Perlu saya katakan bahwa ini adalah salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya tempuh menggunakan jalur darat. Itu adalah malam Sabtu...

Karena Liburan, Gagal Final Karena Liburan, Gagal Final

Karena Liburan, Gagal Final

Karena Liburan, Gagal Final

Perlu saya katakan bahwa ini adalah salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya tempuh menggunakan jalur darat. Itu adalah malam Sabtu, dimana kami sudah mengumpul uang 100.000/orang untuk biaya bensin dan lain-lain. Yang akan ikut, diperkirakan sekitar delapan orang. Yaitu, Kak Rijal yang dimana bertugas menyetir, kemudian Ari, Dandi, Ali, Riki, Rendy, dan saya sendiri. Yang terakhir adalah Sudi, yang kami jemput di rumah kakeknya.

Rencana perjalanan ini sudah direncanakan sejak hampir setahun yang lalu. Itu waktu kami sedang nginap di hotel. Awalnya kami hanya ingin ke Danau Biru, yang waktu itu lagi hits-hitsnya. Namun, rencana kami ini lebih besar. Kami akan ke Kolaka mengelilingi beberapa objek wisata.

Malam Minggu tanggal 22, kami sudah hampir siap sebelum saya mendapat info dari grup kelas. Katanya, Senin ini akan ada final test. Saya mulai panik. Beberapa teman saya yang sudah ada di Kampung apalagi. Kami bernegosiasi di grup dengan keting kami Danil. Lewat teman saya, kami bicara sambung tiga dengan Danil. Saya mencoba bernegosiasi, apakah bisa final dipindahkan ke hari lain. Masalahnya, kalender kampus menunjukkan hari itu adalah libur bersama sebelum besoknya perayaann Natal. Beberapa menit berbincang dengan kolot, Danil kemudian bersedia ngomong dengan Pak Saur, Asisten Dosen mata kuliah Pengantar Linguistik.

Kabar dari Danil kemudian datang: final tetap hari Senin. Alasannya, itu bukan kuasa Pak Saur untuk memindah-mindahkan jadwal. Apalagi peng-inputan nilai sudah sangat dekat. Saya mulai pasrah. Saat Riki datang ke rumah, saya katakan tidak jadi pergi. Ia sedikit kecewa. Beberapa orang seperti Ali, Dandi, dan Ari sudah datang ke kamar. Dengan kecewa, membujuk saya agar tetap ikut.

Saya mencoba mencari cara. Saat Kak Rijal datang, saya memberitahukan permasalahan. Ia bersedia bicara dengan Pak Saur lewat telepon. Dan, akhirnya, sama saja. Pak Saur hanya bisa mengarahkan kami dengan Pak La Ino, dosen penanggung jawab. Jadi, lewat nomor Dosen saya, Kak Rijal menuliskan pesan singkat untuk meminta ijin dan kebijaksanaan agar saya bisa final meski dihari lain. Dengan itu, baju yang sudah ada di tas, tidak jadi saya keluarkan. Meskipun belum mendapat ijin pasti, saya tetap pergi. Dengan banyak keraguan dan pertimbangan.

Dijalan, kawan-kawan saya berusaha menenangkan saya dengan ungkapan: tenang saja. Namun realitanya saya masih was-was sepanjang jalan. Hingga sudah benar-benar meninggalkan Kendari, saya berusaha untuk tenang dan mencoba menikmati perjalan. Jika saya terus bersusah hati, saya malah rugi pada dua pilihan itu. Yang saya takutkan adalah mengecewakan Mama saya, itu saja. Karena, beliau sudah dengan perlahan mengikhlaskan saya belajar pada jurusan ini.

Kami berbincang singkat didalam mobil, sesekali tertawa, lalu mengenang kembali rencana yang akhirnya jadi. Jika mau diputar balik, rencana ini sudah dibicarakan dari tahun lalu. Waktu itu kami sedang melakukan project tahunan juga, yaitu: bermalam di salah satu hotel ternama Kendari. Lalu, salah satu dari kami mengeluarkan opini,"Danau biru bagus juga."

Kami memulai perjalanan hampir pukul 10 malam, kemudian mengisi bensin sebelum benar-benar meninggalkan Kendari. Lalu, melaju tanpa henti ke Kolaka. Disana, saya tertidur karena mulai pusing. Perjalanan kurang lebih 5 jam. Itu sudah kami menjemput Sudi, makan disalah satu warung (walaupun saya bungkus), dan sampai disalah satu tempat yang akan kami tiduri malam ini. Tempat itu adalah rumah keluarga Riki.

Kami datang sebagai tamu yang bisa dibilang menyebalkan. Datang sepagi itu, dan membangunkan si empunya rumah. Meski begitu, empunya rumah menyambut kami dengan baik. Karena lama saat memanggil empunya rumah, nasi yang dibeli saya makan didepan pagar. Dibantu Dandi yang juga tidak makan malam itu.

Kami tidur di kamar dengan jumlah enam orang. Empat yang dikasur, yaitu saya, Riki, Rendy, dan Dandi. Dibawah, ada Ali dan Ari. Sementara itu, Kak Rijal dan Sudi tidur di depan ruang tivi. Sempat terjadi perbincangan intim sebelum tidur. Dan akhirnya kami semua tumbang terlelap.

Pagi hari, yang pertama saya cek adalah balasan sms Dosen saya yang dimana tidak ada. Beberapa yang di kamar sudah bangun. Seperti Dandi dan Riki. Saya terbangun ketika mendengar suara berisik mereka. Itu ketika mereka menertawai tidur kami. Disana ada Rendy, adik saya, yang akrab disapa Onge. Itu tidur dengan gaya yang aneh dan mulut menganga. Ali mem-video sambil menahan tawa.

Dengan pikiran masih kacau, saya mencuci muka dan boker. Lalu minum teh dan makan kue yang sudah dihidangkan. Kami ngobrol santai bersama empunya rumah, terutama Ridho, anak kecil yang ada tinggal disana. Ia meminta kirim game Badminton yang ada di hape Kak Rijal.



Kami meninggalkan tempat itu sebelum jam 9, kemudian lanjut ke Tamborasi, salah satu tujuan kami juga. Sebuah objek wisata pantai sekaligus sungai. Air sungainya sangat dingin. Saking dinginnya, air minum yang kami bawa menjadi air es.

Sebelum sampai kesana, kami singgah ke beberapa tempat, salah tiganya untuk membeli permen, obat anti mabuk, dan makan. Karena kurang percaya diri, saya ikut-ukutan minum obat anti mabuk. Yang saya tidak sadar adalah efek dari obat tersebut. Akibatnya, sepanjang jalan saya tertidur pulas. Saking pulasnya, menjadi objek paparazzi.


Di Tamborasi, kami makan nasi goreng di bawahh tebing. Airnya mengalir dingin. Cocok sekali dengan situasi yang sedang lapar-laparnya. Kami makan dengan lahap. Perpaduan antara lapar dan nasi gorengnya yang memang enak. Telurnnya dua, dan dengar-dengar bukan telur ayam tapi bebek. Setelah makan, semua langsung merendam diri. Segar sekali. Kalian perlu mencoba. Semua sudah ke tempat yang airnya tinggi sementara saya dan Ali masih duduk dibawa tebing. Meski airnya segar, masih ada perasaan kacau. Apalagi saat itu, lensa saya terkena air pas menyeberang.




Ali memberi saya dua pilihan: mau menjaga barang dulu, atau mandi. Namun sebelum menjawab, ia menyuruh saya lebih dulu mandi. Saya mengiyakan. Tebing itu tidak tinggi, tapi berlumut dan curam. Setelah berhasil melewati beberapa bebatuan. Saya salah mengambil langkah dan terpeleset. Kaki kanan saya mendarat pada batu pipih. Dalam hati saat hendak melihat kaki, saya berdoa,"Jangan luka, jangan luka, jangan luka.."

Namun inilah adanya. Punggung kaki saya robek. Putih dahulu, kemudian diiringi banjir darah. Ali yang melihat membantu saya mengambil posisi untuk duduk. Kemudian memanggil yang lain. Saya memeriksa bagian tubuh yang lain. Alhamdulillah. Aman. Hampir saja, telapak tangan saya ikut robek. Untungnya batu yang berlawanan dengan telapak saya bukan batu runcing juga.

Kak Rijal datang dan melihat luka saya. Sembari meringis, Kak Rijal merobek sebuah kain untuk diikatkan pada kaki saya. Salah satu yang saya ingat saat jatuh adalah dosen saya. Benar-benar kualat saya ini. Yang lain datang dengan wajah khawatir. Kemudian, mereka lanjut mandi saat saya memilih untuk kembali ke mobil beristirahat.

Ali yang mengantar saya ke mobil membelikan saya handyplast di warung depan. Ia kemudian lanjut mandi bersama yang lain sementara saya meringis membersihkan luka dan menutupinya dengan handyplasti berbalut tisu. Jika ini sebuah kesalahan, maafkan saya. Disituasi genting seperti itu, pikiran saya benar-benar sempit dan memilih jalan keluar cepat.

Saya rebahan sebentar sebelum mereka datang dan mengambil foto. Saya menolak ajakan mereka karena kaki saya masih sakit dan sendal saya juga putus. Diperjalan, saya memakai sendal Ali. Sementara ia mulai memakai sepatu. Riki dan Rendy bertelanjang kaki setelah sendalnya hilang ditelan arus. Perjalanan berikutnya adalah ke Danau Biru. Dengan kaki yang sudah terluka, teman-teman memberi dukunga agar saya kembali semangat. Bagi saya, liburan ini benar-benar dilema besar untuk saya. Di grup WhatsApp, saya mencoba merayu agar beberapa teman yang sudah balik ke kampung untuk sama-sama ujian susulan. Namun mereka terlampau takut dan pasrah kembali ke Kendari.

Yang saya lakukan saat itu mencoba benar-benar merekalan sesuatu yang sudah terjadi. Mengingat kata dosen saya ini, beliau dalam PBM pernah berkata,"Jika ngantuk, jangan ke Kampus. Tidur saja di Rumah. Jangan datang ke Kampus dan membuat dirimu tidak fokus belajar, dan membuat kau rugi tidak tidur."

Karena sudah begini, saya mencoba merelakan yang telah terjadi dan menikmati apa yang saya pilih. Diperjalanan menuju Danau Biri, lagu Always-nya Bon Jovi menjadi lagu yang benar-benar mengaung diudara. Kami bernyanyi riang dan sangat liar. Ditengah perjalanan, kami berhenti untuk berfoto didepann gerbang selamat datang. Kegembiraan mulai saya raih kembali.

Tibanya di Danau Biru, itu disebuah depan pantai. Kami harus naik beberapa anak tangga sebelum benar-benar sampai ke Danau Biru. Dan setelah naik, seperti yang sering kami lihat di postingan orang-orang di Instagram, airnya benar-benar biru, tempatnya benar-benar keren. Kami takjub dibuatnya. Saat sampai, semua bersiap untuk mandi kecuali saya. Jika kaki saya tidak terluka, saya mungkin sudah bersenang-senang diatas air yang keren itu.

Saya hanya dipinggir, menyaksikan mereka berenang dan memotret. Untuk sebuah objek wisata, ini sangat-sangat rekomendasi. Saya tahu, ini sudah agak terlambat. Orang-orang mungkin sudah kesekian kalinya datang kesini ketika kami baru takjub dibuatnya.

Dari atas, memang terlihat dangkal. Namun, sangat jarang yang bisa mendapatkan dasarnya. Beberapa orang yang tidak mahir berenang tidak usah khawatir. Disana disewakan ban renang untuk yang tidak mahir berenang. Meski begitu, tidak sedikit yang jago berenang dan melompat dari atas tebing dan bergelantungan. Itu benar-benar keren.

Hampir lupa waktu kami disana. Kami berganti pakaian dan naik kembali. Itu untuk kebutuhan dokumentasi. Untungnya, ada kakak senior Ali dan saya pas SMA untuk kami minta tolong mengambilkann kami foto bersama. Kemudian, Ali disuruhnya menjepretnya dengan istrinya.


Dari foto-foto, kami bergerak meninggalkan Danau Biru. Diperjalanan keluar, mobil berhenti ketika bunyi krek yang sangat keras dibawa mobil. Saat kami melihat, ternyata besi yang ada dibawa mobil sudah terangkat karena mobil kelebihan muatan. Mobil sempat didongkrak untuk Kak Rijal memukul besi itu. Namun besi terlampau kuat dan kami menyerah. Terpaksa kami jalan hingga mobil melewati medan yang tidak rata itu.


Pemberhentian selanjutnnya ke Desa Watumena. Itu kampung Kak Rijal. Disana, kami akan nginap untuk semalam. Tapi, sebelum itu, kami singgah di jalan by pass dekat sebuah Mesjid. Disana ada beberapa pedagang. Kami membeli siomay dan minum sebelum bergerak ke kembali. Sebelum jalan, kami bertemu Sul, orang yang sempat kuliah di Kendari dan akrab bersama kami. Kami jalan setelah foto bersama. Perjalanan ke Desa Watumena cukup cepat namun kami sudah hampir kehabisan tenaga.

Sampai disana, kami disambut hangat. Kami masuk kedalam rumah dan dipersilahkan oleh Mama Kak Rijal. Setelah beristirahat sebentar, hindangan makan malam mulai disediakan. Dandi, yang dimana keluarga Kak Rijal membantu menghidangka kami makan. Dan malam itu, kami makan dengan lahap, kemudian berbincang dengan hangat.

Setelah makan, kami diajak Kak Rijal untuk ke sebelah liat proses kerja cengkeh. Kami datang untuk melihat sambil membantu dan belajar memisahkan cengkeh dari rantingnya. Kami dapat ilmu malam itu, terutama saya, yang baru ngerti kalo bahan utama rokok itu cengkeh. Setau saya sih, cengkeh buat makanan.



Sembari memisahkan cengkeh dari ranting, Dandi datang setelah mandi dari rumahnya. Setelah selesai, kami kembali untuk minum teh yang sudah disediakan. Kaki yang kena luka masih terasa perih ketika jalan. Itu yang membuat Kak Rijal nyuruh saya untuk ke sebelah lagi, bersama Om-nya Kak Rijal. Dengan minyak yang entah apa namanya, kaki saya diolesin dan Om itu semacam ngurut dan doa dalam hati.

Tidur dalam keheningan malam. Hape kurang mendapat sinyal. Hanya obrolan dan teh hangat. Lampu sudah dimatikan, dan kami sudah baring ditempat masing-masing. Riki, Sudi, dan Rendy, pindah ke bagian depan. Paginya, saya bangun pukul 7 pagi. Terus keluar. Disana ada Kak rijal dengan sarung. Mobil sudah di dongkrak untuk diperbaiki oleh Om yang kita kenal sebagai Om Ompeng.



Saat Riki bangun, kami nyobain motor rakitan Om Aris. Mirip CB klasik, tapi bukan katanya. Biaya beli dan rakitnya cuma sejuta. Kami kaget. Sebelum sempat nyobain, kami dipanggil masuk untuk sarapan. Kami makan Sokko dan Ikan Masak. Barusan dapat sarapan begitu. Tapi, enak. Hampir semua dari kami nambah.

Habis makan, kami diajak Kak Rijal metik jeruk nipis. Saya dan Ali malah lebih milih metik coklat. Tapi yang kami petik coklat yang sudah atau belum masak. Dari rumah, kami ngambil handuk untuk mandi di belakang rumah. Bukan tempat mandi biasa. Itu adalah dibawah jembatan kecil yang katanya sungai. Tapi, lebih mirip kali, eh, ngga juga. Meski kecil, airnya bersih. Yang mandi hanya saya, Riki, Ali, dan Rendy. Ditemani tiga adik Kak Rijal.


Balik dari mandi, kami tidak ganti pakaian karena katanya mau ke sungai lagi. Kali ini, hampir semua ikut. Saya dan Riki naik matic. Saya membiarkan Riki untuk membawa motor karena ingin dokumentasi. Saking senangnya, dijalan, Ali teriak-teriak sambil mengepakkan tangan. Kami melewati gerbang, nama sungai yang kami tuju adalah Lapolu.

Awalnya, kami ingin membawa motor hingga ke dalam. Tapi, motor yang dibawa Ali tidak bisa dibawa menanjak. Kami jalan beberapa meter, dan mendengar suara arus yang mengundang gairah. Dari sana, kami langsung buka pakaian dan terjun. Airnya lumayan dingin, meski tidak sedingin Tamborasi.



Batunya besar-besar dan licin. Jadi, kami harus ekstra hati-hati saat berjalan. Apalagi, perlu saya katakan bahwa arus sungai Lapolu sangat berbahaya. Arus seperti ini seharusnya memakai alat pengaman. Beberapa kali, oleh batu yang sudah berlumut saya tergelincir. Dan yang paling pertama saya lihat adalah luka kaki. Disini, saya mulai mendapat jaringan untuk membuka grup WhatsApp. Isinya foto teman-teman saya yang sudah final. Oh, saya rasa kalian perlu kesini.

Suasananya benar-benar pedesaaan, ditambah tidak ada hal-hal yang kami sibukkan selain bermain air. Ditemani oleh Om Ompeng, kami diajaknya untuk naik keatas menuju air terjun yang paling ujung. Tapi kami menolok karena terlalu jauh. Disini saja sudah bagus. Kami hanya perlu naik sedikit lagi untuk bersama Sudi, Ari, dan Ali yang sudah naik. Bersama Riki, kami saling bantu untuk bisa menaiki batu besar dan menerjang arus bagaikan ikan salmon.

Sampai diatas, kami duduk dibatu besar yang dialiri arus air. Kerasnya arus yang menghantam punggung bagai sedang dipijit. Saya nantang Ali untuk minum air itu, karena saya tahu, air itu jernih dan dari sumber air.

Setelah mandi, kami siap-siap untuk pulang sebelum lupa waktu. Dijalan, Kak Rijak datang dengan mobil. Katanya bawa es buah. Karena sudah terlanjur pulang, kami makannya di rumah. Setelah makan es buah, saya, Riki, dan Ali kembali ngetes motor rakitan Om Aris. Kami ngetes tanpa baju soalnya sudah kehabisan baju dan sedang panas-panasnya. Disaat percobaan dan merekam untuk dokumentasi, saya hampir menabrak pagar bambu rumah orang karena lupa ngerem.



Dari ngetes motor, kami kepanasan. Diajaknya Om Aris untuk ke belakang rumah duduk-duduk. Sebelum pulang, kami diajak lagi ke laut dekat rumah. Lagi-lagi tidak pake baju. Hanya sebentar kami disana karena panas. Dirumah, sudah disediain lagi es kelapa muda. Benar. Disini, makan kami benar-benar di service. Kami banyak terima kasih kepada keluarga besar Kak Rijal. Kami jadi banyak merepotkan. Kami orang kota yang norak. Ketemu sungai, norak. Ketemu air, norak. Hal-hal yang kami jarang liat di kota itu benar-benar membuat kami senang.


Kami ingin lebih lama lagi disana. Tapi, besoknya, Ali ada presentasi. Jadi, sore kami pulang. Hanya berhenti untuk makan, beli salak, dan kencing. Semua tepar lebih dulu. Yang masih bertahan hanya saya, Ali, dan Kak Rijal yang bawa mobil. Saat sudah mau sampai, akhirnya saya tepar juga. Sampai di rumah, langsung tidur setelah menonaktifkan hape. Setelah bangun keesokann harinya, saya sudah mendengar suara rutinitas saya lagi. Oh, secepat inikah rindu itu tiba.


Oleh-oleh

1 comment:

Ini kolom komen lho..