Didunia ini, orang akan mengalami perubahan-perubahan dalam hidup mereka. Fase-fase yang mereka lewati, hingga waktu akan mengubah hidup mer...

Perubahan Dalam Hidup Perubahan Dalam Hidup

Perubahan Dalam Hidup

Perubahan Dalam Hidup

Didunia ini, orang akan mengalami perubahan-perubahan dalam hidup mereka. Fase-fase yang mereka lewati, hingga waktu akan mengubah hidup mereka. Saya sudah lama ingin menulis tentang ini, namun rasanya baru pas untuk saya tulis sekarang.

Umur saya sudah 18 tahun sejak 13 April kemarin. Dan saya sudah berada di Bumi sejak 18 tahun Mama saya melahirkan saya. Tidak banyak yang saya ingat sewaktu kecil. Beberapa hanyalah potongan-potongan kecil yang acak. Misalnya, pas waktu kecil, saya makan obat beberapa pil hingga ketiduran dan dikira mati. Cerita itu juga dikuatkan oleh nostalgia saya bersama orang rumah.

Perubahan dalam hidup saya mungkin sebagian besar juga terjadi diumur kalian di 18 tahun. Perubahan yang akan membuat kalian merenung dan berpikir. Layaknya seorang remaja yang diposisikan sebagai anak sulung, saya punya banyak menanggung beban. Saya setidaknya harus jadi panutan untuk adik-adik saya, sampai saya harus bisa membanggakan kedua orang tua.

Perubahan pertama,

Seiring berjalannya waktu, umur membawa saya pada satu titik keraguan. Kebebasan yang dijanjikan dunia perkuliahan mungkin tidak sebebas yang saya bayangkan sewaktu nonton film-film remaja. Saya harus bisa menjadi orang yang berguna dimata keluarga sebagai anak sulung. Ini jelas terlihat dari ucapan Mama saya pada suatu malam.

"Nanti, Mama ingin ngerasain hasil dari uang kamu. Sudah cukup Mama biayain sampai kuliah."

Disatu sisi, saya agak marah karena Mama selalu memperdebatkan jurusan yang saya pilih (meski sekarang sudah tidak). Disisi yang lain, saya mulai merenungkan, apakah saya bisa hidup dari apa yang saya pilih ini. Bagaimana saya bisa menyenangkan orang tua saya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengiang sepanjang malam.

Perubahan kedua,

Saya ingin cepat dewasa, kata saya sewaktu kecil. Menjadi dewasa tidak sekeren dan sebebas yang saya pikirkan sewaktu kecil. Ada batas-batas yang saya rindukan ketika menjadi anak kecil yang bermain disore hari waktu itu. Misalnya, saya rindu ketika disuruh tidur siang sampai dijagain, yang ujung-ujungnya saya akan akting pura-pura tidur dalam waktu tiga jam hanya untuk dapat izin main sore.

Saya rindu saat-saat main sepak bola didepan rumah dengan sendal sebagai tiangnya. Saya rindu dipanggil untuk mandi sore sampai dikejar masuk kedalam kamar mandi. Saya rindu dengan pemikiran-pemikiran saya sewaktu kecil. Impian-impian besar bersama sahabat yang tumbuh bersama hingga sekarang. Kemudian melihat, sejauh mana mimpi itu terbang.

Perubahan ketiga,

Saya sudah cukup banyak mengalami perubahan teman. Dari teman SD saya yang nakal, pindah ke teman SMP yang konyol, kemudian pindah ke teman SMA yang ngangenin. Banyak hal yang saya lewatkan antara perpindahan-perpindahan itu. Saya cukup merasa ada yang janggal dengan hidup ini, bagaimana semesta mempertemukan kita dengan orang dengan karakter yang hampir sama dengan teman lama kita. Kemudian disadarkan, bahwa mereka adalah satu karakter yang beda. Terlalu egois untuk menyama-nyamakan mereka.

Entah, teman apalagi yang saya akan temui dimasa perkuliahan ini. Karena jujur, saya cukup paranoid bertemu dengan orang baru, meski ujung-ujungnya saya juga akan terbiasa.

Sejak tulisan ini berada dalam draf, saya mulai membuka kembali. Ada satu bentuk keraguan yang kini patah. Kawan-kawan saya sekarang adalah yang terbaik. Mereka dari yang ada benar-benar orang yang baru. Semesta benar-benar mengejutkan. Apalagi saat ini, bagaimana orang yang tidak pernah berpikir untuk kenal dipertemukan. Sekarang, saya punya Aping, Arjun, Marwan, Iyar, Fandy, Adi, Ridwan, juga Danil sebagai ketua tingkat kelas kami.



Suatu waktu, kami mengklaim sebuah tempat di depan perpustakaan sebagai Sekret kami. Itu dibawah pohon dan sejuk. Setelah jam selesai, kami sering ngumpul disana. Kumpul uang untuk gorengan atau somay. Kadang-kadang hanya ngobrol singkat, atau diskusi panjang lebar. Daun-daun jatuh, kering dan mulai menyatu dengan tanah adalah saksi kami ada disana. Saya pikir, itu tidak akan berubah selama kami tetap disana.

3 comments:

  1. Perubahan poin kedua juga saya rasakan. Saya juga kerap membayangkan masa kecil. Masa dimana debu tanah merah akrab menempel pada pakaian.
    Saya membuat beberapa postingan tentang masa kecil di blog saya

    ReplyDelete
  2. Kenapa... untuk perubahan perihal masa kecil, saya juga ingin kembali ke masa itu ya :'

    ReplyDelete
  3. everyone is changing.

    gue mau komentar apaan lagi ya. tapi ya namanya juga hidup. dinikmatin aja.
    gue juga sekarang lumayan nyesel kenapa dulu pas d suruh tidur siang malah kabur naik sepeda. sekarang harus nerima kalo kulit badan jadi gelap.
    hahahah

    ReplyDelete

Ini kolom komen lho..