Sejarah Terbentuknya Kios Ummi


Kira-kira awal 2017, saat Ari baru kembali dari Kalimantan, itulah dimana perjalanan Kios Ummi dimulai. Dulunya, kami memang sering jalan bersama. Itu adalah saya, Riki, dan Thariq. Dulu sekali, setiap malam Minggu saya dan Thariq selalu ke Telkom. Sekedar untuk mendownload atau bersantai menghabiskan malam Minggu yang panjang.

Saat Ari datang, kami mulai sering bersama lagi. Jika diabsen sebagai berikut: saya, Riki, Thariq, Ali Rendy (adik saya), Ari, dan Kak Rijal. Biar saya jelaskan satu persatu. 

Dimulai dari Riki yang dimana dia tinggal disebelah rumah saya bagian kiri. Teman main saya dari kecil hingga sekarang. Umurnya tiga tahu, dibawah saya. Matanya sipit dan punya saudara kembar perempuan. Lalu ada Thariq, teman main kecil saya (juga) yang cerita lengkapnya bisa dibaca di sini. Tinggal di sebelah kanan rumah saya. Kemudian Ali yang seumuran dengan saya, keluarga dari ayah Riki yang datang kesini untuk lanjut SMA yang sama dengan saya. Lalu Ada Ari, sepupu dari Bapak. Paling tua dan mudah-mudahan mengayomi. Rendy adalah adik saya. Dan terakhir ada Kak Rijal, adalah keluarga dari Ibu-nya Riki. Sekarang sudah lulus dan jadi asisten dosen. Saya kira cukup untuk sekedar memperkenalkan.

Circa Mei 2017

Dari situ, muncul ide-ide yang lebih besar dari hanya keluar di malam Minggu. Itu terjadi dipertengahan tahun. Kami berencana untuk refreshing ke pantai. Ada saya, ada Ari, ada Thariq, ada Kak Rijal, ada Riki, ada Rendy, ada Sudi yang kebetulan juga ikut. Tujuan kami itu adalah ke Pantai Toronipa. Mau kami adalah ke Pulau Bokori, jika diperhitungkan sama jauh dengan Pantai Toronipa. Hanya karena itu pulau, jadi harus nyebrang untuk sampai ke sana. Dan itu adalah hal yang tidak diperbolehkan ke Riki saat itu.

Kami disana banyak melakukan aktivitas. Selain menghirup udara laut, kami juga banyak foto dan bakar ikan. Tugas saya adalah untuk memastikan kamera bisa berfungsi dengan baik untuk kami foto, sementara Kak Rijal bertugas untuk memastikan ikan berfungsi dengan baik untuk kami makan. Selain bakar ikan, kami juga main bola disana. Agak susah karena medannya pasir pantai yang membuat gerak kaki menjadi berat.



Awal Juni, itu sebelum bulan Ramadhan. Kami berniat untuk nginap di hotel. Untuk tujuan apa? Bisa dikatakan sesederhana karena ingin dan ingin merasakan. Soalnya, banyak dari kami yang belum pernah merasakan atmosfer tidur di hotel. Lagipula, kalo kami tidur dengan jumlah yang banyak itu bisa dikatakan malam kemping yang sehat. Dan disanalah kami, merasakan berbagai pengalaman yang tentunya baru kami rasakan.

Sejujurnya, hari itu susah sekali untuk bisa tidur. Selain karena yang lain terus ngajak cerita, saya juga belum bisa beradaptasi dengan ruangan yang ada disitu. Malam itu kami isi dengan ngintipin gedung hotel sebelah yang dipisahkan oleh kolam renang. Kami banyak ngobrol sebelum akhirnya pulang diesok siang.



Hal-hal berikutnya, adalah hal yang sering kami lakukan. Keluar di malam Minggu atau dihari libur. Untuk sekedar kongsi makan gorengan atau nonton film. Soal keluar malam, itu jadi lebih gampang ketika Riki dibelikan motor. Jadi, kami tidak perlu mengharapkan Kak Rijal untuk selalu ada menyetiri kami. Kami jadi tinggal buat rencana di grup WhatsApp, ketemu sebentar di teras Riki dan terjadilah. Namun percayalah, keluar tidak segampang itu. Beberapa kali kami gagal karena tidak punya tujuan. Berakhir dengan kongsi makan gorengan atau makan mi siram di Kota Lama.

Kemudian, saat saya naik ke kelas 3 SMA, Thariq merantau bersama Om-nya kuliah. Jadi, anggota Kios Ummi berkurang satu. Namun secara tidak langsung bertambah satu kembali sejak datangnya Dandi, keluarga Kak Rijal yang datang untuk kuliah. Kami cepat akrab dengannya. Sebenarnya, tidak ada patokan anggota harus berapa. Selama ia bersama kami itu adalah Kios Ummi. Tapi Thariq, yang sudah ada ketika Kios Ummi belum ada, itu adalah hal yang sangat membuat kami, terutama saya sedih. Selanjutnya, hidup terus bergerak, dan kami tidak ingin dimakan oleh waktu karena itu.



Selanjutnya, tanpa Thariq, itu dibulan Desember 2018. Perjalanan besar kami selanjutnya. Persiapan dari tahun lalu terjadi. Awalnya, itu hanya obrolan di hotel waktu itu.

"Bagaimana kalau next kita ke Danau Biru?"

"Ayok."

Dan disinilah kami, Danau Biru. Yang sebetulanya bukan cuman itu. Tapi kami mengelilingi Kolaka. Perjalanan yang sangat panjang. Sampai-sampai, kami harus nginap dulu di rumah keluarga Riki semalam. Lalu lanjut ke pantai Tamborasi yang jaraknya juga lumayan jauh. Kemudian ke Danau Biru dan menginap di rumah orang tua Kak Rijal.

Seru sekali. Saya sangat mengindahkan setiap perjalanan yang kami sudah alami dan lalui. Segala macam rencana selalu tidak sesuai dengan harapan. Tapi selalu bisa kami atasi meski dengan cara yang tidak baik.



Semakin kesini, kami jadi semakin sibuk dan jarang keluar seperti dulu. Apalagi saya dan Ali yang sudah mulai kuliah. Rendy yang sudah kelas tiga SMP dan akan menghadapi UN. 2019 adalah tahun yang panjang untuk tidak keluar. Tapi tenang saja, gorengan dan mi siram selalu mempersatukan kami. Apalagi saat beberapa acara ulang tahun yang sudah berlalu. Oh, enaknya gratisan.

April kemarin, kami melakukan perjalanan berikutnya untuk tahun ini. Itu ke pantai Toronipa lagi. Dihitung sejak kami pertama kali ke Toronipa bersama, itu adalah sekitar dua tahun yang lalu. Apa yang berbeda? Jika memaksa untuk membandingkan adalah hal yang bodoh. Kami hanya mencoba untuk menjalani dan merasakan itu adalah hari kami sebagai manusia yang bebas. Terutama itu adalah tanggal merah yang kami gunakan untuk ke pantai. Kami kembali bermain bola. Itu membuat kami mengenang masa dua tahun yang lalu. Simpelnya, kami sekarang sudah tidak membawa ikan untuk dibakar. Kami hanya membawa dua makanan untuk langsung dimakan.


Saya sempat berpikir, untuk apa menyematkan nama untuk kelompok main kami. Saya kemudian merasa itu salah satu faktor untuk kaminya tetap bisa bersama. Mudah-mudahan langgeng terus dan bahagia selamanya. Masih banyak kejadian yang tidak mungkin saya sebutkan semua. Cukup beberapa untuk menunjukkan bahwa kami terus bersama. Itu adalah masa yang cukup menyenangkan untuk dikenang dan dicoba lagi.

Comments