Posts

Setelah Empat Tahun

Image
Empat tahun lalu, itu di tahun 2015. Waktu itu, saya baru saja belajar nonton film di bioskop. Film pertama yang saya tonton adalah Furious 7. Saya masih ingat betul, ketika hype film itu benar-benar besar. Dan itu mengundang keinginan saya, Fahmi, dan Fatwa untuk nonton. Sejak saat itu, saya mulai senang nonton film di bioskop.

Jaman itu, nonton film adalah sebuah ritual. Saya benar-benar harus mengumpulkan uang jajan dari hari Senin sampai Sabtu, ketika tahu akan ada film bagus untuk saya tonton di bioskop di hari Minggu. Sekarang beda, untuk nonton film, saya bisa nonton di hari apa saja dan kapan saja. Waktu ada, kendaraan ada, uang yang tidak ada.
Dulu, ketika mau nonton film, mental saya benar-benar harus siap. Ketika film diputar jam 7, saya sudah harus beli tiket dari sore dengan motor. Kemudian setelah Maghrib, saya mulai jalan dengan angkutan umum. Kenapa begitu? Itu karena waktu itu, motor masih sering dipakai. Dan saya juga tidak tega membangunkan orang rumah hanya untuk m…

Cerita-cerita Sebelum Lebaran

Image
Jadi, ketika postingan ini dipublish, kira-kira lebaran tinggal dua hari lagi. Ada beberapa cerita selama Ramadhan yang akan saya tulis dalam postingan ini. Dengan begitu, saya tidak perlu repot membaginya dalam beberapa postingan. Sebelum itu, saya lebih dulu mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

1
Jauh hari sebelum puasa, saya sudah cukup was-was dengan ramadhan. Persoalannya adalah bagaimana bisa saya menghadapi bulan puasa sembari kuliah. Mungkin itu hanya keparnoan berlebih, karena beberapa teman terlihat anteng-anteng saja.
Hari pertama puasa, itu ketika sahur. Mama membuat hidangan yang sangat enak. Itu sudah menjadi ritual sahur pertama. Disana ada ayam goreng, kari ayam, dan beragam lauk pauk lainnya. Kami makan dengan lesehan disamping meja makan. Itu kami lakukan karena jumlah peserta sahur lebih banyak dari meja yang ada. Hari itu, saya tidak perlu khawatir, sebab besok mata kuliah diliburkan entah dalam rangka apa. Saya lebih senang menyebutnya d…

Pertemuan Dengan Podcast

Image
Jujur, saya baru tahu podcast setelah akhir 2018. Saat itu saya iseng nemu Inspigo dari Instagram Story Ernest Prakasa,"Wah, Podcast!".  Problem waktu itu, saya agak malas nonton video di YouTube karena mulai bosan. Karena itulah, saya buka Play Store dan memasang aplikasi Inspigo. Kemudian mendengarkan album podcast Ernest Prakasa, lalu Soleh Solihun, dan seterusnya karena saya mulai ketagihan.


Jika dipikir-pikir, saya tidak lahir di jaman saat radio masih populer. Tapi entah kenapa, podcast jadi suatu yang mulai saya sukai. Saya juga mulai agak bingung membandingkan radio dan podcast. Intinya sama-sama media suara. Setiap mau ke kampus, perjalanan hampir setengah jam saya isi dengan mendengarkan podcast Inspigo. Sempat ditegur karena terlalu berbahaya mengendarai motor sambil mendengar lagu, kata Mama. Saya hanya mengambil nasihat itu untuk saya lebih sering nengok spion. Di jalan, saya bukan tipe pengendara yang senang kebut-kebutan. Paling cepat mungkin hanya 80km/jam, i…

Lelaki yang Menderita bila Dipuji

Image
Saya bukan murid yang pintar. Bahkan, rajin bukan kata yang bisa saya tanggung. Di sekolah, saya bukan murid yang sepulangnya langsung mengerjakan PR atau membaca buku sampai tertidur dengan buku yang menutup wajah. Jika ingin dikata, saya murid yang murid pemalas. Mengerjakan tugas kebut semalam. Belajar hanya saat ada ujian. Bukan tipe-tipe murid yang bisa dibanggakan oleh sekolah.

Namun, entah mengapa saya juga bisa masuk peringkat di SD dan SMP. Begitu mengherankan dan mulai menyebalkan. Terutama saat penerimaan rapor. Perlu saya katakan, mendapat pujian adalah memikul sebuah beban yang tidak perlu. Dan mendapat nilai bagus adalah sebuah kecelakaan. Contoh kecilnya, di rumah, adik saya yang pertama. Sedikit lebih pemalas dari saya. Jika ada kabar dari sekolah, sembari memarahi adik saya, Mama selalu menjadikan saudara yang lain sebagai tolok ukur. Sebelum adik saya yang kedua masuk SD, saya selalu yang harus memikul beban sendiri. Untungnya, adik saya yang paling bungsu, pintar da…

Fenomena Nonton Konser

Image
Malam Kamis kemarin, di acara Kendari Expo, Sabyan datang untuk menghibur. Itu diadakan di Lapangan Benu-Benua yang jarak dari rumah hanya beberapa ratus meter. Bisa jalan kaki. Itu bukan malam pertama kami kesana. Sebab, malam sebelumnya kami juga kesana untuk melihat pameran dan kuliner. Yang pergi adalah banyak dan malas untuk saya absen satu-satu.

Malam itu, kurang seru sih, meski keadaan terlihat menyenangkan karena ramai. Satu hal yang saya cari, tidak ada, dan itu adalah wahana. Meski HUT Sultra kemarin sudah sempat naik Gelombang Asmara, tapi saya betul-betul ingin naik lagi. Terutama mengingat lagi hal-hal yang pernah saya lakukan disini. Biasanya, kami tidak janjian. Tapi saat sudah ke pameran, terutama untuk naik wahana, saya bertemu dengan teman-teman yang lain untuk kami jalan bersama. Salah satu hal cemen yang tidak bisa saya lupakan. Itu sewaktu saya dengan angkuh menerima tantangan masuk ke Rumah Hantu. Yang naik hanya saya, sementara Mama dan yang lain keliling meliha…

Avengers dan HUT Sultra

Image
Seri penutup dari serangkaian film MCU ini dikemudian mendapat klimaks yang sangat epik di Avengers Endgame. Beberapa kali tertawa karena referensi yang pas, tak jarang juga adegan berat yang membuat air mata jatuh. Setidaknya, diantara banyak teori, juga kepala dibelakang maupun didepan layar yang berusaha membuat film ini jadi bagus, saya begitu menikmatinya hingga dua kali tonton.

Mau cerita sedikit, meski sebenarnya ini sudah saya cerita di Twitter. Jadi, tanggal 24 kemarin pas pemutaran Avengers Endgame hari pertama, saya sudah jauh-jauh hari berusaha untuk mendapatkan tiket. Itu lebih ke antisipasi saya agar aman di dunia maya. Sekitar jam 12 siang, saat itu sedang hujan. Saya ke depan Kampus tepatnya di Warung Adi Jaya karena ingin makan. Disana, ada dua teman saya yang juga akan makan. Kebetulan, dua kursi didepannya kosong, jadi saya bisa nebeng dimeja mereka.


Setelah makan, saya buru-buru karena cuaca sudah agak mendingan untuk jalan. Rintik hujan mulai menutupi kaca helm. S…

Mengajarkan Story Telling ke Adik

Image
Beberapa hari ini, saya rutin menjadi guru Bahasa Indonesia untuk Adik saya yang paling bungsu. Namanya Rini, dan sudah SD. Kegiatan ini bukan semata-mata agar saya ada peran seorang "kakak" dikeluarga. Itu lebih luas. Sebagai orang yang senang dengan cerita, saya mulai menerapkan adik saya masalah story telling. Terutama untuk cerita pendek.


Hari pertama, saya kasih dia soal:
1. Buatlah cerita di hari Minggu dari bangun tidur sampai sekarang?
2. Apa pengalaman yang paling kamu sukai?
3. Apa pengalaman yang paling kami benci?

Begini cerita dari Adik saya, Rini:

1.

Suatu hari aku bangun tidur langsung berwudhu dan pergi shalat. Setelah itu aku nonton tv seperti Masha and the Bear dan Monkey and Trunk. Pada saat itu perut saya lapar, saya ingin makan nasi kuning. Saya membeli 10 ribu dan saya makan berdua dengan Mama. Terus saya disuruh mandi sama Umi,"Rini pergi mandi kita pergi lelang ambil ikan."

Saya berkata"Iya ji."

Saya pun mandi tiba-tiba datang Andi&qu…