Bagaimana rasanya, dalam sehari merasakan pertemuan dan perpisahan. Bukan hal mudah pastinya. Sebagai orang yang cukup melankolis, mengalami...

Tentang Pertemuan dan Perpisahan Tentang Pertemuan dan Perpisahan

Tentang Pertemuan dan Perpisahan

Tentang Pertemuan dan Perpisahan

Bagaimana rasanya, dalam sehari merasakan pertemuan dan perpisahan. Bukan hal mudah pastinya. Sebagai orang yang cukup melankolis, mengalami perpisahan adalah hal sakral menurut gue. Ada kalanya, gue akan menyendiri dalam waktu yang cukup lama hanya untuk benar-benar memastikan aku sudah siap.

Tanggal 30 Juli, gue bangun sekitar pukul 7 dengan alarm "Pukulan Mama". Tidak butuh lama, hanya sekali geprek. Gue lihat jam, menunjukkan pukul 7 pagi. Mama bertanya, apakah gue jadi mengurus SIM.

"Nanti, Ma. Mau ngantar Thariq dulu ke Bandara."

Thariq adalah teman kecilku, tinggal dirumah neneknya disamping kiri rumah, dan seiiring waktu kami tumbuh bersama. Malam Minggu kami selalu terkesan nothing special. Main PES kalo lagi dirumah, atau paling mentok mabar dengan game diponsel masing-masing. Kalo keluar, paling nonton film atau nongkrong bareng teman lorong.

Teman lorong
Kami cukup mengalami masa-masa bersama, dan pada saat kami bertumbuh, semua tak lagi sejalan. Dari rumah neneknya, ia harus pergi untuk hidupnya yang akan datang. Ini bukan pertama kali ia pergi. Beberapa bulan yang lalu, ia sudah pergi dan kembali saat lebaran. Saat liburan sudah hampir habis, ia akan kembali layaknya orang yang baru saja merayakan liburannya.

Setelah makan telur rebus, gue bersiap-siap, datang setelah semua sudah hampir siap. Kami pergi berlima, disetiri Bapaknya Thariq. Di Bandara, kami lebih banyak diam. Sesekali bercerita dan mengabadikan foto.  Thariq masuk setelah penerbangannya telah diabsen. Kami kembali ke mobil untuk pulang. Dalam perjalanan, gue melihat foto-foto kami saat di bandara, kemudian semuanya seperti konklusi pada sebuah film. Oh lebih tepatnya, akhir pada sebuah episod untuk episod selanjutnya.

Semuanya berputar kembali.

Thariq, Chicco Jericho, dan Ari



Dari nakalnya kami yang sempat membuat banyak masalah. Gue masih ingat saat lari pas Thariq diajak ribut anak lorong sendiri. Gue masih ingat saat kami bermain sepakbola dijalan dengan tiang sendal jepit. Sampai gue masih ingat, mendirikan sebuah band saat masih kanak-kanak, Sangat membekas seiring waktu membawa kami pada satu titik yang benar-benar menampar. Semua tidak lagi seindah saling bernyanyi, atau bermain sepakbola. Dan itulah kehidupan yang akan kita lewati.

Sepulangnya dari sana, gue istirahat sebelum teman gue, Vian, datang untuk menemani membuat kartu SIM, salah satu tanda penuaan menurut gue. Kami pergi berempat, bersama dua orang perempuan, yang salah satunya pacar Vian.

Bikin SIM hanya beberapa jam, meski sempat dibuat pusing mengurus kesana kemari. Setelah kartu SIM jadi, hanya satu respon pertama kami: tertawa dengan foto SIM kami. Gue yang sudah benar-benar bercermin sebelum sesi pemotretan, ternyata mengalami hal yang sama. Foto gelap, wajah kusam, lebih mirip foto narapidana.

Setelah itu, kami pulang. Vian istirahat dirumah yang kemudian gue ajak untuk makan. Jam 4, kami pergi kerumah Caca, teman SMA kami untuk berkumpul. Hari ini, teman kami, Sahir yang kalau kalian baca ceritanya di Tour Majoja, akan kembali untuk melanjutkan sekolahnya di Makassar. Sebelum itu, ia meminta kami untuk berkumpul sebelum ia pulang.

Kami pergi dengan jumlah lebih sedikit dari teman kelas seharusnya. Tanpa tahu alasan semuanya, gue hanya bisa mengatakan bahwa semuanya masih belum sempat. Dan kami, yang datang saat itu bukan tidak sibuk, hanya beruntung sedang sempat dan punya semangat.

Atas nama pizza dan Coca-Cola, kami bercerita tentang banyak hal, dari mau pamitnya matahari hingga datangnya bulan. Banyak hal yang kami lakukan, salah satunya foto-foto untuk mengenang bahwa kami, setelah hampir 3 bulan tanpa kehidupan yang saling bersinggungan, kembali bisa bertemu. Dan anehnya, wajah kami masih sama, mungkin belum banyak berubah. Gue kira, sudah ada yang benar-benar berubah, misalnya mereka sudah melihat gue seperti Chicco Jericho.

Kami pulang kemudian setelah foto-foto sudah selesai. Gue digonjeng Vian dengan motornya, dan Erdin sendiri dengan motornya. Kami jalan bersama hingga akhirnya Erdin kehabisan bensin. Awalnya, Vian berinisitif menonda motor Erdin (mendorongnya pakai kaki dengan motor dalam keadaan jalan). Tapi kelihatannya Vian belum cukup mahir, dan Erdin pindah kemotor Vian, dan Vian ke motor Erdin.

Motor Erdin kemudian kembali jalan setelah diisi bensin. Sebelum pulang, kami membawa cas Aryo yang tertinggal dijok motor Vian. Dingin sudah benar-benar menusuk meski jaket sudah menutup seluruh badan. Vian kemudian menurunkan gue tepat didepan rumah, sebelum akhirnya ia pamit pulang.

Sampai di rumah, baru gue merasakan badan yang sudah mulai sakit. Celana gue lepas bersama baju, kemudian menarik selimut, sebelum tidur gue melihat hasil foto kami tadi bersama yang dikirim lewat grup.





Foto bersama
Nah, kalau beberapa foto dibawah ini adalah hasil kegagalan dari pose "candid ketawa bahagia":







Belum sempat memikirkan hal yang terjadi hari ini, gue terburu tidur karena terlalu capek. Dan besok, apa yang terjadi kemarin adalah yang terjadi kemarin. Hari ini, kembali seperti biasanya, dengan kehidupan yang gue jalani.

10 comments:

  1. Aku kok ikut baper baca artikel tentang perpisahanmu dengan Thariq, sahabatmu.

    Memang terasa berat sih ya kalau kita seperti udah punya keterdekatan dengan seseorang, lalu berakhir dengan perpisahan meski itu untuk tujuan baik masa depan masing-masing.

    ReplyDelete
  2. kalo ada pertemuan selalu ada perpisahan, kalo gue nyebutnya kalo ada pertemuan selalu ada reuni wkwk :v

    ReplyDelete
  3. Jangankan sahabat, ditinggal kucing pergi aja aku sedih banget :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika emang dekat sih pasti sedih. Terlepas dari dia bukan manusia, tetap ada sisi emosional disana~

      Delete
  4. siapa yang bertemu bakal berpisah, tak ubahnya dengan sahabat juga. Jadi, sebelum perpisahan datang emang kita harus gunakan waktu sebaik baiknya. Dan gue baru tahu ternyata para cowok juga terjangkit demam foto sok candid ketawa ketawa gitu. Gue pikir cuma cewek saja. Hahaha..

    ReplyDelete
  5. Selalu inget, setiap pertemuan, pasti bakal ada pertemuan berikutnya

    Tapi ya tetep bakal sedih sih ditinggal seseorang, apalagi kalau dia emang udah deket sama kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suatu kali, gue pernah membaca atau mendengar,"Jika perpisahan telah terjadi, berarti tugas kita untuk dia telah selesai. Bagaimana kita bertemu orang baru, itu adalah tugas yang baru."

      Delete

Ini kolom komen lho..