Setelah sudah mengulas film secara sotoy, kali ini gue gatel lagi ingin mengulas. Bukan film, tapi buku. Dan ini pertama kalinya juga gue...

Looking for Alaska - Sebuah Pencarian Kemungkinan Besar Looking for Alaska - Sebuah Pencarian Kemungkinan Besar

Looking for Alaska - Sebuah Pencarian Kemungkinan Besar

Looking for Alaska - Sebuah Pencarian Kemungkinan Besar


Setelah sudah mengulas film secara sotoy, kali ini gue gatel lagi ingin mengulas. Bukan film, tapi buku. Dan ini pertama kalinya juga gue mengulas buku yang gue baca. Jadi, ulasan yang akan kalian baca ini akan random dari seorang pembaca. Bukan kritikus ataupun pengamat. Cuman dari sudut pembaca dan penikmat.

Looking for Alaska, yang kalau di terjemahkan menjadi Mencari Alaska adalah sebuah buku dari penulis favorit gue, John Green. Di antara 3 buku dan 1 kumpulan cerpennya, gue sangat mengistimewakan buku Looking for Alaska setelah Paper Towns.

Looking for Alaska bercerita tentang Miles Pudge yang pergi melanjutkan sekolah ke Culver Creek, mantan sekolah ayahnya, untuk mencari Kemungkinan Besar yang di sebut oleh penyair Francois Rabelais. Di Culver Creek dia bertemu dengan seorang perempuan bernama Alaska dan beberapa teman laki-laki seperti Chip, Takumi, dan seorang perempuan lagi bernama Lara.

Format pertemanan yang di pakai menurut gue mirip-mirip dengan Paper Towns. Bedanya, di sini lebih terlihat ekstrem.

Gaya penceritaan buku Looking for Alaska sangat menarik. Di ikuti dengan alur 'sebelum' dan 'sesudah' yang membuat orang penasaran. Sebagai orang yang tidak menyukai spoiler, gue ngga akan dengan tega memberikan spoiler. Jadi, gue menulis ini sangat random dan hati-hati agar kalian hanya membaca pengalaman membaca gue.

Jujur, gue jatuh cinta dengan karakter Alaska. Sifatnya yang sering berubah-ubah sering membuat Miles kebingungan. Kadang dia membuat Miles jatuh cinta, kadang dia membuat Miles merasa jengkel dengannya. Ah, Alaska.

Keunikan karakter juga di temui di karakter Miles sendiri. Karakter Miles di gambarkan mengetahui kalimat-kalimat terakhir orang sebelum meninggal. Alaska yang gemar membeli buku dan jarang membaca. Mirip-mirip gue, jangan-jangan kita jodoh nih Alaska.

Pengggambaran asrama di buku ini membuat gue ingat dengan masa-masa gue bermain game Bully. Di setiap malam, para guru akan menjaga dengan senter. Buku ini memberikan nostalgia itu, meski dengan cara yang berbeda.

Gue pribadi sangat menyukai buku ini. Segar, walaupun awalnya terlihat pasaran. Sebagai seorang yang sudah jarang baca, buku ini menaikkan kembali gairah membaca. Meski terdengar agak berlebihan, tapi percayalah, semua yang gue jabarkan di ulasan ini adalah sebuah kejujuran yang di tulis dengan kehati-hatian.

Dengar-dengar kabar, Looking for Alaskan akan naik ke layar lebar. Gue sangat antusias akan itu. Gue akan menunggu siapa yang akan memerankan karakter Alaska.

Bagi yang suka dengan cerita jatuh cinta di balut misteri seperti 13 Reasons Why, buku ini sangat cocok. Meski misteri yang diberikan tidak sekompleks 13 Reasons Why, tapi kalian akan mendapatkan twist yang kalau komentar di buku ini bilang,"Cewek-cewek akan menitikkan air mata dan cowok-cowok akan menemukan cinta, gairah, kehilangan, dan kerinduan.."

16 comments:

  1. Gue malah baru baca TFIOS. Nggak tau gue yang nggak cocok atau apa, gue belum mulai lagi bacanya Paman John. Hehehe. Duitnya belum kebeli novelnya yang lain. Tapi kalau dari pendapat lu tentang Paper Towns, mungkin gue mau coba yang Paper Towns dulu. Semoga duitnya ada. xD

    ReplyDelete
  2. Huaaaa untung nggak spoiler, gw udah punya bukunya cuma belum sempat dibaca. Kalo karya Jhon green gw baru baca yang 'The Fault In Our Star. Ngomong-ngomong kalo looking for alaska itu terbitan lama, udah terbit sejak 2005 kayaknya. Makasih reviewnya, gw jadi pengen selesain buku yang gw baca kemudian baca buku ini... :D

    ReplyDelete
  3. waaah...gue baca komen kamu tentang buku itu jadi penasaran juga pingin baca. Akhir akhir ini gue jaraaang sekali baca karena terbentur banyak kesibukaan yang berjubel. Huft!! Tapi masa sih kamu cuma seneng beli buku tapi nggak suka bacanya. Ini kan kamu baca sampai dikasih reviewnya juga. Oke, kapan kapan inshAlloh baca ahh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa sih yang bilang ngga suka baca mba Meykke.. :(

      Delete
  4. Niche share mas, hehe maaf komen sebelumnya manggil mbak :D salam Jomblo Terhormat hehe

    ReplyDelete
  5. Heeee, kok aku belum pernah denger judul buku ini :D wkwk tapi kayaknya sosok alaska ini menarik ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagiku menarik sih, beda dari kebanyakan orang. Dan tentunya dia ini realitas orang-orang terdekatku banget~

      Delete
  6. Sejujurnya buku ini sudah nangkring di rak buku bertahun2 lalu dan dgn sukses terlupakan olehku krn waktu itu lg sibuk2nya dgn urusan kerjaan. Baru sempet baca bab 1 klo ga salah :D. Wah ternyata begitu tho isinya. John Green sih mmg bukan penulis amatiran. :). Saya jg suka buku2nya John Green :)

    ReplyDelete
  7. hmm,menarik, bro. mirip Papper towns? itu yang film friendzone abis itu bukan? hahaha, agak notice..

    ReplyDelete
  8. review yang bagus nih tanpa spoiler. jadi penasaran alaska itu bagaimanaaa. hmm rajin membeli buku tapi jarang membaca. wah sama kayak aku juga. udah minjem buku tapi gak dibaca kan kurang ajar.

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..