Pulang dari sholat ied, tidak seperti biasanya, gue hanya berbaring di  kamar menunggu orang rumah dan tetangga selesai makan. Setelah semua...

Pelajaran Hidup Di Hari Raya Pelajaran Hidup Di Hari Raya

Pelajaran Hidup Di Hari Raya

Pelajaran Hidup Di Hari Raya

Pulang dari sholat ied, tidak seperti biasanya, gue hanya berbaring di  kamar menunggu orang rumah dan tetangga selesai makan. Setelah semua selesai makan, gue keluar untuk makan. Makanan ada banyak hari itu, layaknya hari raya biasanya. Ada ayam, daging, dan tentu saja buras dan lontong.

Gue kembali ke kamar setelah kenyang. Biasanya, setelah makan, gue keluar pergi kerumah sebelah. Ngobrol dengan Thariq, sohib kecil gue, bersama keluarganya. Itu sudah jadi kebiasaan rutin tiap tahun. Dan hari raya idul adha, dia sudah pergi ke rumah keluarganya di Bekasi. Setelah kebiasaan yang cukup lama dan konsisten, rasanya aneh juga melewatkan satu hari saja tanpa kebiasaan itu.

Kemudian Riki, sohib gue yang lain datang. Dulunya, kami bertiga sering bersama dari kecil. Mungkin tidak bisa gue jelaskan panjang lebar. Melewati setiap sore dengan keringat bermain bola itu sudah jadi makanan kami setiap hari. Untuk cerita tentang ini, gue jelaskan juga di sini.

Riki datang mengajakku berfoto. Katanya, lagi banyak orang dan mumpung ada waktu. Karena tidak sedang sibuk, gue mengiyakan meski ada perasaan mager. Setelah menyusun rencana, ditemani salad buah yang sudah kami makan, akhirnya kami menetapkan regu bertujuh diempat motor. Jadi, gue bersama adek gue, Rendy, Sudi bersama Riki. Ali bersama kakaknya Adi, dan Ari sendiri.

Tempat yang kami tuju sudah ada didaftar perjalanan kami. Itu berada disebuah tempat yang katanya, Puncak Teletubbies. Dulu, mendengar nama ini ada perasaan lucu disana. Bagaimana kita akan bertemu Dipsy atau Lala saat sedang foto. Namun, setelah mendengar itu sempat ada kebingungan karena yang gue tahu, Puncak Teletubbies itu ada di kabupaten Bombaana. Tempat yang sangat jauh jika hanya ditujukan untuk berfoto.

Namun, tempat yang dituju bukanlah tempat yang gue pikirkan. Dan itu berada agak jauh juga dari tempat yang gue kira. Saat hendak pergi, gue harus mengantar tante untuk kerumah keluarga mengantar makanan. Kemudian, setelah semua sudah siap, kami berangkat.

Perjalanan lumayan lama, dan harus diakhiri dengan mendaki. Meski tidak sejauh kuil yang ada di film The Karate Kids, puncak yang kami naiki cukup menanjak. Menguras tenaga dan membuat paha dan lutut menjadi keram. Disini, kami jadi bisa saling tahu batas kemampuan masing-masing. Dan hasilnya, kami semua cemen.

Sampai dipuncak dengan ngos-ngosan, kamera mulai diopor kepada yang bersedia menjadi fotografer pertama. Dan itu adalah gue, pastinya, yang selaku empunya kamera, digadang-gadang selalu tahu mengatur setingan. Padahal, gue tahu, niat mereka adalah ingin dapat foto banyak dan duluan.

Gue mengatur setingan ala kadarnya, meski kurang tahu, setingan yang biasa gue gunakan juga mereka sukai. Foto-foto diambil, kami mulai berebut minta difoto. Terik matahari mulai menusuk. Gue mulai maget, ketika yang lain mengambil spot gambar ditempat yangs sangat panas. Gue hanya menunggu, sembari menyalakan lagu. Yang terputar adalah lagu Sepohon Kayu dari almarhum Ustrad Jeffry Al-Buchory. Itu dari hape Mama yang gue bawa. Karena momen lagu yang pas, mereka jadi ikut bernyanyi ketika sampai pada lirik yang mereka hapal.


Gue bersandar pada pohon, menunggu giliran foto, dan setelah mereka selesai, gue berdiri sejenak, meminta foto, duduk kembali. Intinya hari itu adalah waktu yang cukup mager, namun karena semangat mereka bersama, mager gue jadi punya satu titik dimana ia menjadi lemah dan membuat gue memilih ikut.

Beberapa gaya sudah mereka coba. Mulai dari gaya biasa, menatap kamera dengan penuh makna ambigu sampai pura-pura tidak melihat kamera agar terkesan candid. Gue sendiri tidak banyak mengambil foto, hanya beberapa. Itupun, dengan gaya yang agak malas.

"Jangan rindu, berat. Biar aku saja."
Setelah hampir ada sejam kami disana, kami memutuskan untuk pulang. Turun puncak dengan hati-hati meski sempat kaki gue terkait alang-alang. Sebelum turun, yang lain memilih untuk turun duluan agar bisa gue fotoin. Kenapa gue yang foto, karena malas untuk foto. Dari kamera, semuanya baik-baik saja, hingga saat kami melihat kembali, hasil dari foto yang gue jepret buram semua.

Mahakarya
Bisa jadi wallpaper
Kami mengambil motor yang kami parkirkan didepan rumah penduduk. Jok agak panas meski saat datang gue parkir ditempat yang sejuk. Hawa siang benar-benar panas, dan tenggorokan yang dari tadi kering minta untuk disiram. Perjalanan dimulai saat kami sudah menaiki motor masing-masing.

Kami berjejer saling mengikuti dengan khidmat perjalanan ini, meski dibeberapa waktu pantat sudah mulai sakit dan panas duduk terlalu lama. Motor X-Ride biru yang gue bawa melaju kencang seiring teman-teman yang juga memacu motornya. Langit saat itu didominasi biru, awan hanya sedikit, dan yang gue tahu, itu adalah siang yang sangat panas meski angin terus berhembus.

Jaket yang gue gunakan juga tidak cukup untuk menutupi segala kepanasan sampai kehausan ini. Untungnya, saat itu sudah hampir sampai. Kami memotong jalan untuk masuk kejalan tengah. Ari lebih dulu memacu motornya, tidak mau kalah, guie juga dengan kecepatan maksimal agar bisa menyamai posisi Ari yang sudah berada didepan pembelokan pemotongan jalur.

Rendy, adek gue yang digonceng hanya tertawa melihat yang lain masih ada dibelakang. Ari sudah berbelok ke jalan tengah namun motor yang gue pacu terlalu kencang untuk belok. Akhirnya, gue pelankan dan berbelok dipembelokan selanjutnya. Didepan Minimarket dan Mesjid, Adek gue berseru tentang seorang tetangga yang ada dibelakang kami. Gue tidak menggubris, hanya fokus mengendarai. Hingga akhirnya, dipembelokan, saat motor berjalan dengan pelan, kami terjatuh.

Bukan karena gue terlalu memacu motor, bukan karena gue ngebut. Itu karena gundukan pasir yang terdapat dipembelokan. Pada saat roda motor berbelok, ban motor tertanam dan membuat motor jadi terpeleset. Karena jatuh biasa, Rendy hana tertawa. Gue panik. Di Mesjid lagi banyak orang, mungkin sedang kurban. Dan gue buru-buru mengangkat motor.

"Pecah!" kata Rendy.

Gue makin panik. Dan pikiran gue saat itu,"Mati, dimarahin Bapak lagi ini!"

Gue bertanya,"Apa yang pecah?"

Rendy menunjukkan pecahan kaca, dan menunjuk spion kiri yang sudah hancur. Gue buru-buru pergi dan bertemu didekat rumah. Disana, sebelum sampai dirumah, gue cerita dengan yang lain insiden gue tadi. Gue mulai panik, harus bagaimana. Kata yang lain, mending gue jujur. Lagipula, jika mau beli spion, hari ini pasti tutup.

Gue pulang, diteras rumah ada Bapak. Rendy langsung baring didepan ruang TV seolah-olah tidak terjadi masalah. Disana, ada keluarga yang datang. Setelah mempersiapkan nyali, gue kasih kunci ke Bapak, lalu bilang,"Pak, kaca spion pecah. Tadi jatuh."

Gue super tegang. Percayalah, jujur tidak semudah itu.

Respon Bapak langsung berubah. Gue menjelaskan kejadian utuh, bahwa disana ada gundukan pasir yang membuat ban motor jadi tertanam dan jatuh. Setelah itu, Ari datang dan menjelaskan juga. Bapak menyutuh mengambil tas peralatan, dan gue buru-buru mencari sebelum Bapak menjadi marah. Disana, kami mencari solusi. Dan akhirnya, spion dikanan, kami pindahkan kekiri dengan sedikit ke-kreatifitasan.

Setelah itu, gue dan yang lain ke teras Ricky, disana sudah ada yang lain mengambil foto dari laptop Adi.Semua sudah ambil, kecuali gue yang masih minum es buah sambil liat-liat foto, Gue menyadari banyak hal dari hari ini, dari hari-hari yang lain. Salah satunya bahwa, kehidupan itu punya banyak misteri, ketika apa yang kita takutkan tidak terjadi, itulah yang membuat hidup jadi lebih berarti.

5 comments:

  1. Hari rayanya enak banget bro.
    Gue abis shalat ied langsung pulang ke kosan dan bingung mau makan apa wkwk.

    Seru juga bisa liburan ke bukit teletubies bareng temen dari kecil, persahabatan kalian emang bener bener kayak teletubies, salut.

    Masalah kaca spion itu, aku ga bener bener tahu gimana sensasinya kalo kena marah bapak. Duh bapaku sudah tida ada :(

    ReplyDelete
  2. BROKER TERPERCAYA
    TRADING ONLINE INDONESIA
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
    Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
    Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
    Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
    Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

    Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

    ReplyDelete
  3. Pingin ah kapan kapan ke bukit Teletubbies cuman kok kurang fotonya gitu Rahuul jdi pingin tau lebih lewat gambar gambar wehehehe

    ReplyDelete
  4. Asik bet ya hari rayanya, aku sepertinya sama kaya khirulleon itu, pulang shalat ke kost, dan istirahat aja dah. Nonton paling. Dapet daging juga malem :D

    Aku juga pernah mager gitu, tapi ya gitu karena semangat teman-teman jadi ikut dan seru-seruan bareng. Dan akhirnya sama seperti mas Rahul. Ikut foto juga deh :D

    ReplyDelete
  5. Gue kira ban motornya yang pecah wk

    Mantap, itu jalan-jalan ke bukit teletubbies-nya masih pada pake baju koko. Jangan-jangan nanti namanya diganti jadi bukit teletubbies syariah

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..