Gue mau cerita. Jadi, tepatnya Ramadhan tahun lalu, adalah puncak dimana badan gue bengkaknya luar biasa. Jadi, pada postingan ini, gue akan...

Rahul, Si Pemakan dalam Empat Babak Rahul, Si Pemakan dalam Empat Babak

Gue mau cerita. Jadi, tepatnya Ramadhan tahun lalu, adalah puncak dimana badan gue bengkaknya luar biasa. Jadi, pada postingan ini, gue akan menceritakan proses dimana badan gue menjadi gemuk sampai ke yah.. ngga gendut-gendut amat. Jadi,..

Rahul, Si Pemakan dalam Empat Babak

Rahul, Si Pemakan dalam Empat Babak

Gue mau cerita. Jadi, tepatnya Ramadhan tahun lalu, adalah puncak dimana badan gue bengkaknya luar biasa. Jadi, pada postingan ini, gue akan menceritakan proses dimana badan gue menjadi gemuk sampai ke yah.. ngga gendut-gendut amat. Jadi, ada cerita yang bisa mewakili, kenapa orang-orang bisa gemuk.



BABAK I : MAKAN SETENGAH JAM LAGI

Ramadhan tahun lalu saat Lebaran, gue baru pulang dari sholat ied. Gue masuk rumah, salam-salam sama semua. Lalu, setelah makanan telah siap, gue langsung duduk. Semua jenis makanan gue garap. Mulai dari opor sampai daging. Gue punya prinsip, setelah puasa sebulan, gue harus bayar semuanya pas Lebaran. Hari itu, tibalah saatnya gue menjadi orang paling brutal.

Setelah makan, gue duduk tepar. Ngga bisa goyang kemana-mana, gue cuma asik liat-liat pos baru di Instagram tentang hari raya. Belum turun nasi diperut, langsung dapat kabar. Jadi, hari ini adalah waktu untuk berkunjung ke rumah keluarga. Berkunjung di rumah keluarga biasanya kami lakukan beberapa hari saat Lebaran. Entah ada hal apa, hari itu di lakukan seburu-buru ini.

Gue disuruh gantian, tapi gue masih dalam keadaan ngga mau gerak banyak. Gue melihat yang lain sudah ganti pakaian, gue buru-buru ganti takut dimarahin Bapak.

Perjalanan lumayan jauh dan berkunjung ke empat rumah, gue sudah agak lupa. Jadi, yang duluan dikunjungi adalah rumah yang paling jauh, biar pas pulang ngga kembali lagi. Untuk itu, rumah pertama kami berhenti, setelah pukul 1 siang. Kami lalu dipersilahkan masuk. Rumah ini adalah rumah keluarga yang baru tahun ini kami kunjungi, tepatnya gue. Karena rumah ini baru jadi, terlihat dari cat yang belum dipoles.

Kami masuk, ternyata sudah ada sofa ruang tamu, gue kira belum ada. Kami langsung ke dalam rumah, berhubung kami keluarga dan ruang tamu tidak cukup. Keluarga bercerita, Ibu-ibu mendominasi jalannya sebuah cerita, Bapak-bapak bercerita dengan pelan dan ritmis seputar sepak bola, kehidupan, dan keluarga. Gue cuma duduk dipojokan, masih kenyang, tapi sudah agak longgar.

Ngga ada orang yang bisa gue ajak ngobrol. Orang tua sedang cerita, adek-adek gue lagi main. Gue cuma diam, menunggu sesi ke rumah lain.

Si empunya rumah mengeluarkan sup ayam. semua mengambil mangkuk dan piring. Gue masih menghitung-hitung, apakah gue masih bisa makan. Karena belum disuruh, kayaknya gue ngga makan dulu deh, pikir gue. Nyokap dengan mangkuk, mengambilkan sup untuk adek gue.

Gue baru mau berdiri, Nyokap ngeliat gue,"Rahul, makan.."


BABAK II : PERJALANAN JUANG MENAHAN MUNTAH

Kami pamitan, lalu mengambil motor. Kami bergegas ke rumah berikutnya, perjalanannya searah rumah. Empat motor membelah angin sore yang masih membawa hawa Lebaran. Gue duduk sembari nahan perasaan kenyang luar biasa. Kalau gue tahu, mungkin gue ngga akan makan sebanyak itu pas di rumah. Usaha balas dendam tahun ini sungguh menjadi bumerang.


Pemberhentian selanjutnya. Kami mengetok pintu, salam, lalu dipersilahkan masuk. Berbeda kali ini, akhirnya kami cuma makan kue dan minum. Awalnya, gue ngga mau makan apa-apa, tapi gue liat ada kacang mete. Gue berusaha menahan diri, tapi gue kalah dengan nafsu gue sendiri. Tangan bergerak sendiri, membuka tutup toples, mengambil kacang mete, melemparkan ke mulut, dan mulut ini mengunyah dengan penuh penyesalan.

Kami lalu di persilahkan masuk ke dalam, gue mulai curiga. Pas masuk, gue liat ada salad buah senampan di tengah, seolah menyapa gue,"Rahuuul, ayooo, makan akuuu..."

Gue duduk dipojok, melihat orang-orang bercerita, lalu empunya rumah menawarkan untuk mencoba salad buah. Gue ngga maju, cuma liat-liat orang. Gue awalnya bersorak karena Mama ngga nyuruh gue ambil, tapi Tuhan berkehendak lain. Nyokap gue datang, menyodorkan satu piring salad buah.

~^~

Kami kerumah ketiga, rumahnya agak jauh dari rumah kedua. Di motor, gue jadi bisa ngurut-ngurut perut lebih lama. Perasaan mau muntah sudah diujung leher. Sampai ke rumah ketiga, sudah malam, kami masuk setelah dipersilahkan. Gue mengambil posisi menenangkan diri. Semua orang saling sapa, bertukar cerita. 

Rumah ini adalah salah satu rumah keluarga gue yang paling besar, jadi gue cukup yakin, disini kami akan dipersilahkan makan. Gue sebenarnya bisa menolak, tapi untuk keluarga, gue ngga mau mengecewakan. Jadi, gue makan aja sebisa gue, walaupun sisa.

Tepat dugaan gue, disini kami makan coto. Gue rasanya ingin kembali puasa waktu itu. Karena buru-buru ngejar rumah lain, kami akhirnya makan secepatnya, lalu balik pamit. Gue ngga makan waktu itu, ngga diambilin Mama, tapi gue harus habisin sisa adek gue. 

BABAK III : PENGAKUAN KENYANG

Setelah makan cukup banyak, gue akhirnya bilang ke Mama sebelum masuk rumah kalau gue udah ngga sanggup. Gue emang ngga sanggup, tapi dirumah keempat, kami memang cuma makan kue dan minum, tidak ada tambahan. Gue cukup minum, melegakan haus untuk ke rumah berikutnya. Setelah bercerita, kami bergegas ke rumah selanjutnya.
Rumah keempat lumayan jauh, kami harus melewati rumah kami dulu. Jadi, rumah ini memang berlawanan arah. Niatnya kami akan berkunjung besok, tapi keburu tanggung, malam ini kita habiskan. Itulah ulusan antar orang tua yang tidak mungkin gue ganggu gugat.

Di perjalanan, makanan belum turun, gue harap-harap cemas. Semoga di rumah terakhir, ngga makan berat. Malam cukup dingin, kemeja panjang tidak cukup untuk melindungi badan gue. Setelah makan berkali-kali, proses pencernaan sudah bekerja dengan sempurna. Gue mulai merasakan hawa yang tidak enak. 

Di rumah keempat, kami sampai, keluarga yang lain ternyata sudah ada disini. Kami masuk, gue buka sendal lalu melihat orang-orang memegang piring seraya melahap makanan.

BABAK IV : TANGISAN WC

Di rumah, gue buru-buru buka celana, masuk ke kamar mandi. Gue hempaskan segala beban yang ada. Perut gue masih sakit setelah makan hampir 6 kali dalam sehari. Gue berusaha mengeluarkan semua, agar beban diperut gue lepas. Sayangnya, gue masih dalam keadaan kembung. Perut gue udah mencong ngga jelas. Gue ngeden sambil berusaha mengingat kembali momen-momen puasa, dimana gue banyak tergoda oleh hawa nafsu. Lalu, di hari Lebaran ini, Tuhan seraya menjelaskan makna semua itu.

Gue lalu ke kamar, melepas baju dan celana. Hape tidak sempat gue buka, gue cuma ada tenaga untuk colok cas. Gue lalu rebahan, makan empat kali membuat gue tidur cukup nyenyak.


Dari pengalaman itu, gue jadi tahu kenapa gue bisa gemuk. Gue adalah tipe orang yang susah untuk ngecewain orang. Jadi, tiap ada pemberian, gue ambil. Itu yang membuat pola pikir orang rumah gue, ada makanan ngga bisa habis, sodorkan ke Rahul. Sampai gue sadar, gue ngga bisa kayak gini lagi, dan berat badan gue sekarang udah turun drastis. Gue udah ngga gemuk, tapi perut gue masih buncit. Kebanyakan minum air es kalo malam.

Ini adalah foto perbandingan gue waktu lebaran tahun lalu, dan sekarang.

Mirip Gong Yoo yah?
Judul dan isi postingan ini terinspirasi dari film yang baru saja gue tonton. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, bercerita tentang janda di daerah Sumba di tengah kawanan perampok. Idenya menarik, alurnya simpel, aktingnya gokil abis. Sepanjang film, jadi ingat film Siti, juga berkisah tentang perjuangan seorang perempuan. Film Marlina dianjurkan untuk semua kalangan diatas 17 tahun, banyak adegan keras dan berbau pornografi.

Belakangan ini, kalau kalian perhatikan, judul dan isi blog pos gue selalu dibumbui tentang film. Kenapa? Gue juga ngga tau, karena emang lagi senang aja. Gue menulis seenak gue aja, dan ini masih blog personal, bukan movie blogger. Gue membuat postingan hanya dibumbui film, sesekali menulis tentang film karena gue suka. Bukan untuk beralih aliran.

Oke, yang diatas cuma klarifikasi.

14 comments:

  1. (((perut gue belum turun))) mau turun ke mana lagi dah? :')

    Gue nggak pernah bisa gemuk walau makan sebanyak apa pun. Dulu waktu SD masih apa aja masuk mulut, sekarang males aja tiap lebaran. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sori, sudah direvisi. :')

      Coba tidur aja ngga pake baju, cuma pake sarung gitu..

      Delete
  2. anjir ngakak yaa Allah, kok gitu sih brutal banget? cintai ususmu hey, minum yakult tiap hari.

    gue sih malah bukan ngelahap habis makanan berat, tapi kue-kuenya. hehehe.

    btw beda banget itu yang 2017 sama sebelumnya. sumpah... gimana caranya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Usus? Lambung kali, Ris..


      Maunya sih gitu, jadi jangan berbicara seolah aku yang salah_--

      Banyak-banyak nelen paku aja.. :D

      Delete
  3. makan itu memang nikmat. bersyukurlah orang yang makan apa aja, sebanyak apapun kagak bakal gendut

    ReplyDelete
  4. Wakakaa, judulnya sueek bgt dahh...
    Lebaran emg gak afdol klo gak mkan bnyak, jd yaa.. agak dikontrol aja sih, Alhamdulillah, lebaran tahun ini gak smpe bales dendam bgtu. Tp di bbrp tahun brkutnya prnah khilap jg sii..

    Eh tp keren jg lohh, dlm wktu setahun berat bdannya bsa turun drastis bgtu. Kasih tau tips dietnya dong qaqaa~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini nasib, mau dikontrol bagaiamanapun juga udah ngga bisa.

      Perbanyak nonton film horor. Lengkapnya baca di salah satu postingan saya.. :D

      Delete
  5. Anjir, makanan g habis tinggal disodorkan aje. Mirip kayak hidup ane nih bro haha, tp tak imbangin sama olahraga jadi ya seimbang jadinya, jadi gak bengkak tubuhnya haha

    ReplyDelete
  6. yah, namanya juga lebaran, pasti kita juga lebar-an.

    wkwkw makan terus aja lah kan lebar tanda bahagia

    ReplyDelete
  7. wih gileee Hul, diet lo berhasil banget. Sekarang gue tahu kenapa kawan2 lelaki gue muka dan badannya cepet berubah. terutama temen sekolah SD/SMP kalo udah bertahun-tahun gak ketemu gue pasti butuh waktu lama untuk mikir 'dia ini siapa?'

    cowok emang rata-rata gitu ya, cepet banget berubah fisiknya. bikin pangling. berbeda sama gue (yang notabenenya cewek), dari dulu ya gini gini aja. gak ada perubahan yang signifikan.

    omong-omong gue juga kalo lebaran gitu, makannya semi balas dendam. tapi tetep aja susah untuk menambah berat badan. bahkan sampe minum apeton yang mihil itu. tapi gak ngefek -_-

    ReplyDelete
  8. ahah itu emang contrast banget yak perbedaan potonya zaman dahulu dengan now nya.

    tappi, kalau vina pas lebaran udah natarin sih porsinya, jadi semua keluarga yang menyuruh makan tidak ada yang dikecewakan wkwkwkwkw
    meskipun kadang suka sedih, ngambilnya dikit banget dan giliran di perjalanan malah terbayang :(
    gimana dong~

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..