Fenomena Bayi Bicara dan Telur Rebus

Sudah hampir memasuki pergantian hari ditanggal 25 kemarin ketika saya baru saja membaca sebuah postingan di Facebook. Itu adalah sebuah fenomena yang masih sangat hangat, dan ramai diperbincangkan. Sampai-sampai, beberapa grup WhatsApp saya ikutan ramai. Fenomena tersebut adalah kelahiran bayi ajaib yang bisa bicara dan mengatakan untuk sesegera mungkin merebus telur ayam untuk dimakan sebelum waktu berganti agar terhindar dari covid-19.

Tanpa berniat menyebar hoaks kembali, saya tekankan bahwa itu adalah hoaks. Setelah lama tidak menulis kembali, saya datang dengan tulisan yang sangat aneh. Kenapa? Saya juga tidak mengerti. Beberapa tulisan yang saya sempat pikirkan malah tidak terealisasikan. Namun saya melihat ada unsur ketertarikan disana. Jadi, saya ingin membahasnya sedikit.

Sumber foto: healthline.com

Dimulai dari respon orang-orang. Saat saya menge-cek situasi grup WhatsApp, sudah ramai pembahasan itu. Ada yang bertanya kebenaran berita tersebut, kemudian dijawab dengan begitu serius sehingga menimbulkan diskusi yang alot. Sampai-sampai, ada satu momen salah satu dari mereka meng-upload foto telur rebus sisa yang belum dimakan. Saya sampai tersenyum sedikit membaca obrolan tersebut. Tentu saja menahan diri dari obrolan tersebut.

Respon berikutnya kemudian datang dari kehidupan nyata. Sudah hampir setengah satu pagi ketika suara ketukan pintu belakang terdengar. Tante saya bangun, dan bertanya kepada saya.

"Tidak tau," jawab saya pada pertanyaan siapa yang mengetuk.

Kami mengecek pintu belakang, ternyata tetangga sebelah rumah. Dengan napas ngos-ngosan, ia menahan sedikit agar bisa menyampaikan informasi yang dia punya. Saya agak deg-degan. Biasanya, momen seperti ini adalah hal buruk. Bisa jadi ada orang atau keluarga yang sakit atau meninggal. Tapi tidak, setelah kalimat panjang dengan satu tarikan napas tersebut, saya langsung tersenyum dan tertawa kecil. Lebih tepatnya, sebelum tetangga tersebut menyelesaikan informasi yang ia terima dari keluarga jauhnya, saya lebih dulu memotong,"telur rebus? penangkal virus?"

Saya rasa, ketawa yang saya lakukan dianggap sebagai olokan. Tapi itu adalah respon yang sangat natural. Terjadi begitu saja dan meledak tanpa tahu bagaimana cara menghentikannya. Itu begitu lucu sampai saya tahu ada kecanggungan disana. Sebagai orang yang sudah, saya ingin mengatakan paham tapi mungkin saya tidak sepenuhnya benar. Saya jelaskan baik-baik bahwa itu adalah berita hoaks. Saya mencoba menegaskan bahwa kemungkinan paling lambat besok, penyebab hoaks tersebut sudah diamankan. Keyakinan saya semakin besar ketika perbedaan lokasi bayi dari tiap berita yang ada sampai dengan informasi dari tetangga saya.

Saya meninggalkan tante dan tetangga saya untuk kemudian mereka ngobrol. Saya yakin masih ada pergolakan dibatinnya. Yang kemudian dibenarkan ketika tante saya mendorong pintu kamar dan berusaha meminta penjelasan kembali. Saya ulangi, namun secara perlahan. Kemudian ia kembali ke kamarnya setelah menutup pintu.

Saat membaca berita itu, saya sebenarnya sudah ngantuk. Seharian nonton maraton 12 episod Tunnel versi Indonesia, yang menurut saya salah satu serial keren dari Indonesia. Saya tidak langsung tidur setelahnya. Saya cari-cari kembali berita itu. Di Twitter tidak seramai di Facebook ternyata. Aneh. Biasanya hal-hal seperti itu lebih dulu ramai di Twitter. Saya mencari video anak bayi tersebut, tapi tidak saya temukan. Hanya penggalan screenshot dari pemilik akun penyebar hoaks.

Keesokan harinya, berita penangkapan penyebar hoaks tadi malam sudah ada. Saya tidak tahu apakah itu betul, sebab yang saya liat adalah sebuah penggalan screenshot unggahan foto lima orang laki-laki. Satu diantaranya memakai baju tahanan orens dengan penutup kepala. Hal lucu kembali saya temukan. Dalam foto tersebut, tepat diantara pelaku dan orang berbaju merah terdapat sebuah tempat transparan. Saya tidak begitu jelas melihatnya, tapi tanpaknya itu adalah telur yang mendukung caption foto tersebut: motif pelaku penyebar hoaks adalah karena pelaku tersebut adalah penjual yang tidak laku. Dan yang dijual adalah teluar ayam.

Comments