Beberapa minggu menjalani puasa, dan ngga berasa sudah hampir menutup Ramadhan. Banyak cerita dari Ramadhan yang pengen gue cerita. Salah sa...

Sahur, dan Segala Ceritanya.. Sahur, dan Segala Ceritanya..

Sahur, dan Segala Ceritanya..

Sahur, dan Segala Ceritanya..

Beberapa minggu menjalani puasa, dan ngga berasa sudah hampir menutup Ramadhan. Banyak cerita dari Ramadhan yang pengen gue cerita. Salah satunya tentang sahur. Tingkatan menu sahur dirumah biasanya akan seperti ini: minggu pertama makan besar (soto, ayam, daging), minggu kedua makan sedang (ayam, ikan, tahu), minggu ketiga makan kecil (biasanya paling banter mie instan dan ikan), minggu keempat (apa adanya).

Poto awal-awal puasa..
Tapi kali ini, gue bukan mau ngomongin menu sahur.

Diantara tiga bersaudara, gue bisa dibilang cukup jail. Pada suatu pagi menjelang sahur, waktu itu gue, adek gue, dan sepupu dibangunin sama tante. Hari itu gue cukup sigap dan bangun lebih awal, sepertinya. Dan adek gue, Rendy, yang kalau sehari ngga mandi, bau badannya bisa masuk Guinnes Book Record, belum bangun-bangun. Karena kesal, tante gue ambil air, lalu dengan perkataannya dia akan membangunkan pakai air itu. 

Ide bangun tidur sepertinya sedang cemerlang, gue buka hape, lalu menyorot kamera. Gue memberi aba-aba bahwa gue sudah me-record, dan tante gue mulai menyiram. Kaget dengan percikan air, ia langsung bangun seperti video berikut.

Selanjutnya ia kesal dan mengumpat.

Perihal bangun-membangunkan adek gue, Rendy, ngga sampai disitu. Pada suatu pagi yang lain, waktu itu gue sedang terjaga menunggu sahur bareng sepupu gue. Rendy waktu itu tidur entah karena alasan apa selain ngantuk. Dan, ide-ide liar tiba-tiba muncul dikepala. Gue keluar, ambil lidi dari kamar Mama, kemudian ambil korek, dan pasta gigi. Gue tahu cara ini sangat berbahaya, dan untuk yang membaca, gue harap tidak mencoba.

Pasta gigi itu gue oleh dibetis adek gue, Rendy, dan lidi itu gue bakar hingga hitam. Lidi hitam itu gue tancap diodol, kemudian ujung lidi gue bakar atas mentor sepupu gue. Karena tidak tahu responnya akan secepat itu, ngga sempat gue sembunyi, adek gue keburu bangun karena merasa pedis. Sepupu gue memasang gaya tidur dan berpura-pura tidak tahu apa-apa, gue buru-buru naik diranjang melihat adek gue mengomel-ngomel.

Kejadian yang lain, adalah saat suatu pagi menjelang sahur, kami tidur hanya berdua waktu itu. Karena sudah tidur dari malam, dan terbangun jam 1 pagi, gue memilih untuk menunggu sahur saja. Pintu dibuka, dan gue diperintahkan membangunkan Rendy. Melihat ia memakai earphone saat sedang tidur, ide kembali muncul. Gue ambil sidik jarinya untuk membuka lock hapenya, kemudian membuka YouTube, dan memutar "Suara Tangis Kuntilanak"


Itu bukan yang terakhir, dan sepertinya akan terus berlangsung selama gue masih bisa bangun lebih dulu, atau tidak tidur sama sekali. Yang ini, baru saja terjadi. Mengingat cara kedua gagal dan terlalu berbahaya, gue memakai cara aman kali ini. Pagi itu pukul 2, Mama sudah menyalakan lampu untuk menyiapkan makanan. Rendy dan sepupu gue sedang tidur, gue sudah terjaga saat bangun jam 11 malam waktu itu. Saat hendak menge-cas hape, ide liar kembali terbesit.

Dikamar gue, ada satu galon kecil yang ngga pernah dipake minum. Gue awalnya mau mengeluarkan tapi terlalu banyak lupa. Waktu itu, dengan ide yang muncul dikepala, gue menadah air ditangan, kemudian menyiram bagian celana adek gue. Bukan satu-dua kali, beberapa kali karena gue ragu itu akan kering. Sambil menunggu panggilan, gue pura-pura tidur padahal lagi gregetan sambil main hape dibalik guling.

Tibalah saat itu, kami sahur makannya Mie Samyang sisa kemarin. Saat selesai sahur, adek gue masuk kedalam kamar, mengunci pintu, dan keluar dengan celana yang sudah terganti. Ia kira akan lolos segampang itu. Dalam keadaan masih makan, gue pura-pura bertanya,"Dari mana?"

"Dari dalam." jawabnya.

"Kenapa ganti celana?" tanya gue.

Dia tidak menjawab.

Gue tanya lagi. Lagi. Sampai ia menjawab.

"Tidak tau, basah celanaku. Kencing mungkin."

Dalam hati, gue mau ketawa, tapi gue tahan dan malah menjawab,"Kencing?" gue memperbesar nada agar seisi ruangan mendengar.

Adek gue gelagapan,"Mu.. Mungkin."

Dan sampai saat menulis ini, dia tidak tahu kejadian sebenarnya. 

Cerita sahur yang lain juga masih berkaitan dengan cerita diatas. Entah malam keberapa Ramadhan, gue, Mama, dan adik-adik, beserta sepupu pergi membeli baju untuk gue pake saat kuliah nanti. Ini juga berkaitan dengan juara 1-nya adek gue yang paling kecil, Rini. Keinginannnya hanya satu waktu itu, Lol Suprise.

Awalnya gue ngga tau itu apa, setelah searching di Google, nemu beberapa foto. Pas gue tanya, tau darimana, katanya,"dari Youtube. Orang unboxing."

Gue kaget, adek gue yang kelas 2 SD, udah tau Youtube, udah tau unboxing. Sejauh yang gue liat dia ada keinginan untuk bikin channel, mengikuti kakaknya yang kalau upload video sesukanya aja.

Kabar buruknya, ia ngga dapat Lol Suprise. Kabar baiknya, karena ia suka dengan hal-hal berbau korea, ia mendapat ide untuk membeli Mie Samyang. Mie sejuta umat yang sama sekali belum gue coba. Dan pada sahur nanti, gue akan resmi tidak terkucilkan lagi dilingkup pertemanan gue.

Mungkin karena gue excited, pas adek gue, Rendy, dan sepupu, yang sudah mencoba bilang pedis, gue masih meremehkan. Yang gue tahu waktu itu adalah, gue makan Samyang. Titik. Dan waktu obrolan diantara teman terjadi, gue akan mengarahkan ketopik: Gue Udah Makan Mie Samyang Lho...

Sahur-pun tiba. Kami duduk lesehan seperti biasa, mengitari lauk yang tersedia. Gue menyendok nasi, dan mengambil Samyang sebagai pengganti sayur. Bapak gue sudah disediakan Mie Instan biasa, jaga-jaga kalau dia ngga suka.

Gue coba masukkan Samyang kedalam mulut, gue gigit perlahan, Samyang menggigit balik, gue gigit lagi, ia makin menggila. Gue buru-buru telan. Gue diam, melihat yang lain. Gue mencoba tenang, makan secara perlahan. Pedis yang ditawarkan Samyang ini lumayan bisa buat gue loncat-loncat, namun masih bisa gue nikmatin dan nagih. Semakin gue makan, semakin terbiasa,.. terbiasa minum.

Bapak gue menggerutu,"Sahur itu isi perut, kalian siksa diri."

Gue mencoba menghabiskan nasi dipiring, mencoba memasang ekspresi setegar mungkin. Dan malam itu, gue tahu, bahwa gue cukup lemah dalam hal pedis-memedis. Pedis memedis, apa itu? Kosa kata baru? Entar gue dimarahin Uda Ivan Lanin.

Ekspresi abis makan Samyang.
Ramadhan punya banyak cerita seru, kali ini gue mengangkat sahur sebagai tema utama. Kenapa? Disiang hari ngga ada yang bisa gue ceritain selain masih baru bangun, dan disore hari selain menunggu waktu buka dan sesekali membeli sambal Sari Laut untuk buka puasa. Untuk kalian yang punya cerita seru bulan Ramadhan, share dikolom komen dong.

Bonus:

Bapak, Gue, Rendy.

5 comments:

  1. Hehehe jail juga nih, kalau gue malah nyeret kaki adik sampe bangun. Itupun kalau gak berhasil tinggal pasangin alarm beruntun di kamar biar pada bangun. Bapak loe asyik juga nih ditemanin becandaan, gokil.

    ReplyDelete
  2. Adiknya pasrah banget ya dikerjain terus-terusan. :D
    Kasian banget tiap sahur mesti dikerjain terus , dan ada2 aja cara ngerjainnya .
    Hal seperti ini mungkin bakal jadi ngangenin suatu saat nanti ya dan bakal ketawa2 sendiri kalo diinget :D

    ReplyDelete
  3. Gue kira tadi, adik lu Roy Kiyoshi!
    Hati aja lu hul, sering ngerjain titisan Roy Kiyoshi bisa kena karma. Hahah.
    Tapi gue masih WAH sih, kenapa orang kalo dibangunin pake air bisa langsung bangun. Mungkin kedepan harus ada yang bikin alarm air. hmmm

    ReplyDelete
  4. Hahaha mungkin adik nya udah tau kalau baca postingan ini. Emang Ramadhan itu selalu rame dan banyak kisahnya ya. Sahur dan buka puasa jadi cerita yg seru-seru. Btw akhirnya makan samyang ya. Saya belum pernah nyoba makan samyang. Haha gak updatr bgt yaa

    ReplyDelete
  5. Parah nih kakak nya jail banget. Itu beneran disetelin suara tangis kuntilanak. Bukan tangisan gadis abg? Hahaa

    Itu yg celana basah jajat juga . Memfitnah samg adik hahha...

    Yah yg pemting aslinya sayang yaj sama adik.

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..