Avengers dan HUT Sultra

Seri penutup dari serangkaian film MCU ini dikemudian mendapat klimaks yang sangat epik di Avengers Endgame. Beberapa kali tertawa karena referensi yang pas, tak jarang juga adegan berat yang membuat air mata jatuh. Setidaknya, diantara banyak teori, juga kepala dibelakang maupun didepan layar yang berusaha membuat film ini jadi bagus, saya begitu menikmatinya hingga dua kali tonton.

Mau cerita sedikit, meski sebenarnya ini sudah saya cerita di Twitter. Jadi, tanggal 24 kemarin pas pemutaran Avengers Endgame hari pertama, saya sudah jauh-jauh hari berusaha untuk mendapatkan tiket. Itu lebih ke antisipasi saya agar aman di dunia maya. Sekitar jam 12 siang, saat itu sedang hujan. Saya ke depan Kampus tepatnya di Warung Adi Jaya karena ingin makan. Disana, ada dua teman saya yang juga akan makan. Kebetulan, dua kursi didepannya kosong, jadi saya bisa nebeng dimeja mereka.

Hasil paparazzi ganteng

Setelah makan, saya buru-buru karena cuaca sudah agak mendingan untuk jalan. Rintik hujan mulai menutupi kaca helm. Saya mulai berandai-andai jadi Tony Stark, seandainya memang begitu.

"Friday, tolong bersihkan."

Tapi sayangnya itu tidak mungkin, jadi saya memfungsikan tangan saya untuk mengelap kaca helm. Motor saya parkir dan masuk di Mall Lippo Plaza. Oh ya, saya akan nonton disana, tepatnya di Cinemaxx. Film masih satu jam lagi tapi saya sudah disana. Seperti biasa, saya turun untuk ke melihat buku-buku. Sebuah rencana yang agak salah mengingat saya sering lapar mata. Untungnya, saya masih bisa menahan dan keluar sesegera mungkin.

Di Cinemaxx kembali, saya kencing untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kemudian saya beli air mineral. Tiga jam sebenarnya cukup lama, tapi saya tidak yakin akan diam saja melihat orijinal tim melawan Thanos kembali. Setidak-tidaknya saya pasti histeris.

Sebelum masuk, saya mencoba mencari cara-cara agar tidak kencing selama tiga jam itu, setidaknya untuk menahan saja. Saat studio dibuka, saya ngantri untuk masuk. Dibelakang saya, ada satu keluarga dengan dua anak. Satu sudah agak besar untuk mengganggu, satu masih agak kecil untuk tahu rewel bukan hal yang tepat di bioskop. Saya tidak tahu apa yang ada didalam pikiran orang tua mereka. Tapi kalau mereka datang dengan alasan tidak ada yang menjaga, saya harus bilang itu konsekuensi.

Dalam hati, saya berdoa agar tidak duduk dekat mereka. Dan tentu saja tidak terjadi. Saya langsung ingat salah satu materi Stand Up Comedy Raditya yang ngomongin hal-hal ngeselin di bioskop. Awalnya, terdengar berlebihan karena gangguan selama ini yang saya rasa tidak seepik saat itu. Satu jam pertama film diputar belum menunjukkan apa-apa. Meski dalam hati kami se-studio, tahu ada hal yang lebih parah dari datangnya Thanos.



Dan saat pertengahan film, waktu yang dinanti akhirnya tiba. Anak itu menangis. Menangis yang benar-benar kencang dan tidak cepat. Respon Ibu itu tentu saja menenangkan anaknya. Saat sudah terdiam, beberapa saat menangis lagi. Kami mulai gelisah, saling melempar arah ke keluarga itu, berharap ia akan sadar diri dan keluar. Dan lagi-lagi tidak terjadi.

Setelah film selesai, saya masih cengo dengan filmnya. Keren. Tidak ada kata yang saya temukan selain epik. Disana, ada berbagai macam perasaan yang akan membuatmu bingung. Semoga saat itu terjadi, kau bisa siap.

Sebenarnya, saya ingin bahas lebih soal filmnya, tapi setelah liat berita ini jadi ragu:



Dari Avengers, kita ke malam Minggu, itu di 27 April. Kurang 20 menit jam 9 kami jalan dari rumah naik motor. Jalan utama sangat padat karena malam itu ada acara di MTQ. Tujuan kami memang kesana. Untuk jalan-jalan dan melihat-lihat suasana HUT Sultra. Ada beraneka ragam penjual makanan, tempat belanja, dan permainan. Ditengah-tengah terdapat sebuah panggung besar untuk nyanyi dan lain-lain. Tapi kami langsung ke permainan saja karena itu prioritas kami. Tepatnya di Gelombang Asmara. Drama mulai terjadi karena Dandi masih malu, tapi karena dibujuk akhirnnya mau juga. Drama kedua, Ali katanya tidak ingin naik. Namun, entah karena bermaksud mengerjai kami, ia naik juga. Tinggal Ari yang tidak naik karena hal-hal yang tentu saja tidak bisa saya katakan. Yang naik adalah Saya, Ali, Dandi, Riki dan Rendy.




Beberapa tahun lalu ketika masih duduk dibangku SD, saya masih ingat senangnya naik ini. Seru dan asik karena bersama teman-teman. Setiap malam, kami ke pasar malam itu karena jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumah. Sekarang, pasar malam sudah jarang diadakan.

Dari Gelombang Asmara, kami jalan-jalan sebentar. Kemudian berhenti dibawah menara MTQ untuk foto-foto. Ali tidak ada saat itu karena sedang bersama teman kampusnya. Suasana malam itu sangat padat dan ramai. Keadaan itu didukung oleh akhir pekan. Dipanggung sudah ada Naff yang menghibur dan kami yang menikmati pemandangan malam yang penuh cahaya.


Kembang api untuk puncak acara

Ini sangat jarang ditemui selain di Taman Kanak-kanak

Sebenarnya, saya foto ini cuma untuk bikin iri adik saya

Dari foto-foto, kami turun untuk pulang. Sebenarnya tidak benar-benar pulang. Kami mau makan dulu. Di parkiran, kami agak kaget karena biaya parkir yang sangat mahal. Tapi tentu saja kami lebih lapar untuk tidak ingin memikirkan hal lain selain makan.



Kami berhenti di warung makan Coto depan Mall Lippo Plaza. Kami makan, kemudian pulang. Di rumah, ada yang harus saya tuntaskan segera. Dan itu hanya bisa saya lakukan di toilet.

Comments