Berita tentang Zohri, pelari Indonesia yang juara dunia sudah viral dimana-mana. Banyak sekali topik yang menjadi sorotan, dan kadangkala me...

Lari dan Kenangan Masa Kecil Lari dan Kenangan Masa Kecil

Lari dan Kenangan Masa Kecil

Lari dan Kenangan Masa Kecil

Berita tentang Zohri, pelari Indonesia yang juara dunia sudah viral dimana-mana. Banyak sekali topik yang menjadi sorotan, dan kadangkala mengecilkan beberapa pihak. Gue sendiri ngga mau terlalu pusing dengan masalah seperti itu. Gue hanya fokus dari pencapaian Zohri. Dan itulah yang gue lakukan beberapa waktu lalu.

Sebenarnya bukan untuk menyamai Zohri, bukan juga karena Zohri semata. Gue memutuskan lari dipagi hari karena sudah lama tak olahraga. Meski badan juga tidak bisa dikatakan naik, tapi lama tidak olahraga sepertinya adalah hal yang buruk. Apalagi sudah hampir dua bulan, dan hanya berdiam diri di rumah.

Pagi itu, dengan dibangunkan Mama, gue berangkat menuju lapangan dekat rumah. Membawa hape dan earphone yang  gue taruh dibagian kantong celana. Sampai dilapangan, tanpa membuang waktu, gue berjalan memutari lapangan yang berbentuk oval itu. Sembari berjalan, gue mulai menyetel lagu secara random. Lagu Bring Me To Life-nya Evanescence terputar.

Sebagai lagu pembuka, ini menjadi awal yang cukup baik. Gue merasa seperti Matt Murdock yang sedang bersiap melawan musuh. Gue melewati dua orang pertama, dengan mengatur napas dengan baik, gue bisa berlari memutari lapangan sebanyak dua kali tanpa berhenti. Itu sebuah pencapaian. Belum habis lagu, gue berjalan karena sudah ngos-ngosan.

Dari sisi kanan lapangan, gue melihat Adam, yang sedang ngobrol sambil bergantung. Gue masih melanjutkan lari, dan ditengah-tengah berlari gue bertemu dengan Okto dan temannya yang gue lupa namanya, kami lari bersama, hanya mendapat satu putaran bersama sebelum gue berhenti. Lagu yang sedang terputar berikutnya adalah Up & UP-nya Coldplay.

Gue masih berjalan, ingin memutari sekali lagi sebelum benar-benar berhenti. Okto dan temannya belum berhenti. Gue menepi, dan ngobrol bersama Adam dan Riki. Gue, Adam, dan Riki berteman sejak TK, kemudian SD dalam lingkungan yang sama namun Riki di sekolah yang berbeda. Di SMP, gue dan Riki berada dalam sekolah yang sama. Di SMA, kami kembali dipertemukan bersama teman-teman SD yang lain. Perjalanan ini cukup menarik, bagaimana kami bercerita tentang masa-masa di SD. Bagaimana kami pernah pergi mengambil bola dirumah teman kami, bagaimana kami, meski gue tidak ikut saat itu, mengambil mangga milik orang lain dan didatangi oleh orangnya disekolah.

Hal-hal itu sangat membekas dan cukup menarik untuk dibahas kembali. Okto dan temannya datang, kami berbincang bersama membicarakan kapan ijazah kami akan keluar.

"Bulan 10 katanya." kata Adam.

Lalu, Ummi, teman yang pernah menjadi ketua osis di SMA yang sama, ikut ngobrol. Kami sama-sama berbagi kisah setelah lulus ini. Meski kebanyakan yang kami ceritakan adalah hal-hal yang remeh dan dibalut humor receh.

Gue melihat tentara sedang mengadakan suatu kegiatan lari. Bukan tentara yang mau masuk, tapi tentara yang sudah tua dan mungkin sudah pensiun. Gue dan yang lain terpaksa berhenti untuk lari karena lapangan tempat kami memutar sedang dipakai. Setelah tentara pergi untuk melanjutkan lari, beberapa orang yang masih ingin berlari, gue sendiri sudah tidak ada mood dan hanya melanjutkan cerita. Riki sudah pulang dan pamit sebelumnya. Ia sudah berlari dari subuh, katanya.

Karena yang lain berlari, gue memilh untuk bergantung. Tangan mulai gemetar saat mencoba mengangkat badan. Adam yang sudah memiliki badan yang bagus, mengajari gue beberapa hal tentang bergantung.

"Coba angkat saja, Rahul." katanya.

Gue mencoba dengan mendorong, dan hanya berhasil sekali meski kedua kalinya hanya membuahkan wajah yang merah. Setelah Okto dan temannya datang, ia beristirahat sejenak sebelum akhirnya pamit pulang. Gue juga pulang. Diperjalanan menuju rumah, gue melihat SD kami dulu yang memang searah dengan jalur rumah dari lapangan. Gue melihat seorang anak yang mendorong gerobak sampah, gue mengingat kami dulu pernah begini. Bersama-sama ijin untuk buang sampah hanya untuk menghindari apel pagi yang membosankan. Bedanya, kami dulu tanpa gerobak dorong, hanya sebuah tempat sampah yang kami pegang bersama.

Biasanya gue dan teman-teman tidak langsung pulang setelah membuang sampah, kami menyeberang dan berdiri dipinggir laut sambil melempar batu. Kemudian saling merindu ketika kami akan berpisah, dan janji untuk tetap bersama hanyalan obrolan yang hanya sedikit dari kami yang tetap ada pada perjanjian itu.

6 comments:

  1. Dua puteran lari nonstop terus berhenti ini kayaknya emang normal, ya? Saya juga mulai capek kalau udah dua kali. Saya sering lari sebanyak 8 puteran; yang betul-betul lari atau jogging 5 kali, terus sisanya jalan. Biasanya begini: tiga kali lari dan sekali jalan. Ketika udah tiga puteran, ya udah saya langsung jalan dan itu pun pelan-pelan banget sekalian buat isi tenaga. Pas merasa kuat lagi, ulangi lari sampai tiga kali. Ehe~

    Bergantung ini maksudmu pull up kan, ya? Saya dulu bisa, sekarang nggak tau karena belum pernah coba lagi. Tapi otot-otot tangan pasti sakit banget setelahnya. :(

    ReplyDelete
  2. ngomongin soal olahraga, gue ngga tau kenapa pas masi kecil tuh kuat banget olahraga berjam-jam main bola misalnya, tapi sekarang kok ngos-ngosan ya? wkwk
    keren banget bang ceritanya, gue menikmati cerita lo. good job.

    ReplyDelete
  3. Dulu ane sering banget lari pagi, almost everyday. Tapi sekarang ga pernah lagi, bawaanya males aja. Padahal lari-lari sambil dengerin MP3 jadi sensasi yang seru banget.
    Oke, besok aku akan mulai lari lagi.

    ReplyDelete
  4. Semakin tua umur, semakin keliatan stamina kita yang cupu banget ya haha

    Gue terakhir olahraga lari kapan ya hmmmmm setengah tahun yang lalu kali. Kalau ada temen yang ngajak jogging, pasti bakal langsung gue tolak mentah2

    ReplyDelete
  5. Fokus pada kalimat akhir, sekolah bang Rahul di tepi laut? Wuih, keren!
    Baca judulnya jadi ingat ulasan film Forrest Gum tentang lari, he he. Lari yang ini malah jadi pengingat akan kenangan masa kecil yang manis. Duh, bocah, curi mangga itu tak baik. Bisa bikin perut sakit karena tak halal didapatlah, he he.
    Saya udah lama tak pernah lari. Jadi Bang Rahul semangat saja lari kalo ada waktu senggang karena akan dapat banyak hal mais dengan demikian, temu kawan-kawan lama atau melihat sisi lain kehidupan profesi tertentu.

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..