Tanda-Tanda Penuaan Sebelum Kepala Dua

Memasuki umur 20, saya memiliki banyak sekali ketakutan. Terutama masalah hidup. Saya tidak tahu, tapi tetap berpikir bahwa ingin melanjutkan kehidupan diumur kepala dua ini seperti apa. Beberapa kebiasan buruk tentu saja harus saya tinggalkan. Dan, tentu saja, gejolak anak-anak dalam diri tidak bisa saya lepaskan seperti menekan tombol power. Masih lebih mudah untuk bermain bola di jalan dengan tiang sendal jepit daripada menahan diri untuk bersikap dewasa. Itu bukan saya.


Beberapa hari yang lalu, setelah bangun dari tidur siang, saya menemukan satu momen dimana Adik saya bermain dengan kawan-kawannya. Disana dia bertugas jadi koki. Saya nimbrung dan ikut bermain. Jika bisa saya katakan, kesenangan semacam itu yang tidak lagi saya temui. Main bola bersama kawan sudah sangat jarang. Hal-hal seperti itulah yang mengikis gejolak anak-anak kita untuk bermain.

Sebelum memasuki klub-orang-orang-berkepala-dua, saya sudah banyak mengalami banyak perubahan. Mulai dari yang mencolok sampai yang samar-samar. Berikut ini yang bisa saya jabarkan adalah tanda-tanda penuaan untuk orang yang akan memasuki kepala dua.

1. KTP

Dulu, saya orang yang sangat ingin mendapat KTP. Dulu, saya merasa orang yang sudah menggunakan KTP lebih terlihat keren. Tingkat kharismanya naik. Ia sudah bisa dikatakan dewasa dalam artian sudah punya tanda pengenal. Belakangan, saya baru mengerti, KTP adalah cara lain untuk negara bilang: "Nih, Kartu tanda lo udah wajib nyari kerja."
Baca juga: 5 Tips Awet Muda
Sewaktu kecil, saya pernah berpikir jika sudah punya KTP, saya bisa bawa kemana-mana. Sekarang, bawa dompet aja malas. Paling bawa uang terus dikantongin, lebih asik. Dompet juga ngga ada isi, paling cuma kartu-kartu. Apalagi, jadi malas tiap buka dompet liat foto di KTP yang miris. Sudah hitam, ngga diedit lagi. Soalnya, pas lagi foto, orang kelurahan cuma bilang,"Angkat kepala, yah, senyum, yah." Dan Crek. Tidak ada reshot. Tidak ada edit.

2. Tidur Siang

Saya rindu tidur siang. Sejak sistem fullday di SMA sampai masuk kuliah, jadi ngga ada waktu untuk tidur siang. Padahal, jika di kilas balik, saya dulu paling malas disuruh tidur siang. Ancaman yang saya ingat waktu itu adalah tidak ada jatah main sore. Jadinya, saya pura-pura tidur dengan nutup mata dari jam 1 sampai 3 sore. Kemudian, yang terpenting adalah bagaimana kita bangun. Kemampuan akting benar-benar berperan penting. Hanya sepersekian detik untuk orang sadar bahwa kita hanya akting. Jadi, sebaik mungkin, saat sudah memutuskan untuk bangun, muka dijelek-jelekin, pura-pura nguap. Lalu untuk membantu meyakinkan pura-pura melihat kosong seakan-akan sedang mengumpulkan nyawa. Dilanjutkan dengan kucek-kucek mata, dan pura-pura cuci muka. Pas cuci muka, disuruh lanjut wudhu untuk ngaji. Aaah!

Saya benar-benar rindu dengan masa-masa itu. Kalau sekarang tidak perlu disuruh saya malah ingin tidur siang. Tapi apa daya, jadwal Kampus benar-benar brengsek. Kok, saya bisa ngomong "brengsek" yah? Bisa aja, kan ada di kamus. He he he.

3. Undangan

Oh, ini baru saja terjadi. Teman saya tiba-tiba memberi pengumuman dari grup WhatsApp SMA. Katanya, dalam waktu dekat dia akan nikah. Dan undangan akan nyusul. Sekarang, undangan itu sudah mejeng di meja saya. Saya tidak tahu harus bersikap apa. Ini bukan hal yang harus dibanggakan. Ini undangan nikah perdana saya. Saya bingung tapi juga bahagia akan reuni lagi. Saking bingungnya, saya nanya ke Mama,"Ma. ini harus diisi amplop?" Mama ketawa,"Iyo toh!"

Kebetulan, undangan teman saya ini juga mengungan orang tua saya. Orang Tua dari teman saya ini teman Bapak saya. Jadi, pada suatu malam ketika undangan Bapak datang, Mama bilang,"Uu, kamu ada undangan ini kan?" sambil menunjukkan undangan yang sama. Saya mengangguk.

4. Dewasa

Saya agak geli untuk mengatakan ini. Tapi entah ini harus saya ikutkan karena memang merasa perlu. Saya juga tidak tahu pengertian Dewasa ini apakah akan sesuai dengan konteks yang akan saya beri. Jadi, di blog ini, saya mulai mengganti kata ganti "Gue" ke "Saya. Bisa dibaca di sini. Itu karena saya merasa sudah agak aneh memakai kata ganti "Gue". Dulu, awal-awal ngeblog memakai kata ganti "Gue" karena terpengaruh tulisan-tulisan Raditya Dika.

Tapi, inilah saya sekarang. Sudah mulai nyaman dengan kata ganti "Saya".

5. Mentor untuk Adik

Untuk poin ini agak lebih personal. Jadi, akhirnya, sebagai seorang kakak dan sulung, saya mendapat beban lebih. Itu terjadi ketika adik saya yang paling bungsu bingung dengan PRnya. Mama minta saya bantu adik saya mengerjakannya. Saya lihat sampul bukunya: "PR MATEMATIKA". Saya angkat tangan.


Aslinya, itu di kamar Ibu saya. Dan itu, adalah Adik saya yang sedang mengerjakan PR-nya. Kemudian, memutuskan untuk nanya ke orang yang salah.

Jujur, saya bukan kakak yang bisa mengayomi adik-adik saya. Kebanyakan tugas saya hanya untuk memastikan adik saya bisa nangis. Jika ada PR, sebisa mungkin saya pura-pura biar keliatan sibuk. Tapi, suatu waktu, adik saya datang secara tiba-tiba. Membawa buku dengan muka memelas. Katanya ada PR. Baru hendak pura-pura sibuk, saya lihat bukunya: "Bahasa Indonesia". Mungkin, ini pertama kali sebagai kakak tugas saya terpenuhi.


Comments