Mempertahankan Nilai Sentimental Ramadhan di Tengah Pandemi

Bagi kita semua, menyambut Ramadhan mungkin adalah hal yang sakral. Secara, kita akan menjalani rutinitas yang mesti kita lakukan. Seperti sahur, menjalankan puasa, salat tarawih dan eid. Selain itu, masih banyak nilai sentimental dari Ramadhan yang membuatnya berbeda dari bulan-bulan lain. Kegiatan dan euforia yang hanya kita temui pada bulan Ramadhan.

Dan sebagai orang Indonesia, kita menjalankan dan mempertahankan itu. Bertahun-tahun. Sampai generasi lama mewariskan itu ke generasi yang baru. Menjadikan itu bukan lagi hal musimam, tapi budaya wajib yang harus kita lakukan.

Sebagai bentuk disclaimer, saya ingin berkata diawal postingan ini bahwa saya hanya menulis hal-hal yang ingin dan perlu saya sampaikan. Seluruh isi tulisan ini tidak berdasar pada nilai keagamaan, hanya dari observasi yang mudah-mudahan terlihat universal dan imbang.


Sebelum itu, saya juga ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca dan membaca blog ini.

MELIHAT TARAWIH DARI INDONESIA SEKITAR

Bagaimanapun juga, saya bukan Muslim yang taat. Salat lima waktu masih jarang dilakukan, apalagi mengaji. Saya juga tidak ingin dan akan mengatakan bahwa saya dalam situasi akan kesana.

Karena pandemik ini (lagi-lagi), pemerintah dan pemuka agama (MUI) sepakat untuk menjalankan salat tarawih di rumah masing-masing. Itu bertujuan memutus rantai penyebaran pandemik ke orang banyak. Tapi, sebagaian dari kita masih merasa bahwa bukan tarawih kalau tidak di Mesjid. Dan itulah nilai sentimental yang sebagai orang Indonesia masih kita pegang.

Dalam satu video, ada seorang ustad yang dengan baiknya mengimbau masyarakat (yang mungkin itu adalah daerah tempat tinggalnya) agar tidak berada di luar rumah dahulu untuk kegiatan yang tidak perlu. Ini juga berkaitan dengan kegiatan ibadah. Bahwa nyatanya, lebih baik berada di rumah dan menjaga sebuah keluarga menjadi aman ketimbang di luar dan membuat rumah jadi bahaya.

Saya pikir, kita di Indonesia (yang masih abai soal ini) bukan taat dalam beragama. Tapi konservatif dalam beragama. Perkataan tadi dikatakan oleh orang yang jarang salat. Jadi mungkin tidak akan banyak didengar dan bergema di udara. Saya juga tidak ingin menjadi orang yang hidup dalam gelembungnya sendiri, tapi menjalankan salat di rumah adalah upaya yang baik tanpa menghilangkan nilai dari Ramadhan.

FENOMENA BAJU BARU

Salah satu hal yang paling dinanti, adalah tiga-sampai lima hari sebelum Lebaran. Itu menjadi momen membeli pakaian baru. Yang saya rasa, tidak ada masalah dengan itu. Setahun sekali, mengganti pakaian untuk menjadi layak tidak ada masalah.

Yang menjadi problem adalah jika menjadikan itu kewajiban diatas segalanya. Maksudnya adalah membeli pakaian dari atas hingga bawah hingga menjadi baru semuanya. Tapi masih punya celana lama yang masih bagus dan jarang pakai.

Beberapa waktu, saat diberi uang sama Mama untuk membeli pakaian baru saya berpikir sejenak. Kemudian menimbang-nimbang apakah akan membeli pakaian baru atau tidak. Nyatanya, saya sudah tidak punya sendal pribadi untuk bepergian. Jadi itulah momen yang tepat bagi saya. Memegang uang dan melihat ada kebutuhan. Bukan memegang uang dan melihat ada keperluan.

Saya tidak ingin dan terlihat menjadi bijaksana dalam perkataan dan tulisan saja. Yang dengan itu, segala hal yang saya katakan (insyaallah) telah saya lakukan dahulu.

EUFORIA LEBARAN DAN SALAT EID

Jika puasa adalah hari-hari perjuangan maka lebaran adalah puncak kemenangan. Beberapa hari sebelum lebaran, saya sudah berpikir untuk nanti akan salat eid dimana. Lagi-lagi kita diimbau untuk melaksanakan salat eid di rumah masing-masing. Tapi itu bukanlah hal yang bisa kami lakukan di rumah sendiri.

Bapak dan Mama pasti akan lebih memilih salat di mesjid. Sebagai anak, saya tidak mungkin menentang pemikiran orangtua yang cukup konservatif. Tapi sebisa mungkin sebagai anak, saya tidak melakukan hal demikian.

Lokasi: di rumah Riki

Untungnya, saya mendapat panggilan salat eid berjamaah di rumah Riki. Dipimpin Kak Rijal sebagai imam, kami melaksanakan salat eid dengan kusyuk mengikuti aturan-aturan yang telah tersebar di internet. Memang, kita banyak melewatkan euforia lebaran dan salat eid di Mesjid atau mungkin pada tempat terbuka. Tapi sekali lagi, kita masih tidak kehilangan nilai dari Ramadhannya.

Problem lainnya adalah jabat tangan. Ini menjadi dilema besar ketika berkunjung ke rumah tetangga. Sebab, kita musti membaca situasi dengan baik. Dari rumah Riki, kami ke rumah Thariq (lebih tepatnya rumah neneknya) karena panggilan. Itu hanya berjarak beberapa meter tepat disamping rumah saya.

Di sana, kami dijamu dengan baik seperti biasanya. Namun tidak melakukan jabat tangan pada beberapa orang yang tak mau. Itu adalah keyakinannya dan tidak bisa kami salahkan. Sebab, sebelum pergi ke sana, Ibu Riki juga menitip pesan untuk tidak melakukan jabat tangan.

Lokasi: di rumah Thariq
 ***
Mungkin dengan sedikit patuh kita masih akan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Malah dengan euforia yang pernah tidak kita dapati saat ini. Sebenar-benarnya, saya tak tahu juga ayat atau firman terkait ini. Tapi sebagai Muslim, inilah yang saya yakini. Tidak ada masalah dengan yang lain.

Berbicara masa gelembung tadi, saya pikir akan mulai lebih condong ke arah sana. Menjadi manusia yang tidak hidup pada gelembungnya sendiri. Artinya, saya akan mulai mencoba membuka diri pada setiap argumen dan tindakan diluar dari diri saya. Sekalipun saya membahas dan terlihat kontra, mudah-mudahan itu adalah bentuk dari belajar.

Saya sempat berpikir, jangan-jangan kita sudah hidup pada gelembung yang salah dan merasa benar. Kemudian, tanpa sadar kita terus meyakini itu sebagai sebuah keyakinan absolut. Sehingga, yang kita dengar selalu hanya pantulan dari teriakan kita sendiri.

Saya harap tulisan ini menjadi pengingat juga untuk diri sendiri, sebab lebih mudah memberi tahu ketimbang melakukannya. Saya harap tulisan ini menjadi komparasi dari pemikiran kita saat ini, sehingga ini bukan menjadi kebenaran yang mutlak. Tapi perempatan jalan untuk ke sana.

Post a Comment

0 Comments