Jul 7, 2018

Perlawanan Terhadap Hujan Dengan Segelas Susu

Dari tanggal 22 Juni, hujan mulai mengguyur kota Kendari. Dari pagi hingga malam, hujan tak benar-benar berhenti. Orang-orang mulai membuat Snapgram tentang hujan, dan kebanyakan yang referensinya bagus, akan mengaitkannya dengan kumpulan puisi Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono.

Tanggal 25 Juni, hari Senin yang dingin, gue bangun pagi-pagi sekali. Ali, teman gue yang tinggal sebelah rumah, sudah datang untuk menyuruh gue siap-siap. Gue bangkit, kemudian menyiapkan air hangat didapur. Disamping menyiapkan air panas, gue masak Mie Instan untuk sarapan.

Ali sudah datang ketika gue sudah siap. Ia berpakaian rapi lengkap dengan helm dikepalanya. Tante gue meminjam jas hujan di tetangga, rumah depan, yang itu juga gue berikan kepada Ali karena gue ngga mau bawa motor. Gue kedalam, lalu pinjam jaket Bapak. Kami berangkat dengan motor X-Ride rumah. Lewat jalan belakang, dengan hujan yang mulai membesar.

Awalnya, kami kerumah teman gue, Saddam, di Kota Lama. Tujuannya untuk ambil berkas, tapi katanya, sudah ia setor. Sementara hujan masih terus mengguyur, kami pamit untuk terus bergerak.
 
Kami berdua adalah Maba, dan tujuan kami pagi ini adalah sedikit dari apa yang maba lakukan. Dimotor, Ali bilang ke gue,"Kita singgah dulu, ada temanku yang mau pinjam uang."

Setelah Ali meminjamkan uang, kami berangkat menerobos hujan. Jaket yang gue pake mulai dingin, tangan gue sembunyikan dibelakang Ali. Motor dipacunya, hingga hujan yang berniat membasahi kami benar-benar menuntaskan tujuannya. Kami basah bahkan sebelum setengah perjalanan. Gue bilang ke Ali,"Li, kamu tahu jalan yang tidak rusak?"

"Oh, tau."katanya.

"Kita lewat situ."

"Oke." jawabnya, sambil terus memacu motor.

Jaket tak lagi dingin, gue mulai merasa hujan sudah menyentuh kulit. Menembus jaket yang lumayan tebal. Jadi, tadi malam, gue dapat chat dari salah satu teman SMA. Ada sedikit masalah, dan minta tolong. Kebetulan, Ali sedang ada perlu. Malam itu juga gue chat Ali, dan kami sepakat untuk berangkat pagi.

Sesampainya di Universitas Halu Oleo, kami memarkirkan motor di Gedung Kuning. Disana, sudah ada beberapa orang, kami masuk kedalam. Di depan pintu depan, ada beberapa Bapak-Bapak yang sedang ngobrol. Ali berbisik,"Kalo tidak salah, saya ngurusnya sama yang itu." Sambil menunjuk salah satu Bapak yang didepan kami.

Gue dan Ali duduk, menunggu Bapak itu selesai ngobrol. Ketika kami masih mengeringkan badan, Bapak itu naik ke lantai dua. Gue mengkode Ali. Ali kembali memasang tampang kita-mau-ngapain.

Gue berdiri, Ali juga berdiri. Gue arahin dia agar jalan duluan mengikuti Bapak itu. Diatas, Bapak itu masih ngobrol, tapi pas kita naik, ia nanya,"Kenapa Dek?"

Gue dorong Ali untuk menjawab.

"Tidak pak, teman saya mau nanya." kemudian Ali mempersilahkan gue untuk bertanya.


Gue maju, melihat Ali yang tersenyum jahat.

Karena sudah begitu, gue maju, kemudian menanyakan beberapa hal. Lalu dilanjut Ali untuk nanya beberapa hal juga, seperti kapan masuk kuliah, apa itu belanja kuliah, dan lain-lain. Kami sebenarnya bisa saja menunggu info dari website kampus, tapi Ali, mau balik ke kampung halaman beberapa hari lagi. Biar ngga salah, langsung tanya saja, katanya disebuah chat.

Kami keluar dan mencoba mencari tempat uintuk mengeringkan celana. Yang kami dapatkan adalah sebuah toilet, dan sepertinya tempat wudhu yang sudah lama tidak dipakai. Kotor, tidak terawat, dan rusak. Kami masuk satu persatu, kemudian memeras baju dan celana.

Baju dan celana sudah terlihat kering dan ringan. Kami lanjut mengurus beberapa hal. Kami bolak-balik kampus. Sempat kami berteduh disalah satu rumah makan, dan sekalian untuk makan siang. Ali memesan Bakso Biasa dengan Teh Obeng. Gue sendiri memesan Nasi Goreng dan Kopi Hitam.

Gue tanya ke Ali,"Kamu tahu apa itu teh obeng?"

"Tidak. Tapi saya nda suka Kopi, jadi pesan teh." singkat Ali.

Pas pesanan datang, kopi dan nasi goreng gue datang. Seruput kopi pertama untuk melawan dinginnya hujan, kemudian gue makan pelan-pelan sambil menunggu pesanan Ali. Pelayan-pun datang, membawa teh obeng. Dalam hati, gue ketawa, lalu berkata kepada Ali,"Sudah dingin, ko pesan lagi teh dingin."

Dia senyum malu sambil menjawab,"Beginikah teh obeng? Padahal tadi ada teh panas."

Setelah bakso pesanan Ali datang, kami makan dan berteduh sejenak. Hujan mulai reda, Ali memacu motor. Katanya, mau beli paket. Yang dengan itu dia kesal ketika membeli paket 14 GB dengan harga 85rb. Tanpa registrasi, katanya. Pas gue pikir-pikir, dan bertanya kepada Ali,"Kalo tidak registrasi, berarti sudah registrasi? Coba tanya berapa masa aktifnya?"

Ali kesal mendengar jawaban penjaga konternya,"20 harian lah."

Padahal, waktu yang tertera dipaket adalah 1 bulan. Tekor.

Sudah capek kesal, kami kembali ke kampus. Awalnya, kami singgah di tempat print dekat kampus. Sempat ditolak karena seluruh tempat tergenang banjir, tapi gue bilang ke Masnya ngga apa-apa.

Di gedung kampus, pintu sudah terkunci, dan hanya ada 1 orang yang kami kenal sebagai mahasiswa baru juga. Ambil jurusan Komputer dan nilai UKT-nya belum keluar. Ada satu orang kakak-kakak, sepertinya mahasiswa atau pengelola disana, bilang kalau beberapa orang sudah pulang karena melayat.

Lalu kami dianjurkan datang besok pagi setelah pintu yang diketuk tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Pas mau turun, pintu terbuka dan seorang Bapak-Bapak mengeluarkan kepalanya. Dia bertanya, ada urusan apa. Lalu dijelaskan dengan kakak itu.

Gue, Ali, dan beberapa yang dari tadi menunggu, dipersilahkan masuk. Gue menjelaskan masalah dan Ali, lagi-lagi bertanya masalah yang sudah ia tanyakan. Diluar, ia menjelaskan bahwa ia ingin jawaban dari beberapa orang agar jelas. Sampai-sampai, pas pergi di fakultas gue, dia sempat nanya ke satpam.

Masalah sudah selesai, kami kembali ke toilet kosong itu, dan kencing disana kemudian pulang. Ali membawa motor dengan jumawa ditengah hujan yang kembali deras. Kami tidak terlalu peduli, toh badan kami semua sudah basah. Kami sudah seperti adegan penutup di film Dilan 1990.

Dijalan pulang, dingin mulai menusuk, ketika hujan berhenti, namun angin semakin kencang. Tanda-tanda penyakit mulai terlihat. Dirumah, gue langsung mandi, dan membuat air panas. Dengan dinginnya sore itu, oleh hujan yang sudah pamir, segelas susu Dancow mencoba untuk melawan.


9 comments:

  1. Memang cocoknya minum hangat disaat hujan, terlebih segelas susu, dancow lagi. Duh, mantap. Dan sepertinya saat ini mau kemarau lagi deh ini. Tapi kemarin sempat dingin banget cuacanya di Jogja juga, Mas. Eh, tapi ini cerita bulan Juni ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, kemarin emang lagi cuaca. Ternyata bukan cuman disini~

      Delete
    2. Hampir rata sepertinya, Mas. Di Ciamis, Jogja, apalagi di Wonosobo sampe jadi es lho. Wajar sih gak gitu juga Wonosobo mah dinginnya mayan..he

      Delete
  2. Bener-bener deh, gue ngebayangin sepanjang perjalanan lu ujan-ujanan beneran kek ending film Dilan 1990. Lu di belakang jadi Milea memeluk erat Iqbal dengan senyum merekah bahagia :))

    Jadi ini ceritanya lu nemenin temen nyari info soal daftar ulang gitu kah? Gue kurang nangkep deh .-.

    Btw itu teh obeng datangnya teh es gitu ya? Apa gimana xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dibayangin juga sih.

      Iya, es teh gitu~

      Delete
    2. Haha, ya kan baca jadi sekalian ngebayangin xD.

      Terus napa namanya teh obeng dah?

      Delete
  3. kasian amat temen lo mesen teh obeng. gue juga baru tahu kalo itu teh dingin.

    itu ngeselin banget kartu baru masa aktifnya tinggal 20 hari. rugi kaloo gtiu. untung ditanya dulu yah.

    yah pada akhirnya susu dencow panas menemani dingin lo yah. tapi kalau coklat delfi cair itu lebih enak lho. pahit pahit enak gimana gitu

    ReplyDelete
  4. Perjalanan yang basah, kehujanan terus sepanjang jalan. Hehe

    Waduh, temen Lo itu harusnya dikasih tau dulu tentang teh obenh. Dingin2 kok malah persen begituan. Hehe

    Paling enak hujan2 gitu emang makan n minum yg anget.

    ReplyDelete
  5. jadi intinya adalah pengalaman saat hujan lalu berakhir dengan minum susu walaupun sebelumnya juga minum kopi gitu ya Rahul. hehehehe

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..