Skip to main content

Posts

Rasa Syukur dan Jangan Cepat Puas

Belakangan ini, saya sering membaca cerita-cerita paradoks. Itu dimulai ketika saya melihat-lihat arsip tulisan diblog ini. Pada suatu postingan, saya mencoba untuk membuat satu tulisan paradoks yang sangat buruk. Dulunya, saya berpikir paradoks bisa sesederhana itu. Entahlah, itu empat tahun yang lalu saat SMA.

Yang menarik adalah komentar dari postingan itu. Isinya kurang lebih semacam sebuah kritik dari seorang teman. Namanya Jericho Siahaya. Dengan referensi yang cukup luas, tulisannya bisa saya katakan keren. Beberapa cerita pendek yang ia buat banyak diapresiasi oleh orang-orang. Untuk itu, saya adalah salah satu orang yang kagum kepadanya.

Dalam komentarnya, ia memberi saran untuk membaca "Cerita Pinokio Paradoks". Kurun waktu beberapa hari saat senggang dan ingat, saya membuka browser kemudian mengikuti sarannya. Saya kembali merasa bodoh ketika mengingat tulisan saya empat tahun lalu. Tapi begitulah harusnya manusia, menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin.


Sed…

Mempertahankan Nilai Sentimental Ramadhan Ditengah Pandemik

Bagi kita semua, menyambut Ramadhan mungkin adalah hal yang sakral. Secara, kita akan menjalani rutinitas yang mesti kita lakukan. Seperti sahur, menjalankan puasa, salat tarawih dan eid. Selain itu, masih banyak nilai sentimental dari Ramadhan yang membuatnya berbeda dari bulan-bulan lain. Kegiatan dan euforia yang hanya kita temui pada bulan Ramadhan.

Dan sebagai orang Indonesia, kita menjalankan dan mempertahankan itu. Bertahun-tahun. Sampai generasi lama mewariskan itu ke generasi yang baru. Menjadikan itu bukan lagi hal musimam, tapi budaya wajib yang harus kita lakukan.

Sebagai bentuk disclaimer, saya ingin berkata diawal postingan ini bahwa saya hanya menulis hal-hal yang ingin dan perlu saya sampaikan. Seluruh isi tulisan ini tidak berdasar pada nilai keagamaan, hanya dari observasi yang mudah-mudahan terlihat universal dan imbang.


Sebelum itu, saya juga ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca dan membaca blog ini.

MELIHAT TARAWIH DARI INDONESIA SEKITAR

Nostalgia Sinetron Gentabuana, Tontonan Masa Kecil

Sejak kecil, saya sudah suka nonton. Bedanya, sekarang komsumsi saya adalah film dan serial tv. Dulu jangankan serial tv, nonton film pada kanal HBO saja mesti duduk di tempat yang strategis biar kalau orang rumah masuk bisa langsung ganti kanal. Jadi, tontonan masa kecil saya diisi dengan film-film dan sinetron dari Indosiar.

Sebelum hadirnya Ganteng-Ganteng Serigala, lebih dulu muncul film-film atau sinetron kolosal di Indosiar yang dibawahi oleh production house Genta Buasa Paramita. Ada beragam jenis yang dibuat. Yang paling saya ingat adalah film-film kolosal itu, kemudian ada misteri ilahi, dan drama ibu-tiri-ayah-dibunuh yang diputar saat siang hari.


Karena kecanduan nonton, sempat saya dan tante mengikuti sinetron Gentabuana yang tayang tengah malam. Jika disiang hari drama percintaan dan ibu tiri, kalau malam biasanya dengan tema yang lebih berat. Kadang-kadang mengangkat pembunuhan dan mistik. Saya ingat betul itu. Makanya, ketika menonton film Drishyam, yang pertama ada dik…

Kucing, Reinkarnasi dan Camping di Masa Korona

Setelah nginap seharmal di Pondok (tempat kak Rijal) beberapa hari lalu, kami jadi kepikiran bagaimana jika melakukan kegiatan itu kembali tapi dengan jangka waktu yang agak panjang. Seperti camping di tengah hutan namun dengan fasilitas kosan.

CELETUKAN ISENG MENJADI RENCANA DADAKAN

"Tiga hari," Kata Riki. 
Saya cuma iseng nyeletuk waktu itu karena tahu pasti tidak akan diijinkan. Kalo saya sendiri sih tidak masalah, tinggal bagaimana meng-komunikasikan saja kepada orang di rumah.
Tapi tau-tau, obrolan ngawur itu terjadi kembali. Tepatnya saat Riki datang ke kamar dengan niat main PES bareng. Di sana sudah ada Ari, Rendy, dan Riki tentu saja. Saya sudah lupa awal mulanya, tapi percakapan terakhirnya adalah bagaimana memastikan Kak Rijal ada di pondok dan kedua apakah bisa untuk datang ke sana. 
Setelah mendapat lampu hijau dari Kak Rijal, tinggal menunggu informasi dari Riki yang pulang untuk minta ijin ke Ibunya. Selang beberapa waktu, pesan Riki masuk ke grup WhatsApp: &qu…

Memperdebatkan Film Danur, Prilly dan Syifa Hadju

Setelah berhasil juara di leg cup kedua, kami akhirnya sepakat untuk menonton film. Sebenarnya, itu bukan pilihan yang tiba-tiba. Soalnya, beberapa hari sebelumnya kami sudah menyusun rencana kegiatan selama di sana. Kami tahu, tidur tidak akan terjadi. Jadi selain bermain PES, kami akhirnya memilih untuk nonton.

Cerita sebelumnya: Bukber di Masa Korona

Tidak ada alasan yang pasti kenapa nonton film jadi pilihan. Tapi sejauh yang saya sadari adalah, kami rindu dengan nonton bersama. Sebelum korona ini, kami biasa ke Hollywood Cinema (yang agak murah) untuk nonton film yang cukup besar macam film-film Marvel, Dilan, atau film-film horor macam Danur dan Makmum. Kami cinta Horor Indonesia.

Banyak pilihan tapi saya memilih yang cukup kami akrabi agar sepanjang menonton kami bisa tau dan ngobrol setelah film selesai. Kami memilih film Danur 3: Sunyaruri karena mayoritas dari kami sudah akrab dengan semesta cerita dan pemainnya.


Sepanjang film berjalan, kami asik mengomentari banyak hal. Se…

Bukber di Masa Korona

Sore sebelum buka puasa, tepatnya 30 April lalu, kami sudah berada di jalan menuju pondok tempat Kak Rijal. Di sana, rencananya kami mau buka dan sahur bersama. Bukan hari yang istimewa untuk merayakan kebersamaan ditengah pandemik ini. Saya jadi ingat, salah satu episod Podcast Awal Minggu bersama Pandji Pragiwaksono. Salah satu poin yang sangat relevan dengan sekarang adalah orang-orang yang keluar rumah mulai mencari alasan untuk tetap melakukan WhatsApp Story atau IG Story. Seperti yang saya lakukan barusan.

Tapi betul, kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi. Sejujur-jujurnya, selama pandemik ini radius saya dari rumah hanya sekitar 50 meter dari teras untuk duduk di sore hari. Minggu pertama, kedua, dan ketiga masih terlihat normal ketika tetap berada di rumah. Minggu keempat mulai merasa aneh dan bingung. Tidak ada lagi keseruan dari kata liburan. Tidak ada.

Padahal, liburan yang dulunya paling saya harapkan adalah mendekam di kamar untuk banyak nonton dan baca buku. Tapi, saya j…

Jika Indonesia Me-remake The World of the Married

Tak disangka tak dinyana, drama Korea The World of the Married dari produksi JTBC mampu menjadi drama yang sangat populer di Indonesia, bahkan dunia. Kepopuleran atau ratingnya mampu mengalahkan Sky Castle yang juga sempat menjadi drakor populer.

Tahun ini, saya banyak menikmati film dan serial Asia. Dan ini membuat saya banyak berpapasan dengan drama Korea yang banyak diperbincangkan. Mulai dari Crash Landing On You, Itaweon Class, sampai yang paling baru dan masih hangat ini adalah The World of the Married, yang juga memiliki banyak judul alternatif.


The World of the Married sendiri diremake dari serial Inggris, Doctor Foster. Katanya, dari segi cerita akan agak berbeda. Sebab, saya belum melihat kedua serial tersebut secara tuntas. Inti ceritanya tetap sama, tentang seorang dokter yang diam-diam diselingkuhi oleh suaminya.
Sebenar-benarnya, saya ingin mengulas serial drama ini kemudian membandingkan dengan origin story-nya. Tapi, kayaknya itu akan saya lakukan dilain kesempatan. Se…