Apr 29, 2018

Tentang UNBK

Setelah malam Minggu melaksanakan pengajian sebelum mengikuti UNBK, tibalah hari itu. Hari Senin tanggal 9 April 2018. Hari pertama itu gue mendapatkan sesi kedua. Gue datang jam 1.30 siang dan langsung ke pos satpam bersama teman kelas cewek yang lain. Disana, obrolan dengan kipas angin terjadi. Panas siang itu cukup merangsang keringat. Dari grup WhatsApp, gue coba tanya semua posisi cowok. Beberapa ada yang masih dirumah, beberapa ada yang masih mengerjakan soal.

Hanya satu orang yang menjawab sedang berada disekolah dan mendapatkan sesi tiga. Namanya Fajri, sering dipanggil 'kaya', dan menganggap itu sebagai hinaan. Kalau ingin di deskripsikan, orangnya agak kemayu, meski kalau membalas pukulan bisa melebih Lucinta Luna. Eh.

Gue naik ke gazebo atas. tempat Fajri menunggu. Katanya dari tadi sudah datang, bego juga sih. Setelah naik keatas, dia curhat tentang bodohnya dia datang terlampau cepat dan lupa makan.

Beberapa menit setelah berbincang, kami turun dibawah karena teman-teman yang sesi dua ternyata sudah selesai. Ramai mereka menghiasi lapangan sekolah, kami yang mendapatkan sesi tiga bergantian menuju tempat ujian. Ada gazebonya juga, namun lebih modern. Gue dan teman yang lain menunggu nama untuk dipanggil sembari melihat-lihat foto teman-teman yang lain dikaca bilik. Sebelum masuk, gue, Fajri, dan Vian juga naik ke gedung atas. Tempat gue waktu kelas 11 dulu. Kami masuk, dan merasakan diri kamu dulu berada disini. Secepat itu waktu menarik diri kami sejauh yang kami tidak pernah bayangkan. Akan menghitung hari hingga detik untuk memberi jarak antara kami semua.

Setelah agak lama dikelas itu, kami turun dan melihat orang-orang sudah memasuki ruangan masing-masing. Kami buru-buru mengecek nama didaftar hadir. Dua orang guru dari sekolah lain sudah duduk, kami mentanda-tangani daftar hadir, lalu duduk sesuai nomor kursi. Gue dapat nomor 37, disamping kiri ada Awan yang sudah gue perkenalkan dicerita sebelumnya. Disamping kanan, ada Fajri yang sudah gue perkenalkan. Hari pertama yang diujiankan adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Salah satu pelajaran favorit gue. Kalau ditanya dari kapan, mungkin dari SMP sejak gue mengenal buku.

Guru Bahasa Indonesia yang mengajar gue di SMA juga asik-asik. Itulah yang membuat gue tetap betah dan suka dengan pelajaran ini. Hari itu, semua soal yang gue lihat bisa gue jawab tanpa berpikir keras. Cuma butuh kesabaran membaca teksnya, dan jeli dalam melihat permintaan soal.

Dan disela-sela menjawab soal, ada beberapa soal yang 'agak susah' dan membuat gue harus berhenti sejenak berpikir. Gue menumpu kepala dengan kedua tangan sembari melihat keyboard laptop. Gue intip pengawas dari sela-sela jari, ia juga mengawasi dan memperhatikan gue. Untuk itu, sesegera mungkin gue perlahan membelokkan pandangan kearah bawah. Kemudian pura-pura berpikir menjawab soal.

Salah satu perempuan dikelas, akan gue perkenalkan lagi. Namanya Irma, pernah tinggal selorong, namun harus pindah ke Wakanda setelah masuk SMP, seingat gue. Sempat satu SMP, meski tidak akrab dan beda kelas. Di SMA, kita dipertemukan kembali dikelas 11, yang waktu itu semua siswa dirolling untuk mendapatkan kelas sesuai jurusan. Kami masuk di kelas 11 IPS3. Dan waktu dikelas 11 juga, kami belum terlalu akrab. Gue hanya akrab dengan teman laki-laki yang duduk dibagian belakang. Sampai dikelas 12, gue datang paling awal pas pengambilan bangku. Irma datang langsung minta duduk, gue iyain padahal ada seorang teman yang sudah lebih dulu duduk. Memang terdengar seperti sistem cuci otak.

Nah, terlalu panjang deskripsinya hingga sampai disini. Hari itu, Irma duduk didepan gue, tepatanya disamping orang yang duduk didepan gue. Nomor kursinya, 29. Kenapa gue hapal, karena foto peserta yang ditempel gue bawa pulang pas hari terakhir UNBK. Jaga-jaga kalau gue lupa saat nulis, dan beneran memang lupa. Untungnya, foto peserta dan sedikit catatan di memo hape bisa sedikit membantu.

Gue yang mana?
Irma memanggil gue ketika sedang berpura-pura menjawab soal. Gue nengok secara perlahan, lalu memperhatikan apa yang ia tanyakan. Ia menanyakan tentan arti sinonin kalau ngga salah. Dan gue jawab sepelan mungkin. Sewaktu menyelesaikan penjelasan, pengawas yang dari tadi melihat gue menegur. Semua teman gue langsung ribut.

"Iya, Bu, memang Rahul ini."

"Eh, ulangan Rahul."

Mereka berbicara keras seakan-akan ingin agar gue diawasi lebih ketat. Gue balik pelan, melihat mereka semua tertawa menang. Pak Guru sekolah kami, kita sebut saja pak Aslan, adalah orang yang mengawasi kelancaran sistem UNBK ini berlangsung.

Sejak saat itu, sedikit kata saja yang keluar dari mulut gue langsung ditegur. Seakan-akan, pengawas itu sudah mem-black list gue. Saat Awan berdiskusi dengan Sahir, teman disamping kirinya, lagi-lagi yang ditegur gue.. Gue bingung seolah-olah bertanya apa-kesalahanku-wahai-Ibu-pengawas. Dan tentunya, Awan langsung mendukung pernyataan pengawas itu.

"Eh, ribut sekali ini Rahul."

Gue elus-elus dada sambil melihat Irma tertawa kecil.

Hari pertama selesai, dan UNBK disusul oleh hari-hari berikutnya. Dimana hari kedua kami mendapatkan sesi dua. Hari ketiga sesi pertama. Dan hari keempat kembali ke sesi ketiga. Tidak ada yang spesial, hari-hari yang lain hampir mirip seperti hari pertama. Hanya ada beberapa kejadian yang akan gue tuliskan.

Entah waktu itu hari keberapa, intinya ujian waktu itu adalah Bahasa Inggris. Vian yang ngga terlalu ngerti Bahasa Inggris menjawab semampu dan sekenanya. Saat akan log out dari sistem, laptopnya eror. Meng-upgrade Windows secara otomatis dan membuat Vian parno. Vian duduk disamping Fajri, jadi jarak antara gue dengan dia tidak terlalu jauh. Gue ingat kejadian hari pertama waktu itu gue ditegur oleh pengawas, dan ia ikut andil dalam mengompor-ngompori. Gue bicara dengan keras dengan upaya agar Pak Aslan, yang agak ditakuti karena ketegasannya. Meski ada sisi-sisi lucu yang murid sukai ketika ia berargumen atau menanggapi sesuatu dengan ucapan sarkasnya.

"Vian, eror laptopmu? Kenapa itu?" Gue berusaha dengan keras, agar Pak Aslan dengar.

Benar saja, Pak Aslan datang memperbaiki. Sistem kembali masuk, namun belumn benar-benar login. Pak Aslan menulis token baru dipapan tulis. Vian lalu bertanya,"Rahul, ini loginkah?"

Gue iyain.

Karena sudah kapok dikerjain, ia memilih jalan yang lebih pasti. Ia memberanikan diri bertanya kenapa Pak Aslan,"Pak, ini login ulang?"

Pak Aslan menatap Vian dengan muka ala-ala bingung khasnya. Kami yang melihat reflek ketaawa kecil. Pak Aslan menanggapi,"Ih, kamu dari (nama sebuah tempat terpencil)" Ketawa lalu pecah seisi ruangan. Vian terlihat gugup. Pengawas juga tertawa, namun menyuruh kami diam.

Setelah itu, saat kami berada diluar, ia mengungkapkan kegugupannya saat melihat ekspresi dan mendengar jawaban Pak Aslan. Ketawa lalu dilanjutkan menjelang kami pulang.

Saat sedang menulis ini, UNBK telah selesai. Ditemani lagu Puisi Pagi-nya MarchoMarche secara acak dari Spotify, gue menumpahkan segala ingatan tentang hari itu. Jika ada kesalahan, harap dimaklumi. Sudah terlalu lama waktu itu, dan gue tidak sempat mencatat semua kejadian waktu itu. Untuk beberapa nama sengaja gue samarkan untuk menjaga privasi.

Dari segala fase hidup yang gue jalani, kita pasti selalu mendapatkan praktek dan ujian. Dan itu yang sekolah terapkan untuk menjalani hidup kedepannya. Sekali lagi waktu berperan penting menjadikan cerita ini nostalgia. Mungkin belum sekarang, tapi suatu saat nanti. Saat gue lupa dan tersadar.

12 comments:

  1. Wow, UNBK, gak ngerasa udah dua tahun yang lalu aku melewati fase itu. Emang kalau habis ujiannya gak bakal kerasa atau beberapa saat setelahnya, tapi setelah pengumuman kelulusan dan benar-benar gak bisa ngumpul-ngumpul di kelas lagi. Memori dari kelas 10 ampe kelas 12 bakal keputar-putar di otak. Apalagi kalau pas lagi nganggur atau sumpek dengan persiapan tes masuk perguruan tinggi. Ah, baca ini jadi nostalgia lagi :)

    ReplyDelete
  2. Biasanya aku juga gitu, kalau gurunya asik dalam mengajar, otomatis pelajarannya juga makin mudah diperlajari. Dan ternyata udah kelar ya ini UNBK. Andai jaman sekolah dulu aku udah mengenal blog, mungkin bisa curhat ke blog. Tapi minim koneksi pada waktu itu, berbeda dengan sekrang. Dulu mah boro ada WA, BBM aja satu dua orang aja yang punya..he

    Semoga sukses kedepannya ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditulis ulang kan bisa? Pasti seru tuh kalau diceritain kembali~

      Delete
  3. unbk kali ini bikin banyak pelajar curhat ke media sosialnya kemdikbud :D
    sukses studinya ya

    ReplyDelete
  4. Wah, semoga sukses ya buat studi kedepannya.

    Temannya dibilangin jangan sampai lupa makan, nanti pas ngerjain laper lagi haha
    Baru tau aku kalo UNBK di jam-jamin begini, jaman aku mah barengan sekelas haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thx, Rizky.

      Hehehe, kan udah selesai~

      Delete
  5. Indonesai makin maju. Ujian sekolah aja udah harus pakai komputer, ngak kayak jaman q dulu masih pakai pesil 2B


    Nitip link gan


    Ton Nasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jaman SMP masih dapat kok yang pake pensil..

      Delete
  6. salah satu hal yang paling berkesan namu tidak begitu menyenangkan saat ulangan begitu memang proses tanya menanya jawaban kepada teman. Kadang kita yang ngasih jawaban justru ketiban sial.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak sih, tapi salah satunya itu..

      Delete

Ini kolom komen lho..