5 Sutradara Favorit dan Filmnya (Bagian 2)

Tahun 2017 lalu, saya membuat postingan yang membahas sutradara-sutradara favorit saya. Dari postingan itu, ada banyak nama sutradara yang ingin saya masukkan namun hanya bisa saya sebut lima. Dalam postingan ini, saya akan membuat lanjutan dari postingan tersebut, lima nama sutradara favorit saya, lagi. Dua tahun sudah cukup untuk membuat saya mendapatkan referensi yang lebih banyak. Dan, saya akan mengkuratori dari berbagai macam negara, genre ataupun tipe film.


Lagi-lagi, yang saya pilih adalah sutradara yang secara sadar dan tidak sadar sudah saya tonton filmnya lebih dari satu film, dan saya suka. Ada banyak yang ingin saya masukkan, tapi kelima ini akan menjadi perwakilan terlebih dulu pada bagian kedua ini.

Oriol Paulo



Entah pada tahun berapa, secara tidak sadar saya membaca salah satu rekomendasi di Twitter tentang film Spanyol. Awalnya saya ragu. Film apa ini? Salah satu yang saya tahu dari Spanyol adalah Barcelona. Tapi, saya mencoba menonton dan mulai senang dengan Oriol Paulo, sutradara film asal Spanyol.

Film yang sering diarahkan adalah film-film thriller dan mystery. Maka tak heran, bila setiap ending dari filmnya dirancang untuk membuat mulut menganga. Pertama kalinya saya merasa takjub dan mulai menonton hampir semua filmnya.

The Invisible Guest atau Contratiempo adalah salah satu film yang seharusnya menjadi jembatan untuk yang ingin berkenalan dengan Oriol Paulo. Setelah itu, bebas, mau nonton film lainnya dari yang mana. Bercerita tentang seorang pebisnis yang terlibat kasus pembunuhan dengan selingkuhannya. Seiring film berjalan, kita akan dibuat merasa bodoh dengan mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

Upi Avianto



Awalnya, saya membuat daftar pada perwakilan sutradara di Indonesia ini adalah Joko Anwar. Namun, saya berpikir untuk sebaiknya memasukkan referensi sutradara Indonesia disini. Nama-nama mulai muncul dari Mouly Surya, Nia Dinata, sampai Nan Achnas. Dari beberapa nama, saya akhirnya memilih Upi karena sudah banyak membuat film dan kebanyakan saya suka.

Upi Avianto bisa dibilang sutradara Indonesia yang cukup produktif. Meski begitu, film yang dibuat juga tidak main-main. Kita bisa melihat film gangster Indonesia dari tangan seorang perempuan. Kita bisa dibuat terperangah dari film psychological-thriller lewat tangan seorang perempuan. Untuk itu, saya memilih Upi untuk mengisi nama sutradara perempuan dari Indonesia.

Bagi yang sudah menonton Radit dan Jani, kita bisa dibuat nangis karena kisah haru antara Radit dan Jani. Di film Serigala Terakhir, kita bisa melihat bagaimana solidaritas seorang sahabat dipertanyakan. Bagaimana seseorang yang tumbuh oleh rasa dendam. Bagaimana kejahatan lahir dari rasa sakit. Dan itu semua dibalut oleh film drama kriminal Serigala Terakhir.

John Carney



Sebenar-benarnya, saya bukan penikmat film dengan aliran musikal. Tapi pada beberapa film adalah pengecualian. Terutama saat berkenalan dengan John Carney lewat Begin Again-nya. John Carney adalah sutradara asal Irlandia yang membuat film bertema musikal. Lewat film, ia mengantarkan sebuah pesan dibalut dengan lagu-lagu yang keren dan tak jarang bikin baper.

Tidak heran, John Carney sebelum menjadi sutradara sempat menjadi bassist pada bandnya The Frames yang beraliran rock. Beberapa lagu dari filmnya dibuat oleh Glen Hansard, vokalis mantan bandnya yang sempat juga menjadi aktor utama dari filmnya, Once.

Begin Again yang pada saat itu saya tonton, berhasil meluluhka1n hati membuat saya menangis. Entah karena mungkin pada saat itu, film itu benar-benar punya relasi yang sangat dekat dengan saya. Begin Again sendiri bercerita tentang perjalanan tentang melupakan, perjalanan tentang mimpi, perjalanan tentang cinta, sampai persahabatan. Salah satu film dengan soundtrack yang hampir semua saya suka.

John Lasseter



Akhirnya saya bisa memasukkan sutradara dari film-film animasi favorit saya. Ada banyak nama, tapi John Lasseter mungkin secara tidak sadar sudah banyak memberi saya tontonan animasi bagus. Salah satu favorit saya, Toy Story. Sutradara asal Amerika Serikat ini sekarang menjabat sebagai pejabat kreatif di Pixar dan Walt Disney Animation Studios.

Jika harus menyebutkan satu film animasi favorit, mungkin saya akan menyebutkan Toy Story, lagi. Sebagai pembuka dari waralaba yang sekarang sudah menjadi empat film, Toy Story mampu membuat kita tertawa sekaligus penuh empati. Apalagi, saya sudah tumbuh besar dengan film Toy Story. Segala kenangan tentang mainan masa kecil sampai dilematis untuk melepasnya. Oh, saya kira itu kembali mengacu pada sifat saya yang terlalu sentimental pada suatu barang.

Yorgos Lanthimos



Sutradara asal Yunani ini adalah salah satu sutradara dari sekian banyak yang saya suka dari gaya penceritaannya yang kadang absurd tapi juga penuh sinematik. Beberapa kali sempat berpikir apa yang ada diisi kepala Lanthimos sampai membuat film seperti itu. Film pertama yang saya tonton waktu itu adalah The Lobster, film komedi absurd tentang para jomblo yang diubah paksa menjadi hewan saat dalam 45 hari tidak mendapatkan pasangan.

Film lainnya, The Killing of a Sacred Deer adalah film thriller yang akan membuatmu merasa tidak nyaman. Penuh rasa was-was sepanjang film. Tentang dokter bedah yang diancam seorang anak untuk membunuh keluarganya karena orangtuanya meninggal ditangan dokter bedah tersebut.

---

Dari lima sutradara yang saya sebut, manakah yang sudah kamu tonton? Jika belum, mana yang akan menjadi daftar tontonanmu berikut? Dari lima sutradara diatas, setidaknya saya sudah menonton dua atau lebih film mereka. Rencananya, saya akan membuat daftar film favorit untuk postingan berikutnya. Mungkin dalam beberapa waktu kedepan. Terima kasih untuk Wikipedia, IMDb, sampai Google yang telah mempermudah research data-data untuk postingan ini. Mudah-mudahan kalian senang dengan referensi tontonan baru yang asik dan bagus.

Comments