Ke Pameran Daya Hidup Orang Laut

Selasa kemarin, tanggal 12 Maret, saya dan teman kampus ke Gedung Pasca Sarjana Universitas Halu Oleo. Itu adalah kegiatan pameran fotografi "Daya Hidup Orang Laut" karya Rustam Awat. Berisi tentang kehidupan masyarkat suku Bajo dan hubungan eratnya dengan laut.



Hari itu, kami dapat ijin untuk tidak masuk kuliah agar bisa mengikuti pameran. Sejujurnya, ini adalah pengalaman pertama saya ke pameran, seingat saya. Setidaknya untuk pameran fotografi. Maka dari itu, saya bingung ketika dosen saya meminta untuk menulis review tentang pameran itu. Masa iya, saya mengatakan,"Gambarnya bagus, karena backgroundnya blur dan objeknya fokus."

Pameran seperti ini biasanya hanya saya temui di film atau sinetron. Terakhir, seingat saya, ada di film Velvet Buzzaw. Meskipun difilm itu bukan pameran foto, tapi lukisan.

Saya datang pagi dipukul 8. Teman-teman saya kemudian datang. Kami menunggu dibawa karena posisinya, digedung tempat acara dilantai atas dan ramai. Kami sempat naik hanya untuk absen, kemudian turun lagi karena benar-benar tidak kondusif. Namun, pada akhirnya kami naik lagi. Itu setelah acara pembukaan sudah selesai. Orang-orang sibuk foto dan melihat foto. Ada banyak foto. Totalnya jika tak salah ingat ada 21 foto. Pendapatku tentang pameran itu tentu saja keren.



Dari beberapa foto yang saya lihat, ada beberapa yang saya ingat karena memang berkesan untuk menempel dikepala saya. Foto seorang perempuan, sudah berumur, mungkin lebih tepatnya disebut nenek menatap dari jendela sambil tersenyum. Lalu ada foto sekumpulan bapak-bapak berkumpul dan merokok. Ada satu foto yang menggambarkan saya sewaktu kecil, mungkin juga kalian. Itu adalah foto anak-anak Bajo yang bermain dilaut pada saat senja. Meski tidak sampai bermain dilaut, dulu sewaktu kecil, sore saya dihabiskan untuk bermain sepak bola dengan kawan.

Setelah foto-foto, kami menepi ke pojokan untuk istirahat sejenak karena pengap dan terlalu ramai. Saat teman laki-laki sudah terkumpul, hampir semua, kami foto bareng. Ada Arjun, Iyar, Aping, Saya, Ridwan, dan Danil. Namun saat itu, Adi dan Fandi tidak ikut  karena alasan tidak percaya diri.


Selanjutnya kami turun, karena lapar dan lain-lain. Disana kami tidak melihat ada tanda-tanda akan dibagikan komsumsi. Jadi, kami sepakat untuk ke rental PS dan mencari makan. Arjun dan Marwan memilih untuk lanjut tidur di pos depan jalan.

Hari kedua dengan tempat yang sama. Agendanya adalah talkshow. Saya sudah agak lupa membahas tentang apa. Seingat saya membahas masalah fotografi dan sebagainya. Itu disampaikan oleh Rustam Awat dan Rahmat Ladae. Hari itu juga tidak kondusif, jadi kami masuk saat beberapa turun karena harus masuk mata kuliah.

Talkshow kedua berlangsung setelah jam 12 dimana kami diijikan untuk salat dan lain-lain. Kami kembali sebelum jam 1. Seharusnya kami ada mata kuliah saat itu, tapi sama dosen diijinkan lagi. Saya senang, karena dua hari ini hanya berada di Pasca Sarjana. Soalnya dekat dari rumah.



Tema untuk talkshow berikut cukup beragam karena memang digabung dengan tema sebelumnya yang belum kelas. Salah satunya tentang Semiotika Fotografi yang dibawakan oleh dosen saya, Ibu Nurlailatul Qadriani dan ditemani beberapa orang lainnya. Adi sudah pulang dan hanya menyisakan saya, Iyar, Arjun, dan Ridwan. Untuk ruangannya juga sudah kondusif karena dipindahkan ke aula. Kursinya banyak dan dilengkapi pendingin ruangan.  Saya dan Iyar pulang lebih awal ketika sesi tanya jawab berlangsung. Itu karena saya dan Iyar ngantuk. Tugas menyimak kami percayakan untuk teman-teman yang masih disana. Kami punya tugas personal dengan bantal kami.

Aslinya saya merhatiin
Hari terakhir, diadakan di aula. Tapi, hari itu, yang datang cukup banyak dari hari-hari kemarin. Saya datang dan ketemu Fandy dan Adi sebelum masuk. Kemudian duduk di sisi kanan belakang. Kemudian datang Iyar. Kemudian datang Aping. Kemudian datang Danil, keting kami. Kemudian datang teman-teman yang lain.

Materi yang dibawakan lebih variatif dari kemarin. Ada beberapa pembicara. Yang bisa saya ingat dan sebutkan adalah Irianto Ibrahim, Peter Van Huelen, Arief Relano Oba dan penerjemah untuk Peter.


Kemudian materi dibawakan oleh masing-masing sebelum sesi tanya jawab. Yang paling membekas dikepala saya adalah bagaimana Peter membandingkan budaya Eropa (dalam hal ini Belanda) dan Indonesia. Ia mengatakan bahwa disana, anak-anak tidak sebebas disini yang bermain di dekat laut saat senja. Disana, aturan untuk mengambil gambar sangat ketat dalam artian kita harus mendapat persetujuan dari orang yang masuk kedalam frame gambar. Itu membuat saya, dan juga pemateri lokal berpikir untungnya tinggal di Indonesia.

Jika disuruh untuk mereview pameran ini, jujur saya bingung harus menulis apa. Untuk itu, tugas merevew dari dosen saya tulis dengan maksud menunjukkan impresi saya. Untung, dengan bantuan tugas itu, saya dipaksa untuk mencari beberapa data untuk memudahkan saya menulis cerita ini di blog. Ada kalanya, saya sudah agak malas untuk menuliskan cerita seperti ini jika sudah lama berlarut-larut.

Comments

  1. kapan yak gue terakhir ke pameran? wkwk btw ini keren banget sih. dan enaknya kuliah diliburin buat liat-liat pameran itu be like uhhh gue banget hha.
    ternyata setiap laut di beberapa negara itu punya peraturannya sendiri-sendiri yak, kek di Belanda itu. Unique. Nice sob!

    ReplyDelete
  2. Enak ya yg masih kuliah wehehehe.. Paling seneng kalo datang ke pameran itu selalu pulang dengan segudang inspirasi dan Semangat hidup. Semcam suntik an semangat gitu

    ReplyDelete
  3. Kegiatan yang keren nih. Jadi ingat semasa kuliah sering ikut seminar etapi klu pameran fotografi kayak gini jarang deh..

    ReplyDelete

Post a Comment

Ini kolom komen lho..