Pertemuan Dengan Podcast

Jujur, saya baru tahu podcast setelah akhir 2018. Saat itu saya iseng nemu Inspigo dari Instagram Story Ernest Prakasa,"Wah, Podcast!".  Problem waktu itu, saya agak malas nonton video di YouTube karena mulai bosan. Karena itulah, saya buka Play Store dan memasang aplikasi Inspigo. Kemudian mendengarkan album podcast Ernest Prakasa, lalu Soleh Solihun, dan seterusnya karena saya mulai ketagihan.

thenextweb.com

Jika dipikir-pikir, saya tidak lahir di jaman saat radio masih populer. Tapi entah kenapa, podcast jadi suatu yang mulai saya sukai. Saya juga mulai agak bingung membandingkan radio dan podcast. Intinya sama-sama media suara. Setiap mau ke kampus, perjalanan hampir setengah jam saya isi dengan mendengarkan podcast Inspigo. Sempat ditegur karena terlalu berbahaya mengendarai motor sambil mendengar lagu, kata Mama. Saya hanya mengambil nasihat itu untuk saya lebih sering nengok spion. Di jalan, saya bukan tipe pengendara yang senang kebut-kebutan. Paling cepat mungkin hanya 80km/jam, itupun jika sudah terlambat. Makanya, mendengar podcast di perjalanan itu hal yang mengasikkan bagi saya.

Sehari-hari mendengarkan Inspigo, saya mulai bosan. Persoalannya adalah, tidak ada variasi disana. Kebanyakan hanya pengalaman dan tips-tips dari orang dengan bidang yang ia pahami. Saya butuh sesuatu yang lebih luas agar tidak bosan. Kemudian, saya bertemu dengan Podcast Awal Minggu di Spotify. Waktu itu, saya iseng nyari referensi lagu baru. Eh, ketemu kolom podcast. Saya girang bukan main. Dari situlah, referensi podcast saya jadi banyak.

Podcast Awal Minggu salah satu yang sering saya dengarkan. Saya senang, ketika mendapat referensi baru, mendengar opini dari pandangan berbeda, itu hal yang menarik untuk saya. Apalagi, tema yang dibahas tiap hari berbeda. Kadang-kadang, saya tertawa mendengar kepolosan dari orang-orang yang mengirim Email. Dari PAM, saya beralih ke podcast-podcast yang lain. Saya dengar Thrones ID untuk teori Game of Thrones, saya dengar Cenayang Film untuk referensi film, saya dengar Kejar Paket Pintar kalau mau dengar gosip ibu-ibu, saya dengar Kepo Buku untuk referensi buku. Sekarang, di podcast semua sudah ada. Tinggal pintar-pintar nyari. Saya sendiri masih nyari podcast-podcast lain berbahasa Indonesia. Soalnya, vocabulary saya masih cemen.

Perjalanan ke Kampus jadi tidak monoton lagi. Saya tinggal menyetel dari earphone bluetooth saya, dan memilih episode mana yang ingin saya dengarkan. Biasanya, satu episode itu saya dengar untuk perjalanan pulang dan pergi. Jadi, ketika dari rumah ke kampus masih belum setengah durasi, pulangnya saya pelankan motor.

Budaya dengar podcast terus berlangsung, hingga Raditya Dika memutuskan membuat podcast. Saya senang. Tapi agak kecewa ketika podcastnya hanya berisi sesi ngobrol dengan bintang tamu. Saya kira, akan lebih mengulik pandangan atau opininya. Namun, dari situ juga keinginan membuat podcast semakin besar. Ketika sebelumnya, keinginan itu hanya pikiran semata.

Saya mulai mencari cara, bagaimana membuat podcast. Setidaknya, apa saja alat yang harus saya siapkan. Sembari berpikir, saya mulai cari-cari tutorial di internet, tanya-tanya teman di sosial media. Kemudian, semua itu berujung pada satu permasalahan yang lain. Apa yang ingin saya bahas? Saya tidak mungkin sok pintar membahas isu sosial atau politik. Kemudian, yang terjadi adalah saya berpikir untuk ngomongin hal yang saya ngerti, eh, setidaknya tau. Saya akan ngomongin film, kira-kira itu bayangan sekarang yang bisa saya temukan. Jika diperjalanan saya mendapatkan hal baru, improvisasi adalah jalan ninjaku.

Permasalahan berikutnya, saya agak ragu untuk upload di Spotify. Dengan kemampuan bicara yang tidak sekeren podcaster lain, saya masih harus belajar banyak. Maka dari itu, aplikasi yang dulu sempat saya uninstal, saya instal lagi. Itu adalah Spoon Radio. Awalnya, saya juga kepikiran untuk Live ala-ala penyiar sebelum bertemu podcast, tapi saya sadar diri saat itu. Sekarang? Bodo amat. Pikiran saya saat ini hanya saya ingin belajar. Saya tidak akan memikirkan berapa banyak yang mendengar. Berapa banyak yang menyukai. Mungkin, lebih ke berapa banyak yang menghujati.

Dari saat menulis ini, saya sudah mem-publish dua episode. Yang pertama adalah 5 serial tv favorit dari berbagai macam genre, yang kedua adalah pembahasan Game of Thrones episode terbaru. Sangat random dan maksa? Tentu saja. Intinya, saya cuma mau belajar dulu disana, apapun tema yang saya rasa bisa, saya sikat. Ketika saya mulai pede, barulah saya akan membuat podcast sesungguhnya di spotify dan menjadi podcaster dunia. Ha ha ha. Yang terakhir, sepertinya berlebihan.


Comments