Sep 16, 2017

13th For My School, I'm Part of It

Jangan tanya kenapa judulnya bahasa Inggris, gue cuma sok-sokan. Setelah melihat pos-pos terdahulu, judul pos gitu-gitu aja. Kali ini, buat sesuatu yang beda, judulnya di bahasa Ingris-in. Biar kelihatan naik kelas. Daripada diberi judul 5 Acara Ulang Tahun Sekolah Paling Meriah! Nomor 7 Bikin Orang Melongo!

Jika, kalian perhatikan, beberapa postingan gue belakangan. Gue memakai judul yang bisa terbilang klik beit. Juga cara promosi di beberapa sosial media yang gue punya. Gue bukan mau mengemis views. Gue cuma mau mengobservasi. Dan setelah beberapa kali mengamati, ternyata, postingan dengan judul seperti itu ngga terlalu guna. Setidaknya buat gue. Postingan dengan kualitas yang baik lebih cepat mendapatkan views dan tanggapan para kawan. Jadi, gue akan kembali dengan judul pos yang seadanya, tanpa embel Nomor-Sekian-Meng-- ah, bodo amat.

Kali ini gue mau cerita tentang acara beberapa hari yang lalu. Tepatnya tanggal 9 September 2017, sekolah gue genap usia 13 tahun. Yah, sekolah gue memang semuda itu. Dalam usia segitu, masih bisa dikatakan labil. Tapi jangan salah, sekolah gue negeri, dan gue bangga itu. Gue lulus seleksi disitu, gue belajar hampir 3 tahun disitu, dan merangkul teman disitu. Walaupun jujur, hampir 50 % murid angkatan gue, lulusan dari SMP gue juga. Muke-muke mereka udah bosan liat tiap hari.

Sebelum acara di mulai, anggota Osis sibuk menyiapkan segalanya. Walaupun Loop telah bergabung dalam acara, tapi rangkaian acara tetap harus kompleks. Maskot-maskot di pilih. Dari kelas gue, ada dua pasang. Dua laki-laki, dua perempuan. Temanya Mickey Mouse. Dengan dandanan kemeja putih dan celana pendek hitam serta topi sebagai alat penutup bekas toka. Para lelaki maskot lebih mirip penjual petasan.

Seperti yang sering gue katakan, gue udah eneg jadi fotografer atau semacamnya. Karena orang-orang udah tahu, mereka jadi minta bantuan, yang lebih mirip siksaan kepada gue. Siang itu gue senang, gue di panggil sama ketua Osis, teman gue juga,"Rahul, kamu jadi dokumentasi pas ulang tahun, bisa?"

Karena ini acaranya universal, ulang tahun sekolah, gue langsung mengiyakan. Beberapa hari setelah itu, menjelang acaranya, beberapa anak Osis datang ke kelas menanyakan kabar yang akan menjadi maskot. Yang menjadi maskot menulis nama mereka masing-masing, dengan tema yang dibawakan. Tema-tema dari kelas-kelas lain cadas-cadas, seperti "Koboi", "Dilan Milea", "Harry Potter", kami datang dengan sok imut: Mickey Mouse.

Osis itu memberitahu agar para maskot berkumpul di ruangan yang disebutkan untuk mengikuti rapat. Selang beberapa saat, beberapa anak Osis yang berbeda datang, mencari nama gue. Gue berjalan pelan ke arah mereka sambil mengingat,"Perasaan gue ngga pernah minta jadi maskot."

Lalu salah satu dari mereka, bertanya,"Kak, Rahul?"

Gue jawab iya.

"Jadi panitia dokumentasi?"

Gue jawab iya, lagi.

"Berkumpul sebentar kak untuk rapat."

Ngga ada yang bisa gue jawab selain, iya.

Setelah rapat yang sama sekali tidak melibatkan gue, sebagai panitia dokumentasi. Gue pulang bersama yang lain, anak maskot yang juga rapat. Keadaan masih ramai karena beberapa orang belum pulang, mungkin menunggu teman mereka yang juga mengikuti rapat.

Sebelum Hari H tiba pun kami sempat deg-degan karena baju yang kami pesan belum jadi. Sampai pada saat H-1, akhirnya pakaian sudah bisa kami pegang masing-masing. Baju berwarna pink, yang sangat tidak matching dengan kami para lelaki macho. Baju sudah siap, maskot sudah siap, kelas sudah kami cat dan bersihkan. Kami sudah siap. Siap sesiap-siapnya.

~*~

Hari H pun tiba, gue bangun 6:30 pagi. Mandi lima menit, pakaian lima menit, makan lima menit. Gue ngga ngitung juga, cuma biar terlihat keren, gue genapin lima menit. Batrei hape sudah penuh, batrei kamera juga udah. Gue taroh semua keperluan dalam tas. Gue ambil jaket, pake sepatu, pake jam tangan sebelah kiri, gue siap untuk berangkat. 

Sekolah gue cukup dekat dari rumah, cuma beberapa puluh meter. Tapi karena acara awal jalan santai, gue harus naik angkot dulu ke tempat start jalan santainya. Pas pengumuman jam enam sudah harus ada di tempat, gue berangkat jam 5:52. Itu gue perkirakan sampai sekitar lima menit juga, tiga menit gue siapkan kalo misal angkotnya ngetem.

Sampai di tempat tujuan over 3 menit, ngga apa-apa. Di angkot, gue bersama anak yang lain, naik dari sekolah. Salah satu teman gue, kami saling sapa. Sampai kami turun dari angkot, kami berpisah mencari kelas kami masing-masing. Gue belum mengeluarkan kamera, karena gue tahu, diperjalanan, bukan kamera gue yang akan gue pakai.

Pas turun, gue buru-buru nyari kelompok kelas gue. Ngga susah untuk nyari. Gue cuma tinggal liat orang-orang yang mirip penjual petasan. Gue liat salah satu tangan melambai, memanggil nama gue. Gue gabung barang mereka. Beberapa ada yang sudah eksis foto-foto. Para maskot bersiap diri, dengan satu aksesoris yang sedikit membedakan mereka dari penjual petasan, yaitu, dasi kupu-kupu. Kini mereka terlihat seperti penjual petasan di kawasan anak orang kaya.

Dari situ, gue mulai cari-cari Bagus. Sebenarnya, dia juga ikut jadi panitia dokumentasi. Tapi karena ia tampil Marching Band, kameranya ia kasih ke gue. Gue akan mengambil gambar pake kamera Bagus dengan lensa cembung. Selain pake lensa cembung, gue juga pake stabilizer. Berasa jadi anak Vlogger beneran.



Saat matahari mulai naik, orang-orang sudah makin ramai. Marching Band mulai berjalan mengiringi barisan depan jalan santai ini. Gue berjalan paling depan, mengambil rekaman sebisa gue. Gue menunggu barisan belakang, maju ke depan. Terus ke belakang, lagi, kedepan lagi. Begitu terus. Sesekali gue ngga ngerekam. Cuma duduk istrihat. Sampai sadar, gue sudah ketinggalan jauh.

Gue kembali ke depan, rekaman gue ambil lagi dari atas pendakian POM Bensin. Karena pendakiannya cukup tinggi, gambar yang terlihat cukup jelas dan bagus. Gue kembali istirahat, sebelum akhirnya berjalan lagi.

Perjalanan ke sekolah masih agak jauh, tapi dari tadi gue belum minum, belum juga naik motor seperti yang dijanjikan. Sampai tiba saatnya, motorpun tiba. Gue naik di belakang, mulai merekam dari depan ke belakang. Lalu kembali dari belakang ke depan. Beberapa yang terekam terlihat memasang gaya sok cool. Ada juga yang gamblang mendatangi kamera dan say hai. Gue sama sekali senang dengan pekerjaan ini. Melihat wajah-wajah dari orang-orang. Merekam senyum-sedih mereka.

Saat perjalanan sudah semakin dekat, si pembawa motor, Lalu,"Sa antar ko sampai ke sekolah?" Artinya kurang lebih, dia menanyakan gue, apakah gue mau diantar ke sekolah. Gue mengiyakan, karena udah capek, dan barisan udah hampir sampai. Gue dianter sampai sekolah, lalu dia balik lagi dengan alasan apa. Gue menunggu orang-orang, sambil melihat-lihat orang Loop mengatur panggung dan lain-lain.

Penjual dari sekolah berjualan di luar, menanyai gue."Ini barisannya lewat sini kan?" Gue cuma panitia dokumentasi, ngga lebih. Gue yang ngga tau apa-apa, cuma jawab dengan jawaban paling aman,"Kayaknya lewat sini." kata gue, meyakinkan.

Sampai pada barisan datang, gerbang pertama di lewati. Ternyata, barisan melewati gerbang kedua. Gue melihat ada rasa kesal dari penjual itu. Gue buru-buru lari, selain karena takut, juga gue harus ambil rekaman. Gue kedalam lebih dulu, mengambil rekaman anak marching sedang masuk. Awalnya, mereka mau tampil, tapi di hentikan. Menunggu Loop membuka acara terlebih dahulu.

Tugas gue udah selesai sampai disini. Gue kasih kamera ke Bagus, gue ambil kamera gue sendiri, gue pergi ke barisan kelas gue. Awalnya Loop menyapa semua kelas. Dari kelas satu, sampai tiga. Teriakan kami cukup keras dan sumbang. Di saat yang lain punya yel-yel untuk di mainkan. Kami hanya mengikuti yang lain, jika kelas kami di panggil, kami hanya perlu berteriak histeris mengangkat tangan. Seperti penonton alay bayaran di acara musik.

Gue membawa hape Mama, untuk gue pake merekam. Saat tari di mulai, gue mulai merekam lewat hape Mama yang gue bawa lari saat dia cas. Kameranya lumayan bagus, jadi itu adalah alasan bagus untuk membawa lari.

Yang tidak gue antisipasi adalah kapasitas memori. Memori hape Mama gue, ukurannya cukup kecil untuk ukuran video. Jadi, gue cuma dapat beberapa shot, yang itupun gue hapus karena gue pikir bisa minta file rekaman di Bagus. Gue cuma menggandeng kamera, karena udah mulai capek, gue jadi males foto-foto. Gue cuma foto, pas ada momen yang bagus aja. Momen paling seru menurut gue datang pas penerbangan balon dan pemotongan tumpeng.

Disaat orang lain merayakan acara, gue istirahat di gazebo atas. Gue baring-baring, sesekali mengumpat karena hawanya yang panas. 

Dari gazebo, gue ke kelas. Di kelas, gue ditawarin es buah. Karena panas dan haus, gue comot aja langsung. Gue lalu berpikir sesuatu, dari tadi gue sibuk merekam, sibum memoto. Gue sendiri belum punya foto. Dengan masih memegang gelas es buah dan menggandeng kamera, gue menarik tangan teman gue. Mengeluarkan hape kamera Mama, lalu menyuruh teman gue untuk motoin.



Setelah beberapa kali jepret, gue pilih salah satu untuk edit dan upload. Setelah mengupload, kejadian tidak terduga terjadi. (Cerita lengkapnya bisa baca di sini: Minggu Tenang yang Langka).

Osis datang ke kelas memberi tahu untuk para maskot bersiap untuk fashion show. Kami bersama turun ke bawah. Dua teman gue yang laki-laki mulai merasakan malu. Dengan penampilan seperti itu, naik ke atas panggung lalu bergaya ala model. Model tukang petasan. Gue cuma bisa ngakak sama teman gue yang ditugaskan oleh salah satu maskot cewek untuk foto. Budak Instagram.

Gue ngga foto, cukup capek dari tadi. Padahal kamera masih gue gandeng dari tadi. Gue cuma liat-liat orang maju satu persatu. Kadang ada yang di ketawain. Kadang ada yang 'waw'in. Kadang ada yang di diamin. Sampai semua selesai, kami sepakat untuk mengambil foto di studio.

Awalnya, kami mau berfoto kelas lengkap bareng Wali Kelas. Tapi karena yang ada tidak terlalu lengkap, dan wali kelas juga tidak ada. Kami memutuskan untuk tetap pergi, berfoto dengan orang yang ada. Rencananya kami mau naik motor ke studio foto, karena motor tidak cukup, kami semua nebeng di angkot yang udah ada yang lain.

Di perjalanan, dialog-dialog singkat mulai terbang. Seperti halnya grup Line atau WA, omongon yang mereka bicarakan sangat vulgar. Meskipun ada dua penumpang asing yang secara tidak sengaja terjebak di dalam angkot yang kami naiki. Beberapa perempuan yang tidak bisa diam, terus berbicara memancing obrolan. Kedua penumpang asing itu cuma bisa cengo, sesekali mengabaikan dengan main hape. Dalam hati mungkin mereka berkata,"Ah tai, tau juga tadi jalan kaki."

Obrolan terus berlanjut sampai kami turun dari angkot, sampai uang kita setor kepada supir angkot. Lalu berjalan ke dalam studio, obrolan terus berlanjut. Kami masu ke studio, lalu menemukan teman kami yang kerja disitu. Kami duduk, ia gabung, menghabiskan waktu menunggu yang lain datang. Sempat tukang foto menanyakan akan menunggu berapa orang, kami menjawab dengan menerka-nerka secara sotoy.

Beberapa orang adik kelas yang mau berfoto juga datang, cuma lebih dulu kami mengantri meskipun mereka sudah lengkap. Mungkin mereka takut dengan muka tua-tua kami semua. Jadi niat untuk foto duluan diurungkan lebih dulu.

Dengan bantuan telpon, mereka akhirnya datang. Beberapa ada yang datang setelah sudah mengatur gaya. Si pemotret mengatur letak barisan. Kami lelaki di belakang, dan beberapa perempuan duduk. Pose-pose diganti. Posenya bermacam-macam, ada yang gaya kaku, ada yang gaya bebas, sampai gayak sok imut bak Cherry Belle versi cosplay om-om.
Gaya kaku.

Gaya bebas.

Udah mirip Cherry Belle?
Sampai sesi foto selesai, kami ke bawah untuk mengantri. Beberapa yang lain masih diatas untuk melihat foto yang akan diambil. Sekitar 15 menit, foto sudah ada. Versi digital untuk di upload dan versi yang sudah di cuci. Yang sudah di cuci harus membayar lebih. Gue bayar buat ambil salah satu foto yang sudah di cuci, hitung-hitung kenangan.

Pulangnya, kami mulai memencar. Beberapa yang naik motor, pulang semestinya. Kami yang tidak memakai helm mengikuti perempuan yang lain naik angkot. Formasinya masih hampir sama, cuma salah dua teman kami sudah pulang barang jemputan.

Di angkot, kami berdialog lagi, tidak seagresif yang pertama pas pergi. Yang perempuan singgah untuk makan di salah satu warung bakso. Kami para lelaki pulang ke rumah masing-masing. Ada beberapa yang singgah ke sekolah lagi karena masih ada urusan. Gue langsung pulang, tepar. Sampai dikamar, badan gue sakit semua, persendian sudah mulai menimbulkan nyeri saat di luruskan.

Gue tidur berharap baikan, dan beberapa hari, gue mulai merasakan sesuatu yang salah. (Lengkapnya baca di sini: Menjerit Karena Seorang Nenek)

12 comments:

  1. Selamat ulang tahun deh untuk sekolahnya. Semoga semakin jaya...

    Oh ya, separuh teman smp ikut skul disitu, 6 tahun barengan. Termasuk kuat bosen juga ya gan. Hahahahaha
    Tapi ngomong-ngomong fotografer nih ye, boleh dong difotoin. Hikshikshiks
    Kayaknya kok perjuangan banget saat ngeshoot objek, sampai naik-naik segala, mondar mandir depan belakang.

    ReplyDelete
  2. HAI RAHUL!

    Ahh, mau jadi apapun di masa masa sekolah itu seru banget lah pokoknya,nantinya lo nggak akan nemuin di mana pun saat sudah beranjak ke dunia kerja. Tapi nggak enaknya jadi seksi dokumentasiadalah nggak akan ada fotolo bareng bareng temen karena lo yang motoin. Sedih khaaan??

    Itu lo untung ada penampakan lo walau cuman sendirian.

    ReplyDelete
  3. Selamat ulang tahun untuk sekolahnya.

    Jadi kangen nih masa - masa aku SMA tentang kisah cinta dan yang lainnya setelah membaca ini, oh iya Kupikir aku bakal nemu foto maskot di postingan ini tapi ternyata tidak ada, haduhhh padahal aku penasaran banget.

    ReplyDelete
  4. Seksi dokumentasi itu kece. Selalu megang kamera, terus dikalungin. Mau jepret atau enggak, ngeliat kamera yang terkalung juga itu adik kelas yang cewek kelepek2 kali yak. Apalagi acaranya sebesar ultah sekolah

    ReplyDelete
  5. Kalau muridnya lulusan dari SMP sendiri malah asik ya, Mas, jadi asik lah, gak canggung..he

    Kece juga pake baju ping gitu ya, Mas?
    Udah kayak anak pramuka aja, apa-apa di waktu tuh, serba 5 menit, jangan-jangan nulis ini juga 5 menit ya?

    Btw, selamat ulang tahun untuk sekolahnya ya..
    Aku sangat suka seksi dokumentasi, selain bisa belajar foto karena belum punya kamera sendiri..he

    Jadi apapun disaat sekolah, pasti seru, aku merasa kembali ke masa putih abu-abu. Seneng rasanya bisa jadi bagian penting di sekolah..

    Oh, jadi ini ya, setelah acara inilah, kenapa menjerit karena seorang nenek..hehe

    ReplyDelete
  6. Hoi rahul sang anak SMA!

    Selamat ulang tahun, btw. Semoga sekolahnya panjang umur dan sehat selalu.

    Ngomongin HUT, kalo dulu di sekolahku mah ngga ada maskot. Yang ada karnaval per kelas, tapi tetep dengan tema. Jadi kalo maskot yg pake kostum cuma perwakilan, kalo karnaval yg pake kostum sesuai tema ya satu kelas. Kita adu tema sama kelas lain, adu kehebohan deh pokoknya. Hahaha. Masa SMA emang selalu menyenangkan buat dikenang, ya.

    ReplyDelete
  7. Ngakak pas baca bagian bawa lari HP mama.
    anak anak laki bandel nya sama rata yaa... wkwkwk...
    .
    btw gw jg dulu sering bgt di suruh jd pj dokumentasi. Kadang suka kesel klo sm yg maniak foto. Ga tau orang udah capek. Eh teteeuupp aja minta foto berulang2.
    Suka juga tuh ama istilah budak instagram 😂

    ReplyDelete
  8. Capek karena kerja keras, bikin hati puas :)

    ReplyDelete
  9. Untuk judul yg klik beit, emang mungkin gak cocok sama blogger macam kita sih. Nyatanya media besar klo bikin judul kek gitu tetep bombastis. Hahaha

    Tetep ya bro. Dapet jatah jadi bagian dokumentasi. Emang gitu klo udha terkenal jadi foto mah. Mantap lah. Hehe

    ReplyDelete
  10. Untuk judul yg klik beit, emang mungkin gak cocok sama blogger macam kita sih. Nyatanya media besar klo bikin judul kek gitu tetep bombastis. Hahaha

    Tetep ya bro. Dapet jatah jadi bagian dokumentasi. Emang gitu klo udha terkenal jadi fotografer handal mah. Mantap lah. Hehe

    ReplyDelete
  11. Rahul nih beneran judul2nya click bait banget ala ala Line Today deh. Wkwkwkwk

    Seru ya kalo jadi dokumentasi mah, enak. Tp paling ribet sendiri. Kalo nggak uptodate, nggak cepet kerjanya ntar diomelin semua panitia.

    Tp bersyukur kalo semua jobdesk udah dikelarin dgn baik. Pasti seneng lah.

    Btw bajunya pink2 gitu lucukkk. 😉

    ReplyDelete
  12. Jadi orang penting dalam acara nih, mantap. Hahaha. Gue seumur-umur belum pernah sesibuk itu dalam acara. Selamat ulang tahun sekolah Rahul.

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..