Aug 8, 2018

Jomblo Tidak Boleh Merayakan Kemerdekaan

17 Agustus 1945 adalah hari dimana Indonesia menyatakan diri sebagai negara yang merdeka. Semua rakyat di Indonesia menerima hak kemerdekaan itu. Mulai dari rakyat biasa hingga para pemerintah yang mengatur. Mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Bagaimana dengan Jomblo?

Salah satu derajat yang sering dianggap sebelah mata. Menurut gue, Jomblo tidak berhak merdeka. Sebelum membanjiri komen dengan hujatan, ada baiknya membaca postingan ini hingga selesai.

Kenapa gue mengatakan demikian, adalah hal yang pasti kalian tunggu jawabannya. Untuk itu, mari kita bahas hal yang lain terlebih dahulu. Gue adalah seorang jomblo, dari sejak tiga tahun yang lalu, dan memutuskan untuk tidak mau lagi memulai suatu hubungan. Hingga pada suatu hari, pukul 1 siang gue berangkat dari rumah menuju Hollywood Cinema untuk nonton.

Rencananya gue mau nonton film Kafir, yang katanya dapat ulasan positif dari beberapa reviewer yang gue sudah nonton. Gue datang ke mba-mba tiketnya, terus memesan tiket jam 1.30, sesuai yang gue liat di feed Instagram Hollywood Cinema. Cerita filmnya lumayan mainstream dari film horor baru-baru ini. Tentang sekeluarga yang tentram, kemudian berubah setelah suami dari keluarga tersebut meninggal secara misterius.

Seperti biasa, gue duduk dikursi F ujung, agar kalau gue mau keluar jadi leluasa dan angle nontonnya juga bagus. Dari kursi yang gue liat, belum banyak orang sama sekali, hingga mba-mba tiketnya bilang kalo filmnya baru diputar jika penonton sudah lebih dari lima orang. Dengan tiket ditangan, gue keluar karena jadwal hari ini ternyata mulai jam 3 sore.

Gue memacu motor keluar dari Hollywood Cinema. Gue bingung mau kemana. Mau pulang sambil nunggu jam 3, nanti motor dipake orang rumah. Gue duduk memarkirkan motor ditengah jalan sambil mencari tempat Gym yang buka saat itu. Selain menonton, rencana selanjutnya memang gue mau nge-gym setelah pulang nonton. Tapi, film baru mulai jam 3 sore, daripada nunggu, gue berpikir untuk memutar jadwal untuk nge-gym terlebih dahulu.

Sayangnya, Gym yang buka jam segitu tidak gue temui. Sekalinya ada, jaraknya jauh. Jadi, gue kembali ke Bioskop. Di kursi yang berbentuk lingkaran depan penjualan tiket, gue duduk menunggu. Gue liat hape, masih jam 1.30-an lewat. Paket data saat itu masih ada, tapi jaringan yang gue dapat tidak ada. Jadi, gue sukses untuk nunggu tanpa hal yang bisa gue lakukan. Gue mencoba melihat-lihat foto dari galeri, ada 5000+ gambar. Yang gue ngga tahu akan ada sebanyak itu. 

Saat sudah melihat foto, ternyata waktu masih lama. Gue buka-buka dokumen, ada game waktu jaman SMA. Padahal baru lulusnya tahun ini. Nama gamenya, Mini Militia yang gue instal kembali. Game yang gue dan teman mainkan saat jam lagi kosong. Sistemnya mirip PUBG dengan resolusi Nintendo, dan hanya terdiri dari dua tim.

Ternyata, main game Mini Militia sendirian membosankan. Tidak seperti dulu saat gue dan teman-teman bisa main menghabiskan waktu istirahat. Gue uninstal, dan mulai mencari kesibukan lain. Dari dokumen kartu sd, gue melihat ada ebook yang belum selesai gue baca. Akhirnya itulah yang menjadi pembunuh waktu hingga jam nonton gue tiba.

Beberapa menit sebelum film mulai, gue keluar mencari warung untuk membeli snack. Setelah berhasil menyelundupkan Pilus dan air minum, gue akhirnya pasrah tidak memakannya didalam. Bukan karena ketahuan, tapi tempat yang gue pilih untuk sendiri, ternyata menjadi sebuah alasan untuk seorang perempuan memilih duduk disamping gue.

Gue agak panik awalnya melihat ia bertanya,"Kamu duduk sendiri yah?"

Gue mengangguk bingung.

"Oh, duduk yah." katanya,"Aku takut nonton sendiri." lanjutnya.

Gue meneguk ludah sambil kebungungan. Seorang perempuan, yang kalau gue lihat lebih tua dari gue, memakai kemeja dan jaket bomber. Berniat nonton film horor tapi takut, kemudian dengan ide cemerlangnya duduk disamping gue. Setelah beberapa trailer film diputar, gue baru memperhatikan setelah ia tersenyum, ada behel juga digiginya. Gue mencoba manjaga jarak, takut gue dianggap melecehkan.

Perempuan itu mematikan handphone, kemudian menaruh tasnya didepan untuk dijadikan bantal. Film dimulai. Awalnya, semua tampak damai dan terlihat sedikit membingungkan. Saat adegan creepy, perempuan itu menjerit sambil meremas lutut kanan gue yang gue angkat di kaki kiri. Gue bingung, ada apa ini?

Perempuan itu berteriak,"Ah, takut meong." 

Gue mulai panik. Apa yang harus gue lakukan? Tidak mungkin juga gue akan mengonggong.

Pada saat seperti itu, tidak ada yang bisa gue lakukan. Ingin berlagak tidak takut, perasaan sendiri sudah takut dari film sudah dimulai. Dan adegan creepy-creepy selanjutnya, ia kembali meremas lutut atau paha gue, seraya memukul-mukul. Gue biarkan dia melakukan itu karena situasi mulai mencair seraya kami saling ngobrol.

Gue berkata pada saat kami ngobrol,"Awas disitu ada setan." kata gue menunjuk, kursi sebelahnya, di dia memukul tangan gue.

Hapenya, dari tadi berbunyi, saat hendak membalas sebuah pesan yang masuk, gue tidak sengaja mengintip. Sebuah pesan dari seseorang yang ia namai "Sayangkuh". Dari situ, gue mulai menjaga jarak kembali.

Gue sadar, situasi seperti ini seharusnya tidak terjadi andai saja perempuan itu tidak duduk disamping gue. Dan saat ia mencubit lutut atau paha gue adalah sebuah kenyamanan yang bisa diartikan kami sudah menjadi akrab. Gue tidak lagi merasa sakit saat ia mencubit atau memukul.

Gue melihat wajah yang ia tutupi tas, manis namun gelap karena lampu yang minim. Film kemudian berakhir, ia keluar lebih dulu, dan gue seperti biasa, kencing sebelum pulang. Gue melihatnya duduk di kursi tempat gue menunggu pas datang, tanpa menyapa gue buru-buru keluar. Gue anggap, pertemanann itu hanya sebatas dua orang yang saling menjaga saat film menakuti kami.

Dan motor gue memacu ke salah satu tempat Gym. Saat itulah, satu hal yang gue sadari, Jomblo tidak seharusnya merayakan kemerdekaan, jika didalam dirinya saja ia belum merasa damai dengan apa yang telah ia lalui.

Gue merasakan saat itu, bagaimana gue terlalu keras dengan apa yang telah gue lewati. Hanya karena sebuah peristiwa, gue mungkin telah melewatkan sesuatu yang penting. Dan sekali lagi, gue tegaskan, bahwa jomblo boleh merdeka ketika ia sudah bisa berdamai dengan dirinya, dengan apa yang telah ia lewati, dan dengan masa lalunya.

Juga, Dirgahayu Indonesia yang ke 73. Tetap damai, asik, dan penuh tawa.


1 comment:

Ini kolom komen lho..