Lelaki yang Menderita bila Dipuji

Saya bukan murid yang pintar. Bahkan, rajin bukan kata yang bisa saya tanggung. Di sekolah, saya bukan murid yang sepulangnya langsung mengerjakan PR atau membaca buku sampai tertidur dengan buku yang menutup wajah. Jika ingin dikata, saya murid yang murid pemalas. Mengerjakan tugas kebut semalam. Belajar hanya saat ada ujian. Bukan tipe-tipe murid yang bisa dibanggakan oleh sekolah.

Namun, entah mengapa saya juga bisa masuk peringkat di SD dan SMP. Begitu mengherankan dan mulai menyebalkan. Terutama saat penerimaan rapor. Perlu saya katakan, mendapat pujian adalah memikul sebuah beban yang tidak perlu. Dan mendapat nilai bagus adalah sebuah kecelakaan. Contoh kecilnya, di rumah, adik saya yang pertama. Sedikit lebih pemalas dari saya. Jika ada kabar dari sekolah, sembari memarahi adik saya, Mama selalu menjadikan saudara yang lain sebagai tolok ukur. Sebelum adik saya yang kedua masuk SD, saya selalu yang harus memikul beban sendiri. Untungnya, adik saya yang paling bungsu, pintar dan masih polos. Jadi, menjadi orang yang dipuji berarti menjadi senang dan bangga. Tapi tidak untuk saya.

Karena pintar dan selalu juara, ia acapkali gelisah saat tidak tau jawabannya. Beberapa kali menangis saat jawabannya dicontek teman. Memang, adik saya tipe teman yang sering dimusuhi. Tapi, setelah melihat dari sisi yang lain, ternyata sakit juga. Sudah begadang semalam untuk mengerjakan tugas, lalu tiba-tiba disebuah pagi yang indah, teman tiba-tiba menghampiri,"Sudah tugas?"

"Tu..Tugas?"

"Iya," katanya dengan wajah memelas.

Karena berpikir bahwa itu teman baik, pasti kita akan memberikan meski dengan berat hati. Tau-tau, jawaban satu kelas sama semua.

Nah, kembali lagi masalah muji-memuji. Karena adik bungsu saya pintar, beban saya mulai berkurang. Meski tidak dapat dipungkiri, itu sering juga jadi boomerang ketika adik saya mulai bingung dengan tugasnya. Cukup untuk adik saya. Persoalannya adalah saya. Beberapa hari yang lalu, tepatnya untuk sebuah tugas dari salah satu mata kuliah. Itu adalah tugas cerpen untuk dikumpulkan. Rencananya, cerpen kami akan dibedah dari sisi cerita dan penulisan. Karena lagi malas menulis, cerpen dari tugas sebelumnya saya pakai. Beberapa teman juga punya siasat yang sama.

Singkat cerita, kami masuk di mata kuliah tersebut. Dosen yang mengampuh mata kuliah dikenal sering kali menyeret arah pembicaraan sebagai bahan lelucon. Yang tentu saja memakan korban untuk ditertawai. Cerpen saya, meski baru sekilas, tidak dikatakan jelek, dan itu cukup menjadi pujian yang bisa saya terima dengan baik. Bukan dengan segala macam hal yang hiperbola. Itu bukan saya. Sekarang, cerpen saya sedang dibawa pulang bersama beberapa cerpen yang lain untuk dibaca. Dan, saya cukup yakin akan dapat banyak kritik.

Cerpen Ahmad Tohari yang berjudul "Lelaki yang Menderita bila Dipuji" sangat mengena untuk saya. Sambil membaca, sambil menggerutu bahwa ini saya banget. Oh, saya kira Ahmad Tohari tidak bermaksud menulis itu untuk saya seorang. Bahwa ternyata, perasan tidak senang dipuji pada beberapa hal adalah sifat yang universal. Dan itu ditegaskan pada cerpen itu.

Gambar dari bubeleapp.com

Disisi yang lain di perkumpulan keluarga, saya sering menghindar bersama beberapa sepupu karena beberapa alasan. Salah satunya adalah perbincangan antar-Ibu. Jika sudah begitu, kami, para anak hanya bisa menunduk dipojok sambil tersenyum kecut. Menjadi bayi-bayi untuk mereka puji. Dari berbagai macam permohonan saat itu, kami hanya minta satu, arisan segera dikocok.

Comments