Pendakian Pertama

Kira-kira, apa yang terbersit di kepala kalian dengan kata "mendaki"? 5 CM? Soe Hok Gie? Tentu saja bukan kegiatan mengelupas daki. Bukan. Ini adalah cerita tentang pendakian pertama saya dengan tujuan camping.

Tanggal 21 kemarin, tepat setelah saya baru saja pulang dari Rumah Bunyi, saya akan mendaki untuk pertama kalinya bersama teman-teman saya. Kurang tepat disebut mendaki, persoalannya kata orang-orang objek yang akan saya daki ini tidak terbilang tinggi. Malam itu, kami akan mendaki ke Puncak Amarilis. Sebagai orang yang menetap di kota Kendari, sudah sangat terlambat untuk ke sana.

Bersama Adi, Alfa, Arjun, dan Iyar, kami naik tanpa persiapan yang matang. Padahal, dari rumah saya berpikir sudah sangat siap dari segi persiapan. Hal pertama yang saya sesali adalah alas kaki yang saya pakai. Seharusnya, saya memakai sepatu yang sering saya pakai saat joging ketimbang memakai sendal bepergian. Sangat sulit rupanya.

Saya diantar oleh adik saya ke titik perkumpulan. Sudah ada Alfa dan Arjun yang menenteng gitar. Mereka kompak memakai PDH Katharsis, pers dari jurusan kami. Sembari menunggu Adi dan Iyar, Arjun bertanya,"Ko bawa parang?" (Kamu bawa parang). Saya menggeleng. Arjun menggeleng ringan, kemudian menyuruh saya agar memberitahu Adi membawa parang. Sayangnya, Adi sudah jalan saat saya mengirim pesan.

Iyar datang dengan kemeja yang tadi ia kenakan saat mata kuliah sore yang tak jadi masuk. Necis sekali. Padahal kami ingin mendaki, bukan ke Mall. Meski begitu, Iyar sudah pernah naik sebelum ini. Jadi, saya juga agak ragu untuk mengganggunya. Terlepas dari itu, saya akhirnya punya teman awam. Adi datang dengan celana pendek dan jaket hitam. Celana training ia ikat dipinggangnya dan tas waistbag yang menyilang didadanya.

Sebelum naik, kami sempat berdebat kecil masalah ketidaksiapan kami. Parang untuk mengambil kayu bakar atau terpal untuk tidurpun tidak kami pikirkan. Arjun menggerutu karena tidak adanya parang, namun Iyar dengan santai berkata,"naik saja, kita menyatu dengan alam.". Arjun melirik kesal, tersenyum kecil, dan kami mulai naik.

Medan yang kami tempuh masih beraspal. Kami berhenti sejenak untuk Alfa menyimpan motor di rumah keluarga Adi. Kemudian berhenti sejenak untuk membeli cemilan. Pendakian baru benar-benar dimulai saat keringat sudah mulai meleleh dibelakang leher saya. Dengan tas yang agak berat, menambah kesulitan saat medan berubah menjadi tanah, bebatuan, dan diselingi akar dan ranting.

Pendakian yang saya lakukan ini bukan hal baru. Sebab, waktu SD, ketika pelajaran olahrga, kami ke rumah teman kami, Ilham, untuk mengambil bola atau ke rumah Wandi mengambil tanah untuk keperluan sekolah. Medannya terjal juga. Namun saya akui, ini lebih terjal, sulit, dan tentu saja jauh. Sama hal seorang anak yang baru diajak Ibunya ke suatu tempat, saya dan Adi seling-selingan bertanya,"Masih jauh?".

Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat. Satu kali pemberhentian itu di sebuah kebun yang di sana adalah tempat camping yang dilakukan keluarga Adi. Kami singgah untuk meminjam panci. Diperjalanan, kami baru sadar tidak sekalian meminjam parang. Setelah berjalan cukup jauh, Iyar dan Arjun menyuruh kami beristirahat sembari mereka mengisi pancinya dengan air. Selain panci, kami juga diberi ubi. Persoalan makan, kami juga disarankan turun jika merasa lapar.

Kami melanjutkan perjalanan. Suara mulai terdengar, dan itu pertanda kami akan tiba sebentar lagi. Beberapa kali kami melewati perkemahan orang. Ada yang ramai sampai yang sendiri. Yang sendiri pun mengalahkan perlengkapan kami berlima. Mulai dari alat masak, tidur, sampai hal-hal lain yang sering kita lihat di televisi semua ada. Kami terus berjalan mencari tempat. Perdebatan kedua kembali dimulai. Arjun tak ingin naik karena ramai, Iyar ingin naik untuk mencari tempat yang efesien.

Kami akhirnya naik, melewati tenda orang-orang yang sepertinya sudah berada sejak lama. Intinya, kegiatan yang mereka lakukan bukan kegiatan yang orang baru tiba lakukan. Kami kembali dan perdebatan dilanjutkan. Arjun yang kembali membawa argumen Iyar "ingin menyatu dengan alam" sementara Iyar yang menyinggung kita butuh parang. Perdebatan cukup sengit dan lucu.

Kami memutuskan untuk turun. Ada sebuah tempat yang kami lewati, disamping kemah suatu kelompok pendaki yang hanya dipisahkan ranting. Tempatnya cukup luas, meski sudut perkotaan tidak terlihat jelas karena alang-alang yang cukup tinggi. Saya buru-buru mengamankan tempat untuk rebahan. Sementara itu, kelompok pendaki lain datang. Ternyata organisasi mahasiswa yang dimana Arjun adalah salah satu anggotanya. Karena perlengkapan mereka lebih lengkap, kami dengan senang hati berbagi tempat. Hitung-hitung biar malam tidak terasa begitu sunyi.

Iyar bergerak meminjam parang pada kelompok sebelah, lalu Arjun dan beberapa teman yang lain pergi mengambil kayu dan ranting untuk membuat api unggun. Mereka datang tidak lama kemudian, membawa ranting dan kayu yang cukup banyak. Arjun dan Alfa pergi setelahnya. Entah kemana. Meninggalkan kami bertiga bersama empat orang yang kami tidak kenal. Dari gaya ngobrol, sepertinya tidak sulit untuk berteman. Tapi yah itu, tidak ada percakapan yang benar-benar mengalir. Hingga akhirnya, saat kami menyalakan api, suasana mulai cair. Kami berkenalan. Seingat saya, malam itu ada Kak Adar, Wulan, Rahma, dan satu orang laki-laki yang saya lupa.



Setelah Arjun datang, suasana jadi makin cair. Kami bercanda meski baru bertemu malam itu. Setelahnya, saya baru tahu bahwa perempuan yang bernama Wulan adalah wakil presiden mahasiswa di kampus saya. Disela-sela obrolan antara mereka, saya sempat menguping bahwa akan ada aksi demonstrasi yang akan dilakukan beberapa hari yang akan datang dalam rangka penolakan RUU (Revisi Undang-Undang). Sejenak, saya jadi terngiang adegan demonstrasi pada film Gie.

Tapi itu tidak berlarut untuk dibicarakan karena kami hanya bernyanyi merobek angin malam. Dua orang teman kelompok Kak Adar datang. Dua-duanya laki-laki. Kami semakin khusyuk bernyanyi. Kopi yang dibuat Kak Wulan dan Rahma sangat membantu menghangatkan badan. Api unggun mulai padam, ubi yang dikasih kami atur dibara api yang masih ada. Kemudian kemi kembali menyusun ranting dan kayu.

Seru sekali malam itu, pendakian pertama yang cukup menyenangkan. Ketika yang lain bernyanyi, Adi sudah tidur (lengkap dengan ngoroknya yang mengisi suara kosong petikan gitar). Saya juga mulai ngantuk dan memilih baring dan sesekali bernyanyi jika lagunya menarik. Iyar juga memilih untuk mencari posisi tidur karena sudah mulai ngantuk.

Saya baru sadar di pagi hari ketika dibangunkan Iyar. Adi masih tidur bersama beberapa laki-laki lainnya. Yang bangun hanya saya, Iyar, Kak Wulan, dan Rahma. Bertiga bersama Adi dan Iyar, kami ke sumber air untuk mencuci muka. Setelah kembali, yang lain sudah bangun dan siap-siap beberes. Disela-sela ngopi pagi, lewat gerombolan kelompok yang baru saja turun. Sepertinya organisasi mahasiswa baru yang melaksanakan kegiatan pengkaderan.

Setelah beberes, rencana berikutnya adalah ke air terjun. Karena hasutan dari Iyar, saya jadi ragu. Sebab katanya, medannya lebih parah dari medan naik kami. Sangat terjal. Sederhananya, jika Iyar saja menyerah, apalagi saya. Padahal, Adi sangat ingin ikut. Tapi karena Iyar dan saya tidak, ia juga tidak. Akhirnya, kami tinggal berempat karena Alfa juga tidak berniat pergi.

Hal yang kami lakukan saat yang lain pergi adalah mengambil foto. Tidak rugi juga kami tak pergi, soalnya kami jadi banyak stok foto. Keren-keren. Setelah mereka datang, kami turun, pulang di rumah masing-masing. Awalnya, saya ingin agar dijemput, tapi Adik tidak mengangkat telepon. Jadinya, saya naik angkutan umum.

Iyar, Adi, Mario Maurer

Buat yang bosan wallpaper hape

Baru lepas dari Ragunan

Yang ini Alfamart. Dipanggil Alfa.

Di rumah, saya mandi kemudian ke teras rumah Riki karena sedang ada Kak Rijal dan Ali. Kami ngobrol sebentar sebelum akhirnya Kak Rijal pergi. Jika iler identik dengan ke-nyenyakan tidur seseorang, sepertinya hari itu saya benar-benar nyenyak.

Comments

  1. Waaaaaa, pendakian pertama langsung ngecamp. Jagoan.

    Saya pendakian pertama, langsung turun, nga ngecamp wgwgw :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Ini kolom komen lho..