Feb 18, 2018

Problem Hidup Seorang Pelajar

Jika ditanya, problem hidup seorang pelajar itu apa. Pasti yang muncul dan selalu adalah PR, tugas, uang saku, dan sebagainya. Bagi gue, problem hidup seorang pelajar lebih kompleks daripada itu. Hanya dari segi apa kalian melihat, dan bagaimana kalian melihat itu. Gue sendiri cukup sensitif jika dihadapkan dengan sesuatu pada umur gue yang sekarang.

Mungkin orang-orang berpikir, untuk apa terlalu memikir sesuatu yang belum harus dipikirkan. Gue melihat semua dari sisi realistis. Mengambil contoh dari segala kisah yang gue lihat. Dan dari itu, problem tersebut bukan hanya jadi angan-angan, namun sesuatu yang terus ada, tepat dibelakang gue menjadi bayangan hitam besar. Balik belakang, ternyata itu guru BP gue.

Problem hidup pertama, adalah masalah akan lanjut dimana. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya masalah garis tangan dan lain-lain. Menurut gue, yang rasanya sudah hampir kurang percaya dengan hal itu, merasa harus berjuang lebih. Namun, apa daya, di beberapa mata pelajaran berbau angka dan rumus selalu membuat gue lemah.

Gue tidak terlalu menyalahkan otak dan diri gue. Maka dari itu, dibeberapa pelajaran yang gue sukai, gue menaruh minat dan konsentrasi yang lebih.

Inipun berdampak bagi nilai gue dirapor. Seperti pada pelajaran Bahasa Indonesia, nilai gue melonjak naik dari kelas 1 dan 2. Gue ngga kaget setelah mengeluarkan seluruh apa yang gue bisa, namun masih ngga percaya gue ternyata bisa seperti itu. Dari situ juga, gue mulai melihat pelajaran lain yang gue sukai. Seperti gue suka belajar Sejarah, ilmu yang berkaitan dengan masa lalu sangat menarik untuk dipelajari, itu yang gue dapat setelah mengikuti kegiatan arkeologi tahun lalu.

Pelajaran seperti Sosiologi, Geografi, Bahasa Inggris, dan Seni Budaya juga menarik minat gue pada materi-materi tertentu. Tidak jarang gue ingin menyukai lebih namun belum mendapatkan klik  pada mata pelajaran itu. Pelajaran-pelajaran ini juga berkaitan dengan mata pelajaran ujian nasional pilihan gue yang salah. Gue stres setengah mati.

Jadi, pada waktu simulasi pertama sekolah gue, mata pilihan pelajara telah bisa kita pilih. Untuk IPS sendiri ada Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Teman-temann gue banyak memilih Sosiologi yang katannya gampang. Gue sendiri masih bingung antara Sosiologi atau Geografi. Awalnnya, gue pilih aja Sosiologi, juga karena materinnya dekat dengan kehidupan.

Setelah simulasi, gue melihat nama gue memilih mata pelajaran pilihan Geografi. Awalnya gue mencoba bertanya kepada Guru. Kata mereka, bisa diperbaiki nanti. Gue orangnya pelupa. Sampai simulasi kedua berlanjut, gue baru ingat mata pilihan gue masih Geografi. Gue mencoba bertanya, katanya sudah tidak bisa. Gue agak parno dan kecewa, soalnya di tryout, pelajaran Sosiologi bisa gue jawab dengan lancar.

Sampai simulasi kedua selesai, gue datang kepada guru Tikom dan bertanya. Beliau menyuruh gue untuk menulis nama dan mata pelajaran pilihan untuk diperbaiki. Sampai sekarang, gue masih parno, belum tahu pasti apakah gue berada di Sosiologi, atau Geografi.

Maka dari itu, masuk ke universitas yang gue inginkan itu adalah problem terbesar gue saat ini. Mengingat gue hanya ngeh pada beberapa mata pelajaran, dan buntu pada angka dan rumus, ini akan memberatkan gue untuk mendapatkan nilai yang baik.

Problem kedua, waktu.

Gue tipe orang yang selalu memanajemen waktu. Kegiatan itu gue mulai sejak SMA, gue agak lupa tepatnya apa dan kapan, yang jelas memanajeman waktu menurut gue sangatlah penting. Apalagi, waktu yang gue punya sekarang, antara sekolah, refreshing, dan belajar itu sudah sangat terganggu. Problem itu muncul ketika sistem belajar fullday diberlakukan.

Sekolah gue mulai dari jam enam pagi dan pulang paling lama jam empat sore. Dari waktu itu, gue sudah bisa dikatakan bebas. Gue istirahat sampai jam enam, malamnya gue liat kalau ada PR, gue kerjakan setelah gue tahu gue bisa. Dan diwaktu-waktu sesudah mengerjakan PR, gue biasanya akan refreshing. Gue akan membiarkan otak gue terbebas dari penatnya pikiran seharian dengan nonton dan baca buku, biasanya. Kalau ada waktu, nulis dikit dan istirahat. Gue selalu menyediakan waktu untuk ini, kegiatan ini juga menjaga agar gue ngga stres.

Problem ketiga, pekerjaan.

Setelah kuliah, pasti pencapaian selanjutnya adalah kerja. Gue pernah berdiskusi dengan teman gue, dia bertanya,"Kamu mau kerja apa?"

Gue yang sudah ter-influence Raditya Dika sejak masa SMP, dan beberapa penulis yang gue lihat menjawab dengan bangga bahwa gue ingin jadi penulis. Dia menohok gue dengan pernyataan bahwa dia ingin melihat gue realistis. Menjadi penulis itu tidaklah gampang, katanya. Kamu akan dapat uang jika buku kamu terbit, sekalipun itu terbit paling cepat itu adalah satu tahun dan mudah-mudahan laku.

Gue menjawab bahwa gue ingin punya mimpi yang ingin gue perjuangkan. Setelah banyak mendapat pengaruh dari penulis yang bukunya gue baca, gue menjadi dilema, antara ingin melanjutkan impian gue atau bersikap realistis seperti apa yang dia bilang. Dalam titik ini, gue masih dalam keadaan bingung, bimbang, dan sangat dilema. Diblog, seluruh tulisan gue hanya curhatan dan beberapa artikel yang ngga jelas.

Ketiga problem itu adalah perwakilan dari banyaknya problem lain yang masih mengganggu. Jika gue teruskan, mungkin ini akan bisa menjadi buku "Kiat-Kiat Mengeluh Tentang Hidup", jadi, gue tutup saja untuk tiga problem terbesar gue saat ini. Sewaktu kecil, gue ingin menjadi dewasa agar bebas. Namun kebebasan sesungguhnya ada ketika kita masih kanak-kanak.

Bonus:
Amin. :')

8 comments:

  1. Seberat apapun prombel pelajar, percaya kalau udah nggak jadi pelajar lagi, terkadang malah jadi kangen akan masa-masa pelajar. Begitu juga sebaliknya, mungkin yang masih jadi pelajar, akan kangen gimana masa kuliah, masa kerja. Dulu aku gitu mikirnya..hehe

    Tapi, apapun itu nikmati, banyakin syukur yang pasti. Semoga segalanya di mudahkan ya, Mas.. aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahhh mas andi pengen seklolah lagi nih :v

      Delete
  2. Pas masih SMA, saya juga pernah ngalamin masa masa kayak gini. Saking bingungnya sampe stress sendiri. Rasanya pengen banget cepet-cepet lulus. Eh pas udah lulus malah tambah stress lagi. Hahaha.

    Sorry to say, tapi saya setuju sama pendapat temen kamu. Hidup itu keras banget, gaesss. So, harus berpikir realistis juga. Jangan hanya mengedepankan ego. Semangat!

    ReplyDelete
  3. Ya, kalo nulisnya cuma ngandelin pemasukan dari royalti buku mah emang susah. Kecuali bukumu termasuk buku laris. Beberapa pasti sambil menulis skrip film, ftv, sinetron, dst. Kalau kurang cocok untuk dijadikan visual, ya paling kirim-kirim tulisan baik itu esai, cerpen, puisi ke media.

    Sudah dewasa, kan, juga bisa memiliki imajinasi kayak anak kecil.

    ReplyDelete
  4. Pas SMA juga gue pernah ngalamin gitu, ngalir aja dulu sambil siap2 dengan rencana yang dipilih. Takutnya lo terbebani dan malah berantakan semuanya. Hehe

    ReplyDelete
  5. Hm... jadi inget waktu SMA dulu sampai mau ujian aku masih memegang kuat mimpi buat jadi dokter. Eh, ternyata pada satu titik gue sadar bahwa hidup gak seindah impian kita. Saat itulah kita harus berpikir realistis.

    Tapi gak usah terlalu dibawa stress, hidup akan terus berjalan dan tugas kita terus menjalani dengan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada yang tidak pernah terpeleset. Dan kalau jatuh, tinggal bangkit lagi.

    ReplyDelete
  6. Asik, saya pikir seharusnya saya ada di dalam tulisan ini, benar kan? :D
    Semangat untuk UI nya!

    ReplyDelete
  7. Semangat aja bro rajin belajar tinggkatkan prestasimu,


    Numpang link ya !!!

    Ton Nasa

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..