Peresmian Mahasiswa Baru





Seharusnya, tulisan ini sudah lama bisa saya publish. Tapi, saya masih menunggu beberapa foto dari senior yang sampai saat ini belum bisa dibagikan. Jadi, mending saya publish dengan foto yang sudah ada. Foto yang lain bisa menyusul. Ini juga menjadi penutup dari tetralogi Mahasiswa Baru. Cerita yang lain adalah: Pola Hidup Mahasiswa Baru, Balada Mahasiswa Baru, dan Resiko Mahasiswa Baru.


Jam 12 siang pada tanggal 13 Oktober hari Sabtu, saya sudah berada di angkot lengkap dengan tas yang berisi baju ganti dan makanan. Hari itu akan terjadi Wisata Mahasiswa (WISMA) sekaligus pentas seni yang dipanitiai oleh senior untuk angkatan Sastra Indonesia UHO 2018. Dari kelas ganjil dan genap menghiasi depan fakultas waktu saya berjalan masuk. Sebagai ketua kelompok yang dipilih dadakan semalam, saya bertanggung jawab dengan anggota kelompok.

ID Card.
Disana sudah banyak teman-teman berbaju merah dengan celana training hitam (seperti yang diberitahukan), meski tak sedikit dengan celana jeans. Saya berjalan menuju gazebo samping perpustakaan menemui teman-teman yang lain. Disana ada juga satu anggota kelompok saya dengan malasnya tidak mau bergerak mencari teman-teman yang lain.

























Saat itu mentor kami belum datang. Namanya kak Destin dan Arif. Kepercayaan kelompok benar-benar diberikan kepada saya. Maka dari itu, saat banyak teman-teman menunjuk saya untuk jadi ketua, saya menerimanya dan menggerutu dalam hati,"Terima kasih bebannya, teman-teman."




Saya bisa saja menolak, namun ini bukan jaman SMA lagi. Menolak hanya akan membuat saya tidak menjadi lebih baik. Sebagai salah tiga dari laki-laki di kelompok 2, saya dengan berani bertanggung jawab menjadi ketua. Kemudian, mengumpulkan teman yang lain dan mendiskusikan yel-yel. Disana ada 12 orang yang lengkap dari sebelumnya. Ada 9 orang perempuan dan tiga laki-laki. Itu adalah saya, Fandy, dan Wuna. Seharusnya bisa lebih seru lagi, ketika Iyar dan Adi juga ikut. Tapi mereka tidak dengan alasan masing-masing.

Ima, sebagai orang yang pernah kupercayai akan menjadi ketua kelompok memberi banyak masukan untuk yel-yel. Sebagai mantan anggota pramuka, ia mencoba mencari dan kembali mengingat yel-yel yang mudah dan menarik. Selanjutnya, saya mencoba menghapal bait sebagai pemimpin yel-yel.

Tidak lama setelah itu, dari depan fakultas, tempat teman-teman kami yang ramai terjadi insiden. Mata saya menangkap senior dengan amarahnya kepada mahasiswa baru. Setelah digiring untuk bergabung, saya baru tahu ketika laki-laki diperintahkan untuk berdiri. Kesalahannya adalah merokok di depan fakultas, juga bermain gitar saat orang sedang melaksanakan shalat.

Ketua Panitia, Kak Indah, mengambil alih,"Tadi itu senior angkatan 2014. Saya juga tidak tahu karena ia sudah memakai cadar. Lain kali, dijadikan pembelajaran saja."

Kemudian kami digiring lagi, menuju depan perpustakaan. Berbaris sesuai kelompok. Disana, sudah ada Kak Destin. Lalu, ia menghampiri,"Yel-yel sudah siap?"

Kami mengangguk.

"Yang mau kalian tampilkan?" tanya Kak Destin lagi.

"Belum ada."

Ia memasang raut was-was dan kecewa. Seharusnya Ima bisa saja maju membacakan puisi, kemudian kelompok kami aman. Namun, Ima juga sedikit bingung karena akan mewakili angkatan untuk tampil. Setelah diberi arahan, kami lagi-lagi digiring menuju bus yang sudah parkir di depan fakultas. Bus pertama menampung kelompok 1 dan 2 perempuan. Sementara itu, bus kedua menampung orang yang acak. Kami masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman, sebelum akhirnya kembali berdiri ketika perempuan naik.



Di Bus, ada Arjun, Marwan, Aping, Ridwan, dan teman-teman yang lain. Arjun memainkan gitar, melatunkan Dimana-Mana Hatiku Senang diikuti oleh seiisi bus. Karena tahu akan berada cukup lama di bus, kami hanya memainkan dua lagu, menyimpan tenaga dengan saling ngobrol. Bus bergerak cukup intens, lewat jalan belakang hingga melewati Kendari Beach. Teman-teman banyak yang sudah tidur. Saat melewati alumni sekolah, SMA Negeri 9 Kendari, saya cukup antusias memperkenalkannya kepada kawan dengan berseru,"Kerennya ini sekolah."

Kaki kami sudah terasa sedikit pegal ketika baru memasuki daerah kelurahan Mata. Pepohonan yang saling berpelukan mulai terlihat, menutup sebagian langit hingga membuat bus serasa memamasuki terowongan. Bus masih bergerak, dengan kecepatan yang saya perkirakan mulai naik, dan yang terjadi saat beberapa kali lubang dan pohon disikat habis. Hingga pada sebuah lubang yang cukup besar, dengan kecepatan yang begitu cepat, bus sontak membuat guncangan besar, membuat semua penumpang bangun dan kaget. Salah satu peserta, yang juga teman kelas saya, napasnya terkunci. Kemudian dibantu oleh senior perempuan yang ada disana.




Saat kami tiba, bus yang lain sudah ada disana. Orang-orang sudah berhamburan. Sempat terjadi adu cekcok antara tetap di dalam bus atau langsung turun. Karena panas, peserta tidak sabar untuk turun untuk mencari udara segar. Saat turun, tas saya tenteng sebelum akhirnya diperintakan untuk menaruh tas. Hape mulai dimintai, karena saya tidak mau, secepat mungkin saya simpan didalam tas kemudian kembali pada barisan. Upacara pembukaan dimulai. Pencabutan hak asasi juga begitu. Seperti yang saya pikirkan, ketika hak asasi sudah dicabut ada hal yang berkaitan dengan senioritas lagi. Entah untuk maksud yang baik atau buruk.

Selepas upacara, kami diperintahkan untuk berjalan menuju tempat yang sudah disiapkan. Cukup jauh untuk ukuran jalan kaki. Sebagai ketua kelompok, saya berjalan paling depan disamping Kak Destin. Sampai disana, yang saya butuhkan cuma dua: istirahat dan minum. Dan kemudian syukur, dari waktu itu sampai selesai Magrib adalah waktu Ishoma. Itu kami pergunakan untuk membeli air minum bersama Fandy dan Wuna. Kami ngobrol banyak, sesekali tertawa. Itu adalah hal yang baik menyambut malam. Sempat terjadi insiden baru, tentang hilangnya uang di warung tempat kami jajan.

Kelompok lain sedang makan ketika kembali. Sepertinya, hanya kelompok kami yang laki-lakinya harus liat orang makan. Perempuan makan sebungkus nasi bersama. Soalnya, saya pikir makan hari ini sudah disiapin panitia, maka dari itu pas ditawarin bawa makan sama Mama, saya nolak. Oh, insting Mamaku tajam sekali.

Untungnya, Arjun bak malaikat penolong datang membawa sebuah nasi yang kami makan berempat dengan Fandy dan Wuna. Oh, Arjun, terima kasih malam itu. Sebenarnya, biar ngga makanpun saya belum lapar juga. Tapi kalo dibiarkan, mengingat ini acara dengan banyak orang, pasti makan yang disediakan akan telat. Jadi selagi ada makan, yah makan aja dulu. Ngisi space yang kosong untuk lambung.

Selesai makan, acara berikutnya yaitu perkenalan yang terjadi cukup lama dan sorry to say, membosankan. Tidak adanya ketegasan dari moderator untuk mengefesienkan waktu. Padahal, setelah perkenalan akan dilanjutkan oleh penampilan seni dari tiap kelompok. Dinilai oleh Dosen kami yang baru datang, Pak Sudu dan Pak Maliudin.




Penampilan berlangsung sudah hampir jam 9 malam, jika saya tidak salah ingat. Tidak banyak ragam penampilan. Hanya bernyanyi dan puisi. Dan kelompok kami menggabungkan keduanya dengan musik Laskar Pelangi-nya Nidji. Salah satu saran saya waktu itu adalah drama. Namun ditolak halus karena waktu yang tidak memungkinkan. Saya kira, kamilah kelompok yang tidak egois dan menerapkan tema "Solidaritas" dengan maju ber-duabelas untuk tampil. Itu adalah cara yang baik untuk beda. Namun perlu saya akui, penampilan teman saya tidak kalah baik adalah Arjun yang membawakan musikalisasi puisi dari puisi Wiji Thukul berjudul Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa. Diakhiri dengan tepuk tangan yang gemuruh. Dan sorakan untuk menampilkan lagu kedua.

Setelah penampilan seni, pemutaran film mulai disusun. Sembari memasang alat, itu dimanfaatkan oleh senior untuk mengisi dengan baca puisi. Semuanya bagus dan seru. Namun keadaan saat itu benar-benar tidak mendukung. Terlalu lama duduk, membuat belakang saya mulai pegal dan perutku sakit. Saya sempat melihat awal pemutaran film Genius. Membuat peserta saling melirik ketika adegan panas diawal scene. Karena tidak kuat, saya pindah ke belakang. Lalu, dengan beberapa senior akhirnya ditanya dan dibawa ke tenda untuk istirahat. Disana, ada anak kelas ganjil yang juga sakit. Saya baring disebelahnya. Beberapa senior yang masuk kedalam tenda, memeriksa kondisi kami. Salah satunya mengurut betis saya dengan mem-fonisnya saya masuk angin. Senior yang lain memberi makan saya terlebih dahulu sebelum yang lain. Sebenarnya ada rasa tidak enak, tapi biar cepat sembuh yah dimakan aja.

Tidak sampai disitu, saat Kak Prayoko datang, saya langsung disuruh tengkurap untuk dikerok. Malam itu jadi pengalaman pertama saya dikerok. Kak Prayoko membuka tas rajutnya, kemudian meminta minyak urut kepada panitia yang mengurus kesehatan. Tidak ada ternyata. Lalu, Kak Prayoko kembali bertanya,"Minyak goreng ada?"

"Ada. Kenapa?"

"Ya. itu. Sinimi," katanya.

Dengan keadaan tengkurap, aku bisa melihat orang-orang dari jendela tenda yang mengintip. Kak Prayoko berkata,"Sa kerjakan dulu kau." (Saya kerjakan dulu kau)

Ternyata benar. Dari mulai dikerok hingga selesai, belakang saya mulai terasa enak. Apalagi saat koin bergerak dari atas ke bawah. Lalu dari kiri ke kanan. Membentuk tulang ikan dipunggu saya. Setelah enakan, saya mendengar suara kaki dan berisik. Itu adalah teman-teman yang dipanggil dan dipersiapkan untuk makan malam. Setelah tidur sebentar, saya dibangunkan. Tujuan awalnya hanya untuk melebarkan tikar untuk tempat tidur. Tapi karena sudah enakan, saya disuruh tidur bersama teman laki-laki yang lain diluar.

Disana, mereka sedang bingung. Tidak ada tempat tidur. Padahal, kami berpikir akan dapat tempat lebih baik mengingat jumlah kami yang sedikit. Danil sudah capek, memilih tidur dibawah pohon tanpa alas apapun. Sebenarnya kami bisa saja tidur disana. Tapi kami tidak jamin akan benar-benar bisa tidur. Walaupun pasir pantai sehalus apapun.

Setelah berunding hebat, beberapa senior yang sedang tidur di gazebo mempersilahkan kami untuk tidur. Kesempatan tidur itu benar-benar kami manfaatkan, mengingat kami harus bangun lagi jam 3 pagi. Namun, baru hendak menutup mata, teriakan orang kesurupan dari tenda perempuan membangunkan kami semua. Dari analisa, kemungkinan itu teman kelas saya lagi yang sempat sesak napas saat di bus. Setelah suara mulai redam, kami kembali mencoba untuk tidur. Dan lagi-lagi, baru saja ingin memejamkan mata, Kampus sebelah dibangunkan dengan alarm. Itu yang membuat kami semua bangun kembali.

Dan, saat dibangunkan pukul 3 pagi, saya merasa seperti tidak tidur sama sekali. Malam itu, jadi tidur malam saya yang paling singkat. Namun saya cukup bersyukur bisa tidur malam itu. Nyenyak tidaknya soal lain. Dan baru saya tahu ketika pagi bahwa Arjun, Alkap, dan beberapa teman yang lain tidur dipesisir pantai. Untungnya laut tidak naik saat malam, jika ia, mereka sudah habis dijilat ombak.

Kami dikumpulkan kembali, membentuk barisan sesuai kelompok, dan lagi-lagi menyorakkan yel-yel. Meski nyawa belum benar-benar kembali, namun semangat tetap menyala. Setidaknya kami tidak ingin malu. Kelompok 1 dipersilahkan untuk maju, berjalan diposko pertama.  Kami masih menunggu, sambil memegang buku yang kami tidak tahu untuk apa.



Kemudian giliran kami, maju dan berhenti beberapa meter hingga kelompok 1 benar-benar selesai. Lalu maju, dan menyusun barisan. Dan, lagi-lagi kami harus memainkan yel-yel yang mulai mengganggu. Namun, karena tidak ingin ada masalah, itu kami lakukan dengan baik. Lalu diposko itu, kami ditanya masalah kapan beridirinya UHO, siapa Rektor pertama, dan nama-nama besar yang ada di UHO. Selebihnya kami hanya menerima informasi tentang filsuf yunani yang mati akibat racun, yaitu Socrates. Setelah itu, kami dipersilahkan menuju posko kedua.

Posko kedua, kami kembali berhenti menunggu kelompok 1 benar-benar selesai. Kemudian menuju kesana dengan jalan jongkok. Di posko dua, kami diberi pertanyaan berkaitan dengan Sastra. Kebanyakan masalah pencipta prosa. Tiga dari enam jawaban berhasil kami jawab dan menjadikan kami kelompok yang paling ehm, pintar. Namun, itu berarti membuat mentor kami mendapatkan tiga kali coretan arang lagi.

Di posko tiga, adalah salah satu posko yang benar-benar absurd. Ada sebuah kardus kecil yang dimana kami ber-12 harus bisa naik kedalam kardus itu. Dengan menyusun strategi, kami seharusnya bisa berhasil. Tapi saya merasa ada senioritas lagi disana. Itu membuat mentor kami kembali mendapat coretan, dan sebagai ketua kelompok saya harus melakukan itu untuk mentor saya. Ada perasaan ragu dan tidak enak. Namun, disana banyak senior lain dan juga lebih tua. Saya coba nurut aja, dan minta maaf pas nyoret.

Kami berjalan cukup jauh ke posko empat. Sampai disana, kami mendapat teguran karena tidak memberi salam. Kurang etika, katanya. Jadi, kami kembali beberapa meter dan mengucapkan salam kembali. Di posko ini, kami tidak banyak melakukan hal. Hanya mendapat teguran. Saat hendak pergi, salah satu senior bertanya,"Ada yang haus?"

Saya mulai curiga, tidak menjawab. Hanya, salah satu dari kami akhirnya menjawab: "Haus, Kak." Disitulah, kami diberi botol berisi air. Saya bertugas menjadi kelinci percobaan untuk teman-teman saya. Karena sudah curiga, saya hanya meneguk sedikit. Rasanya asin. Oh, sial, itu  air laut. Saya bisa saja menyimpan air laut itu dimulut untuk dibuang saat kami pergi. Namun, sebagai ketua, saya harus menunjukkan rasa solidaritas. Itu benar murni agar, setidaknya saya tidak menjadi akibat dari dihukumnya teman-teman saya. Disana, ada Fandy dan Wuna yang sudah mulai capek. Begitu pula dengan perempuan dan dua mentor kami.

Di posko terakhir, kami berjalan jongkok kembali dan mengucapkan salam. Disinilah, kami kembali diperingatkan. Itu karena muka mentor kami yang sudah penuh dengan coretan arang.

"Waktu mentor kalian dicoret, ada yang protes," kata salah satu Senior.

Saya rasa ini pertanyaan kambing hitam yang seharusnya tidak digunakan. Sebab, diposko sebelumnya, salah satu dari kami menegur senior yang sempat berkata ingin membaca pertanyaan ke-tujuh. Padahal, awalnya hanya dijanjikan enam pertanyaan. Katanya: "Kamu yang mau atur saya?"

Sewaktu kami diperingatkan, saya menjelaskan hal itu. Namun tetap dibantah. Apa yang kami lakukan selanjutnya? Hanya mendengarkan. Kami rasa, itulah jalan keluar paling baik. Mentor kami, Kak Destin, menangis dengan nada kesal setelahnya. Katanya, kami terlalu manja selama mementori kami. Tidak ada rasa tanggung jawab. Itu benar, mentor kami sangat baik dan tidak masalah jika ia marah. Apalagi, melihat wajahnya penuh coretan arang. Saya sempat disinggung, ketika mau saja disuruh mencoretnya.

Beberapa dari kami, apalagi yang laki-laki menunaikan sholat Shubuh di gazebo. Kebetulan, posko lima, tempat kami dikumpul memang berada dipinggiran pantai. Banyak gazebo yang bisa digunakan sholat. Kecuali air, yang kami harus menggunakan air laut untuk wudhu.

Selanjutnya, kami kembali mendengarkan uneg-uneg mentor. Lalu, kami membentuk barisan untuk melakukan peregangan. Bermain sahut kata, dan saling berpelukan dan nutup mata. Kondisi saat itu benar-benar melelahkan. Namun cahaya matahari yang terbit menyapa bulan yang pamit benar-benar keren. Sedih tidak mengabadikan. Hanya melihat itu berlalu sembari kami tetap melakukan peregangan badan sebelum kembali ke tempat kami semula.


Sesampainya ditempat awal, kami diperintahkan memegang gelas dan energen yang kami bawa dari rumah. Itu untuk kami siram ditempat panitia komsumsi. Kemudian membentuk lingkaran. Agak lama menunggu hingga semua benar-benar kebagian air panas. Disana ada Arjun dan Marwan yang baru saja bangun dari tidurnya. Katanya tidak enak badan.

Kami juga mengambil roti yang kami bawa, itu juga yang kami bagi kepada yang tidak bawa. Setelahnya, kami doa bersama sebelum makan. Dan, itulah dimana kami benar-benar lega. Tidak berapa lama setelah makan, kami kembali dipersilahkan untuk bersih-bersih badan. Yang dimana, semua orang langsung segera menenteng handuk untuk mandi. Beberapa orang, termasuk saya, tidak ada niat untuk mandi. Mending sekalian dirumah, kata salah satu teman.

Saat semua selesai, kami kembali dikumpulkan. Itu juga yang membuat kami kembali kena marah. Karena terlalu mengulur waktu. Padahal, kami sudah siap, dan mengambil waktu sebentar untuk istirahat di gazebo. Kami dikumpulkan untuk melaksanakan salah satu acara terakhir yang saya kira itu sudah tidak ada. Itu adalah outbound, atau sederhananya permainan yang akan dilakukan oleh peserta. Yang sudah mandi pasti kecewa, dan itu hal yang perlu saya syukuri. Ada dua macam permainan yang akan kami tandingkan.

Yang pertama adalah tiarap seperti latihan-latihan tentara dan yang kedua adalah melewati sebuah tali yang dipasang. Itu dilakukan per kelompok. Awalnya penilaian berdasarkan yang tercepat. Karena satu dan lain hal, penilaian berubah menjadi yang paling solid antar kelompok. Sebagai ketua kelompok, saya memimpin anggota saya untuk permainan pertama.

"SATU.... DUAA...... TI.......... GA!"


Kami berjalan jongkok hingga tempat kami akan tiarap. Ada Aping disebelah kanan saya, kami merayap diatas pasir pantai. Saya mencoba menggeser badan karena tali yang sudah mulai menyentuh punggung. Setelah hampir sampai, teman saya yang lain mengikut dari belakang. Saat sudah bisa menggapai tangannya, saya menariknya. Begitu juga dengan teman yang lain. Kelompok lain sudah berlari menuju permainan kedua sementara kami masih menunggu Fandy yang masih berjuang.

Setelah anggota lengkap, kami berlari menuju permaianan kedua. Anggota perempuan mulai melihat dengan nada pesimis. Saya kemudian menunduk agar mereka bisa menaiki punggung saya. Dibantu oleh Wuna dan Fandy. Kami sampai digaris finish pada urutan kedua. Kami membersihkan badan sembari mendapat senyum dari mentor kami yang kembali bangga.

Acara selanjutnya adalah pemberian materi lagi, yang disampaikan oleh Bang Kahar, selaku pendiri Rumah Bunyi. Ia menghadiahi banyak buku untuk orang yang ia suka dan bertanya. Itu adalah teman-teman saya yang dapat ketika kami ditanya satu pertanyaan tentang: kenapa kamu bisa jadi peserta yang terbaik?

Setelah hampir setengah jam ngobrol-ngobrol, makan siang sudah tersedia. Diatas daun pisang, ada nasi, ikan bakar, dan sayur. Sungguh mengundang selera ketika kami sudah duduk dan saling bertatap-tatapan. Setelah berdoa, kami makan dengan lahap. Bahkan, sempat beberapa kali meminta nasi dari teman sebelah.




Menjelang sore, kami dikumpulkan kembali. Membentuk sebuah lingkaran. Yang laki-laki diminta untuk maju, saya mulai curiga. Dan itulah yang terjadi ketika rambut kami kembali dicukur pendek. Sempat terjadi insiden ketika salah satu teman kami, menolak untuk dicukur. Pada saat itu, rambut saya belum cukup panjang, namun dicukur untuk kedua kalinya adalah hal yang perlu dipikirkan.

Setelahnya, kami kembali kebarisan lingkaran, dan bergantian memperkenalkan diri. Seringkali, ketika salah satu dari kami menyebut daerah asal dan senior histeris dengan sendirinya. Setelah lewat beberapa orang setelah saya, itu adalah Khairul yang mendapat bagian. Dan salah satu senior lama, menyuruhnya duduk. Sementara senior yang lain, Kak Prayoko menyuruhnya lanjut.

"Buat apa acara perkenalan ini? Tidak ada faedahnya!"

Lalu terjadi insiden antar senior. Para lelaki, dipanggil naik kembali. Kemudian dimintai pendapat tentang pencukuran rambut. Kami menjawab aman dengan tidak keberatan. Padahal, ini hal yang benar-benar perlu dipertanyakan. Kami masih berada didepan ketika insiden semakin panas. Senior mulai saling bertikai. Peserta perempuan mulai ketakutan, namun coba ditenangkan. Setelah hampir terjadi baku pukul, salah satu senior melontarkan pertanyaan,"Kenapa ko ketawa?" (Kenapa kau ketawa?)

Lalu dijawab. "Karena lucu," Kemudian semua tertawa dengan gembira. Semua akhirnya tahu itu adalah bagian dari drama. Namun saya sudah tahu lebih awal ketika Ferdian berkata,"Kalo ada yang aneh sebentar, diam saja."

Acara drama-drama selesai. Beberapa orang masih tidak percaya. Pendapatku, ini adalah hal yang kurang baik untuk ditiru. Namun, dari serangkaian acara, ini yang benar-benar bisa membuat suasana menjadi beda dan cair. Setelahnya, kami tidak kagok lagi ngobrol dengan senior. Acara terakhir ditutup dengan mencari botol dengan saling berpegangan tangan dilaut. Kami tidak mendapat apa-apa selain botol lama yang hanya terisi pasir. Lomba itu diakhiri dengan membuang semua senior ke laut. Kami mengejar yang lari, menyeret dan membuang yang tertangkap.

Setelahnya kami saling bersalaman sebelum pulang. Bus sudah datang dan mandi adalah hal yang tidak perlu. Yang kami pikirkan saat itu adalah cukup pulang dulu. Dijalan, bus menurunkan saya ditempat biasa saya turun ketika naik angkot. Saya berpamitan dengan yang lain sebelum turun dan berjalan menuju rumah.

Oleh-oleh
Sampai di rumah, badan sudah mulai nyeri, betis mulai pegal, dan badan sudah minta istirahat. Saya kira, cukup sudah cerita tentang Spektra ini. Menjadi penutup dari tetralogi Mahasiswa Baru. Semoga cukup jadi paduan untuk menjadi bayangan kepada yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Comments