Malam Minggu Mabok Duren

Malam Sabtu kemarin, itu ditanggal 2 Maret, saya dan Riki ke Kebi (Singkatan dari Kendari Beach). Disana sudah dibikin tempat nongkrong yang asik. Kami kesana karena sudah ada Ari dan Ali. Rencananya, kami cuma mau nongkrong. Hampir setengah jam kami disana. Kemudian Dandi datang. Sebelumnya Dandi dari rumah sakit, katanya cuma mau ketemuan sama temannya.

Kami bingung setelahnya mau ngapain, jadi kami nelpon Kak Rijal. Rencananya mau makan disalah satu warung makan favorit kami. Favorit kami yang mana? Yang bisa buat kami bikin datang dua kali lah. Tapi malam itu sebenar-benarnya kami mau ke warung makan didepan SD. Lokasinya di depan SD tidak jauh dari Lippo Plaza.

Pas Kak Rijal datang, kami tidak jadi makan. Katanya, Kak Rijal sudah makan dari rumah. Dari situ, Kak Rijal ada ide mau neraktir kita makan duren. Entah dalam perayaan apa. Mungkin cuman mau neraktir aja. Soalnya, seingat saya ulang tahunnya sudah lewat. Itu waktu kami ditraktir makan juga.

Dari situ, kami jalan nyari penjual duren. Kami nemu beberapa, tapi ngga ada yang murah. Didekat warung makan Kalasan, itulah kami disana, duduk menunggu duren yang dibuka oleh penjualnya. Kami dapat tiga ikat duren kecil. Isinya sembilan buah dengan harga 100 ribu. Kami makan bersama. Enak, karena gratis.


Sebelum durennya benar-benar habis, kami foto dulu. Karena duduk diujung, kami nyuruh Ali untuk ngetes foto. Kemudian, untuk mengabadikan kami sekaligus, kami ragu untuk minta tolong dengan penjualnya. Jadi, kami gunakan teknologi yang sudah ciptakan: kamera depan.


Kami duduk sejenak sebelum meninggal tempat makan kami. Kami belok masuk kedaerah lorong warung ayam kalasan. Kemudian ada ide untuk beli gorengan dan ceker Bude. Ketagihan saat kami beli pas pulang nonton bareng film Dilan 1991. Tapi sayangnya, Bude belum atau mungkin tidak buka. Kami terus bergerak, tapi bukan pulang. Yaitu berburu gorengan di Kota Lama. Malam itu sudah sepi karena sudah hampir larut. Hanya beberapa orang yang masih berkeliaran dengan kendaraannya.

Kami pulang, duduk diteras rumah Riki dengan gorengan. Kebetulan yang saat itu Dandi pulang lebih awal saat kami nyari gorengan. Kami sudah cukup kenyang makan duren. Sebelum itu juga, saya lupa kalo sebelum makan duren kami sempat makan siomay. Tapi kami masih cukup kuat untuk menghabiskan gorengan. Sudah cukup dingin, tapi lomboknya yang enak, dan kami makannya bareng, itu jadi energi untuk kami terus ngunyah.

Setelah itu, Kak Rijal pamit pulang. Perjalananya cukup jauh, jadi pulangnya tidak bisa lebih lama. Kami juga pulang, di rumah masing-masing, itu disebelah rumah Riki. Dan malam itu, saya lanjut main PUBG. Adit sudah tidur untuk saya ajak main bareng. Jadi saat main dengan squad random. Malam itu, saya cukup mabok duren untuk bisa chicken dinner.

Ini sudah tidak berhubung dengan makan duren, tapi hari kamis saat hari raya nyepi, kami ngantar Kak Rijal ke bandara. Kak Rijal mau ke Makassar. Ada acara. Kami ngantarnya bareng. Dandi tidak ikut karena harus ngerjain tugas. Lagi-lagi kami ngga bisa foto bareng karena ragu mau minta ke siapa. Jadinya ganti-gantian.

Ini yang Ali foto:

Ini yang saya foto:

Ini yang Ari foto:

Ini yang Riki foto:

Comments

  1. Ngomong-ngomong duren jadi ingat pas KKN dulu sempat ditraktir ketua KKNku duren eh ternyata karena beliau juga gak bisa milih, ternyata duren yang dibeli itu buat dibikin es krim atau olahan lain, bukan buat dimakan langsung, jadi hambar gitu rasanya. Haha. Btw, itu mesti banget hasil foto tiap orang dipajang? Dibandingin gitu, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha ha ha, emang duren buat olahan beda yah? Ibuku sering kalo ada duren sisa diolah jadi kolak.

      Tidak juga sih, itu cuma untuk mengapresiasi hasil jepretan kami masing-masing

      Delete
  2. Awalnya aku scroll ke paling bawah, buat pengen tau ini mau bahas apa.

    Jadi, ceritanya lagi kumpul di Hari libur gitu, ya hul. LUmayan murah juga 3 ikat durian harga 100K aja.

    Di sini, sebiji ada yg 150K inget!!! Sebiji.. hehehe.

    Emang, kalo udah sama temen jadi menyenangkan, ya. Btw, muka kalian keknya nggak ada yg mabok? Apa gaku salah lihat?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebiji apa sebuah bang? Mahal banget tuh.

      Ini kan fotonya saat masih waras, mabok mana bisa foto bang. :D

      Delete
  3. Ini maboknya sebelah mana Rahul hahahaha
    Aku malah gagal fokus sama foto2nya kalian yang bergantian foto wkwkwk. Nggak apa2 penting ada kenang2an ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk maboknya ngga difoto kak. Selain karena ngga bisa (karena kami mabok) juga nanti ditegur KPAI.

      He he he, itu karena kaminya gak enakan minta foto sama orang

      Delete
  4. Fotonya samaan tapi dari HP yang berbeda beda gitu ya, niat bett haha..daripada nggak semua dapat foto yang adil ya emang gantian fotoin. Harusnya minta tolong orang lain aja keelar ini urusan. Hehehehe..
    Sebagai penyuka duren, ini jelas kumpul kumpul bareng teman yang amat berfaedah ya. Untung semuanya suka duren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu cuma satu hape. Selain karena gak enakan minta tolong orang lain, kaminya juga mau biar beda. Biar ada alasan untuk foto banyak.

      Alhamdulillah, kami lebih senang merayakan malam dengan hal-hal semacam ini

      Delete
  5. Duren emang bisa bikin mabuk ya. Hehe etapi saya jadi fokus sama foto waktu antar kak Rijal ke Bandara. Jadi tahu Rahul syarif yang pke topi dan jaket, ali pake kaos merah, ari pke kaos putih biru, riki pke kaos putih juga... benar gak? Hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Ini kolom komen lho..