Ingin Masuk Berita

Sejak kecil, salah satu hal yang saya inginkan adalah masuk berita. Mau itu di teve ataupun koran. Alasan waktu itu cukup sederhana, saya ingin disuatu momen saat menonton teve, saya bisa muncul di teve dan disaksikan keluarga. Khususnya orang-orang di rumah. Alasan itu kemudian diperkuat setelah salah satu teman saya masuk teve karena memenangi sebuah lomba. Teman saya yang lain, pada sebuah insiden yang cukup tragis, menemukan mayat seorang bayi di kali depan rumahnya, kemudian diliput salah satu stasiun teve dan koran lokal. Bukan hal yang harus dibanggakan, tapi makin membuat saya iri. Terutama ketika itu menjadi bahan pembicaraan satu sekolah.

Dengan sabar saya menunggu kesempatan itu. Menunggu hari keberuntungan untuk saya masuk didalam berita. Meski bukan dengan dorongan alasan tersebut, saya sempat memperdalam mata pelajaran Bahasa Inggris dengan mengikuti les sewaktu SD. Kemudian, oleh sekolah diajak untuk mengikuti lomba English Expo bersama teman-teman yang lain.

Beruntungnya, kami berhasil menyabet juara umum setelah menang beragam lomba. Sayangnya, saya tidak menyumbang satu piala ataupun piagam pun. Sama halnya dengan pemain pendukung yang lain, fungsi kami setelahnya adalah turut serta meramaikan pesta kemenangan.

Kesempatan untuk masuk berita akhirnya muncul. Meski bukan sesuatu yang harus dibanggakan, tapi itu adalah salah satu kesempatan terakhir saya. Waktu itu, saya masih kelas 6 SD. Bersama teman-teman, kami pergi dengan mandiri mengikuti lomba Sepak Bola di salah satu sekolah. Waktu itu, mimpi kami sangat besar di sepak bola. Kami sangat menggilai sepak bola. Disetiap pelajaran olahraga, apapun materi, praktiknya tetap sepak bola. Sepulang sekolah, setelah guru sudah pulang semua, kami melanjutkan permainan sepak bola disiang hari. Sampai guru olahraga kami kayaknya menyimpan jengkel kepada kami. Tapi seperti pada orang-orang dengan mimpi yang besar, apapun kami hiraukan. Dan, sudah jelas lomba itu adalah pembuktian terhadap guru olahraga kami.

"Saya tidak mau antar kalian!" Katanya dengan nada yang tinggi.

Kami tetap ngotot. Kami pergi tanpa pembina dan pembimbing. Bersama teman-teman yang lain, kami berangkat menggunakan angkot. Kelompok kami sudah solid. Kami mendaftar sekaligus bersama salah satu teman yang mendaftar olahraga bulu tangkis juga. Untuk kiper, kami punya teman bernama Husni, tapi kami lebih percaya kepada Dion, adik kelas waktu itu. Jadi, kami mendaftarkan nama kiper atas nama Dion setelah kami sempat mengajaknya sebelum berangkat mendaftar.

Saat masih melihat-lihat lingkungan sekolah, seorang bapak-bapak dengan motor besar datang dan terlihat panik,"Lari, air sudah naik!"

Sehari sebelumnya, gempa yang kencang mengguncang wilayah Kendari. Saya bisa bilang penyebabnya adalah itu. Dalam keadaan gempa, kami semua keluar dari kelas. Guru maupun murid. Di samping sekolah, ada sebuah menara. Saya tidak tahu namanya apa, tapi fungsinya paling tidak adalah sama dengan sebuah penanda. Jika di suatu tempat yang lain (bukan rumah saya) saya melihat lampu menara itu padam, artinya beberapa rumah di area lingkungan saya sedang padam. Saat itu kami panik saat melihat menara tersebut seakan-akan jatuh. Tidak berlangsung lama, reporter datang. Dalam hati saya berkata, inilah saatnya.

Disela-sela wawancara dan pengambilan gambar, saya berusaha untuk masuk pada frame dengan sebisa mungkin berjalan didepan kamera. Hampir semua shot yang diambil saya manfaatkan untuk menunjukkan eksistensi diri saya sebagai siswa SD yang keren. Saat pulang dengan perasaan senang, kemudian saya bingung, harus menonton pukul berapa.

Setelah itu, kesempatan untuk masuk berita pupus. Tidak ada lagi kesempatan itu sampai keinginan saya juga perlahan menghilang. Sampai suatu hari di 2019, salah satu mata kuliah saya mengharuskan membuat cerita pendek untuk nilai akhir. Dengan beragam pertimbangan, saya akhirnya membuat cerita pendek tentang kematian. Bukan tipe yang saya senangi, tapi saya merasa perlu. Setidaknya melatih diri saya untuk keluar dari jenis tulisan yang itu-itu saja.

Oleh dosen yang mengampuh, cerpen saya akhirnya dilirik. Sebelum awalnya sempat dipertanyakan, apakah saya mengambil itu dari cerpen orang lain. Untungnya, saya bisa meyakinkan dosen saya untuk tetap percaya. Jika saya mengambil cerpen orang lain, saya merasa menghina konsistensi saya menulis (di blog) selama ini.

Pembicaraan kemudiaan berujung pada pengiriman naskah ke koran lokal. Sempat ingin menolak karena saya merasa tidak harus dan tidak perlu. Lagipula, saat itu tidak ada pemikiran untuk mengirim tulisan saya ke koran. Cerpen yang saya buat hanya sebagai tugas akhir, tidak lebih. Jika dinilai perlu apresiasi lebih, saya rasa itu bukan suatu masalah.


Dan inilah saya, delapan tahun yang lalu dengan keinginan masuk berita (teve atau koran), sebuah perasaan yang sangat nostalgia. Saya masih dalam keadaan tidak percaya. Beberapa teman memberi selamat dan itu adalah respon yang (sebenarnya) tidak saya inginkan. Saya menolak untuk bangga, tapi perasaan saya terus melawan. Saya juga merasa perlu untuk dikritik dan diberi masukan agar saya tidak menjadi tinggi. Itulah yang saya ingin seperti kata Pidi Baiq,"Tak bangga karena pujian, tak mati karena cacian.".

Comments