Drama Ulang Tahun

Sabtu malam diakhir September, saya bersama Ari, Dandi, Rendy, dan Riki sudah berada di Lippo Plaza Mall. Malam itu, tidak ada rencana hangout bersama. Kami sudah sangat jarang main ke mall. Malam Mingguan hanya untuk makan, nonton, dan nongkrong. Jika tidak, kami hanya ngobrol di teras rumah Riki sambil makan hasil kongsi gorengan.

Malam itu, rencananya kami ingin membeli beberapa donat untuk dipakai sebagai hadiah kejutan kami kepada Kak Rijal. Sebagai informasi, Kak Rijal adalah salah satu anggota dari geng lorong yang secara tidak sengaja dibuat. Isinya sekumpulan cowok-cowok halu yang bingung dengan malam Minggunya. Kak Rijal, adalah bagian dari keluarga Riki. Jika menggambarkannya sebagai anak tongkrongan, Kak Rijal adalah salah satu abang-abang kami. Sebelum punya kendaraan masing-masing, Kak Rijal adalah teman jalan sekaligus driver kami.

Sembari membeli donat, kami sempat turun ke Hypermart untuk membeli beberapa belanjaan dari voucher diskon. Setelah itu, kami pulang. Ditengah perjalanan, kami sempat singgah ke warung Bude untuk membeli beberapa gorengan untuk dimakan. Saat itu, kami memutuskan untuk pulang lebih dulu sebab minyak baru dimasukkan kedalam penggorengan. Di teras, ada Ali dan Restu yang masih menunggu, ada Kak Rijal yang sudah datang dari menemani Ibu Riki belanja, dan ada Nandar yang entah darimana sudah ada di sana. Menanyakan kami dari ke mana. Saat itu, Ari turun lebih dulu untuk menyimpan kue agar tidak ketahuan.

Thariq lalu datang yang kemudian disusul Ari. Isyarat untuk kongsi dimulai dari lima ribu rupiah. Yang pergi adalah Ari dan Ali. Setelah hampir pukul 11 malam, gorengan datang. Kami makan bersama dan Kak Rijal pamit pulang. Setelah itulah, kami benar-benar menyusun matang-matang rencana.

"Bemana besok kita kasih ini? Masa langsung kasih?" kata Ari membuka. (Bagaimana besok kita kasih ini? Masa langsung kasih?)

Kami semua berpikir. Dibuka dengan berbagai rencana yang kebanyakan terdengar absurd dan pasti gagal jika kami lakukan. Mulai dari membuat Kak Rijal marah sampai pura-pura kecelakaan sudah diutarakan masing-masing peserta yang malam itu ikut berdiskusi. Saya kemudian memberi saran agar drama yang kita lakukan besok tidak mengarah kepada Kak Rijal karena 1) kita tidak tahu respon yang akan Kak Rijal kasih dan kami terima dan 2) mereka terlalu banyak menonton video prank di YouTube.

Alternatif yang saya kasih adalah bagaimana drama yang dibuat seakan-akan salah dua dari kami bertengkat sehingga membuat suasana menjadi tidak nyaman. Sebagai salah dua orang yang dituakan, selain Ari, Kak Rijal pasti akan merasa bertanggung jawab dengan semua yang terjadi.

Diskusi kemudian menjadi ledakan tawa yang memecah angin malam. Soalnya, saran-saran yang diberikan menyerang beberapa orang seperti: "Nanti ceritanya, Dandi dan Restu bertengkar karena Restu marah Dandi tidak kasih jatah tadi malam".

Setelah itu, kami sepakat untuk menjadikan Ali dan Fahri (sepupu Riki) untuk menjadi aktor utama pada drama yang akan terjadi besok. Kemudian, ditutup oleh klimaks Rendy dan sedikit dukungan dari kami sebagai tim yang akan memanaskan suasana. Sebelum jam 12, kami pulang dan istirahat sebelum besok harus bangun pagi sekali.

***

Saya mengecek grup WhatsApp saat baru dibangunkan. Hanya ada beberapa ocehan dari Ali. Sesudah mandi, saya menyiapkan peralatan yang akan saya bawa. Oh ya, rencana ini tentu saja bertepatan dengan rencana kami refreshing ke pantai. Saya sudah menyiapkan tas kecil yang berisi earphone, kacamata, kaos tangan, dan beberapa hal lainnya. Tidak lupa, saya memesan satu nasi kuning untuk dibawa.


Kami berkumpul di teras Riki, itu di samping rumah saya. Kami menyiapkan segala perlengkapan sehingga tidak ada yang kami lupa. Total kami adalah sepuluh orang. Saat itu, Nandar tidak bisa ikut. Setelah Ali mengambil nasi kuning yang dipesan, kami bersiap untuk pergi. Suara deru motor menghiasi sepanjang jalan. Pemberhentian pertama kami adalah di jalan RRI Lama untuk memesan makanan gado-gado sebagai makanan kedua (bagi yang tidak memesan dua porsi nasi kuning).

Saya, Ali, Dandi, dan Kak Rijal menitip uang sembari kami mengisi bensin. Pertamina belum buka. Tapi kami tahu beberapa saat lagi karena beberapa petugas sudah berada disana. Ali yang menggonceng Fahri menananyakan saya rentetan drama sebelum kami benar-benar jalan. Setelah Dandi dan Kak Rijal selesai, kami menyalakan motor untuk menunggu yang lain dipertigaan.

Dari arah jalan utama, kami melihat mereka menyusul kami. Tapi suara teriakan kami tidak terdengar. Untung saja teknologi WhatsApp saat ini sangat berguna. Kami kembali bertemu di Kampung Salo. Thariq yang sedang memegang donat berpindah tempat dari Ari ke saya sesuai rencana tadi malam. Kami jalan berurutan. Dipimpin oleh Ali dan Fahri yang berada dibarisan paling depan.

Jujur, saya agak deg-degan dengan apa yang akan terjadi. Sesuai rencana, Ali dan Fahri berhenti dan menepi di tepi jalan. Sembari saling marah, yang tadinya Ali digonceng Fahri, kemudian pindah ke Ali. Namun saat itu, Kak Rijal tetap berjalan. Kami klakson untuk Ari membawa Ali kepada Kak Rijal. Kami terus jalan, Fahri membawa motor sendiri dan Ali sudah bersama Kak Rijal.

Sampai disini, langkah pertama selesai. Sekarang, bergantung kepada Ali yang (mudah-mudahan) diinterogasi oleh Kak Rijal mengenai masalah ini. Saat adegan tukar menukar goncengan, sebenarnya saya dan Thariq sudah tidak bisa menahan ketawa. Untungnya, kami berada di barisan belakang sebelum akhirnya saya tidak sengaja melambung Kak Rijal. Saya baru sadar ketika Thariq memberi tahu. Saya berusaha mencari cara agar Kak Rijal, setidaknya berada di depan kami agar tidak curiga dengan donat yang dibawa Thariq.

"Ala-ala merekam Thariq, nanti suruh dorang maju," Kata saya sambil menengok ke belakang. (Ala-ala merekam Thariq, nanti suruh mereka maju)

Setelah itu, kami kembali di area belakang. Kami sempat berhenti ketika perkakas yang melekat pada body motor Fahri jatuh. Tidak bisa ditutup karena obeng yang harusnya ada diduga jatuh saat melewati aspal rusak. Kami kembali jalan dan Ari menyusul sebab kami terlalu lama menepi.

Kami berhenti di depan pagar pantai. Saat itu, Kak Rijal dan Ali sedang membeli bola dan Dandi yang tidak tahu ke mana. Akhirnya, kami masuk lebih dulu dan memilih tempat. Di sana, kami briefing untuk rencana berikutnya. 

"Fahri, kalo datang Ali ko marah-marah," Ari memberi mandat untuk rencana selanjutnya yang ia improvisasi. (Fahri, kalo datang Ali kamu marah-marah)

Fahri membereskan tempat perkakas yang tadinya jatuh. Kemudian terbersit ide dari Fahri untuk menjadikan itu alasan kuat bertengkat dengan Ali. Kami tertawa, sekaligus merasa heran karena sebelumnya Fahri adalah orang yang sangat hemat bicara. Mulai saat itu, improvisasi mulai mengambil alih rencana awal.

Ali dan Kak Rijal datang, memarkirkan motornya dan drama berikutnya terjadi. Karena tidak tahan ketawa, saya bersama beberapa yang lain memilih menepi. Kami pura-pura bermain bola sementara Fahri dan Ali menjalankan tugasnya.

Sebagai orang yang dituakan, Kak Rijal menengahi masalah. Keputusan berikutnya adalah sarapan. Kebetulan, kami juga sudah lapar dan ingin segara drama selesai. Setelah makan, saling sindir terus terjadi antara Ali dan Fahri. Rencana berikutnya adalah babak tiga dalam sebuah babak cerita. Dan tentu saja, kami sudah punya konklusi klimaks untuk akhir ceritanya.

Dengan bola yang sudah dibeli Ali dan Kak Rijal, kami memilih untuk bermain bola karena air masih dalam proses pasang. Sebelum benar-benar main, Ali dan Rendy kembali membeli bola baru sebab bola yang dibeli Ali dan Kak Rijal sudah terbelah dua. Kami membagi tim menjadi dua. Saya bersama Ari, Ali, Thariq, dan  Riki. Sementara dikubu sebelah ada Kak Rijal, Dandi, Fahri, Restu, dan Rendy.

Kami bermain dengan semangat. Meski beberapa kali kami harus mencari lindungan pohon saking teriknya matahari. Pasir pantai yang kami injak juga terasa sakit menusuk-nusuk. Meski begitu, kami tetap bermain dengan serius. Sebab, drama berikutnya sangat bergantung pada keseriusan kami pada peran kami untuk membantu pemain utama.

Saat mau menyerang, bola terlepas dari kami dan oporan menuju kaki Fahri yang sudah lolos dari bek belakang kami. Sementara itu, kami menempatkan Ali diposisi kiper agar tidak terjadi drama yang tidak diinginkan. Namun ternyata, improvisasi kembali terjadi. Fahri menendang bola dengan sangat keras dan Ali yang sudah maju mencoba menahan bola yang pada akhirnya menimbulkan benturan keras. Ali yang sudah sangat mendalami peran, langsung berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk memukul Fahri. Thariq berlari dengan tujuan melerai. Saya juga merasa perlu sebab merasa ini bukan bagian dari rencana. Naasnya, saat tengah mencoba melerai, secara tidak sengaja saya menabrak tembok. Ali dan Fahri hampir tertawa dan merusak semua rencana. Saya merasa oleng dan tidak lebay jika menyebut adegan burung terbang di film kartun adalah benar nyatanya.

Seharusnya, adegan klimaks ditutup oleh adegan Rendy yang mendapat tekling dan merasa kesakitan.  Dialog yang harusnya menutup drama adalah,"Kenapakah saya terus, bukan saya yang ulang tahun.". Dan ditutup kami yang sudah membawa kue ulang tahun. Tapi itu baru terjadi saat kami kembali bermain. Itupun tidak begitu klimaks menurut kami. Rendy hanya terlihat kesakitan tanpa mengatakan dialog. Kue donat yang disembunyikan juga didapat oleh penjaga gazeboo dan kami merasa sudah sangat gagal. Rendy dibopong kepinggir gazeboo agar Kak Rijal bisa memijit kakinya.

Ari memanggil saya untuk menemani membawa kue. Dan kami berjalan sembari Kak Rijal berdiri entah mungkin sudah dalam posisi tahu. Kami menyanyikan lagu "selamat ulang tahun". Sebelum Kak Rijal meniup lilin, Ari harus mengulang adegan dari awal karena tidak terekam. Sementara itu, Kak Rijal juga harus berpura-pura tidak tahu sama sekali. Wow, Rumah Uya sekali.





Dan begitulah, semua diakhiri dengan foto-foto. Kemudian menunggu air pasang untuk kami merendam diri diair asin. Rencana untuk ke pantai ini sudah direncanakan sudah hampir dua bulan yang lalu. Namun karena beberapa hal baru terjadi, bertepatan dengan ulang tahun Kak Rijal. Bagus juga, sebab jadi lebih ramai ditambah Ali yang sudah pulang, Thariq yang sudah datang, kemudian Restu dan Fahri yang bergabung penuh. Oh, rasanya saya benar-benar merasa senang. Perkumpulan semacam ini sudah jarang terjadi. Dan untuk merasa ada bagian dari ini adalah sebuah kebanggaan dan kesenangan yang sangat personal.

Drama yang kami rencanakan memang tidak seberhasil yang kami rencanakan. Namun bagian dari menjadi proses itu adalah bagian terindah dari hasil yang kami inginkan. Beberapa hari setelahnya, Kak Rijal menghubungi kami untuk makan bersama.

Comments

  1. Kereeen! Kalau sempat main juga ke blog saya Cerita Alister N ya.... Makasih 🙏🙏

    ReplyDelete
  2. Mumpung masih muda main yang banyak. Ntar kalo udah pada kerja apalagi nikah, susah mau kumpul lagi. Wkwkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment

Ini kolom komen lho..