Apr 18, 2018

Menghadapi UNBK

Ujian Nasional adalah ujian akhir yang sangat berpengaruh pada semua nilai untuk masuk perguruan tinggi. Maka dari itu, ketika Ujian Nasional, semua pelajar sangat mengerahkan kemampuan sebisa mereka. Tak heran, jika itu juga yang terjadi dengan gue. UNBK 2018 dilaksanakan serentak pada tanggal 9 April. Dan setelah Ujian Nasional, bukan merupakan kebanggaan karena telah terbebas.

Persiapan gue untuk Ujian Nasional sebenarnya tidak se-expert kebanyakan orang. Gue tipe orang yang jarang belajar. Sekalinya belajar, kalau ada yang menarik. Ketidak-tertarikan gue dengan angka dan rumus, makin membuat minat gue belajar hal-hal yang berbau angka dan rumus jadi sangat kurang. Untunglah, gue sudah menemukan apa yang gue suka.

Malam Minggu sebelum UNBK berlangsung dihari Senin, gue bersama teman-teman yang lain pergi ke salah satu Masjid untuk Yasinan. Awalnya, gue agak ragu untuk pergi. Toh, gue juga ngga diajak secara personal. Namun, rasa ingin ikut sangat kuat. Akhirnya malam itu juga gue tanya kepada teman gue, Advian,"Bisa saya ikut?"

Dia mengiyakan mantap, dan berkata bahwa Yasinan akan dimulai setelah selesai sholat Isya. Gue datang ke Masjid yang dituju dengan motor X Ride biru. Gue cuci muka, ambil wudhu, pakai baju koko, lalu minta izin ke Bapak yang lagi karokean. Gue menarik gas motor, menyusuri jalan malam yang dingin. Lokasi Masjid yang dituju sebenarnya gue tidak tahu sama sekali, namun karena sangat ingin ikut, gue memberanikan diri dengan feeling yang gue punya.

Sebelum gue berangkat, dalam sebuah grup kelas sebenarnya sudah ada pertanyaan dan wacana untuk melaksanakan Yasinan. Namun karena sudah mepet, dan kebanyakan orang beralasan karena satru dan lain hal, jadi Yasinan untuk kelas ditiadakan.

Feeling gue, lokasi Masjid yang dituju adalah dekat lorong teman lama gue waktu SMP. Jadi, dengan sedikit balap, gue menyusuri jalan yang mulai gelap. Lampu jalan yang minim membuat motor harus menyalakan lampu jauh. Sesampainya gue didepan Masjid, gue merasa ada yang aneh. Tidak ada satupun motor didepan Masjid.  Gue lihat nama Masjidnya, ternyata salah. Gue putar balik motor, kembali untuk menemukan Masjid yang seharusnya.

Sebelum akhirnya bimbang, Masjid yang gue tuju sudah terlihat secara tidak sengaja. Gue masuk lewat pintu belakang, gue simpan motor disebuah tempat gelap, yang gue lihat ada beberapa motor juga disana. Sholat Isya sudah dimulai, gue buru-buru masuk dan menyesuaikan diri.

Setelah sholat, gue duduk sambil berdoa dipimpin Imam. Teman gue, Advian, tepat didepan gue, agak kekanan sedikit sebenarnya. Teman yang lain, Awan, ada dipojok kanan. Orang-orang sudah mulai pergi satu persatu. Gue masih duduk, Vian pergi kesalah satu jendela entah untuk apa. Tiba-tiba saat sedang khusyuk terbawa suasana, ada seseorang yang menaiki belakang gue. Adalah Awan yang kemudian dengan itu mendatangkan Vian. Sebelumnya, gue perkenalkan dulu. Jadi, Vian itu teman gue dari SMP, sempat sekolah pesantren, kemudian berhenti karena satu dan lain hal. Di Kelas 11, kami dipertemukan kembali. Sejak saat kemunculan Hema pada webseries Surat Cinta Untuk Starla, dia mentasbihkan dirinya sebagai Hema dan Jefri Nichol.

Awan sendiri agak samar, entah awalnya kenal dari mana, namun seingat gue dari kelas 11. Baru akrab sejak ikut geng kami. Orangnya agak kemayu, punya perawakan gagah namun gampang bikin ilfeel. Tak jarang, ia berlaku seperti perempuan hanya untuk melawak. Mungkin ia sudah menemukan jati diri sesungguhnya. Maaf, teman-temanku, deskripsi ini atas observasi yang panjang.

Diambil dari galeri Awan.

Setelah Awan dan Vian bertemu, terjadilah duel didalam Masjid. Perkelahian seperti jaman SD membawa hawa nostalgia itu. Namun, tidak lama setelah itu, seorang Ustad sudah duduk disalah satu area yang selanjutnya kami datangi. Gue duduk dan diberi Yasin. Malam itu, yang datang lumayan banyak. Laki-laki ada 17 orang, 2 orang dari sekolah lain dan 2 orang perempuan. Itulah kami yang sedang dipandu oleh seorang Ustad. Ia memberi kami sedikit wejangan terlebih dahulu bahwa ujian yang kami akan lewati ini masih awal dari apa yang kami akan hadapi selanjutnya. Dengan ucapan basmalah, kami memulai membaca Yasin. Gue membaca dengan khusyuk, sesekali berhenti karena napas sudah tak sampai.

Dan setelah Yasin ditutup, Ustad yang masih terbilang muda itu, kembali memberi wejangan. Kali ini tentang apa saja yang menghalangi doa kami dikabulkan. Dengan sentuhan, beberapa dari kami menangis. Gue tunduk pasrah, mendengarkan, namun menahan air mata. Tatkala ia menyinggung orangtua semua nampak tersedu-sedu, gue mulai terguncang namun masih bisa menahan air mata.

Gue lihat, Awan mulai menangis. Disusul oleh yang lain, dan beberapa dari kami yang tidak ikut menangis hanya tertunduk. Gue sesekali mengintip Ustad berbicara sambil melirik yang lain. Disebelah gue, seorang teman menangis dengan mata yang ia tutup. Cairan putih menjatuhi buku Yasin, gue ingin menegur tapi tidak ingin mengganggu. Vian yang juga melihat, memberi gue kode, gue balas dengan kode bahwa sudah mengerti.

Awan masih menangis, sampai pada hampir Ustad menutup wejangan, ia meruntuhkan ke-khusyukan menangisnya dengan tertawa kecil, kemudian karena tidak bisa ia tahan, ia sempat keluar. Kami masih mendengar Ustad yang bercerita tentang indahnya jatuh cinta pertama adalah istrimu. Ustad kemudian menutup, kami memberi salam dan mengucapkan terima kasih. Malam itu jadi malam paling tenang yang gue rasakan. Dan Awan yang sudah bergabung, menarik lengan gue ketika hendak keluar. Gue bilang ke dia,"Hestek Awan Nangis."

Dia balik nanya,"Ko tau kenapa sa ketawa?"

Gue menggeleng.

Katanya, seorang teman kami, ikut menangis, dan Awan tidak tahan mendengar suara tangisannya. Itu yang membuat ia tertawa. Kalau mendengar langsung, yakin juga sihakan ketawa. Namun biarkanlah itu menjadi masalah Awan dan tangisannya.

Semua bersiap pulang, motor masing-masing terparkir diluar Masjid. Gue turun untuk mengambil motor, gue memacu motor X Ride biru itu dengan santai. Berpikir bahwa umur telah mebawa gue sampai saat ini. Tak jarang gue berpikir sedalam itu, namun gue yakin, banyak waktu yang masih gue lewatkan. Dan seharusnya itu yang akan gue jadikan refleksi diri.

Senin, 9 April, gue akan mulai UNBK. Mendapat sesi 3,masuk jam 2 sore dan berhadapan dengan layar komputer berisi soal yang harus gue isi dengan benar. Jika ditanya apa yang akan gue hadapi, itulah yang akan gue hadapi.

10 comments:

  1. Katanya soal tahun ini susah-susah yah

    Nitip link

    https://rifalnurkholiq.blogspot.co.id/2018/04/mengapa-aing-suka-banget-jejepangan.html?m=1

    ReplyDelete
  2. Oh ini UNBK nya udah kan ya, tanggal 9 to. Gimana hasilnya, Hul?
    Atau belum tahu. Tapi lancar kan, semoga mendapatkan hasil dan nilai yang memuaskan ya..

    Apapun yang didapat itu pasti yang terbaik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum ada sih, bg.
      Alhamdulillah, lancar. Amin~

      Delete
  3. Emang gitu ya, awalnya mah main sendiri sampe terjadi pergulatan tpi begitu ustad udah ngasih wejangan nangis deh rame rame. Dlu gue jaman sma juga begitu jdi nangis berjamaah. Tpi ya gitu jdi momen tak terlupakan. Anak paling garang pun juga tak kuasa menahan tangis. Ah jaman SMA..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue kalau udah kayak gitu biasanya ngelawan biar ngga nangis~

      Delete
  4. waduh...ngeri kali nak... selamat melepas status siswa mu,semoga diberi hasil yang memuaskan oleh Allah SWT, aamiin
    .
    jangan lupa ngeblog klo udah sibuk nanti wkwkw,"welcome to the jungle"

    ReplyDelete
  5. Susah tidaknya soal, bisa di selesaikan dengan belajar sungguh sungguh. Insyallah


    Ton Nasa

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..