Jangan Joging Sebelum Baca Ini

Saya rupanya sudah menulis tentang joging sudah lebih dari dua tulisan. Dan pembahasan tentang joging masih sangat banyak untuk dibahas. Kali ini, saya akan membahas panduan-panduan sebelum joging. Seperti judulnya, jangan joging sebelum baca ini.

Tulisan ini, terbersit beberapa hari yang lalu disaat saya sedang joging. Karena tidak membawa hape atau buku catatan, saya hanya berusaha untuk mengingat. Sayangnya, hari itu saya lupa. Dihari yang lain, saya kembali teringat tentang tulisan ini. Sepertinya seru untuk berbagi hal dari sisi yang paling personal. Seperti panduan dan tips pada umumnya, ini hanya bertujuan untuk membantu dan memudahkan kalian untuk joging. Bisa kalian ikuti, bisa tidak.

Baca juga: 7 Hal yang Sering Ditemukan Ketika Joging.

Tempat joging saya biasanya. Dok. Google Maps.

  • Niat
Memang terdengar sangat klise, tapi percaya tidak percaya disuatu pagi yang sangat dingin, mengumpulkan niat untuk bangun saja adalah hal yang sangat sulit. Saya tipe orang yang lebih senang joging  pada pagi hari ketimbang sore hari. Alasan yang pertama adalah menghindari orang joging yang terlalu banyak. Apalagi biasanya, sekelompok orang yang sedang joging menutup hampir seluruh jalan. Alasan yang kedua tentu saja karena udara pada pagi hari lebih sejuk dan segar.

Meski begitu, beberapa artikel mengatakan, untuk menurunkan berat badan, lebih baik joging disore ketimbang dipagi hari. Kalian tinggal memilih, joging pagi atau sore hari.
  • Pemanasan
Masih membahas hal teknis, yang kedua adalah pemanasan. Sebagai orang yang senang joging dipagi hari, saya benar-benar membutuhkan pemanasan. Setidaknya sampai saya benar-benar yakin untuk memulai lari. Biasanya, saya akan merenggangkan seluruh badan. Dimulai dari kepala, tangan, badan, dan kaki. Sebelum lari, saya berjalan santai terlebih dahulu sampai setengah putaran lapangan. Itu juga memudahkan saya untuk menghitang jumlah putaran.
  • Istirahat yang Cukup
Suatu waktu, saya pernah memulai joging dipagi hari. Tidak ada yang salah. Saya datang ke lapangan dekat rumah, sebelum joging saya sudah melakukan pemanasan ringan seperti biasanya, kemudian memulai joging. Menuju putaran kedua, saya mulai agak merasa pusing. Saya kira ini hal biasa karena baru joging setelah sekian lama.

Pada putaran ketiga, saya merasa sangat oleng. Seluruh pandangan saya buram. Saya menepi ke pinggir lapangan, dan berbaring. Samar-samar saya melihat orang-orang dengan tatapan,"Ngapain nih bocah?". Saya terlentang, menunggu kondisi saya kembali. Diperjalanan pulang, saya teringat semalam begadang sampai jam 2 pagi bermain PUBG. Sungguh hal yang bodoh untuk bangun dan joging setelahnya.
  • Mencari Ritme
Kita tahu, kemampuan setiap orang berbeda-beda. Ada yang gampang capek, ada yang tidak. Ada yang pelan, ada yang cepat. Dalam konteks ini, adalah joging. Saya selalu percaya, untuk lari dengan jangka waktu yang "lama", kita harus menemukan ritme kita sendiri (seperti musik). Ritme yang saya maksud adalah formula dari kecepatan lari, cara mengambil napas, langkah kaki, sampai tau kapan harus cepat dan lambat.

Saya sendiri menggunakan kecepatan lari yang agak lambat, mengambil napas dengan pola seperti ini: Kaki kanan mengambil napas, kaki kiri buang. Atau sebaliknya. Dilakukan menggunakan hidung. Langkah kaki yang saya pakai adalah langkah kaki yang kecil, sesekali saya besarkan untuk menambah kecepatan.
  • Jangan Peduli Orang Lain
Setelah menemukan ritme kita sendiri, gunakan itu dan jangan peduli dengan ritme orang lain. Kita sudah tahu kemampuan setiap orang berbeda. Jangan berusaha untuk menyamakan atau menyaingi orang lain. Itu adalah hal yang salah ketika kalian termasuk orang yang gampang capek. Setelah menemukan ritme, coba untuk fokus dengan diri sendiri. Jangan melihat ritme rock pada orang lain, kemudian mencoba dengan ritme jazz kalian.

Saya sendiri adalah tipe yang gampang capek dan cenderung lambat. Saya bisa lari 1 KM dengan jangka waktu paling lama 4-5 menit. Dan itu tidak masalah untuk saya.
  • Jangan Joging Bersama Teman
Saya sangat menghindari joging bersama-sama teman. Persoalannya, saya tipe orang yang gampang capek dan lambat. Saya tidak enak melihat mereka harus menyesuaikan dengan ritme yang saya pakai. Maka dari itu, ketika bertemu dengan teman, sebisa mungkin saya mempersilahkan mereka lari dan tidak berpatokan dengan saya.
  • Hindari Membawa Hape
Jika niat joging dari awal sudah sangat kuat, jangan rusak dengan membawa hape. Banyak faktor yang membuat niat awal untuk joging menjadi rusak karena hape. Bisa karena keasikan bermain hape (membuat story WhatsApp atau Snapgram) sampai mendengarkan musik. Ada apa dengan mendengarkan musik? Saya tidak tahu, apakah ini cuma terjadi dengan diri saya, tetapi ketika joging sambil mendengarkan musik membuat ritme saya berubah.

Misalnya, ritme saya cenderung lambat, kemudian karena tidak sengaja terputar lagu In The End-nya Linkin Park, adrenalin saya jadi terpacu. Kecepatan lari saya naikkan. Yang terjadi, saya mudah capek dan berhenti sebelum target yang ingin saya capai. Itu berbeda ketika menggunakan hape sebagai stopwatch, seperti yang dilakukan oleh teman-teman saya.
  • Konstan
Jika sudah mengikuti panduan-panduan diatas, percayalah dengan begitu durasi joging kalian akan semakin membaik. Dan dengan begitu, yang perlu kalian lakukan selanjutnya hanya mencoba untuk konstan dan tetap pada ritme yang seharusnya. Meski begitu, buatlah variasi setelah familiar dengan ritme kalian. Kalian akan tahu kapan harus menambah kecepatan dan kapan harus mengurangi.

Sedikit dorongan tidak masalah. Jika sudah fasih dengan ritme kalian, cobalah sedikit dorongan. Mengajak teman dengan ritme lari yang lebih cepat, kemudian mengikutinya. Jika sudah merasa tidak sanggup, mintalah mereka untuk tetap berlari sementara kalian kembali memakai ritme kalian semula.

Comments