dilepas ke hutan, modal air mineral sama peta. Kayaknya bakalan seru, apalagi kalau cuaca mendukung mantap lah.

    Sekolah emang seharusnya adain kegiatan kayak gini, serunya tuh bisa dapet temen baru. Selain itu juga jiwa pertemanan makin tambah solid.

    Gpp lah nggak menang lomba poster, yang penting punya pengalaman ngobrol sama si rinto yang lebih mahal harganya wkwk.

    ReplyDelete
  10. Waduh, 10 orang dalam satu mobil... ga kebayang dh sempitnya, wkwk
    aneh ni, trnyata banyak yang ga tau Tomb Raider pdhl itu film nya kan termasuk legend ampe dibikin game segala, hehe ternyata selera mu beda ama anak2 lain yah hul :D

    Wah, asik nih jd dpt pengalaman baru selama 3 hari di skolah lapangan arkeolog, semoga pengalaman nya menjadi manfaat di kemudian hari.. amiin

    ReplyDelete
  11. 3 Hari yang panjang, ya Hul. Sampe dirimu sendiri bingung, buat cerita ini jadi praktis... Panjang bener, uy.... Gak biasanya banget. :D

    Soalnya, bisa dirimu post paling 500-900 kata. Kalo yg ini panjang banget. Yang jelas gue gak bosen. NGalir aja dan menikmati setiap petualangan lu di kegiatan ini.

    Sama kek yg lain, aku jdi inget masa sekolah dulu. Kalo aku dulu, sukanya buat perkemahan sendiri.

    Btw, selamat atas 2 juara yang diperoleh dari sekolahmu... Semoga kedepan bisa lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  12. Tumben banget panjang, Hul. Eh, wajar deng cerita tiga hari. Haha. :))
    Nggak apa-apa bukan poster bikinanmu, yang penting sekolahnya tetap menang~ :D

    Btw, yang ditanya si Ibu tentang ada yang pingsan itu, sebetulnya ada yang pingsan kagak, sih? Bingung gue.

    ReplyDelete
  13. Tiga hari yang panjang ya, gue ga kebayang dah pantat bisa dibagi 1/4 hahaha. Btw, gue jadi inget masa-masa sekolah dulu, masa-masa ikut kemping sekolah yang momennya bakal ngangenin kalo udah lulus nanti hahaha.

    Congrats buat sekolahnya yg udah dapet juara ya, walopun lomba posternya ga menang, mungkin lain kali. You gotta fall before you fly *tsahh

    ReplyDelete
  14. wah pengalaman yang seru dan hebring ya

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..