Sedikit Cerita Tentang Riko

Senin di 17 Juni seharusnya tidak ada kuliah. Seharusnya. Tapi karena terlalu lama libur, uang untuk jajan sudah mulai kering. Jadilah, hari itu saya buat skenario agar terlihat ada jadwal mata kuliah. Rencananya hari itu, menggantikan jadwal kuliah palsu, saya hanya akan membayar wifi di Indomaret. Kemudian ke Lippo Plaza Mall untuk melihat buku-buku baru.

Tapi, setelah dari Indomaret, niat untuk ke Lippo Plaza Mall surut. Lebih tepatnya saya yang sedang malas. Karena sudah menjalankan skenario kuliah palsu, mau tidak mau saya harus menahan diri agar tak pulang dulu. Setidaknya sampai beberapa waktu. Saya balik arah menuju jalan pulang, tapi berhenti untuk nongkrong di pinggir laut By Pass.



Saya mulai membongkar isi tas. Saya sengaja membawa buku catatan, novel Rumah Kaca, dan sebuah binder yang saya pakai di kampus. Saat itu, saya tidak membawa laptop. Ada dua alasan. Yang pertama, saya merasa tidak menemukan apa-apa ketika membuka laptop. Yang kedua, komplikasi pada laptop saya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dan baru-baru ini, laptop saya baru saja masuk ICU lagi. Jadi, dua alasan itu mendorong saya untuk hanya membawa buku catatan projek yang saya beli sekitar dua tahun lalu.

Masih mencari pulpen, seorang anak laki-laki datang menghampiri saya dengan ember diatas kepalanya. "Jagung, Kak," kata anak itu.

Saya menggeleng sambil tersenyum.

Ia sedikit memelas dan berkata,"Belimi Kak, supaya bisa sa pulang." katanya lagi.

Oh, saya mulai terjebak perasaan dilematis antara membeli atau tetap pada pendirian untuk menolak. Persoalannya, saya sedang tidak ingin makan jagung saat itu. Dalam khayalan saya, siang ini bersama es kelapa muda adalah kombinasi yang sangat baik. Tapi Bapak Teman saya sedang tidak jualan.

Pada akhirnya, saya mengiyakan juga. Dengan harapan agar anak itu bisa segera pulang dan tidur siang. Ia meletakkan embernya disamping saya, kemudian berkata setelah saya bertanya,"Lima ribu, Kak"

Saya tidak menjawab. Masih berpikir dan menimbang-nimbang patokan harga tersebut. Anak itu kembali berkata,"Mahal jagung, Kak," sebelum sempat berkata, ia melanjutkan,"Tapi besar-besar ji ini."



Seorang perempuan yang lebih tua darinya datang, mengambil ember anak laki-laki itu kemudian menyuruh saya menunggu karena ada pembeli lain disebelang jalan. Saya mengangguk. Disela-sela kepergian anak perempuan itu, saya mencoba membangun ruang dialog bersama anak laki-laki itu. Dengan begitu polos dan sedikit malu, ia menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan.

Namanya Riko. Umur tujuh tahun, tinggal di Kampung Baru. Tidak jauh dari tempat kami berada sekarang. Tidak banyak yang bisa saya tanya. Hanya beberapa pertanyaan singkat yang tidak membuat Riko membuat asumsi aneh dikepalanya.



Saya bertanya,"Perempuan itu siapamu?"

Dia menoleh,"Sepupuku."

Setelah hening yang agak panjang, ia permisi untuk ke sebelah, di sebuah tangga untuk turun menaiki rakit gabus. Disana, ia bermain. Lebih tepatnya menarik-narik sebuah rakit gabus yang agak jauh dari tepi dan merasa diri telah menjadi anak yang sedang bermain. Ada perasaan sentimental disana.

Anak perempuan itu datang lagi. Saya tidak banyak bertanya, hanya memastikan yang saya dapat adalah jagung kuning. Anak perempuan itu sedikit terkejut,"Habis, Kak, tadi diborong."

Ia lanjut mengeluarkan jagung, setelah menawar harga sebelumnya kepada Riko, saya mendapat harga tiga ribu untuk sebuah jagung yang tidak terlalu besar atau jika tega saya mengatakan kecil didepan mereka. Tapi biarlah, itu lebih baik rasanya ketimbang merasa harus komplen.

Untuk memastikan, saya bertanya kembali,"Itu sepupumu?" tunjuk saya ke Riko. Agak terdengar aneh, mengingat pertanyaan orang biasanya pasti mengacu pada "itu adikmu?" atau "itu saudaramu?".

"Anaknya Kakakku."

Mendengar itu, saya jadi tersenyum. Mengingat jawaban polos Riko yang mengatakan perempuan itu sepupunya. Mungkin, bagi dia sama saja. Setelahnya, mereka pergi. Anak perempuan itu memanggil Riko yang masih asik menarik-narik rakit gabus. Mereka menyeberangi jalan dan menghilang bersama datangnya seseorang laki-laki berumur sekitar 30 tahunan. Pakaiannya lusuh dan membawa dua kantong barang bekas untuk ia simpan tepat disampingku. Saya akan mengatakan dengan apa yang saya lihat bahwa orang itu adalah orang gila. Dia membongkar-bongkar sebuah mainan anak. Saya mengamatinya sembari bermain hape. Seorang supir angkot berhenti, memberinya sebuah melon yang dibungkus kantong kresek hitam. Ia memotong entah dengan apa. Saat memperhatikan, saya sudah melihat buah itu sudah terbelah dua. Ia membuang biji lemon itu, kemudian menggigitnya. Sesekali saat mengamati ia mendapati saya. Saya keki dan mencoba kembali fokus dengan hape. Saya melihat jam, sudah hampir pukul satu siang. Saya menyusun kembali barang kedalam tas, mengambil jagung itu untuk diberikan kepada orang itu. Saya pamit dan ia mengangguk.

Di jalan, saya berpikir seandainya tidak berubah pikiran dan tetap ke Lippo Plaza Mall. Mungkin, saya tidak akan mendapati pengalaman barusan. Oh, dari sana, saya berpikir untuk menuliskan kisah ini. Dengan bekal notes, saya mencoba mengarsipkan poin penting untuk saya tulis ulang. Riko mungkin sudah tidur malam ini. Besok jualan lagi, mungkin. Sebelum berbelok ke kanan, saya memandang ke arah laut, masih tenang. Angin masih kencang menerpa wajah. Dan disana, ada satu perasaan sentimental yang mencium dinding kenangan.

Comments