Sep 18, 2018

Kaset Untuk Jeni


Awal April 2008 menjadi awal musim hujan yang lama. Hingga hari ini, hujan sesekali masih mengguyur Kota Lama, Kendari dan sekitarnya. Ini juga yang menjadi orang-orang malas untuk bangun pagi, tak ada niat untuk melakukan aktivitasnya, dan terus-menerus menempelkan badan di kasur kesayangannya.

Jam 3 Sore, sekolah dipulangkan. Namun beberapa orang memilih tinggal sampai hujan benar-benar reda. Marko baru saja keluar dari ruang Perpustakaan. Membawa dua buku yang dipinjamnya. Ia berjalan dari koridor sekolah, menuju halte depan sekolah. Kebetulan, parkiran juga tidak jauh dari sana.

Hujan masih cukup mampu membasahi jaket dan baju. Maka dari itu, keputusan paling bijak yang dilakukan Marko adalah menunggu hujan reda. Sebelum benar-benar menerobos hujan, ia melihat satu murid yang belum pulang. Duduk manis di halte hendaknya menunggu seseorang.

“Jeni.” Sapa Marko kepada Jeni dengan mengibas rambutnya yang terkena hujan.

Jeni hanya tersenyum. Marko duduk.

Tidak ada yang benar-benar bisa menjadi topik obrolan, yang membuat Marko menjadi serba salah. Ia ingin sekali bisa mencairkan suasana. Namun ia tahu, perkara yang ia hadapi ini bukan perempuan seperti yang lain. Jeni berbeda. Unik dan manis. Perempuan yang benar-benar mampu membuat Marko mati kutu. Membuatnya tahu untuk siapa hatinya berlabuh. Apakah akan sampai? Marko akan mencobanya. Sepertinya ombak tidak bersahabat.

“Jen, nda dingin?” tanya Marko.

Jeni membesarkan matanya, kemudian menggeleng.

“Kayaknya hujan akan lama.” Marko berbicara sendiri, namun mengeraskan suaranya agar didengar Jeni.

Mata Jeni sedikit bergerak, tetapi kepalanya tetap pada tempatnya.

“Uh, cuacanya dingin sekali. Untungnya aku kuat. Eh, ada jaket lagi. Tapi sepertinya ini tak perlu.” Marko membuka jaket, menaruh tepat di sampingnya.

“Aku anggap ini permintaan.” kata Jeni, meraih jaket itu.

Marko tersenyum tipis, menggeleng. Matanya bergerak ke kanan dan kiri. Sesekali memperhatikan Jeni saat ia tak sadar dan membuang muka ketika Jeni memastikan Marko tidak memperhatikannya. Sepeda motornya sudah diguyur hujan, untung helmnya selalu dititip ke Pak Bono, petugas sekolah. Marko bisa saja pulang, ada jas hujan di bawah jok motornya. Namun, membiarkan Jeni sendiri adalah kebodohan yang tidak bisa ia maafkan.

“Ayahmu belum kesini?” tanya Marko, mencoba membuat suasana cair.

“Ia sibuk. Jangankan datang. Tau aku di sini saja nda.” kata Jeni dengan nada gusar.

“Mungkin ia,..”

“Mungkin apa? Lupa? Basi, Marko!” Jeni sedikit menaikkan nada suaranya. Mengalahkan bisingnya hujan.

“Memang, kerja saya yang ia tau.” lanjut Jeni.

“Hah?” Marko heran, menunjuk dirinya.

“Bukan kau. Ayahku.”

Marko mulai kehilangan kembali topik obrolan. Beberapa menit sebelumnya, ia hanya mendengarkan Jeni dengan amarahnya. Tak seperti biasa, ketika suara lembutnya muncul pada radio. Jeni memang penyiar, itu dilakukannya untuk menambah uang sakunya. Sejak Ibunya meninggal, ia merasa kurang perhatian. Ayahnya tak begitu dekatnya denganya. Yang ia tahu hanya kerja, kerja, dan kerja.

“Mungkin ia sedang menerapkan anjuran Pak Presiden?”

Jeni tidak merespon, malah membuat Marko merasa bersalah. Kemudian, ia kehilangan topik obrolan. Jeni sudah malas berbicara setelah guyonan Marko yang sama sekali tidak lucu. Dari kecanggungan itu, Marko menangkap banyak hal di luar yang ia tahu dari Jeni. Ia tahu bahwa Jeni adalah orang yang pendiam dan manis. Bersuara lembut di radio dan punya banyak penggemar. Selalu memutar lagu-lagu Sheila on 7  meski tidak ada orang permintaan dari pendengar.

Setelah mendengarkan ungkapan Jeni, yang ada hanya belas kasihan Marko. Namun ia tidak benar-benar menunjukkan. Ia tahu betul watak Jeni. Yang tidak mau dikasihani dan keras. Sore mulai habis dan mereka masih disana. Perlahan, hujan mulai reda. Digantikan dengan gerimis yang juga belum berhenti.

“Jen, sudah hampir reda. Balik yuk.”

Jeni diam, menatap Marko. Matanya penuh makna, bibirnya pucat dan seringkali bergetar. Tangannya mulai merangkul badannya yang terasa dingin.

“Oh, sepertinya akan malam. Aku sebaiknya pulang. Takut begal.” Marko kembali berbicara sendiri, namun membuat Jeni mendengarnya. Ketika Marko sudah menyalakan motornya, Jeni sudah berada tepat disamping Marko.

“Eh?”

Jeni diam. Hanya naik dan duduk dibelakang Marko.

“Helm hanya satu. Kau bisa memakainya.” Marko memberi helm kepada Jeni.

“Kau tak takut Polisi?”

“Jalanku banyak. Untuk sampai kerumahmu, aku punya banyak jalan tikus. Polisi mana bisa menangkap tikus.”

Jeni hendak tersenyum, namun ia urung.

Atas nama hujan dihari Rabu, itu adalah pertama kali Jeni naik dimotor Marko. Banyak yang naksir padanya. Namun kurang beruntung sampai Jeni benar-benar mau dengan mereka. Marko dengan lincah melewati gang-gang sempit. Sampai-sampai, Jeni bingung mau kemana.

Hingga motornya sampai pada suatu daerah yang ia kenali, Jeni mulai senyum. Tipis sekali. Seperti tidak tersenyum. Ia hendak memuji Marko, namun tentu saja tidak ia lakukan. Helm ia berikan. Namun jaket ditolak Marko, katanya, nanti saja.

Jeni hendak masuk dan Marko akan pulang. Jeni lalu bertanya secara mendadak.

“Marko. Kau tahu rumahku darimana?’ tanya Jeni.

Marko tak menjawab, ia melakukan hal bodoh.

“Darimana?”

Marko masih terdiam.

“DARIMANA MARK,..”

“Aku suka padamu, Jeni. Kau tahu kaset yang selalu kau terima disetiap tanggal 18 itu? Itu dariku.”

Jeni terdiam. Pikirannya membanjiri kepalanya. Pertanyaan mengawang. Ia tak begitu mengerti apa yang barusan ia dengarkan. Ia tak tahu harus bersikap. Disatu sisi ia pernah marah karena ada orang yang benar-benar kurang kerjaan selalu memberi ia kaset. Disatu sisi, ia mulai suka ketika mendengarkan isi kasetnya. Jaket yang masih ia pake, ia lepas, kemudian ia masuk tanpa bicara.

Marko masih terdiam.

Pagar sudah ditutup dan pada beberapa detik setelahnya Marko masih terdiam. Ia menyalakan motornya, memakai jaketnya dan menggunakan helmnya. Pagar berdecit, Marko berbalik. Jeni mengeluarkan kepalanya,”Lusa tanggal 18. Jangan sampai lupa.”

Marko tersenyum.

“Untuk jaket itu, maaf. Aku banyak cucian.” Jeni semringah.

Cerita lainnya: Kaset Dari Marko.

10 comments:

  1. marko kek nama om ku, wahhhhh jangan jangan om ku itu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba tanya, nama panjangnya apa? Marko Reus Bukan?

      Delete
  2. Ciyeeeee Markoo....
    Kalau mmau serius udah dihalalin aja yaa sesegra mungkin... Hehehe


    Shela on 7 lagu favorit saya sejak jaman SMP

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kejauhan mba. Marko jangan diberi beban.

      Sheila Gank!

      Delete
  3. Tentang cerita kasetnya kok sedikit sekali? Cuma semacam bagian kasetnya udah bisa masuk ke cerita aja gitu, Hul. Bahkan pembaca enggak tahu lagu apa aja yang Marko kasih buat Jeni. Meski ada bagian yang menyatakan dia penyiar dan suka muterin lagu SO7. Terus, mestinya ada momen saat Jeni sebelumnya dibuat bertanya-tanya soal kiriman kaset itu. Dibikin kilas balik, misalnya. Bagian tersebut rasanya berlubang banyak. Emang cerita ini terburu-buru atau ada bagian sebelumnya yang belum saya baca? Hmm.

    Duh, saya sok tahu amat. Wqwq. Semoga enggak kapok bikin cerpen~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu akan datang. Bertepatan dengan perasaan Jeni, dan segala kerinduan Marko.

      Ngga dong. :D

      Delete
  4. ceritanya sedikit membawa gue ke masa vintage SMA jaman old, yang ngga pernah gue rasain, memberikan kaset ke gebetan, pengen deh ngalamin wkwk :D
    Nice

    ReplyDelete
  5. Cerpennya lumayan. pemilihan kata2nya juga sudah bagus, cuma kayak ada yang typo deh...

    Kerja saya yang ia tahu itu maksudnya kerja saja ya?

    Gak ada penjelasan... pada kalimat 'mungkin ia sedang menerapkan anjuran presiden'
    Anjuran presiden yang mana maksudnya?

    Trus perhatikan juga deh penggunaan kata di (yang disambung) dengan kata di (yang dipisah) krn banyak kata di yang harusnya dipisah tapi ditulis bersambung gitu...

    ReplyDelete
  6. Bagus, ceritanya remaja banget. Ada typo sedikit kelihatannya ya coba dicek, ok. Thank you

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..