Posts

Showing posts from 2018

Belanja Buku dan Resolusi 2019

Image
Harbolnas kemarin adalah pertama kalinya saya ikut. Ternyata, berburu diskon itu seru. Apalagi jika hanya lewat internet. Mojok salah satu yang mengadakan paket harbolnas buku. Karena lagi ada uang lebih, saya beli paket cinta yang isinnya 9 buku Mojok seharga 170 ribu. Meski sampai sekarang, paket masih belum sampai. Katanya tertahan di cargo bandara.

Di kesempatan yang lain, diskon akhir tahun sedang diadakan di Gramedia. Saya awalnya kesana sendirian setelah pulang kuliah. Di pertigaan lampu merah, ternyata banyak teman saya yang juga ingin kesana. Kami pergi bersama, meski saya pulang lebih awal.



Dari beberapa buku yang diskon besar-besaran, ada tiga yang saya bawa pulang. Yaitu Sang Petinju oleh Reinhard Kleist, Sentuh Dengan Hati-Hati oleh Jodi Picoult, dan Dari Kirara Untuk Seekor Gagak oleh Erni Aladjai. Tiga buku dengan harga 70 ribu. Jarang-jarang dapat segini. Sikat!



Sebenarnya saya agak malas ngomongin ini. Soalnya, tiap liat postingan resolusi tahun kemarin, masih banyak …

Angkot Burhan

Image
Aku bisa mendengar, melihat, merasakan, namun tidak dengan yang satu ini. Kurasa ini benar-benar mempersulit diriku. Untungnya, aku mulai terbiasa dan tidak lagi menjadi beban yang berarti. Itu adalah hari Jumat di akhir November, pagi dimana istriku yang sekarang sudah pergi dengan lelaki lain, membuatkan aku kopi dengan sebuah campuran yang membuat suaraku lenyap selamanya.

Anakku, Arum, sekarang sudah duduk di kelas 3 Sekolah Dasar yang tidak jauh dari rumah. Sebagai orang tua yang diwajibkan bertanggung jawab, aku benar-benar harus melakukan segala yang terbaik untuk Arum. Kadang-kadang, harus melawan lapar dan dunia.

Orang-orang mengatakan diriku penyabar. Aku marah. Meski hanya dalam hati. Mereka tidak tahu rasanya menjelaskan untuk ditertawai. Dan bagaimana rasanya menanggung malu ketika anak sudah terlanjut malu. Aku kira harus banyak bersyukur ketika anakku dianugerahi rasa toleransi yang baik untuk Bapaknya. Namun tidak. Itu normal untuk merasa aneh. Ketika mempunyai seoran…

Peresmian Mahasiswa Baru

Image
Seharusnya, tulisan ini sudah lama bisa saya publish. Tapi, saya masih menunggu beberapa foto dari senior yang sampai saat ini belum bisa dibagikan. Jadi, mending saya publish dengan foto yang sudah ada. Foto yang lain bisa menyusul. Ini juga menjadi penutup dari tetralogi Mahasiswa Baru. Cerita yang lain adalah: Pola Hidup Mahasiswa Baru, Balada Mahasiswa Baru, dan Resiko Mahasiswa Baru.

Jam 12 siang pada tanggal 13 Oktober hari Sabtu, saya sudah berada di angkot lengkap dengan tas yang berisi baju ganti dan makanan. Hari itu akan terjadi Wisata Mahasiswa (WISMA) sekaligus pentas seni yang dipanitiai oleh senior untuk angkatan Sastra Indonesia UHO 2018. Dari kelas ganjil dan genap menghiasi depan fakultas waktu saya berjalan masuk. Sebagai ketua kelompok yang dipilih dadakan semalam, saya bertanggung jawab dengan anggota kelompok.

Disana sudah banyak teman-teman berbaju merah dengan celana training hitam (seperti yang diberitahukan), meski tak sedikit dengan celana jeans. Saya berja…

Bertemu Penjaga Harta Presiden

Image
Sabtu pagi di awal Desember, itu adalah tanggal 1 yang lumayan mendung. Bersama Isma yang minta nebeng, kami berhenti di Warung Kopi X-Bro untuk menghadiri Workshop Konser Sastra. Seharusnya, hari itu ada mata kuliah Pengantar Linguistik, namun kami diberi ijin untuk menghadiri meski saat sudah sampai, di kelas saya hanya seorang diri laki-laki.

Disana sudah ada Atma yang sedang makan, kami membentuk kursi dengan saling berhadap-hadapan. Namun, kursi disusun ulang ketika yang lain sudah mulai datang. Kursi dibalik agar menghadap panggung. Saya duduk dibarisan kedua dari depan bersama Vira dan Isma (kalau tidak salah ingat). Baliho mulai dipasang bersama kursi yang mulai disusun. Tercantum nama Jose Rizal Manua yang saya tahu-pun tidak.

Beberapa menit setelah menanti, dari arah belakang, pemateri, yaitu Oom Jose Rizal Manua keluar dari pintu mobil dengan batik merah jambu. Dia hadir dengan riang gembira memperkenalkan diri sebagai seorang pelakon yang mengurus teater yang dinamai: Teat…

Rumah Oma, Reuni, dan Hampir Mati

Image
Sebuah rencana pada Sabtu sore tanggal 24 November membawa saya kembali ke Rumah Oma. Itu adalah Rumah Oma Aryo, teman SMA saya. Tempat bolos dan nongkrong kami pas SMA. Tiap Jumat, biasanya kami kesana sebelum salat Jumat. Setelah salat Jumat, kami tetap disana sampai bel pulang untuk kami ngambil tas atau memang sudah membuang tas lewat pagar belakang.

Kenapa saya bisa sebandel itu? Perlu saya jelaskan bahwa waktu itu, adalah hal yang kami anggap biasa. Mengingat, guru yang masuk saat jam setelah salat Jumat jarang hadir. Itu bisa kami lihat ada tidaknya mobil di parkiran. Mungkin, kami tetap melakukan kesalahan dan biarlah itu jadi bagian dari masa lalu. Mudah-mudahan jadi acuan agar tidak lagi begitu.
Waktu itu, langit lumayan mendung. November benar-benar membuat hari-hari saya cukup was-was. Permasalahannya, jarak rumah ke Kampus lumayan jauh. Dan untuk kesana, saya biasanya memakai motor. Untung-untung, saya masih bisa memakai jas hujan. Bagaimana, dalam suatu keadaan dan situa…

Misteri Hilangnya Kunci Motor

Image
Setelah Salat Jum'at 23 November, saya memantau tidak ada tanda-tanda masuk dari grup WhatsApp kelas. Itu menandakan bahwa seharusnya hari itu bisa saja menjadi libur sehari penuh. Soalnya, mata kuliah pagi tadi juga tidak masuk. Hingga pada jam 1 lewat, kabar mendadak dari Ketua Tingkat mengatakan bahwa hari itu masuk. Karena kaget, saya buru-buru menelpon Atma, teman saya, dengan tujuan mencari kebenaran info tersebut. Memang benar, masuk, itu terdengar dari suara Danil, Ketua Tingkat yang katanya mendapat telepon.

Dengan sekejap, saya menyambar satu lembar pakaian, jaket, dan helm. Kemudian langsung keluar dan ingin cepat-cepat berangkat. Pagi tadi, motor X-Ride yang sering saya bawa, rusak. Tidak bisa starter tangan, dan starter kaki juga susah. Sudah dibawa di bengkel sebelum sholat Jum'at, tapi saat ingin berangkat motor itu kembali rewel. Akhirnya, saya memakai motor Bapak saya, Aerox. Itu adalah motor yang berukuran besar dan sudah melekat stiker biru diseluruh body mo…

Karena Jupri

Image
Jupri namanya. Ia lahir di sebuah desa bernama Teppo'e. Tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani. Jupri baru saja naik ke tingkat SMA saat 2003. Bisa dikatakan bahwa Jupri adalah orang yang kutu buku, meski ia selalu geram ketika dicap begitu. Menurutnya, apa yang salah dengan membaca buku. Lagipula, tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Pemuda di sana kebanyakan nongkrong di pos ronda sambil main dam atau domino. Sementara Jupri bukan orang yang senang dengan hal seperti itu. Bahkan, malam itu, dengan tangan menadah kepalanya, ia hanya memperhatikan langit-langit.

Sore hari sebelumnya, dari kota datang seorang perempuan berambut bob dengan kulit kuning langsat. Perawakannya agak tua dari umurnya. Kemana-mana, ia selalu menenteng buku dan walkman. Itu yang membuat Jupri mulai tertarik ketika sebuah mobil Kijang Krista melewati surau yang sering Jupri lewati. Pak Amin, seorang petani dari desa sebelah berdecak kagum. Sampai-sampai, ia memukul bahu Jupri untuk meng…

Mematahkan Stigma Mandi Pagi di Hari Minggu

Image
Adi, teman saya, sudah memberi ajakan untuk berenang. Tempat dan waktunya adalah di Koni pada hari Minggu. Kenapa Koni? Itu murah dan kenapa Minggu? Sesungguhnya itu adalah kesepakatan bersama. Sehingga, yang saya tahu, disepakatinya hari Minggu karena Senin sampai Sabtu kita masuk Kampus. Dan itulah, tanggal 11 November adalah tanggal yang cukup cantik. Saya dibangunkan untuk segera bersiap. Mandi kemudian sarapan perkedel KFC sisa kemarin.

Kebetulan saya bawa motor dan searah dengan rumah Aping, jadi itu yang membuat saya menyinggahinya untuk pergi bersama. Dijalan, Aping bercerita bahwa tadi malam, ia menghadiri rapat himpunan mahasiswa dari kampungnya. Kemudian, saat hampir melewati Taman Kota, jalan dialihkan untuk kami kemudian berbelok. Lalu mengambil beberapa jalan tikus untuk sampai kejalan raya kembali. 
Sesampainya di Koni, kami langsung ke parkiran. Padahal, kata Aping, didepan gerbang ada Adi yang sedang nunggu. Saya membuka hape, lalu mengirimkan pesan untuk Adi. Itulah …

Pesta Bidik Misi, Perut Banyak Isi

Image
Setelah bangun dari tidur siang, saya benar-benar kaget. Soalnya hari itu, ada kelas menulis dari Rumah Bunyi. Seharusnya, di hari Sabtu saya jarang tidur siang walaupun mata kuliah hanya satu dipagi hari. Namun, pagi tadi, sama dosen saya, mata kuliahnya diganti dengan acara seminar "Kebangkitan Sastra Di Sulawesi Tenggara" pada 4 November. Komsumsinya tidak bisa bikin kami bertahan. Sehingga, kami keluar sebelum pukul 12 siang, dan makan didepan Fakultas Teknik. Disana ada nasi kuning harga murah 5 ribu.


Setelah memacu motor cukup kencang, saya berhasil sampai sebelum sesi kelas menulis dimulai. Disana ada dosen saya, Bu Ila bersama suaminya Bang Kahar. Hari itu, dari pemateri seminar, ada Aslan Abidin, penyair dari Makassar, yang akan mengisi kelas menulis hari itu. Dianya ngisi kelas hari itu dengan santai. Nanya-nanya buku yang kita baca terakhir. Dan, menceritakan kisah masa kecilnya yang pas SD minjam buku dari rumah ke perpustakaan dengan jarak 5 KM jalan kaki. Lalu …