Posts

5 Sutradara Favorit dan Filmnya (Bagian 2)

Image
Tahun 2017 lalu, saya membuat postingan yang membahas sutradara-sutradara favorit saya. Dari postingan itu, ada banyak nama sutradara yang ingin saya masukkan namun hanya bisa saya sebut lima. Dalam postingan ini, saya akan membuat lanjutan dari postingan tersebut, lima nama sutradara favorit saya, lagi. Dua tahun sudah cukup untuk membuat saya mendapatkan referensi yang lebih banyak. Dan, saya akan mengkuratori dari berbagai macam negara, genre ataupun tipe film.


Lagi-lagi, yang saya pilih adalah sutradara yang secara sadar dan tidak sadar sudah saya tonton filmnya lebih dari satu film, dan saya suka. Ada banyak yang ingin saya masukkan, tapi kelima ini akan menjadi perwakilan terlebih dulu pada bagian kedua ini.

Oriol Paulo



Entah pada tahun berapa, secara tidak sadar saya membaca salah satu rekomendasi di Twitter tentang film Spanyol. Awalnya saya ragu. Film apa ini? Salah satu yang saya tahu dari Spanyol adalah Barcelona. Tapi, saya mencoba menonton dan mulai senang dengan Oriol Pau…

Belajar Minimalis

Image
Belakangan ini, saya sangat tertarik dengan minimalisme. Terutama saat menonton film dokumenter Minimalism (2016) dan membaca buku Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay. Itu juga, tidak lepas dari perkenalan minimalisme dari video YouTube Raditya Dika.

Awalnya tidak ada ketertarikan sama sekali. Apalagi, saya tipe orang yang percaya bahwa suatu barang pasti punya sentimental value. Maka dari itu, saat menonton film Hello, My Name is Doris (2015) saya merasa punya relasi yang sangat dekat dengan karakter Doris. Saya punya laci khusus yang menyimpan earphone-earphone rusak yang pernah saya pakai. Kemudian, saya punya beberapa barang dari SMP dan SMA. Saya merasa bersalah jika mengabaikan mereka semua, barang yang punya ikatan dengan saya. Terlebih lagi, saya sudah cukup akrab dengan film Toy Story.

Disisi yang lain, saya menyimpan ribuan foto digaleri hape. Saya tentu punya waktu untuk menghapusnya, tentu saja. Tapi, disamping rasa malas, saya kadang hanya sampai pada tahap melihat-li…

Sedikit Cerita Tentang Riko

Image
Senin di 17 Juni seharusnya tidak ada kuliah. Seharusnya. Tapi karena terlalu lama libur, uang untuk jajan sudah mulai kering. Jadilah, hari itu saya buat skenario agar terlihat ada jadwal mata kuliah. Rencananya hari itu, menggantikan jadwal kuliah palsu, saya hanya akan membayar wifi di Indomaret. Kemudian ke Lippo Plaza Mall untuk melihat buku-buku baru.

Tapi, setelah dari Indomaret, niat untuk ke Lippo Plaza Mall surut. Lebih tepatnya saya yang sedang malas. Karena sudah menjalankan skenario kuliah palsu, mau tidak mau saya harus menahan diri agar tak pulang dulu. Setidaknya sampai beberapa waktu. Saya balik arah menuju jalan pulang, tapi berhenti untuk nongkrong di pinggir laut By Pass.



Saya mulai membongkar isi tas. Saya sengaja membawa buku catatan, novel Rumah Kaca, dan sebuah binder yang saya pakai di kampus. Saat itu, saya tidak membawa laptop. Ada dua alasan. Yang pertama, saya merasa tidak menemukan apa-apa ketika membuka laptop. Yang kedua, komplikasi pada laptop saya sud…

Setelah Empat Tahun

Image
Empat tahun lalu, itu di tahun 2015. Waktu itu, saya baru saja belajar nonton film di bioskop. Film pertama yang saya tonton adalah Furious 7. Saya masih ingat betul, ketika hype film itu benar-benar besar. Dan itu mengundang keinginan saya, Fahmi, dan Fatwa untuk nonton. Sejak saat itu, saya mulai senang nonton film di bioskop.

Jaman itu, nonton film adalah sebuah ritual. Saya benar-benar harus mengumpulkan uang jajan dari hari Senin sampai Sabtu, ketika tahu akan ada film bagus untuk saya tonton di bioskop di hari Minggu. Sekarang beda, untuk nonton film, saya bisa nonton di hari apa saja dan kapan saja. Waktu ada, kendaraan ada, uang yang tidak ada.
Dulu, ketika mau nonton film, mental saya benar-benar harus siap. Ketika film diputar jam 7, saya sudah harus beli tiket dari sore dengan motor. Kemudian setelah Maghrib, saya mulai jalan dengan angkutan umum. Kenapa begitu? Itu karena waktu itu, motor masih sering dipakai. Dan saya juga tidak tega membangunkan orang rumah hanya untuk m…

Cerita-cerita Sebelum Lebaran

Image
Jadi, ketika postingan ini dipublish, kira-kira lebaran tinggal dua hari lagi. Ada beberapa cerita selama Ramadhan yang akan saya tulis dalam postingan ini. Dengan begitu, saya tidak perlu repot membaginya dalam beberapa postingan. Sebelum itu, saya lebih dulu mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

1
Jauh hari sebelum puasa, saya sudah cukup was-was dengan ramadhan. Persoalannya adalah bagaimana bisa saya menghadapi bulan puasa sembari kuliah. Mungkin itu hanya keparnoan berlebih, karena beberapa teman terlihat anteng-anteng saja.
Hari pertama puasa, itu ketika sahur. Mama membuat hidangan yang sangat enak. Itu sudah menjadi ritual sahur pertama. Disana ada ayam goreng, kari ayam, dan beragam lauk pauk lainnya. Kami makan dengan lesehan disamping meja makan. Itu kami lakukan karena jumlah peserta sahur lebih banyak dari meja yang ada. Hari itu, saya tidak perlu khawatir, sebab besok mata kuliah diliburkan entah dalam rangka apa. Saya lebih senang menyebutnya d…

Pertemuan Dengan Podcast

Image
Jujur, saya baru tahu podcast setelah akhir 2018. Saat itu saya iseng nemu Inspigo dari Instagram Story Ernest Prakasa,"Wah, Podcast!".  Problem waktu itu, saya agak malas nonton video di YouTube karena mulai bosan. Karena itulah, saya buka Play Store dan memasang aplikasi Inspigo. Kemudian mendengarkan album podcast Ernest Prakasa, lalu Soleh Solihun, dan seterusnya karena saya mulai ketagihan.


Jika dipikir-pikir, saya tidak lahir di jaman saat radio masih populer. Tapi entah kenapa, podcast jadi suatu yang mulai saya sukai. Saya juga mulai agak bingung membandingkan radio dan podcast. Intinya sama-sama media suara. Setiap mau ke kampus, perjalanan hampir setengah jam saya isi dengan mendengarkan podcast Inspigo. Sempat ditegur karena terlalu berbahaya mengendarai motor sambil mendengar lagu, kata Mama. Saya hanya mengambil nasihat itu untuk saya lebih sering nengok spion. Di jalan, saya bukan tipe pengendara yang senang kebut-kebutan. Paling cepat mungkin hanya 80km/jam, i…

Lelaki yang Menderita bila Dipuji

Image
Saya bukan murid yang pintar. Bahkan, rajin bukan kata yang bisa saya tanggung. Di sekolah, saya bukan murid yang sepulangnya langsung mengerjakan PR atau membaca buku sampai tertidur dengan buku yang menutup wajah. Jika ingin dikata, saya murid yang murid pemalas. Mengerjakan tugas kebut semalam. Belajar hanya saat ada ujian. Bukan tipe-tipe murid yang bisa dibanggakan oleh sekolah.

Namun, entah mengapa saya juga bisa masuk peringkat di SD dan SMP. Begitu mengherankan dan mulai menyebalkan. Terutama saat penerimaan rapor. Perlu saya katakan, mendapat pujian adalah memikul sebuah beban yang tidak perlu. Dan mendapat nilai bagus adalah sebuah kecelakaan. Contoh kecilnya, di rumah, adik saya yang pertama. Sedikit lebih pemalas dari saya. Jika ada kabar dari sekolah, sembari memarahi adik saya, Mama selalu menjadikan saudara yang lain sebagai tolok ukur. Sebelum adik saya yang kedua masuk SD, saya selalu yang harus memikul beban sendiri. Untungnya, adik saya yang paling bungsu, pintar da…