Belajar Minimalis

Belakangan ini, saya sangat tertarik dengan minimalisme. Terutama saat menonton film dokumenter Minimalism (2016) dan membaca buku Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay. Itu juga, tidak lepas dari perkenalan minimalisme dari video YouTube Raditya Dika.

Awalnya tidak ada ketertarikan sama sekali. Apalagi, saya tipe orang yang percaya bahwa suatu barang pasti punya sentimental value. Maka dari itu, saat menonton film Hello, My Name is Doris (2015) saya merasa punya relasi yang sangat dekat dengan karakter Doris. Saya punya laci khusus yang menyimpan earphone-earphone rusak yang pernah saya pakai. Kemudian, saya punya beberapa barang dari SMP dan SMA. Saya merasa bersalah jika mengabaikan mereka semua, barang yang punya ikatan dengan saya. Terlebih lagi, saya sudah cukup akrab dengan film Toy Story.

Disisi yang lain, saya menyimpan ribuan foto digaleri hape. Saya tentu punya waktu untuk menghapusnya, tentu saja. Tapi, disamping rasa malas, saya kadang hanya sampai pada tahap melihat-lihat kembali dan mengenang itu semua. Keinginan untuk menghapus kemudian hilang.

Tahun ini, tepatnya beberapa hari yang lalu, saya mulai merombak kamar sendiri. Bukan semata-mata karena ada satu momen yang membuat saya dengan lantang berkata,"AHAAA! SAYA INGIN MINIMALIS!"

Itu terjadi pada malam saat saya sedang asik membaca ebook Seni Hidup Minimalis. Samar-samar saya mendengar suara. Saat ingin memastikan, suara itu hilang. Begitu seterusnya. Lampu saya nyalakan untuk melihat lebih jelas. Dari samping lemari pakaian, saya pelan-pelan mengintip pada jendela disebelahnya. Tidak ada.

Saya keluar dari kamar, menyalakan lampu ruang tengah, didepan tivi ada Adik dan Tante saya yang sudah pulas. Saya berjalan ke ruang tamu, kemudian mengintip dari jendela untuk memastikan. Setelah itu, saya ke ruang makan untuk mengambil senter diatas lemari. Ternyata batrenya soak. Saya kembali ke kamar dan berusaha melanjutkan tidur. Belum berapa menit, dari bantal saya merasa ada yang berjalan sampai ke rambut dan dahi saya. Sontak saya bangun dan menyalakan lampu.

Saya mencoba tetap berpikir positif, tapi tidak bisa. Pikiran paling positif yang bisa saya sugesti kepada diri sendiri adalah itu adalah kecoa. Tapi saya tau, itu tikus, dan untuk itu saya mencoba membuktikan dugaan saya dengan mencari hewan itu.

Dari pintu, saya melihat sesuatu berwarna hitam. Sangat kecil seperti kecoa tapi saya tahu itu adalah anak tikus. Ia diam, mungkin berharap saya tidak melihatnya. Saya juga berharap ia tidak melihat saya. Tanpa membuat gerakan, saya mencari barang yang bisa saya gunakan. Untuk apa? Saya juga tidak tahu. Saya hanya mencari barang untuk dialih-fungsikan menjadi sesuatu.

Sebelum sempat mencari, anak tikus itu mencium bau ancaman dan berlari. Saya keluar dan mengambil sapu. Sembari memikirkan jebakan dan cara menangkap anak tikus itu, backsound Setting the Trap-nya Home Alone terngiang-ngiang dikepala. Lalu, seakan-akan saya ingin mengatakan,"This is my room, i have to defend it!"

Saya mematikan lampu untuk memancing tikus itu keluar. Benar saja, ia keluar dan saya mengambil sebuah dus tempat casing laptop untuk membuat jebakan. Kemudian memancing ia keluar dengan sapu. Ia masuk didalam perangkap, tapi saat mau saya angkat ia berhasil lolos karena dus ternyata berlubang. Ia berlari masuk ke bawah kasur, setelah itu pindah ke belakang lemari pakaian.

Saya mencoba mengusirnya keluar dengan semprotan nyamuk. Ia sempat keluar dan masuk kembali ke bawah kasur. Karena kasur berat untuk diangkat, saya pasrah dan mencoba tidur saja. Sebelum tidur, saya mengintip jendela. Tau-tau, diarea jendela, tepatnya di gorden, seekor tikus lain sedang bertatap-tatapan dengan saya. Setelah mengambil sapu, ia sudah berlari.

Setelahnya saya tidur dengan perasaan was-was. Keesokan pagi, saya benar-benar harus berbuat sesuatu. Dan dari sini, saya mengingat salah satu bab dari buku Seni Hidup Minimalis,"Tambah banyak barang, tambah stres." Tidak berkaitan langsung, tapi karena barang di kamar sudah kelewat banyak, terutama tempat tidur yang seharusnya bisa membuat saya lebih leluasa harus saya singkirkan.

Paginya, bersama Tante dan Ari, Sepupu saya, kami bersama mengeluarkan ranjang yang tinggi beserta kakinya yang terbuat dari besi. Sangat susah. Kami perlu menyingkirkan lemari yang berada disamping pintu dan menggeser sedikit meja belajar. Setelah ranjang tinggi pindah, kami memindahkan lemari kearah sudut yang lain dari kamar. Itu dibawah ranjang. Sekarang, ranjang lama saya sudah kembali, yaitu ranjang tanpa kaki. Saya sangat senang, meski harus mengatur ulang semuanya.

Biar kayak foto orang minimalis dibuku Fumio Sasaki.


Foto beforenya tidak ada. Tapi bisa saya jelaskan bahwa lemari hitam pada foto pertama seharusnya ada difoto kedua. Dan karena sudah dipindahkan, ruang menjadi lebih luas.

Beberapa barang yang saya rasa kurang berguna, saya singkirkan. Gaya hidup minimalis tidak serta merta membuat saya menjadi minimalis totok. Saya masih menyimpan perasaan untuk merasa bahwa suatu barang punya sentimental value Mama juga menyingkirkan beberapa barang tanpa sepengetahuan saya karena sudah jengkel dengan sikap saya yang suka menumpuk barang.

Sekarang, kamar saya jadi lebih luas. Oksigen jadi lebih banyak masuk ketika Mama lebih sering membuka jendela. Saya manut saja, karena baru saja dibantu membersihkan kamar. Padahal, menutup jendela dan pintu menjadikan kamar benar-benar tempat yang sangat privat dan personal. Sekarang, apakah saya minimalis? Bisa iya, bisa tidak. Sekarang, pikiran saya mulai mengarah pada pemikiran yang berdasar minimalis. Saya akan berpikir lebih dari satu kali sebelum benar-benar membeli barang. Apakah benar barang itu saya butuh atau perlu saja? Apakah barang itu saya mau atau mau saja? Banyak sekali pertimbangan sekarang. Saya juga tidak tahu, apakah langkah ini baik untuk saya. Tapi mencoba sesuatu yang baru, sepertinya bukan masalah yang harus dicari sebelum dicoba.

Comments

  1. Hai, Rahul!

    Sungguh cerita yang menarik. Minimalisme memang lagi naik daun akhir-akhir ini, karena mungkin beberapa figur publik yang menerapkan hal itu, makanya penggemarnya jadi ikut. Saya sendiri sudah memutuskan hidup minimalis sejak masuk kuliah, tepatnya sejak saya hidup merantau. Saya putuskan saya mau hidup simpel dan tidak tergoda untuk membeli barang-barang yang tidak saya benar-benar perlukan; saya waktu itu putuskan untuk beli setengah lusin baju kaos warna biru dongker untuk saya pakai tiap harinya ke kampus. Namun, hal itu itu tidak bisa berjalan secara konsisten karena penatu di kos saya agak lama selesainya.

    Saya sekarang ini (dan mungkin sejak beberapa tahun belakangan ini) bukan hanya menjalani gaya hidup minimalisme tetapi juga digital minimalism, di mana saya memilih untuk tidak terlalu terikan dengan teknologi-teknologi digital di kehidupan sehari, walaupun saya sebagai mahasiswa IT tetap harus mempelajari hal itu.

    Oh iya, saya rasa akan seru sekali kalau kita membahas mengenai minimalisme lewat surel. Saya rasa, kamu juga belum membalas surel terakhir saya. :D

    Sekian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, jadi itu upaya kamu menjadi digital minimalism toh. Keren.

      Masalah email, sori, emailmu ketimbun email lain. Mari lanjut di surel.

      Delete

Post a Comment

Ini kolom komen lho..