Sebenarnya, saat ini saya hanya ingin tidur. Tapi tentu saja tak bisa karena jadwal tidur saya sudah kacau lebih dulu. Semua bermula ketika ...

Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game

Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game

Melihat Kehidupan Dari Perkembangan Game

Sebenarnya, saat ini saya hanya ingin tidur. Tapi tentu saja tak bisa karena jadwal tidur saya sudah kacau lebih dulu. Semua bermula ketika libur dimulai. Awalnya hanya ingin merayakan libur dengan begadang semalam bermain PUBG di hape. Namun, karena keasikan, malah terbawa-bawa hingga malam berikutnya.


Malam itu, sehabis bermain Creative Destruction (game yang mirip Fornite) di hape, saya mencoba untuk tidur lebih awal. Alih-alih tidur, pikiran saya malah semakin liar. Badan saya tidak berhenti untuk bergerak dari kasur. Seakan ada hasrat dari tubuh yang mengatakan: "Ayo, Bangun! Mari begadang!"

Semakin saya lawan dengan memejamkan mata, semakin pikiran saya liar. Ini tidak mungkin pengaruh kopi tadi siang, pikir saya. Sampai kemudian, pemikiran saya sampai pada melihat perkembangan di dunia ini lewat perkembangan game.

Dulu, saya bermain tetris di sebuah konsol game yang dibelikan oleh Ibu saya. Saya masih ingat waktu itu, konsol tetris saya warna biru langit. Saya menghabiskan waktu-waktu saya dengan main game tetris itu. Kadang-kadang dipake ole Tante saya. Permainan itu mengharuskan kita sebagai pemegang kontrol untuk membangun sebuah bata yang sudah ditentukan bentuknya. Semakin berkembangnya jaman, permainan semakin canggih. Sekarang, kita sudah tidak bermain tetris lagi, melainkan Fortnite. Game yang jika mau dibandingkan memang sangat jauh berbeda. Namun, jika dilihat lebih lanjut, memiliki persamaan yang bisa dijadikan kajian. Asik.

Kedua game itu sama-sama bersifat build to play. Yang satu hanya khusus membangun, yang satu membangun sekaligus mematikan lawan dan bertahan hidup. Itu mencerminkan kehidupan kita sekarang bahwa membangun saja tidak cukup, kita juga butuh bertahan dan tidak sedikit yang saling menjatuhkan?

Disisi yang lain, sesudah bermain game Tetris, saya beranjak bermain game konsol di Nintendo sepupu saya. Saat itu, saya jatuh cinta bermain game Contra. Biasanya, saya akan memakai Lance Bean, karakter dengan kostum warna biru. Sedangkan sepupu saya memakai Bill Rizer, karakter yang berkostum merah. Game itu menuntut kita untuk bekerja sama untuk menyingkirkan sebuah kelompok yang akan mengambil alih bumi.

Semakin berkembangnya jaman, saya mulai bermain PlayerUnknown's Battlegrounds di hape. Game yang dimana kita akan diturunkan disebuah tempat, kemudian mencari senjata untuk bertahan hidup. Jika tidak dibunuh, ya membunuh.

Dan kemudian, saya masih gelisah di tempat tidur. Sedikit demi sedikit, catatan kecil untuk membantu saya menulis ini mulai saya catat. Ada satu lagi game yang ingin saya jadikan perbandingan. Tapi, belum menemukan game pembanding yang cocok. Itu adalah game werewolf. Meski di dalam game itu kita diajarkan untuk bermusyawarah, namun secara tidak sadar kita juga diajarkan menjadi pembohong atau penipu andal saat memainkan peran Werewolf itu sendiri.

Saya membuat postingan ini bukan untuk menyerang pihak manapun. Sebagai orang yang bermain game, ini hanya sedikit kegelisahan saya sewaktu ingin tidur. Dan saya rasa ini keisengan yang membuat saya sadar bahwa saya terlalu jauh memikirkan segalanya, mungkin. Saya pikir, kemudian game hanya untuk membunuh waktu, pengusir rasa bosan, atau pengisi waktu senggang. Meski dibeberapa kasus, orang menjadikan game sebagai bagian dari hidupnya.

Sudah saya bilang, saya hanya ingin tidur. Membiarkan pikiran saya berpikir liar begini bisa membuat banyak perdebatan.

0 komentar:

Ini kolom komen lho..