Skip to main content

Mati Suri dan Cerita di Baliknya

Sudah hampir penghujung bulan, saya baru berani untuk kembali. Rasanya, saya mulai rindu kembali dengan blog ini. Tercatat, tulisan terakhir saya akhir September tahun lalu. Hampir lima bulan meninggalkan blog ini. Tentu saja saya tidak akan membuka dengan prolog "membersihkan debu". Saya pikir, itu sudah cukup usang.

Sampai disini, saya mulai berpikir lagi dengan first line tulisan ini. Saya menyebut kata baru berani. Seakan menggambarkan ada ketakutan saya dalam menulis. Padahal, memang alasan paling sederhana adalah kejenuhan. Apalagi waktu itu, saya memiliki banyak kesibukan tugas dan aktivitas kampus. Percayalah, saya mulai ragu karena sembari mengingat, kegiatan saya di kampus hanya bermain capsah banting.

Dalam postingan pembuka diawal tahun 2020 ini, saya akan mencoba merekap kejadian selama 2019 diantara masa-masa vakum atau mati surinya blog ini. Mungkin ada yang terlewat atau melenceng dari ingatan saya. Mudah-mudahan tidak demikian karena tidak saya maksudkan. Untung saja, teknologi begitu memudahkan. Saya tinggal melihat arsip foto di galeri foto dan mencocokkan kejadian, waktunya.

1
Saya agak lupa kejadian pastinya. Waktu itu, saya diajak untuk bergabung dalam sebuah tim untuk mengikuti sebuah lomba menyusun karya ilmiah di fakultas. Sayangnya, kami baru dapat kabar beberapa hari setelahnya. Sore sebelum batas pengumpulan (jam 10 malam), kami diberi instruksi untuk mencari masalah untuk karya ilmiah yang akan kami susun. Meski pada saat itu, saya tidak datang dan hanya diberi informasi lewat WhatsApp. Tim dibagi menjadi dua. Diantara tiga orang angkata1n 2018; saya, Atma, dan Harni, saya berada sendiri bersama angkatan senior.

Saya datang lebih awal di semacam warung kopi yang sudah ditentukan. Sudah ada Atma dan Harni menyokong timnya untuk mencari referensi karya ilmiah mereka. Sementara, saya tidak tahu mesti bagaimana sementara saya belum melihat orang-orang yang setim dengan saya.

Singkat saja, kami gagal. Saya rasa tidak perlu terlalu panjang untuk menceritakan sebuah kegagalan. Dosen saya menyemangati, katanya: kami gagal bukan dengan menyerah, tapi berjuang. Kira-kira bunyinya begitu. Waktu itu, sempat saya setuju. Tapi semakin ke sini, saya semakin merasa bahwa kegagalan tetap kegagalan. Tidak ada alasan yang paling baik untuk menyertainya selain dengan merasa setuju.

2
25 Oktober 2019, Katharsis, Pers Mahasiswa di jurusan saya mengadakan seminar. Karena membutuhkan dana yang tidak sedikit, dari jauh-jauh hari kami mencari dana untuk menutupi kekurangan. Kami melakukan penjualan makanan keliling kampus sampai melaksanakan bazar di cafe beberapa kali.

Kegiatan Bazar

Kami mengundang narasumber dari Miss Internet 2018, Natasya Silaen, dan Ketua Komisi Pemberdayaan Organisasi Dewan Pers Indonesia, Aset Setiawan. Untuk membawa mereka ke sini juga membutuhkan (lagi-lagi) dana yang tidak sedikit. Kami terus berusaha mencari dana diluar dari sponsor dan bantuan-bantuan lain.

Berbicara masalah sponsor, ini juga salah satu hal yang sangat ribet. Masalahnya, kami harus mengantar puluhan proposal ke berbagai tempat di sela-sela waktu bebas kuliah. Inipun lagi-lagi tidak jalan sekali. Untungnya, acara berjalan dengan baik. Ini juga berkat kerja sama yang terus ada dan berbagai dukungan.


3
9 November 2019, karena sudah punya adik angkatan, jurusan sudah berencana untuk membuat semacam kegiatan pengenalan kampus. Semacam Ospek, tapi ini hanya kata lain untuk memperhalusnya. Saya masuk di Divisi Acara. Dua hari satu malam kami menggembleng adik angkatan dengan berbagai aksi senioritas. Yang saya sepakati adalah tidak adanya kontak fisik di sana, meski tidak dapat dielak juga beberapa teman memanfaatkan ini sebagai ajang unjuk gigi.

Kesenangan saya adalah di jurit malam. Bersama Hilda, kami menjaga posko Bahasa. Kami memberi pertanyaan tentang "bahasa" dan semacamnya. Gugus pertama berhasil menjawab pertanyaan dengan baik. Karena tidak merasa perlu memberi hukuman, saya persilahkan untuk segera pergi ke posko berikutnya. Belakangan saya tau (tentu saja dari teman yang lain), dari semua posko, posko kami adalah posko teraman. Tidak bisa dibohongi. Hatiku halus.

Jurit Malam
4
Sebuah pesan WhatsApp dari dosen saya masuk. Saya diberi amanah untuk menghadiri sebuah pelatihan bahasa Indonesia bagi penutur asing. Saya datang pagi sekitar hampir jam 8. Saya kira akan terlambat, tapi rupanya upacara baru akan di mulai. Saya juga tidak begitu tau dalam rangka apa. Saya masuk ke dalam ruangan. Sudah banyak orang dan ternyata bukan hanya saya. Ada beberapa teman yang saya tau. Seperti Novin, teman sekelas. Dan ada beberapa teman senior.

Dua hari kami di sana, ternyata. Saya pikir hanya sehari. Sebab hari berikutnya juga ada seminar wajib di kampus. Saya cukup senang di sana. Bukan karena duduk di ruangan dingin dan menikmati materi. Itu karena makanan siang yang disediakan enak. Dan, untuk urusan bosan dan ngantuk, saya rasa sudah cukup sering mengisi ulang kopi yang sudah disediakan.


5
6 Desember 2019, malam itu kami berencana menonton konser Pee Wee Gaskins. Salah satu band favorit saya. Dari sore, saya sudah gelisah menghubungi teman-teman yang mau ikut untuk saya segera membeli tiket. Kami ke sana berempat. Di dalam sudah ada Ari dan Riki Ombe yang sudah dari sore berada di sana. Kami masuk dan menyaksikan beberapa penampilan pembuka dari band lokal.

Dan ketika Sansan naik, seisi penonton menghambur mendendangkan pop punk di udara. Saya sudah lupa, kapan terakhir kali segembira ini menyaksikan konser. Apalagi kesesakan yang dirasa ketika berasa ditengah-tengan penonton lain sembari mengikuti bait reff. Itu tidak bisa digantikan dengan menontonnya di YouTube.


6
8 Desember 2019, bersama pegiat literasi yang lain, kami berkumpul di Abeli, tempat dimana Kemah Literasi diadakan. Beberapa komunitas bergabung untuk menghadiri kemah bebas syarat itu. Syarat untuk datang adalah punya tempat untuk tidur dan peralatan makan. Itupun akhirnya memakai alas daun pisang untuk beberapa orang yang tidak membawa piring



Saya sempat bercerita banyak di Facebook. Tidak perlu saya ceritakan kembali.

7
Saya akan mengisi bagan ini dengan kegiatan masa-masa di Kampus (yang saya katakan sibuk). Padahal, jika saya liat lagi, ternyata tidak sesibuk itu. Hanya beberapa tugas yang memang kebanyakan ditunda. Selebihnya kami mengisi jam kosong dengan bermain capsah banting. Atau membuat acara malam minggu dengan membakar ikan di kosan Harni. Atau yang terakhir adalah mengiyakan sebuah rencana berkemah. Saya utang cerita kepada dua teman saya (Atma dan Harni) untuk bercerita. Ringkas saja, karena saya tidak mau terbebani.

Kami naik pukul 10 karena beberapa kendala. Beberapa kali kami berhenti karena beberapa dari kami merasa capek. Diatas, kami banyak bercerita dan mengunyah. Ada satu tenda yang dipasang Harni, namun akhirnya dipakai Iyar. Api yang berhasil menyala mengubah ikan menjadi lauk. Kami makan dengan khidmat. Kemudian bermain capsah banting dengan bantuan senter. Sesekali kesunyian malam itu diisi oleh Fandy yang kentut. Oh, saya rasa kembali rindu dengan mereka. Ditengah suasana libur, yang bisa kita perbuat adalah melihat grup WhatsApp yang mulai sunyi.






Comments

TERHANGAT MINGGU INI

Mempertahankan Nilai Sentimental Ramadhan Ditengah Pandemik

Rasa Syukur dan Jangan Cepat Puas

Nostalgia Sinetron Gentabuana, Tontonan Masa Kecil

Minggu Pagi dan Sebuah Album di Galeri Foto

Jika Indonesia Me-remake The World of the Married