Gue bukan penggila kopi. Tapi kopi, gue suka. Meski kopi yang gue minum hanyalah kopi eceran, namun beberapa kali gue dibikinin Mama kopi bu...

Filosofi Kopi di Dunia Nyata Filosofi Kopi di Dunia Nyata

Filosofi Kopi di Dunia Nyata

Filosofi Kopi di Dunia Nyata

Gue bukan penggila kopi. Tapi kopi, gue suka. Meski kopi yang gue minum hanyalah kopi eceran, namun beberapa kali gue dibikinin Mama kopi bubuk punya Bapak. Kemudian, film Filosofi Kopi keluar dan membuat orang-orang yang belum terbiasa dengan kopi, mulai mencoba-coba. Mulai dari hanya selebgram, sampai yang benar-benar niat belajar.

Salah satunya yang gue liat adalah penulis Indonesia, band Bernard Batubara yang selalu meng-update Instastory setiap pagi dengan ritual kopinya. Meski hal tersebut selalu diulang-ulang, itu tak bosan-bosannya dibuat oleh bang Bernard Batubara. Sesekali ia memberi edukasi tentang kopi, juga membuat cerita dengan itu.

Berbicara tentang kopi, Ben punya ambisi besar tentang kopi. Seakan-akan, dunia ini indah jika dengan kopi. Saat itu, sepulang dari beli celana kain, gue dan Ali mampir di Warkop Lathuwo, tempat nongkrong favorit dari SMA. Yang punya juga teman SMA, jadi main disana itu sudah kayak silaturahmi.

Hari itu, gue memesan Cappucino dingin yang memang jadi favorit gue. Ali memesan kopi biasa. Harganya sama, masing-masing 10.000 rupiah. Selain kami, disana ada banyak orang. Kebanyakan memang alumni dari SMA yang sama. Kami sering nongkrong disana meski tidak sepakatan.

Pesanan kami lalu datang. Dengan sekali teguk, manis dan aroma Cappucino itu membuat segar tenggorakan. Ada rasa klek dileher ketika menyedot Cappicino dingin itu. Rasanya tidak ingin cepat-cepat menghabiskan meski enak. Disaat seperti itu, kekuatan Doctor Strange kayaknya sangat berguna.



Siang itu sudah mulai habis. Sore mulai terlihat dan kami sudah hampir satu jam disana. Bapak Ray, empunya Warung Kopi duduk dan ngobrol bersama kami. Awalnya ia bertanya kepada Ali,"Suka kopi?"

Sebelum Ali menjawab, gue celetuk,"Iya Om, dia pecinta kopi."

Ali menyikut gue sembari tersenyum,"Iya Om. Suka."

Bapak Ray kemudian duduk dan memulai obrolan soal kopi. Ia bercerita tentang dirinya yang mantan pembuat kopi oleh perusahaan Jepang. Kemudian memberi opini masalah kopi dari pemikirannya. Ambisinya soal kopi memang sangat menggebu-gebu. Seperti melihat Ben dimasa tua.

Ali kemudian bertanya,"Kalo kopi yang digambar, Om?"

Gue menambah,"Mau tantang Om kah Ali?"

Semua tertawa sebelum Om sempat menjawab.

"Nah, itu bukan spesialis saya. Saya ini tradisional saja." Kemudian ia masuk kedalam rumah dan keluar membawa secangkir kopi yang hanya diujung gelas.

Ia menyuruh kami untuk mengetes. Pertama Ali, kemudian gue, dan Juan. Ali memasang mimik seakan-akan seorang tester kopi. Gue yang penasaran mencoba dan disusul oleh Juan yang juga penasaran.

"Enak." kata Ali.

Gue mencoba,"Iya, beda."

Walaupun tidak mengerti soal kopi, gue bisa bilang kopi ini beda dan bisa gue nikmati. Rasanya agak masam dan pekat. Lidah gue seperti merasakan hal yang lebih dekat dengan jamu. Ada beberapa orang disana yang penasaran tapi masih ragu mencoba.

Om tersenyum dan menunjuk kopi itu,"Ini kopi dari Toraja, jenis Arabika."

Gue masih bingung kenapa baru bisa mencoba kopi seperti ini. Biasanya, gue hanya mencoba kopi-kopi eceran. Meski agak aneh dilidah, ini jadi sesuatu yang baru dan menarik. Ali masih meraba-raba kopi itu dilidahnya beberapa kali.\

"Ini saya jual 50.000 pergelas kecil," kata Bapak Ray,"Saya tidak nyari untung dari kopi ini. Kebanyakan saya cuma kasih coba orang." Bapak Ray tersenyum seperti hal yang sering ia lakukan.

Ali menyodorkan gelas kepada Juan yang ingin kembali mencoba,"Beda memang, Om."

"Yah jelas, buatan sendiri."

Bapak Ray masuk kembali dan keluar dengan toples Khong Guan bundar ditangannya,"Ini biji kopi Toraja!" kemudian membuka toples itu. Aromanya keluar seketika. Tajam dan harum.

Ali terlihat antusias. Gue memegang biji kopi itu bertanya,"Ini bisa digigit, Om?"

"Untuk apa kau gigit? Itu kau minum." jawab Bapak Ray.

Semua tertawa.

"Tidak, Om. Biasa di TV orang gigit-gigit kopi." kata gue membela diri.

"Yah, silahkan."

Kemudian Ali juga mengambil sebiji dan menggigit. Kopi itu pecah dilidah. Pahit dan beraroma. Teksturnya seperti kacang namun lebih cepat hancur saat sudah digigit. Bapak Ray kembali tersenyum seperti yang sangat sering ia lakukan.

"Tradisional itu tidak ada yang kalah. Mesin puluhan juta bisa ia kalahkan."

Bapak Ray dan Kopinya
Kami tercengang mendengar Bapak Ray menjelaskan. Banyak yang ia jelaskan, dan kami cukup banyak tahu tentang kopi dari beliau. Gue tidak berpikir apa yang beliau percaya ini salah. Ataupun ia terlalu idealis dan semacamnya. Gue hanya berpikir, dari cara Bapak Ray menjelaskan, menceritakan, ada sisi Ben disana.

"Itu dia. Feeling. Aroma dan rasa itu yang utama. Tidak peduli seberapa mahal alatnya." Bapak Ray menjawab pertanyaan Ali.,"Contoh dekatnya anjing. Banyak alat pendeteksi dari majunya teknologi. Kenapa anjing masih digunakan? Itu dia, tradisional.

Idealis beliau tentang pembuatan kopi tradisional juga memberi satu karakter yang begitu melekat dipikiran gue. Itu adalah karakter Pak Seno yang membuat Ben jadi luluh oleh kopi tradisional yang dibuat pak Seno, Kopi Tiwus.

Gue iseng bertanya,"Faktor yang membuat kopi enak itu apa Om?"

"Banyak. Ketinggian, tanah, pemilihan biji kopi."

Ali memotong,"Kopi Luwak, Om?"

Bapak Ray menjelaskan bahwa Kopi bagus tetap kopi bagus. Luwak hanya menghilangkan tingkat masam, kalau gue ngga salah ingat kata beliau. Kopi jelek dikasih makan Luwak juga tetap jelek.

Sesudah itu, kami berhenti berdebat. Menikmati Cappucino yang masih ada dan Ali yang kembali menghabiskan pesanan kopi kedua. Kami pulang setelahnya. Ada perasaan tertarik menikmati kopi. Seperti Ben yang sempat berkata,"Seperti hal yang punya rasa, selalu punya nyawa."

Mungkin gue terlalu lama berdiam diri pada zona nyaman yang gue nikmati. Pesanan Cappucino yang tidak pernah gue ganti membuat gue tidak merasakan menu-menu yang lain. Gue memang seperti itu. Gue tidak seambisi Ben, ataupun Bapak Ray, gue hanya orang yang tidak berani keluar dari zona nyamannya. Ibarat lagu Fortwenty, gue ini seekor sapi. Yah, tidak begitu.

Menutup cerita ini, gue ingin memberi hormat kepada para penikmat kopi diluar sana. Orang-orang yang punya ambisi lebih diluar sana. Tentunya kepada orang-orang yang sudah menanam hingga membuat kopi itu siap diminum. Tanpa kalian, takkan ada adegan suami minum kopi pagi-pagi.

12 comments:

  1. pecinta kopi beneran itu selalu tahu jenis kopi yang dia minum ya dan menikmatinya benar2 dengan hati

    ReplyDelete
  2. saya gak begitu cinta kopi yg penting latte artnya cakep klo di foto :) dan rasanya manis

    ReplyDelete
  3. Aku sekedar suka aja sih sama kopi, kalau yang pait malah gak begitu..he
    Tapi kalau icip2 mah sering :D

    ReplyDelete
  4. kayanya akhir-akhir ini emang orang banyak yang coba bikin kopi sendiri. ga tau kenapa, apa gara-gara pengaruh film filosofi kopi? kalo aku sih termasuk yang doyan aja tapi engga doyan banget wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, dibikinin story dengan backsound Zona Nyaman-nya Fourtwnty..

      Delete
    2. gue juga bukan pecinta kopi, tapi gue lumayan suka ngopi. tap kenapa yah akhir akhir ini banyak bermunculan pecinta kopi. terus pecinta teh juga. mereka keren keren gitu. sedangkan gue pecinta mie instan. kyk enggak ada keren kerennya gtu.

      Delete
  5. Asyk, teman gue juga klo main ke kosan selalu minta di ajak nongkrong di kafe yang menawarkan berbagai jenis kopi dari Indonesia. Meski harganya mayan nguras kantong,.

    ReplyDelete
  6. Banyak yang rekomendasi kopi tradisional, kalau saya tetep suka kopi tubruk ajah.
    Enak pahit pahit pekat gimana gitu.

    ReplyDelete
  7. ahhh dengann meminum kopiii terasa nikmat dan menghilangkan rasa kantuk saaat tugas tugas sekolah bertebaran... kopi is the best

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..