Malam yang sudah hampir tidak pernah diguyur hujan masih meninggalkan dingin yang menyengat. Pori-pori kulit seakan mengkrut saat bertemu. T...

Makan Bakso di Rusia Makan Bakso di Rusia

Makan Bakso di Rusia

Makan Bakso di Rusia

Malam yang sudah hampir tidak pernah diguyur hujan masih meninggalkan dingin yang menyengat. Pori-pori kulit seakan mengkrut saat bertemu. Tidak ada yang benar-benar bisa kami lakukan selain melawan. Aku, Rendy a.k.a Onge, dan Ari, sepupuku, bersepakat tanpa duduk dimeja bundar untuk keluar makan bakso. Tempatnya lumayan dekat. Hanya beberapa langkah dari rumah.

Bakso ini sudah ada sejak gue SD, mungkin lebih dari itu. Tapi baru tinggal didekat rumah sejak gue SMA. Karena rasanya yang khas, bakso ini kadang-kadang bikin rindu. Kuahnya yang kaya akan rempah-rempah, terasa menang untuk malam itu. Tidak banyak yang bisa kami pesan. Dari Mie Instan yang sudah kami bawa dari rumah, kami mengeluarkan uang 10.000 perak untuk semakuk, dan sisa uang kalau ada untuk ketupat.

Disana ada Dinong, adik kelas gue di SMA, juga ada Sonang, orang dewasa yang kebetulan suka bercanda. Beruntung sekali kami bisa ngobrol banyak disana. Dinong ikut memesan, sementara Sonang sudah makan, dan masih menghabiskan kopinya yang ada dimeja.

Dibanding orang normal, Sonang bisa dikatakan berbeda. Bicaranya sering ngelantur, dan terdengar tidak jelas. Kadang-kadang, pemikirannya seperti anak kecil. Itulah yang membuat dia begitu beda. Disamping orang-orang dewasa yang memikirkan ekonomi dan kisah asmaranya, Sonang seakan tidak ambil pusing dengan itu. Seakan, ia hanya memegang prinsip seperti air kali, mengalir.

Disisi yang lain, Sonang juga tidak bisa dikatakan bego, karena pemikirinnya yang anak-anak. Ada sisi dewasa dalam dirinya, dimana ia tahu beberapa hal. Namun seakan malas untuk memperdebatkannya.

Sebelum bakso datang, gue bertanya kepada Sonang,"Nang, siapa ayammu Piala Dunia?" (maksudnya negara jagoan)

"Uluguay," jawabnya,"Ko nda liat ka, ka waktu dua kosong." (Kamu tidak liatkah waktu 2-0)

Dinong menyambar,"Siapa yang mencetak, Nang?"

Gue senyum menunggu jawaban.

Sonang diam.

"Messi?" tanya Dinong, memancing.

"Iyo, Mecci.." katanya.

Kami semua tertawa.

Bakso sudah datang, dan istri daeng, penjual bakso, mulai memindahkan anaknya yang sedang makan kacang namun dihabiskan Sonang. Gue mulai meramu bakso dengan bahan-bahan yang disediakan dimeja, ada kecap, lombok, dan perasan jeruk nipis. Aroma bakso ini masih sama ketika pertama kali gue mencoba. Itu terjadi sewaktu SD. Karena uang jajan kami hanya seberapa untuk membeli bakso. Gue dan tiga teman yang lain memutuskan hari itu tidak lagi membeli nasi kuning ataupun mie siram.

Bersama teman, gue dan yang lain patungan dua orang semangkuk. Dengan ketupat dibagi dua, kami menikmati bakso Daeng untuk yang pertama kali. Waktu itu Daeng masih gerobak dorong, berkeliling kesana kemari. Sekarang, mungkin karena sudah mulai tua, ia memutuskan hanya membuka warung didepan rumahnya, dan sesekali mendorong kalo sempat.

Anehnya, kami sering membeli meski tahu uang kami akan habis. Soal minum, Daeng sudah menyiapkan. Kami tinggal mencari uang minum setelah haus saat main bola. Atau kalau kepepet, mereka gue ajak kerumah untuk minum.

Disaat makanpun, Sonang masih asik mengajak kami ngobrol soal beberapa hal. Terutama soal perempuan. Kami sering menganggunya dengan beberapa perempuan dilorong. Dia sering bertingkah aneh jika telah diganggu. Yang menarik, jika sudah merasa dipojokkan, ia tidak akan mendengarkanmu meski berteriak ditelinganya.

Jeruk nipis yang ia mainkan bermain diantara obrolan yang hangat malam itu bersama bakso yang perlahan kami kunyah. Seakan tidak perlu ke Rusia untuk bisa ngobrol tentang Piala Dunia dan lain-lain. Cukup makan semangkuk bakso, dan ngobrol dengan Sonang sudah seperti membawa kami pada atmosfer yang lain. Malam yang dingin itu, dikalahkan dengan semangkuk bakso dan tawa yang meletup-letup.

Bakso itu menyimpan misteri. Rasa yang sama, dari lidah yang sudah tumbuh hampir delapan tahun.

 

Ini foto waktu nonton Brazil. Sayangnya udah gugur.

5 comments:

  1. Asik banget asli kalau malam dingin-dingin gitu makan bakso, udah gitu sembari ngobrol rame-rame lagi. Duh, mantappp..

    Keliatan editannya, Mas..he
    Tapi keren sih, dan jadi pengen bakso deh, untungnya gak ada foto baksonya..he
    Bakso memang bikin pengen, terlebih dimakan disaat udara dingin. Ntap.

    ReplyDelete
  2. Kurang kalem editannya bro. Tapi udah lumayan lah. Hehe

    Malem2 emang cocok bgt makan bakso, salah satu makanan yang gak punya haters kayaknya. Hehe

    ReplyDelete
  3. malem yang dingin emang paling enak makan bakso, rasa bawangnya itu yang bikin kangen sih apalagi ditambah gorengan hahaha

    Mantapla menghangatkan tubuh dg bincang2 with pren

    ReplyDelete
  4. wkwkwkwk kirain beneran di Rusia bro ahahah.

    Saya juga suka makan Bakso sejak SD, dan sekarang malah ada MISO (Mie Ayam Bakso) bakso beranak, dan masih ada yang lain.

    Sepertinya bakso emang makanan yang enak dimakan sampai kuah kuahnya juga haahaha

    ReplyDelete
  5. hahaha fotonya maksa banget ya editannya.
    btw bakso langganan aku juga udah gak keiling lagi karena udah tua, malah buka depan rumahnya

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..