Semacam Kasih Sayang

Saya adalah orang yang jarang sakit. Bukan mau diminta-minta, tapi dalam setahun paling tidak hanya sakit demam biasa atau sakit kepala. Saya tentu saja punya riwayat penyakit. Dan itu membuat saya tidak melakukan hal aneh-aneh dalam hidup. Makan yah nasi, minum yah air. Saya tidak akan ada pada situasi untuk melihat seekor kecoa dan berkata,"disate enak nih.".

Belakangan ini saya berusaha menerapkan hidup sehat yang bisa saya lakukan. Sesungguhnya, itu adalah alasan saja untuk menutupi alasan sebenarnya: diet. Setiap pagi, saya lari minimal tiga puluh menit. Kemudian, sarapan dengan teh dan cemilan. Makan berat saya lakukan pada sore hari agar malamnya saya tidak makan apa-apa (kecuali ngemil).

Sebenarnya, berat badan saya tidak naik, apalagi sampai ke tahap naik drastis. Berat badan saya menetap dan hanya disitu-situ saja. Hanya, saya merasa perlu menggeser sedikit lemak dari tubuh. Untuk itu, sarapan yang biasanya gado-gado saya ganti, kemudian pola makan tiga hari saya ganti menjadi dua atau bahkan satu saja jika hanya dihitung makan berat.

Menjalani pola makan seperti itu tidak membuat saya mengeluh. Persoalannya, jika lapar tentu saja semua aturan saya kesampingkan dulu.

Hingga pada suatu waktu, saya mulai merasa hal yang tidak enak. Saat masih menonton dengan posisi lutut yang saya rangkul, perut kanan saya terasa nyeri. Bukan. Ini bukan mulas. Saya tentu tahu perbedaannya. Ini terjadi beberapa waktu sekali dengan waktu yang tidak bisa ditentukan. Kadang-kadang hilang, kadang-kadang muncul. Jika perut mengalami tekanan maka sakit akan terasa. 

Saya mengabaikan itu karena merasa hanya sakit biasa. Dalam beberapa hari akan sembuh dengan sendiri, pikir saya. Sudah hampir seminggu seingat saya, sakit masih terus berlangsung. Diiringi dengan rasa mual dan tegang pada leher. Karena merasa parno, saya akhirnya mengandalkan Google untuk tahu perkara sebenarnya.

Waktu itu saya sedang berada di Perpustakaan Daerah, sedang menunggu kartu bebas pustaka sambil membaca buku yang saya bawa dari rumah. Sambil rehat membaca, saya iseng mencari gambar organ tubuh di Google Image. Saya kaget. Melihat bagian kanan perut adalah ginjal. Saya buka tab baru, lalu mencari gejala penyakit ginjal. Saya semakin parno. Isinya kurang lebih sama yang saya rasa. Setidaknya saya mencoba mencocok-cocokkan. Meski beberapa gejala juga susah untuk dicocokologi-kan.



Saya buru-buru pulang, dan rasa sakit semakin parah. Ibu saya kemudian tahu dari Tante saya, dan membawakan saya sebutir obat untuk langsung saya telan tanpa dorongan air. Selanjutnya adalah saya tidur sampai sore hampir lepas. Saya masih merasa parno meski sakit sudah tidak separah tadi. Saya bertemu Ibu untuk saya ajak check up ke dokter.

Saya gonceng Ibu ke RS yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah. Di sana, kami ke UGD untuk melakukan pemeriksaan. Sebelum diperiksa, Dokter meminta kami untuk menunggu sejenak sebab pasien di sebelah dalam keadaan kritis. Saya menunggu sambil bermain Twitter, Ibu pamit menunggu di luar. Lebih tepatnya untuk melihat pasien sebelah. 

Seorang dokter dengan masker hijau datang. Dia bertanya,"Yang sakit yang mana?"

"Saya, Dok," Jawab saya mencoba meyakinkan bahwa saya adalah calon pasiennya.

"Silahkan, baring," Katanya.



Ibu saya kemudian masuk selagi Dokter tersebut bertanya bagian perut mana yang terasa sakit. Kemudian dilanjutkan pertanyaan klise seperti sudah berapa lama sakitnya dan lain-lain. Dokternya terlihat asik, dari cara bicara dan pembawaanya terdengar bersahabat. Membuat saya sedikit canggung. Ia meminta ijin membuka baju saya. Oh, tidak semudah itu, Dokter. Kita baru kenalan lima menit yang lalu, gusar saya.

Akhirnya saya buka baju karena tujuannya adalah mengecek kondisi perut saya. Ia memencet beberapa bagian untuk tahu titik sakitnya. Kemudian, ia bertanya,"Kamu makan sehari berapa kali?"

Saya ingin menjawab,"Tidak usah frontal, Dokter. Saya lebih suka dengan cara perlahan. Mungkin bisa dimulai dengan saling bertukar WhatsApp." tapi tentu saja tidak saya katakan. 

"Dua kali, Dok."

Dengan berbagai kesimpulan dan hasil pemeriksaan, saya divonis mengalami penyakit maag. Seingat saya, ini pernah terjadi sekali. Dan pikiran negatif saya akhirnya hilang dengan respon dalam hati,"Ohiya yah.". Dari kasur, kami pindah ke meja untuk si Dokter membuat resep obat. Sembari ngomong, Dokter tersebut akhirnya membuka maskernya. Saya tambah luluh. Saya sangat khusyuk mendengar anjuran Si Dokter dengan tidak dulu meminum kopi, makan tiga kali sehari, dan untuk tidak lupa makan dijam-jam tertentu. Saya hanya mengangguk-angguk, berharap Ibu saya mendengar dengan baik jika saya kemudian lupa.

Setelah itu, Ibu saya bertanya,"Pasien di sebelah itu meninggal, Dok?"

"Iya," Katanya dengan nada terdengar kecewa.

Kami keluar menebus obat. Di luar, sudah ada Bapak saya yang ternyata kenal dengan pasien sebelah. Sembari menebus obat, saya ke luar, duduk di deker kecil bagian koridor rumah sakit. Bapak menghampiri saya untuk diberi nasehat.

"Jangan malas makan," katanya.

Saya mengangguk.

"Sebelum tidur, bikin air panas dicampur gula. Sambil main laptop, nonton film, minum itu," kata Bapak lagi. Nasehat itu ia ulang-ulang terus hingga beberapa kali sampai Ibu saya keluar.

Setelah itu, kami pulang. Bapak akhirnya pulang juga. Mengikut dibelakang kami. Disatu momen seperti ini, saya teringat masa-masa saya menonton film horor atau mendengar orang dewasa bercerita hal mengerikan. Kemudian berakhir dengan saya mengetuk kamar Ibu untuk tidur bersama. Lalu, momen dimana saya sakit dan tentu saja yang mengantar saya ke Puskesmas adalah Ibu. Kasih sayang Ibuku jarang terucap. Lebih sering kutemukan di meja makan.

Comments