Belanja Buku dan Resolusi 2019

Harbolnas kemarin adalah pertama kalinya saya ikut. Ternyata, berburu diskon itu seru. Apalagi jika hanya lewat internet. Mojok salah satu yang mengadakan paket harbolnas buku. Karena lagi ada uang lebih, saya beli paket cinta yang isinnya 9 buku Mojok seharga 170 ribu. Meski sampai sekarang, paket masih belum sampai. Katanya tertahan di cargo bandara.

Di kesempatan yang lain, diskon akhir tahun sedang diadakan di Gramedia. Saya awalnya kesana sendirian setelah pulang kuliah. Di pertigaan lampu merah, ternyata banyak teman saya yang juga ingin kesana. Kami pergi bersama, meski saya pulang lebih awal.

Di paparazzi oleh netijen Lambe Turah


Dari beberapa buku yang diskon besar-besaran, ada tiga yang saya bawa pulang. Yaitu Sang Petinju oleh Reinhard Kleist, Sentuh Dengan Hati-Hati oleh Jodi Picoult, dan Dari Kirara Untuk Seekor Gagak oleh Erni Aladjai. Tiga buku dengan harga 70 ribu. Jarang-jarang dapat segini. Sikat!



Sebenarnya saya agak malas ngomongin ini. Soalnya, tiap liat postingan resolusi tahun kemarin, masih banyak resolusi yang belum tercapai. Beberapa mungkin ada sih, tapi lebih banyak yang tidak. Terus, kenapa saya masih buat resolusi tahun depan. Mungkin biar blog ini ada isinya, benar juga. Tapi itu lebih karena saya ingin ada tujuan hidup untuk setiap tahun. Bagaimana rasanya hidup tanpa tujuan. Itu hampa sekali. Dan, sebagai orang yang kebetulan punya blog, saya mencoba menuliskan agar resolusi itu bisa jadi cerminan atau kilas balik saya dikemudian hari.

Bagi beberapa orang, resolusi mungkin adalah hal yang tidak perlu. Itu terserah untuk mereka. Saya pikir, kepentingan adalah apa yang kita anggap penting. Dan, saya tidak mengatakan resolusi itu penting. Saya lebih ingin mengatakan bahwa tujuan hidup itu penting, goals in your life lah istilahnya.

Sebelum saya ngomongin resolusi tahun 2019, saya akan mencoba merangkum resolusi saya tahun-tahun sebelumnya. Ini dia, diurutkan dari yang paling lama.

Resolusi Tahun 2016:

1. Bisa buat buku
2. Buat keluarga bangga
3. Bisa beli barang sendiri
4. Berguna untuk orang lain

Dulu, salah satu cita besar saya adalah menerbitkan buku. Sampai sekarang, cita-cita itu masih saya pegang. Entah dengan tujuan apa, itu berubah-ubah.

Dengan konteks apa, saya mengatakan ingin membuat keluarga saya bangga. Mungkin waktu itu, saya banyak mengecewakan mereka. Jika ditanya, apakah saya sudah membuat keluarga, atau orang tua saya bangga? Saya tidak tahu jawabannya. Pilihan saya kadang-kadang membuat mereka kecewa.

Yang bisa saya katakan sudah tercapai adalah bisa membeli barang sendiri. Meski bukan untuk tahun  itu, dan bukan uang dari hasil sendiri. Berguna bagi orang lain mungkin belum. Jujur, saya merasa lebih banyak menyusahkan dan membuat mereka kecewa. Teruntuk teman saya yang sedang membaca ini, saya minta maaf jika banyak salah.

Resolusi Tahun 2017:

Saya tidak buat untuk tahun ini.

Resolusi 2018:

1. Lulus dengan nilai memuaskan
2. Masuk Universitas idaman dengan jurusan sastra atau komunikasi
3. Bikin buku
4. Penghasilan sendiri

Nilai kelulusan saya cukup untuk membawa saya masuk pada jurusan yang saya idamkan; Sastra Indonesia. Meski, impian untuk masuk Universitas Indonesia harus saya simpan dulu. Meski begitu, saya sangat bersyukur, oleh orang tua saya yang masih dibiayai hingga saat ini. Terima kasih, Mama, Bapak.

Bikin buku memang cita-cita besar saya. Sekarang, saya malah berpikir untuk memulai dengan membuat e-book. Tunggu saja. Dan, mudah-mudahan, buku perdana saya dengan berbentuk fisik bisa terwujud. Berkaitan dengan penghasilan sendiri, saya masih mencari pekerjaan yang bisa saya isi disela waktu kuliah. Hitung-hitung biaya tambahan.

Dari resolusi saya diatas, bisa diliat apa-apa saja big goals dalam hidup saya. Beberapa ada yang sudah tercapai, beberapa ada yang belum. Saya rasa penting untuk membuat resolusi seperti ini, meski tidak ditaroh didalam blog. Selain daripada untuk tujuan hidup, ini juga bisa jadi tolak ukur hidup.

Oh ya, sudah kepanjangan. Resolusi saya untuk tahun 2019 adalah rangkuman dari resolusi saya yang belum tercapai. Banyak? Memang. Mari kita lihat, sejauh apa saya bisa mewujudkannya.

Comments