Posts

Showing posts from October, 2018

Drama Kosan Fandy

Image
Hari Jumat, 12 Oktober setelah mata kuliah Sejarah Bahasa Indonesia kami sudah berada di Secret kami. Itu berada tepat didepan fakultas kami, yang sejuk dan banyak pohon. Kadang-kadang bikin ngantuk meski tidak tau harus tidur dimana. Kami yang saya maksud adalah orang-orang yang seharusnya sudah saya perkenalkan. Ada Apin, Iyar, Marwan, Fandy, Arjun, Ridwan, dan Adi. Sebenarnya beberapa orang juga meramaikan Secret kami. Namun terlalu banyak untuk diabsen.




Siang itu, seharusnya kami bisa saja mengumpul uang keliling seperti biasa untuk beli gorengan. Namun beberapa teman sedang sibuk dengan tugas dan kelompoknya. Seperti Iyar, yang sudah disandera oleh anggota kelompoknya. 
Karena tidak tau harus ngapain, tiba-tiba saja Fandy dengan ide cemerlangnya mengajak kami ke kosan-nya. Kosan Fandy lebih terlihat seperti sebuah rumah, ditempati oleh beberapa orang yang ia kenal. Minggu lalu pada hari yang sama kami juga sempat pergi ke sana. Numpang makan dan bobo. Begitu pula hari itu, tepat …

Kumpul-Kumpul Katharsis, Lembaga Pers Mahasiswa

Image
Tanggal 29 September, sebelum malam Minggu, saya pergi ke Rumah Bunyi. Disana, dengan Ibu Dosen saya, Bu Ila, ada kelas menulis untuk yang mau. Ada hampir delapan orang yang ikut untuk angkatan 2018. Semuanya dari kelas genap berhubung Bu Ila ngajarnya disana.

Hari itu, kami membahas buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk karya Buya Hamka. Seharusnya, itu sudah dari minggu lalu kami diskusikan. Namun minggu lalu harus ditunda dan diganti dengan hari ini untuk membahas kisah cinta Zainuddin dan Hayati.

Setelah mendiskusikan buku, kami diberi tugas menceritakan apa yang kami alami dari bangun tidur sampai berada di Rumah Bunyi. Beberapa dari kami saling lihat-lihatan. Padahal, seharusnya tidak sulit menulis cerita seperti ini. Namun, tangan saya kaku, pikiran benar-benar tidak fokus. Kemudian saya cerita tentang bagaimana saya telat bangun dan tidak hadir mata kuliah pagi. Namun sejujurnya, hari itu ada insiden yang tidak ingin saya tuliskan.

Kami berpindah tempat, dari ruang tengah ke t…

Kaset dari Marko

Image
Dari radio, Marko memutar siaran favoritnya. Setelah makan malam, Marko memasang batrei Walkman-nya. Tangannya memijit halus tunning agar suara yang dihasilkan jernih. Earphone yang ia gunakan baru ia beli beberapa minggu yang lalu. Dudukannya dikasur dibuat senyaman mungkin.

"Selamat malam teman-teman, pendengar setia 18 FM. Kembali lagi bareng aku, Jeni."
Itu Jeni. Marko tidak tahu kenapa ia bisa setertarik itu dengan Jeni. Itu adalah awal Maret 2006. Setelah penerimaan siswa baru, dengan perhatian yang cukup detil, pupil mata Marko sedikit membesar. Pepohonan menghalang matahari saat upacara pada barisan perempuan, sehingga pada barisan laki-laki mendapatkan bagian yang terkena sinar matahari. Meski begitu, Jeni terlihat sedikit berkeringat ketika ia berada barisan kedua dari depan. 
Sejak hari itu, Marko mulai sibuk dengan hal terkait Jeni. Ia cukup sadar dengan dirinya bahwa untuk mendekati perempuan selevel Jeni bukan hal mudah. Terutama ketika Jeni terlihat cantik. I…

Terima Kasih, "Gue"

Image
Sejak bikin blog, gue sudah menggunakan kata ganti orang pertama, yaitu: "Gue". Awalnya hanya iseng-iseng karena pengaruh tulisan Raditya Dika. Sampai mulai nyaman dan akhirnya keterusan. Blog ini bukan satu-satunya blog yang gue buat. Bukan juga blog pertama yang gue gunakan. Ada banyak pilihan waktu itu, mulai dari Rahul04, Erhael, sampai Ayam Bangkok.

Seiring berjalannya waktu, blog gue mulai menuju pada tahap yang lebih baik. Ini menjadi titik awal untuk kembali mengubah. Dengan menancapnya alamat blog domain, gue harus mulai bebenah blog secara berkala. Tampilan sudah gue ubah sesimpel mungkin, walau tulisannya masih seputar cerita sehari-hari. Update-nya juga sudah rutin seminggu sekali. Nah. Selanjutnya apa lagi?
Setelah melakukan pertapaan, gue akhirnya memutuskan untuk mengganti kata "Gue" dalam blog ini menjadi "Saya" atau "Aku. Belum ada pilihan yang jelas. Namun kedua pilihan itu sudah pasti akan menjadi pemain pengganti. Perlu banyak per…

Lebih Dari Pukulan Smash Jojo

Image
Gue ingat betul waktu itu, ketika sore sudah mulai tampak, kami mulai bersama. Mengambil bola plastik dan membentuk tim dengan sendal sebagai tiang gawang. Main sampai adzan Maghrib dan dipanggil untuk mandi. Rutinitas itu terjadi hampir setiap libur, dan kadang-kadang dilakukan disela waktu sore yang ada.

Seiring dengan umur yang bertambah, fisik yang menua, kami jadi jarang melakukan hal itu kembali. Thariq sudah pergi melanjutkan studi. Begitu juga dengan gue, yang meski menetap selalu merasa berbeda. Pergi pagi, pulang sore. Bagaimana ini menjadi rutinitas yang tidak sehat?

Gue rindu masa itu. Rindu semua kenangan bersama Thariq, Riki, bahkan teman-teman yang pernah bersama. Rindu dengan pedisnya bola plastik jika terlalu lama ditendang memakai kaki kosong. Rindu mengambil bola yang jatuh diselokan. Rindu menunda permaianan ketika kendaraan akan lewat. Bagaimanapun itu adalah sebuah kerinduan yang benar-benar nyata.

Pada sore hari, setelah pulang dari Kampus. Rendy, adik gue menga…