Cerita-cerita Sebelum Lebaran

Jadi, ketika postingan ini dipublish, kira-kira lebaran tinggal dua hari lagi. Ada beberapa cerita selama Ramadhan yang akan saya tulis dalam postingan ini. Dengan begitu, saya tidak perlu repot membaginya dalam beberapa postingan. Sebelum itu, saya lebih dulu mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

1

Jauh hari sebelum puasa, saya sudah cukup was-was dengan ramadhan. Persoalannya adalah bagaimana bisa saya menghadapi bulan puasa sembari kuliah. Mungkin itu hanya keparnoan berlebih, karena beberapa teman terlihat anteng-anteng saja.

Hari pertama puasa, itu ketika sahur. Mama membuat hidangan yang sangat enak. Itu sudah menjadi ritual sahur pertama. Disana ada ayam goreng, kari ayam, dan beragam lauk pauk lainnya. Kami makan dengan lesehan disamping meja makan. Itu kami lakukan karena jumlah peserta sahur lebih banyak dari meja yang ada. Hari itu, saya tidak perlu khawatir, sebab besok mata kuliah diliburkan entah dalam rangka apa. Saya lebih senang menyebutnya dalam rangka kelancaran puasa pertama.

Dihari-hari berikutnya, saya masuk kuliah. Ternyata, tidak seperti yang saya duga, perasaan untuk membatalkan puasa tidak ada sama sekali. Saya sudah berpikir bagaimana cara ampuh menghadapi ruangan yang gerah dengan puluhan mahasiswa bersamaan menghabiskan oksigen. Salah satu mata kuliah yang saya program adalah Mitologi. Itu diampuh oleh dosen yang senang mendongeng. Bagi saya, itu bagus selagi menarik. Yang jadi masalah, kami selalu ngantuk dan benar-benar hilang fokus. Tapi untuk beberapa alasan yang kurang saya mengerti, selama bulan Ramadhan, metode yang dipakai dosen tersebut agak berbeda. Ketika sudah melihat fokus kami sudah kemana-mana, ia menyelipkan cerita remaja yang tentu saja disukai. Bagi kami, cerita-cerita tersebut bisa kami temui dimana saja, tapi melihat respon dari teman-teman yang lain, itu membuat kami ikut semangat.

2

Beberapa hari sebelum puasa, saya cukup yakin akan menjadi orang yang sibuk dengan kuliah. Dari sebulan yang akan datang, materi akan dipadatkan sehiingga benar-benar bisa mudik sebelum lebaran. Persiapan pertama yang saya lakukan, adalah menghapus game PUBG dari hape. Itu saya lakukan dibulan April, beberapa hari setelah saya berulang tahun. Awalnya, saya ingin vakum bermain game, tapi saya tahu itu sulit. Langkah yang saya ambil adalah vakum untuk sementara waktu.

Teman main saya, Adit, mempertanyakan alasan saya menghapus PUBG. Saya sangat ingin menjelaskan. Tapi sedang malas membalas argumennya. Jadi, yang saya katakan sudah malas bermain. Meski begitu, saya beberapa kali merasa tergoda ketika diajak kembali. Padahal, niat saya adalah ingin berhenti total agar kualitas tidur saya bisa terjaga. Terbukti, saya bisa tidur sebelum jam 12 malam. Itu juga dipicu karena saya khawatir akan ngantuk di kampus.

Setelah UAS selesai, saya tergiur untuk menginstal PUBG kembali. Itu saat di rumah, bersama Adit sepulang dari rumah sakit menjenguk teman yang sakit. Awalnya, Adit hanya numpang download. Saya terhasut. Saya kemudian ke playstore dengan anggapan sebentar lagi kuliah selesai. Bye-bye tidur sehat.

3

Salah satu acara di kampus bertajuk pameran, itu kami selenggarakan bersama angkatan 17 dan 18. Sebenarnya, acaranya adalah bagian dari UAS mata kuliah. Jadi, mau tidak mau. Suka tidak suka. Kami harus ada, setidaknya turut serta membantu proses acara.

Bersama teman yang lain, saya berada di divisi acara, diketuai teman sekelas. Beberapa kali saya hadir untuk rapat meski hanya bekal angguk-mengangguk. Beberapa hari sebelum acara, kami (maksudnya saya dan teman-teman laki-laki) sepakat tanpa pembicaraan  lebih lanjut untuk setidaknya ada peran disana. Malam sebelum acara, saya datang bersama teman yang lain. Ada Adi, Iyar, dan Fandy yang datang telat.

Sebelumnya, kami ke rumah salah satu senior untuk mengambil piring. Seharusnya, itu jadi urusan komsumsi. Tapi tidak masalah, acara juga butuh komsumsi untuk perutnya. Bersama Adi, Novin, dan kemenakan Adi yang membawa mobil. Sempat salah jalur sebelum akhirnya kami berhasil. Di kampus, ada Iyar yang belum pulang dari siang. Kasihan. Kemudian Fandy, Aping, dan Awang. Mereka  jalan ke samping fakultas, untuk mengangkut pasir.

Iyar dan Fandy

Kami saling ganti untuk memindahkan pasir ke lantai dua. Awalnya kombinasi Iyar dan Fandy. Kemudian kombinasi saya dan Iyar. Lalu Awang, dengan lengan baju yang disingsing ia mengangkut dengan gagah sendiri. Awalnya terlihat kuat. Saat kembali, ia menyerah.

Sebelum pulang, kami memastikan kedatangan kami cukup membantu. Saya membantu Ridwan untuk memasang latar panggung. Dan yang lain membantu menggunting dan memberi double tip. Kami foto-foto bersama. Tidak ada Adi karena sudah balik lebih awal. Selanjutnya, kami pulang. Fandy mengambil jalut menuju kosannya, sementara saya dan Iyar memacu motor bersama.

Indah dan Ridwan sedang latihan musikalisasi puisi

Sedang memasang ornamen latar panggung

Dari atas: Danil. Dari bawah: Saya, Iyar, dan Ridwan

Angin malam cukup dingin untuk menembus jaket yang saya kenakan. Kami berjalan pelan. Saya juga tidak mengerti. Saya hanya menyesuaikan dengan laju motor Iyar. Di bagian Kampus kendaraan sudah lengang. Tapi setelah melewati Bundaran Tank, kendaraan masih terlihat ramai. Terutama saat Iyar mengambil jalan kiri menuju rumahnya. Sebelum tidak terlihat, saya membunyikan klakson motor yang dimodif agar terdengar seperti bunyi kapal. Iyar berbalik dan tersenyum. Saya memacu motor dengan kecepatan sedang, kemudian terus menambah kecepatan hingga merobek angin malam.

4

Hari itu, saya datang bersama Adi. Bukan untuk kuliah, tapi untuk pameran tersebut. Acara sudah akan dimulai meski sudah terlambat dari jadwalnya. Semua panitia sudah siap. Ada yang menjaga stan patung, ada yang menjaga stan lapak baca, ada yang menjaga stan fotografi, dan panitia-panitia lain dengan tugasnya masing-masing.

Kami, maksud saya adalah saya bersama Adi, Iyar, dan Fandy bingung harus mengerjakan apa. Tadinya, saya berpikir untuk masuk menjadi peserta tapi merasa tidak perlu. Apalagi, saya beberapa kali menghadiri acara di aula tersebut, rasanya cukup gerah dengan peserta yang cukup banyak.

Setelah bingung mau ngapain, akhirnya kami ke asrama Indah. Itu untuk ngantar tempat makanan. Sekalian untuk istirahat. Iyar dengan Indah, saya dengan Adi. Saat itu, Fandy tinggal di tempat karena motor sudah cukup. Tidak ada alasan untuk pergi selain benar-benar ingin ikut. Jadinya, kami di asrama,(yang lebih baik disebut rumah) Indah beristirahat sambil membaca tugas dari semester lalu: Kitab Cerpen dan Puisi.

Teman-teman komsumsi di rumah  Indah

Setelahnya, kami kembali ke Kampus bersama grab mobil yang mengantar makanan. Disana, saya mengambil tugas menjaga Lapak Baca. Adi, Fandy, dan Iyar berada disamping membantu teman komsumsi lainnya. Entah tugasnya ngapain. 

Ali sudah datang menghadiri acara. Kebetulan, mata kuliahnya kosong setelah saya membalas story WhatsApp-nya. Selanjutnya saya pamit ke Ali untuk mengantar teman saya, Rika, ke rumah teman komsumsi. Ali menyetujui dengan saran meminjamkan helmnya. Saya tertawa karena tahu, mungkin ini bentuk heroik dari Ali untuk menunjukkan eksistensinya dihadapan teman kelas saya.

Acara berjalan lancar, dari pandangan saya. Ali pamit sebelum buka puasa bersama. Setelah buka puasa, saya pamit untuk pulang bersama Adi.

5

Semenjak konsisten puasa, saya tidak pernah mengalami fase untuk merasa harus membatalkan puasa. Mungkin iya. Sewaktu SD saya pernah mencuri-curi kesempatan untuk minum karena haus bermain bola. Tapi setelah itu, tidak lagi. Bahkan, argumen tidak sahur di keluarga tidak pernah ada. Itu karena Mama cukup cekatan dalam hal bangun sahur. Itu sudah didukung oleh saya yang menyetingkan jadwal alarmnya.

Pada suatu ketika, saya tidur sekitar jam 2 pagi. Sebelum tidur, saya men-charge hape dengan anggapan ketika bangun sahur, batrei sudah terisi dan siap dibawa kampus. Setelah bangun, saya merasa ada yang salah. Sudah pagi ternyata. Saya mengumpulkan nyawa dan mencoba mengingat. Tadi malam, apakah saya sahur? Lalu, makan apakah? Kenapa seperti mimpi? Saya mengecek hape masih dalam keadaan ter-charge meski sudah 100%. 

Saya ke dapur, disana ada Mama. Sebelum bertanya, ia tersenyum kecut dan berkata,"Kita tidak sahur." dengan ekspresi-hehehe-maafkan-Mama.

Hari itu, kuliah cukup padat. Dari pagi sampai sore. Dan mungkin karena faktor tidak sahur dan merasa pesimis, perut saya sakit. Memaksana ke kampus dengan perut seperti ini bisa membuat masalah baru. Akhirnya, saya membuat telur dadar dan sarapan. Ada rasa penyesalan setelahnya.

Beberapa hari sebelumnya, itu saat acara pameran, kami tertawa saat Iyar mengaku tidak puasa. Saya juga menegaskan bahwa selama ini tidak pernah ada kalla atau bolong puasa. Hari itu saya bolong, bersama Fandy dengan alasan yang sama.

6

Pesan WhatsApp dari teman saya, Vian, masuk dan berisi ajakan untuk saya menghadiri buka bersama teman SMP. Saya mengiyakan, meski hari itu ada tugas Agama yang diganti menjadi seminar tentang Sholat di Mesjid Kampus. 

Sebelum jam 5, saya ijin kepada ketua tingkat saya untuk pulang lebih awal. Setelah menghadap dosen, saya mendapat ijin. Lokasinya sudah ditentukan meski terlihat tidak pasti. Awalnya, saya ke Pronto (sekarang berubah menjadi Progrill), bertemu tiga teman saya. Ada Fahmi, Denil, dan Aisyah. Sayangnya, kursi di Pronto sudah penuh. Kami mencari tempat yang baru. 

Akhirnya, kami berada di Kopi Kita. Berempat membahas sedikit apa yang sudah kita lewati dengan rasa sedikit canggung. Saya rasa begitu. Teh yang kami pesan sudah datang untuk menjadi buka puasa. Kemudian datang Winda. Kemudian teman-teman yang lain yang saya lupa urutannya. Disana, kami ngobrol di meja panjang. Ada sedikit obrolan intim sesesama teman yang lain. Kemudian membahas hal besar untuk ditertawai bersama. Ubi goreng yang sudah ada di meja cukup nikmat sekadar untuk mengisi perut. Saya cukup ragu untuk memesan makanan berat selagi yang lain masih tidak. Jadi, kami hanya ngobrol menunggu yang lain datang.

Ada banyak yang kami obrolkan dan itu menyenangkan. Terlepas dari itu, ada sedemikian jarak yang cukup membuat saya disatu momen merasa canggung sendiri. Salah satu teman menegur,"Ko tidak mau tegur saya kah, Rahul?" Saya tertawa keki.

Perlahan, obrolan seperti membangkitkan kepingan masa lalu seperti sebuah puzzle. Beberapa kali saya berpikir untuk tetap berada disana, menjadi anak SMP di Kota Lama untuk bisa naik di angkut bersama sewaktu pulang. Kemudian, berjalan di koridor sekolah untuk makan di kantin paling ujung. Dari jendela adik kelas, kami merasa ada pesona kakak kelas yang siap kami umbar. Oh, romantisme itu membuat saya rindu.

Yang datang buka bersama

Formasi laki-laki tampan



Dari Kopi Kita, kami ke Lippo Plaza Mall. Awalnya tidak tahu untuk apa. Kami disana, hanya bermain di Timezone. Saya, Denil, Fahmi, dan Eko bermain basket sementara yang lain sibuk juga bermain game yang saya tidak tahu namanya. Disana, kami banyak ketawa menghabiskan waktu. Beberapa teman pamit pulang. Setelah hampir jam 10, kami memutuskan untuk pulang juga. Tidak benar-benar pulang karena saya, Fahmi, Denil, dan Leo berhenti di salah satu warung kopi untuk nongkrong. Setelah hujan reda, kira-kira sudah jam 12 malam, kami pulang.



7

Kami sudah janjian akan datang, meski terlihat tidak pasti. Itu adalah buka bersama di SMA bersama beberapa angkatan. Bisa dibilang itu adalah ajang silaturahmi untuk banyak angkatan. Bisa jadi semua, karena yang saya tahu SMA saya masih terbilang muda.

Tanggal 25 sore, grup sudah rame membicarakan akan kesana. Beberapa ada yang aktif membalas. Beberapa ada yang menjadi sider. Sebenarnya, saya agak ragu untuk dengan lantang bilang "SAYA AKAN PERGI!", soalnya saya tidak berpartisipasi untuk dananya. Jadi, lebih baik diam bersama teman-teman yang lain.

Di grup sebelah, bersama teman cowok semua, disitulah kami diskusi. Mau pergi atau tidak. Sengit perdebatan. Ada yang mengira besok. Ada yang sedang kegiatan lain. Yang pasti adalah Aryo. Tapi masih tidak pasti juga karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan ia masih tidak bergerak. Akhirnya kami buka di rumah masing-masing, dengan kesepakatan akan datang setelah buka bersama. Aryo sudah datang, duduk bersama teman-teman yang lain (maksudnya bukan teman SMA) di kios samping sekolah. Bersama Ali, kami nimbrung disana.

Saya dan Ali duduk disana agak lama. Aryo pamit pergi menjemput Sahir, setelah mengantar Wandy. Setelah Sahir datang, kami masuk dan duduk dihalaman sekolah yang sudah digelar karpet besar. Beberapa ada yang masih makan, beberapa ada yang baru makan. Saya sendiri tidak berharap makan karena sudah kenyang. Saya hanya mencari es buah untuk dicicipi, tapi tak ada sepanjang saya mencari

Setelah makan, beberapa ada yang pulang, beberapa ada ke Mesjid untuk Isya dan Taraweh. Saya dan Ali ke Rumah Sakit bersama Febry. Disana, kami menjenguk teman sekelas Ali yang sakit. Saya ikut karena kenal yang sakit. Selain teman SMA, dia juga salah satu teman di SD. Kami banyak ketawa disana. Sampai-sampai, beberapa kali terlihat menganggu pasien lain. Kami pamit, meski tidak benar-benar pulang. Kami nongkrong di samping parkiran. Bukan karena ingin, itu lebih kepada menunggu tukang parkir lengah dan kami bisa kabur.

Setelah dari sana, saya menuju rumah. Adit ikut dengan alasan numpang download PUBG. setelah sekian lama, pertahanan saya goyah juga. Saya memutuskan untuk kembali mengintal PUBG dengan alasan UAS hampir selesai. Untuk tukang parkir? Tentu saja tidak lolos. Ia lebih sigap dari kami.

Seharusnya, acara dilanjutkan dengan Sahur On The Road. Tapi saya sudah agak malas untuk pergi. Mending di rumah, nyaman. Apalagi saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan bisa turun kapan saja.

8

Juni dibuka dengan sangat baik. Disatu malam, gerimis terus mengguyur kota Kendari. Membuat orang-orang malas keluar rumah. Entah dalam rangka apa, Bapak membuka album foto yang diambilnya dari Mama yang sedang beberes menjelang Lebaran. Kami melihat foto-foto itu bersama. Ada foto Bapak dan Mama di resepsi pernikahan. Ada foto Bapak dengan gagahnya berkacak pinggang sewaktu muda. Foto-foto saya dan adik-adik sewaktu kecil hingga sekarang. Kami kembali mengenang itu.



Album itu seakan menjadi kapsul waktu untuk kami mengenang banyak cerita di masa lalu. Saya kira itu baik asal tidak berlebihan. Kita cuma perlu tahu batas dan tetap menjalani hidup dengan normal. Menjadikan masa depan sebagai misteri-misteri kecil untuk dipecahkan. Sehingga hidup jadi lebih banyak ingin tahu daripada sok tahu. Masa lalu biarlah itu, sebagai cenderamata untuk anak dan cucu. Kami hanya perlu syukur pernah ada disana.

Comments