Nov 11, 2018

Pesta Bidik Misi, Perut Banyak Isi

Setelah bangun dari tidur siang, saya benar-benar kaget. Soalnya hari itu, ada kelas menulis dari Rumah Bunyi. Seharusnya, di hari Sabtu saya jarang tidur siang walaupun mata kuliah hanya satu dipagi hari. Namun, pagi tadi, sama dosen saya, mata kuliahnya diganti dengan acara seminar "Kebangkitan Sastra Di Sulawesi Tenggara" pada 4 November. Komsumsinya tidak bisa bikin kami bertahan. Sehingga, kami keluar sebelum pukul 12 siang, dan makan didepan Fakultas Teknik. Disana ada nasi kuning harga murah 5 ribu.

Marwan dan Adi in Auditorium Mokodompit, UHO.

Setelah memacu motor cukup kencang, saya berhasil sampai sebelum sesi kelas menulis dimulai. Disana ada dosen saya, Bu Ila bersama suaminya Bang Kahar. Hari itu, dari pemateri seminar, ada Aslan Abidin, penyair dari Makassar, yang akan mengisi kelas menulis hari itu. Dianya ngisi kelas hari itu dengan santai. Nanya-nanya buku yang kita baca terakhir. Dan, menceritakan kisah masa kecilnya yang pas SD minjam buku dari rumah ke perpustakaan dengan jarak 5 KM jalan kaki. Lalu bagaimana dia waktu kuliah. Masak Indomie bagi empat. Sebelumnya dosen saya juga cerita dengan hal yang hampir sama. Hanya, dosen saya bagi dua. Bang Aslan ini lebih ekstrim. Tidak sulit membagi Indomie jadi dua, bahkan empat. Yang sulit adalah membagi bumbunya itu gimana.



Setelah kelas menulis, kami foto-foto dulu dengan Bang Aslan Abidin. Lalu, ingat, hari itu teman-teman kami yang nerima Bidik Misi bikin acara nanti malam. Karena bingung, saya terpaksa manut aja. Karena semua teman saya yang disitu mau kesana semua.

Saya dan Arjun bersama Aslan Abidin.

Kami berjalan menyusuri jalan Kampus yang mulai gelap. Cahaya lampu mulai ada dimana-mana. Kami belok kiri, kemudian mendapatkan jalan lurus yang lumayan panjang untuk setelahnya belok kanan lagi. Sampai disana, kami parkir motor didepan rumah orang. Lalu masuk ke Asrama teman kami, lebih tepatnya rumah. Sudah ada dua orang yang nunggu. Yang lain belum datang. Katanya lagi beli bahan masakan. 



Saya duduk bersama yang lain sampai Lasmin datang membawa bahan masakan yang kemudian dikerjakan oleh perempuan yang ada disana. Kemudian, Arjun minjam motor, katanya mau jemput Danil, ketua tingkat kelas kami. Fandy dan Iyar datang setelah saya kirimin lokasi. Mereka duduk diluar ngga mau masuk. Malu, katanya. Tapi karena dipanggil minum sirup, langsung buang malu mereka.

Pis Iyar dan Pis Fandy.

Fandy dan Iyar duduk dikursi ruang tamu. Kebetulan lampunya tidak nyala dan kami lebih senang begitu. Beberapa waktu, Arjun datang bersama Danil dan gitar. Itu yang kemudian membuat suasana jadi makin rame. Arjun lagi-lagi mainin lagu Kebenarakan Akan Terus Hidup, hasil dari aransemen Fajar Merah dari puisi ayahnya Wiji Thukul. Dia ngefans banget dengan Thukul. Sampai-sampai, saat ditanya alasan masuk Sastra Indonesia yah karena baca puisi Wiji Thukul.

Yang lain mulai datang meramaikan acara, walaupun tidak bisa dikatakan hadir semua. Untuk laki-laki, yang ada hanya saya, Arjun, Iyar, dan Fandy. Yang lain seperti Marwan, Adi, dan Ridwan tak bisa hadir karena satu dan lain hal. Aping saja, datang setelah ditelpon Danil. Turun didepan Kampus, kemudian dijemput dengan Fandy.

Sebelum Aping datang, saya, Lasmin, Novin dan Mawar pergi ke depan kampus. Itu untuk beli gorengan dan ambil daun pisang. Untuk apa, kata teman yang lain. Itu jadi inisiatif saya ketika ngeliat piring di dapur hanya beberapa. Yang sial dari ambil daun pisang adalah satu celana saya ditempeli alang-alang. Kemudian pulang dengan segera sebelum kepergok.

Diluar asrama, kami sempat berdebat hebat. Itu dimiulai ketika saya mulai memancing pembahasan. Dan kejadian itu bisa dibilang cukup lama sampai akhirnya kami sadar. Sementara berdebat, Danil sibuk juga nyari pasangan sendalnya yang hilang. Sementara yang lain, ngantar Isma pulang karena sudah ditelpon orang rumah. Itu adalah Arjun dengan Atma sebagai penunjuk arah pulang, dan Mawar dan Isma. Kami mulai lapar ketika nunggu mereka balik. Saya juga mulai khawatir, sebab Arjun dengan niat yang baik tapi memakai motor saya.

Disela-sela nunggu, seorang Bapak yang berumur datang masuk kedalam Rumah. Itu juga yang membuat Iyar kaget ketika berada tepat didepan pintu. Akhirnya kami tahu, itu adalah pemilik rumah yang ditinggali teman kami. Dia datang untuk negur kami yang berisik. Katanya, dapat telepon dari tetangga. Terus Lasmin jadi korban kena marah. Sebab, kata si Bapak yang harus dinasihatin bukan kami sebagai tamu, tapi teman kami sebagai yang tinggal. Indah kemudian dibangunkan. Kata Bapak, harus dinasihatin dulu biar paham.

Ini kaki.

Dari cara ngomong Bapak itu sangat baik. Sehingga, untuk ngeles kami pun tidak bisa. Terakhir saya tahu, ternyata dia dosen di FKIP. Bapak itu pulang setelah ngecek lampu dan air. 

Selanjutnya, kami sudah lapar, jam 10 lewat mereka belum balik. Saya sudah berpikir begitu mengingat jarak rumah Isma lebih jauh dari rumah saya. Setelah datang, kami bersorak hore. Tandanya kami akan segera makan. Kami, yang adalah Arjun, Iyar, Fandy, Danil, dan Aping ngambil tempat disudut kiri. Sementara yang lain menyesuaikan.



Kami makan dengan sangat senang, apalagi saat makan berjejer dialasi daun pisang. Saya rasa itu benar-benar beda ketika kami hanya makan dengan piring. Apalagi, saat itu, bisa dikatakan, makanan kami tidak se-wah untuk sebuah acara. Namun, inti dari itu adalah keeratan kami. Saya berpikir kembali tentang pikiran saya waktu akhir SMA. Itu tentang paranoid saya dengan teman-teman  saya didunia perkuliahan. Namun, saya rasa itu tidak jadi soal lagi. Teman lama saya baik, dan mereka sedang buat cerita baru untuk hidupnya. Begitu juga dengan saya.



Selesai makan, kami rehat sejenak sambil nunggu Lasmin dan Iyar buang sampah sisa makan kami. Kemudian, gorengan yang belum sempat mereka makan (karena saya sudah makan), kami tinggalkan. Itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

"Hul, sama sapa ko pulang?" tanya Aping (Hul, sama siapa kamu pulang?"

"Nanti kita sama," jawab saya.

Karena kami pulang dengan arah yang berbeda-beda, kami terbagi dari bermacam kelompok. Saya jalan bersama Siska yang sendiri, Iyar yang bersama Fandy dan Mawar yang bersama Novin. Awalnya kami ngisi bensin botol di depan kampus, itu Iyar yang sudah khawatir dengan bensinnya. Kemudian, kami ngantar Siska ke kosannya. Lalu, menuju Perumahan Dosen untuk ngantar Fandy. Sebelumnya, Mawar dan Novin sudah belok saat kami tetap lurus.

Dijalan saat sudah ngantar Siska, Iyar bilang,"Pis, kita antar dulu Fandy nah." 

"Ko takut kah?" tanya saya (kamu takut kah?)

"Ada juga, Pis!" sambil tertawa kecil.

Setelah ngantar Fandy, kami tidak belok kanan untuk kembali kejalan utama. Kami milih belok kiri untuk ngambil jalan memotong. Lalu tembus di bundaran tank. Diperjalanan menuju Tapak Kuda, Iyar belok kiri sementara kami lurus. Dengan klakson besar seperti kapal, saya ngebunyiin untuk mancing Iyar ketawa. Dari jauh, ia mengirim jempol sambil tertawa.

Keluar dari Tapak Kuda, keadaan yang tadinya mulai gelap berubah mejadi terang. Orang-orang masih ramai berkendara, padahal saat saya nanya jam ke Aping sudah hampir pukul 12 malam. Dari jalan belakang, saya belok kanan untuk ke jalan poros. Itu adalah tempat dimana Aping tinggal. Sebelum pergi, saya jabat tangan Aping. Itu adalah hal yang benar-benar baik untuk dilakukan saat itu. Mengingat dia adalah yang paling tua dan punya banyak cerita. Jika perlu saya katakan, Aping itu lahir tahun 1993. Tujuh tahun hampir diatas kami semua. Kenapa begitu? Ada cerita yang benar-benar harus kalian pahami tapi tidak sekarang.

Setelahnya, saya memacu motor kembali. Sebelum Aping masuk, saya memencet kembali klakson dengan bunyi seperti kapal. Aping tertawa, saya mengangkat tangan untuk kemudian memacu motor lebih kencang menembus angin malam. Kenapa klakson motor saya berbunyi seperti kapal, itu adalah perbuatan Bapak saya. Yang dimana, itu bukan motor yang sering saya pakai. 

Baru mau membuka pagar rumah, sudah muncul tante saya yang membuka. Ternyata sedang nyusun barang di warung. Saya masuk, buka jaket dan tas, dan ngecek-ngecek foto dari grup WhatsApp. Dalam bayangan saya yang lalu, tidak seperti saat ini yang saya lihat. Mungkin, ketakutan yang saya bayangkan belum tentu terjadi seperti ketakutan UN dan Sunat waktu itu. Yang bisa saya yakini adalah waktu punya misteri penting untuk dipecahkan.

7 comments:

  1. dulu pernah ikutan seleksi, tapi ga lolos

    ReplyDelete
  2. si Bapak dapat telepon dari tetangga, katanya berisik. yg dimarahi bukan tamu tapi yg tinggal, harusnya bisa kondusif. haha, kalau anak2 muda udah kumpul ya begini, rameee

    ReplyDelete
  3. Wah kereeen rumah bunyi....

    Wow yaa..indomie dibagi empat..hehehe gimana tuh ya.. bagi bumbunyaa 😁

    ReplyDelete
  4. Sebuah perubahan yang cukup menarik dari Rahul Syarif, yang semula menggunakan kata ganti orang pertama "gue" jadi "saya". Saya senang, bahasa Indonesia baku masih digunakan kalangan muda. :)

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..