Setelah Empat Tahun

Empat tahun lalu, itu di tahun 2015. Waktu itu, saya baru saja belajar nonton film di bioskop. Film pertama yang saya tonton adalah Furious 7. Saya masih ingat betul, ketika hype film itu benar-benar besar. Dan itu mengundang keinginan saya, Fahmi, dan Fatwa untuk nonton. Sejak saat itu, saya mulai senang nonton film di bioskop.

Jaman itu, nonton film adalah sebuah ritual. Saya benar-benar harus mengumpulkan uang jajan dari hari Senin sampai Sabtu, ketika tahu akan ada film bagus untuk saya tonton di bioskop di hari Minggu. Sekarang beda, untuk nonton film, saya bisa nonton di hari apa saja dan kapan saja. Waktu ada, kendaraan ada, uang yang tidak ada.

Dulu, ketika mau nonton film, mental saya benar-benar harus siap. Ketika film diputar jam 7, saya sudah harus beli tiket dari sore dengan motor. Kemudian setelah Maghrib, saya mulai jalan dengan angkutan umum. Kenapa begitu? Itu karena waktu itu, motor masih sering dipakai. Dan saya juga tidak tega membangunkan orang rumah hanya untuk memasukkan motor ke dalam rumah. Sebenarnya, alasan paling masuk akal adalah memang karena motor itu sering dipakai.

Perjalanan dari rumah ke bioskop memakan waktu kurang lebih 30 menit. Dan akses ke bioskop, tidak terjangkau oleh angkutan umum. Yang terjadi adalah, ketika waktu benar-benar mepet, saya akan naik ojek setelah turun dari angkot.

Salah satu pengalaman nonton yang paling saya ingat adalah ketika menonton film Single. Itu sudah saya tulis. Empat tahun setelahnya, itu adalah beberapa hari yang lalu, Single Part 2 rilis. Karena Single pertama sangat membekas untuk saya, difilm kedua ini saya merasa ada dorongan untuk segera melihat filmnya. Selain karena Raditya Dika, itu lebih kebentuk apresiasi untuk keberanian saya empat tahun lalu. Saya akan memberi peringatan spoiler untuk yang belum menontonnya.

Celakanya, dari empat tahun yang lalu, belum ada orang yang sampai hari itu bisa saya ajak nonton. Hari itu, sehari sebelum lebaran, saya ke bioskop sendiri. Karena motor lagi-lagi dipake, saya menggunakan motor yang kedua. Motor yang sebenarnya dipake ketika lagi benar-benar darurat. Saya lihat jam,"Oh, ini masuk kategori darurat!" pikir saya.

Seperti biasa, saya masuk dan langsung memesan tiket. Sesuai rencana, saya akan menonton pada jam 2 siang. Sisa beberapa menit lagi untuk studionya dibuka. Saya tunggu tepat di depan studio 3. Dulunya, di bioskop ini, hanya ada dua studio. Seiring waktu, ketika bioskop yang lain dibangun, bioskop ini juga merenovasi dan menambah dua studio.

Dengan bekal menonton empat tahun, intuisi saya cukup bekerja untuk menentukan kursi mana yang bagus untuk menonton. Dari posisi layar, suara, dan beberapa hal lain. Sedikit tips dari saya, pilihlah kursi bagian pinggir agar jika ingin kencing, tidak menghalangi penonton yang lain. Yang kedua, pilihlah kursi yang posisi layarnya nyaman dengan posisi duduk. Untuk yang ini memang membutuhkan observasi nonton lebih dari satu kali. Yang ketiga, pilih bagian tengah untuk mendapatkan sensasi audio sound yang seimbang.


Tiket Single Part 2 (2019)

Tiket Single (2015), empat tahun lalu

Ketika studio dibuka, saya masih asik membaca beberapa artikel di Tempo. Disamping kanan saya, ada dua orang cewek. Sepertinya lebih tua dari saya. Itu hanya perkiraan saya. Saya mengulur-ulur waktu untuk masuk karena tahu nonton film Single sendiri. Saya tidak mau memberi asumsi buruk dikepala mereka. Satu orang pemuda masuk. Saya masih bertahan. Beberapa setelahnya, lelaki dengan tubuh gempal masuk, juga sendiri. Saya masih bertahan sambil menunggu dua cewek tadi masuk. Pikir saya, mereka ada di studio yang berbeda. Setelah menunggu, dua cewek tadi masih bertahan. Saya mengalah, masuk, diiringi seorang bapak-bapak Cina yang juga masuk sendiri.

Film dimulai dan saya begitu menikmati tanpa sedikitpun membaca ulasan di internet. Saya merasakan kenikmatan menonton empat tahun lalu. Tanpa berpikir apa-apa, hanya berbekal ingin menonton dan tertawa. Meski tidak jauh berbeda dari yang pertama, Single Part 2 menunjukkan beberapa kemajuan dari Raditya Dika. Terutama pengembangan karakter yang lebih dewasa. Itu ditunjukan dari beberapa karakter seperti Ebi, Nardi, Angel, sekalipun Arya. Sayangnya, dari narasi penutup, saya tidak melihat adanya perubahan dari karakter Yohan.

Selebihnya, itu saja. Tontonlah dengan harapan ingin tertawa dan melihat perspektif hubungan dari beragam kacamat. Mulai dari hubungan Single sampai pernikahan. Dibalut dengan komedi, Single Part 2 cukup memenuhi aspek itu. Ada beberapa yang miss, namun ada beberapa juga yang begitu pecah sehingga seisi bioskop hanya terdengar tawa. Salah satu favorit saya, adalah adegan saat Ebi mendatangi Nardi, Yohan, dan Angel yang sedang tertawa ditengah obrolan.

Saya sempat berpikir, dari urutan orang-orang masuk bioskop yang tadi adalah sekumpulan Single. Kemudian, dari adegan di film Single menunjukkan sebuah klub perkumpulan Single. Sepertinya ini bisa kita bentuk ketika film selesai.

***

Sepulang dari sholat ied, saya mencoba mencari kontak dari seseorang empat tahun lalu. Kemudian, memberanikan diri meminta maaf dari segala apa yang sudah saya lakukan. Sejatinya, saya ingin memaafkan diri sendiri. Mengutip kata dari Joko Pinurbo,"Lebaran sudah lewat, dan kamu belum juga memaafkan dirimu. Celakanya, sebagian dari dirimu adalah aku.".

Comments