Di sebuah perpustakaan mini milik Gino, bersarang beberapa buku yang sudah dan belum ia baca. Semua bacaannya kebanyakan novel dan sastra. S...

Dialog Singkat Para Buku Dialog Singkat Para Buku

Dialog Singkat Para Buku

Dialog Singkat Para Buku

Di sebuah perpustakaan mini milik Gino, bersarang beberapa buku yang sudah dan belum ia baca. Semua bacaannya kebanyakan novel dan sastra. Sehabis membaca habis novel Paper Towns-nya John Green, ia menutup rapat-rapat kaca yang melindungi buku itu dari debu. Ia lalu pergi meninggalkan perpustakaan itu.

Di suatu malam yang dingin setelah Gino menghabiskan susu panasnya, terjadi percakapan sengit antara para buku.

Buku Sabtu Bersama Bapak-nya Aditya Mulya mengarahkan pandangan tajam,”Walaupun kamu yang baru ia baca, tapi kan kamu buku dari luar!”

Lalu beberapa buku luar berbalik pelan kearah buku Sabtu Bersama Bapak. “Ngga bisa gitu dong, kami-kami juga ini di beli dan di baca. Bukan berarti buku dari luar kayak kami ini bisa dianggap remeh.” Kata buku My Name is Red-nya Orhan Pamuk.

Buku Sabtu Bersama Bapak lalu tertunduk. Dia lalu memberi kode “minta bantuan” ke buku-buku terbitan penulis Indonesia. Buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata menengadahi,”Walaupun kita berbeda, tapi kita tetap satu.. buku.”

“Saya setuju dengan perkataan Anda.” Kata buku Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika,”Kita sebagai buku seharusnya bisa tahu tugas kita, yaitu untuk dibaca.”

“Iya, bukannya bilang buku luar ngga penting.” kata buku Paper Towns sinis.

“Hei, Paper Towns, ngga ada yang bilang buku luar ngga penting. Buku luar itu bagus, setelah belum adanya buku menye-menye kayak kamu.” Umpat buku Sabtu Bersama Bapak.

“Wah, wah, ngga bisa gitu dong. Buku Paper Towns menye-menye. Gue gimana?” kata buku Marmut Merah Jambu,”Gue dengan kata super gaul dan tema cinta merasa tersinggung.”

“Sudah semua, kita semua sama saja. Genre adalah pilihan pencipta kita. Kita semua lahir dari satu tempat, yaitu ide. Genre adalah pilihan yang pencipta kita berikan agar kita bisa terlihat baik.” Kata buku War and Peace-nya Leo Tolstoy.

Lalu bunyi pintu yang terbuka terdengar, itu adalah Gino ketika dia masuk dan mengambil buku Fight Club-nya Chuck Palahniuk. Lalu dengan pintu menciptakan bayangan menghilang, Gino kembali ke tempat ia tidur.

Buku Sabtu Bersama Bapak lalu meminta maaf atas semua perkataannya. Ia lalu sadar, semua buku itu sama. Mau akan dibaca pertama atau terakhir, mau fiksi atau non-fiksi, mau comedy atau adventure. Semuanya sama. Kita diciptakan berbeda agar orang yang membaca kita tidak bosan dengan genre yang itu-itu saja. Lalu buku War and Peace memanggil semua buku. Mereka merangkul tangan masing-masing seraya dingin pada malam itu berubah menjadi hangat.

2 comments:

  1. Wah hebat y bukunya bisa ngomong
    Itu si gino beli buku kayak gitu dimana y?

    ReplyDelete
  2. kebayang sama buku yang masi di sampul plastik duduk merana di timbunan buku

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..