Fenomena Dilan Berlanjut

Tahun 2015, tepatnya akhir SMP, saya membeli buku Dilan. Itu karena salah satu cuitan teman blog saya di Twitter. Kemudian, yang terjadi adalah saya suka dengan novel itu. Salah satu alasan untuk saya menabung uang jajan buat beli bukunya yang kedua, Dilan 1991.

Tahun 2019, setelah sukses dengan film pertamanya, film Dilan 1990, Iqbaal dann Vanesha kembali menggunjang perasaan seluruh masyarakat Indonesia di Bumi. Dengan beragam karakter baru dan konflik yang lebih banyak. Sebelum membaca lebih lanjut, alanglah baiknya sudah menonton atau lebih baik lagi jika membaca bukunya. Karena saya akan menjabarkan spoiler untuk mendukung argumen saya.

Baca juga: Fenomena Dilan.


Argumen? Mungkin iya, karena saya tidak ingin mennyebut ini sebagai sebuah ulasan. Dengan menyebut ini ulasan, secara tidak langsung saya menyebut diri saya kritikus. Saya lebih senang menjadi penikmat, yang tugasnya hanya nonton, menikmati, dan memberi respon dari sudut pandang personal. Lebih dari itu urusan orang lain yang lebih ahli dibidang itu.

Film Dilan 1991 bercerita tentang masa Dilan dan Milea berpacaran, kemudian terjadi konflik layaknya orang pacaran. Yang satu protektif, yang satu egois. Saya hanya bisa mendapatkan kata itu. Selanjutnya, hubungan mereka tidak berlanjut karena putus. Itu akibat sifat Milea yang protektif ke Dilan karena masih ikut-ikutan geng motor.

Poster film Dilan 1991

Disana, Dilan juga mendapat banyak tekanan. Seperti dipecat dari sekolah, ditahan oleh polisi karena terlibat aksi balas dendam kepada kakak Anhar, kemudian membalas dendam kematian Akew yang membuatnya diusir dari rumah. Ohiya, mungkin banyak yang ngeh kalau beberapa karakter menghilang atau porsinya lebih sedikit. Seingat saya, dibuku memang begitu. Pada cerita ini, kita lebih difokuskan pada hubungan Dilan dan Milea yang lebih dalam dan personal.

Beberapa dari kita mungkin menyangka akan ada aksi baku pukul atau penyerangan, memang seharusnya. Tapi, itu akan lebih dieksplor pada sudut pandang Dilan di film Milea. Dan, beberapa hal yang masih disembunyikan untuk yang bukan pembaca buku bahwa hubungan Dilan dan Milea sudah benar-benar berakhir. Film Dilan 1991 memberi after scene credit yang memberi harapan bahwa mereka akan bersama. Jika berpikir begitu, simpan saja harapanmu, Esmerelda.

Saya ingin mengatakan bahwa di film Dilan 1990 saya sangat senang dengan adaptasi visualisasinya. Bagaimana dengan film Dilan 1991? Saya juga senang. Tapi, sebagai pembaca buku, saya lebih senang dengan cerita kompleks pada bukunya. Bagaimana kita diantarkan untuk mencapai sebuah konklusi yang secara tidak langsung membuat air mata kita jatuh secara tidak sadar. Apakah filmnya tidak sesedih itu? Bagaimana yah, mungkin karena saya nonton bertujuh dan datang dengan hati yang ingin riang meski paham konsekuensi endingnya. Film Dilan 1991 berhasil membuat orang-orang disekitar saya sedih, namun gagal untuk membuat orang seperti saya ketika membaca buku merasa bersalah hingga beberapa hari kedepannya. Kemudian saya punya pemikiran bahwa mungkin saya sudah punya antisipasi itu dan sudah merasa kebal. Mungkin.

Beberapa adegan yang saya tunggu malah tidak se-memorable ingatan saya pas membaca buku. Misalnya, saat penerimaan rapor, Ibu Anhar dan Bunda bertemu. Saya berharap itu akan sekeren dimana Dilan melakukan Hari Pembalasan. Bunda yang tegas melindungi calon mertuanya. Oh, berbicara tentang Hari Pembalasan. Itu jadi potongan cerita favorit saya, mau buku ataupun film. Meskipun, banyak yang akan lebih memilih saat Dilan datang saat Yugo dan Tante Anis meminta maaf.

Sesudah putus, Dilan dan Milea menjalani hari masing-masing. Adegan nyesek dibuku adalah saat Dilan memilih menjauh dari Milea dengan mengatakan sudah punya pacar baru. Saya masih ingat, pada halaman-halaman terakhir buku Dilan 1991, saya tidak tenang untuk menghabiskan, menunggu ada satu keajaiban agar Dilan dan Milea bisa bersama. Namun, seperti para penonton yang belum membaca bukunya, kami adalah orang-orang pengharap.

Selesai membahas cerita, saya ingin membahas karakternya. Di film Dilan 1991, akting Iqbaal lebih bagus dari yang pertama, begitu juga dengan Vanesha. Sungguh pacar yang benar-benar profesional. Dari beberapa ulasan yang saya baca, banyak yang mengatakan ada sisi awkward diawal film. Spekulasi mengarah pada hubungan pribadi masing-masing. Sebagai orang yang senang dengan spekulasi dan teori, saya tidak akan membahas itu disini. Saya masih menikmati akting mereka seperti di film Dilan 1991. Karakter Dilan lebih banyak dieksplor. Lebih manusiawi lah kata Iqbaal.

Beberapa karakter baru muncul seperti Yugo diperankan oleh Jerome Kurnia, Letnan Ical a.k.a Ayah Dilan diperankan oleh Bucek, dan Mas Herdi diperankan oleh Andovi Da Lopez. Dalam bayangan saya, Mas Herdi akan lebih cocok diperankan olah Deva Mahendra. Tapi sekali lagi, itu bukan urusan saya, itu urusan casting director filmnya. Saya hanya bisa kecewa dan merasa senang. Terutama melihat gagahnya Om Bucek memerankan ayah Dilan. Karakter pendukung lain, seperti Pak Dedi, Tante Anis, dan Bang Fariz cukup menambah kesegaran filmnya.

Salah satu dialog yang saya harapkan masuk ternyata tidak. Itu saat Dilan membacakan puisi Pak Dedi. Diakhir dialog pada buku, Milea ketawa sebelum Dilan merespon,"Tidak ada puisi yang buruk.". Bagi saya, itu cukup quotable dan memorable dikepala saya. Dan hanya beberapa detik saja jika ingin diselipkan.

Jika bisa jujur, saya sangat berharap, after scene credit film Dilan 1991 itu adalah perkenalan karakter Ancika. Meski memang, di buku Milea-pun, karakter itu baru diperkenalkan. Mungkin ayah Pidi Baiq, menunggu untuk bukunya terbit lebih dulu sebelum membuatkan film khusus Ancika. FYI, buku Dilan yang Bersamaku sedang ditulis Pidi Baiq. Bercerita tentang Ancika, pacar Dilan setelah Milea.

Maaf untuk yang membaca banyak celotehan spoiler dari saya. Saya sebenarnnya tidak ingin membuat kepuasan menonton kalian berkurang. Saya sudah memberi peringatan diatas. Jangan bandel. Saya menulis ini untuk apresiasi saya untuk Ayah Pidi Baiq, seluruh yang terlibat pembuatan film, dan kepada jumlah penonton film Dilan 1991 dihari pertama yang menembus angka 800 ribu penonton. Saya percaya, mereka telah banyak mengerahkan ketulusan dalam membuat film ini agar menjadi baik. Argumen saya hanya sebuah reaksi setelah menonton. Jangan terpengaruh karena tidak saya maksudkan begitu. Mengingat ini adaptasi ke film, saya juga masih memaklumi tidak semua yang saya ingin bisa diselipkan. Apalagi durasinya dibatasi.

Terima kasih oleh Dilan dan Milea membuat hari-hari saya indah, hari-hari saya menyedihkan, saat membaca bukunya di malam sepulang sekolah dulu. Saya juga bukan orang yang sempurna untuk menilai hasil adaptasi buku ke film, jadi maaf bila ada kesalahan kata yang pernah dan sudah saya lakukan. Meminjam kata Pidi Baiq,"Semoga kita lebih bijaksana untuk tidak menghakimi masa lalu terhadap keadaan di masa kini."

Menutup postingan ini, saya akan memberi satu foto di balik layar film Dilan 1991. Sempat tersebar di internet, namun buru-buru dihapus karena tidak masuk di filmnya.

Comments

  1. yaampun ada apa dengan gue wkwk salah fokus sama foto yang terakhir hha.

    btw gue suka film dilan yg 90, but 91? I don't think so, maybe karena gue nggak dapet feelnya. haha but over all oke lah gue sangat mensupport karya anak bangsa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya sempat di takedown. He he he.

      90 dan 91 jelas berbeda. Dan cara kita menikmati juga seharusnya (juga) berbeda.

      Delete
  2. Ternyata hati yang nggak terlalu patah agak sulit dapet fell dari film ini, ya hul. Aku sih, entah kenapa kurang aja rasanya kalo yang udah nonton lebih menarik yang 90 daripada 91.

    Ya mgkn seperti yang lu bilang, kalau ternyata ekspektasinya cukup tinggi karena ada sedih yang menyanyat. Nyatanya gak sampe segitu. Meskipun tetep aja di endingnya juga sedih...

    Iya, ni. Sama kek Rizki, gagal fokus pas lihat foto terakhir. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak juga sih bang, tapi jika ingin dapat feel sesungguhnya sih ada dibukunya. Gak dibatasi durasi dan dramatika film.

      He he he, ini akunya wajib bangga atau gimana nih?

      Delete
  3. Ini review ala Rahul ya.. Keren dan mendalam dan detail. Sayang, aku ga baca novelnya Dsn nggak liat filmnya yg terbaru

    ReplyDelete
  4. Jadi gagal fokus liat ending postingan ini haha... btw saya belum sempat nonton film Dilan yang terbaru ini maupun yang lama. Nggak tahu aja kenapa saya nggak terlalu antusias seperti saat membaca bukunya tapi yah saya tetap penasaran sama versi filmnya.

    Btw ulasannya oke banget cuma klu boleh saya kritik untuk penulisan kata di yang menunjukkan tempat baik di sana maupun di sini harusnya ditulis terpisah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. He he he. Nonton dan tidak filmnya tetap sama aja sih. Tapi, kalo mau cari alasan buat nonton sih aku lebih tekanin untuk menikmati visualisasi bukunya.


      Siap, Kak, terima kasih kritiknya

      Delete
  5. Aku menemukan satu kalimat yang bikin ketawa: 'Sungguh pacar yang benar-benar profesional'. Hehee.. udah macam profesi aja disebut profesional. Reviewnya detail tapi sayang aku nggak baca bukunya dan nggak nonton juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenar-benarnya itu juga bukan kata saya, itu kata saya lihat dari promosi tim film Dilan entah dalam maksud apa. Kan, aktor memang profesi.

      Delete

Post a Comment

Ini kolom komen lho..