Rasa Syukur dan Jangan Cepat Puas

Belakangan ini, saya sering membaca cerita-cerita paradoks. Itu dimulai ketika saya melihat-lihat arsip tulisan diblog ini. Pada suatu postingan, saya mencoba untuk membuat satu tulisan paradoks yang sangat buruk. Dulunya, saya berpikir paradoks bisa sesederhana itu. Entahlah, itu empat tahun yang lalu saat SMA.

Yang menarik adalah komentar dari postingan itu. Isinya kurang lebih semacam sebuah kritik dari seorang teman. Namanya Jericho Siahaya. Dengan referensi yang cukup luas, tulisannya bisa saya katakan keren. Beberapa cerita pendek yang ia buat banyak diapresiasi oleh orang-orang. Untuk itu, saya adalah salah satu orang yang kagum kepadanya.

Dalam komentarnya, ia memberi saran untuk membaca "Cerita Pinokio Paradoks". Kurun waktu beberapa hari saat senggang dan ingat, saya membuka browser kemudian mengikuti sarannya. Saya kembali merasa bodoh ketika mengingat tulisan saya empat tahun lalu. Tapi begitulah harusnya manusia, menjadi lebih baik dari dirinya yang kemarin.

Sumber: google.com

Sederhananya, cerita Pinokio paradoks adalah permainan what if. Jika setiap berbohong hidung Pinokio akan tumbuh, bagaimana jika Pinokio mengatakan,"Hidung saya akan tumbuh sekarang.". Saat hidung Pinokio tumbuh, nyatanya ia tidak berbohong (tapi hidungnya tumbuh). Tapi jika hidung Pinokio tidak tumbuh, artinya ia berbohong dan hidungnya akan tumbuh. Intinya, hidung Pinokio tetap akan tumbuh untuk menegakkan keadilan antara kutukan atau argumen Pinokio.

Satu waktu yang lain, itu dimalam hari menjelang sahur. Saat masih menyelesaikan sebuah tugas kampus, saya berhenti karena satu pemikiran yang pada beberapa malam sebelumnya sangat menganggu. Ini tentang wejangan orangtua yang sering kita dengar sehari-hari: "Jangan lupa bersyukur, Nak." dan "Jangan cepat puas, Nak.".

Saya berpikir bahwa ini adalah wejangan yang kontradiksi. Disatu sisi, kita diberi tahu agar tidak lupa bersyukur dengan apa yang kita punya. Disisi yang lain, kita diperingatkan agar tak cepat puas dengan apa yang kita capai. Menjadi orang yang bersyukur, kemudian tak cepat puas adalah dua hal yang tidak bisa dilakukan.

Pada satu momen misalnya, kita berhasil membangun sebuah Gereja nan megah di tengah teluk. Selang waktu, datang sebuah proyek besar di meja yang mengharuskan kita untuk membangun sebuah jembatan yang menghubungkan dari satu kecamatan ke kecamatan yang lain melintasi sebuah perairan. Bagaimana bisa mengindahkan wejangan orangtua kita?

Apakah kita akan bersyukur hanya dengan membangun rumah ibadah megah dengan keunikan yang sebenarnya tidak perlu? Atau memilih prinsip tak cepat puas untuk membangun jembatan besar yang akan menjadi pusat rekreasi alternatif? Saya paham, konsep "tak cepat puas" itu identik dengan pencapaian sebuah ilmu. Tapi saya kembali berpikir bahwa bukankah kebanyakan ilmu juga identik dengan jabatan?

Maksudnya, untuk apa seorang insinyur menempuh pendidikan jika bukan untuk mendapatkan nama tambahan yang kemudian digunakannya sebagai tolok ukur kecerdasan. Dengan kecerdasan diatas kertas tersebut, sang insinyur dipercaya untuk sebuah proyek (bukan hanya atas dasar kemampuan, bakat atau hal yang kau sebut passion) yang kemudian berhasil dan mengharumkan namanya. Kasta dan alat tukar adalah hal yang mengikutinya.

Saya tidak tahu, apakah ini sebuah paradoks. Saya hanya bicara dari pemikiran saya yang tak tuntas ini. Mudah-mudahan ada gagasan baru yang melahirkan kejelasan pada pemikiran saya. Sekali lagi, saya hanya berpikir.

Ohya, dan menulis.

Post a Comment

0 Comments